
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
"Karena Sirena yang sekarang, bukanlah Sirena yang sebenarnya."
Tatapan semua orang seketika tertuju pada sosok perempuan bercadar yang berdiri di depan pintu rumah kesehatan.
Perempuan itu berjalan masuk ke dalam rumah kesehatan dengan tatapannya yang terus tertuju pada Devita.
"Siapa kau? Aku tak pernah melihat orang sepertimu sebelumya di Osaka." Devita menghampiri perempuan itu hingga berdiri di depannya, "Apa kau pendatang baru?"
Terdengar tawa pelan dari perempuan bercadar itu. Rambut ungunya terlihat bersinar di ruangan yang temaram itu.
"Kau yang tak pernah menyadari kehadiranku selama ini." Ujarnya setelah selesai tertawa.
"Itu tak penting! Jadi kenapa bisa kau bilang kalau aku bukan Sirena?" Devita memandang perempuan misterius di depannya ini dengan tatapan menyelidik. Entah kenapa melihat mata perempuan ini, terlihat mirip dengan mata milik Sirena.
Bukannya menjawab, perempuan itu justru menghampiri Raja Monachus, kemudian menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Apakah sudah saatnya, Yang Mulia Raja Monachus? Saya sudah tak sabar ingin kembali."
Raja Monachus mengangguk pelan, "Katakan saja. Sirena perlu tahu fakta yang selama ini aku dan ibundanya sembunyikan."
Mendengar persetujuan dari Raja Monachus, perempuan itu kembali menghampiri Devita.
"Apa yang akan kau lakukan setelah tahu siapa aku?"
Devita memandang datar perempuan dihadapannya, "Memangnya kau ingin aku melakukan apa?"
"Bagaimana rasanya hidup di tubuh orang lain? Apakah menyenangkan?" Perempuan itu melihat ke arah kalung steorra milik Devita yang mulai berpendar biru.
'Perempuan ini ... Siapa dia? Matanya benar-benar mirip Sirena, apa jangan-jangan ...'
"Mata perempuan ini kenapa mirip sekali denganku?" Gumam Sirena.
"Berhenti menatapku seperti itu, Sirena! Aku bisa melihatmu." Perempuan itu mengalihkan pandangannya ke samping Devita, dimana Sirena berada.
Devita dan Sirena terkejut, mereka saling pandang sambil menerka-nerka, siapa sebenarnya perempuan ini?
'Sepertinya bener dugaan sementara gue.' Devita kembali menetralkan wajah terkejutnya.
Perempuan itu perlahan membuka cadarnya. Saat itu pula kalung steorra miliknya dan milik Sirena bersinar terang hingga membuat ruangan itu tak temaram.
Semua orang yang ada didalam ruangan itu bertanya-tanya, bagaimana bisa kalung yang dikenakan Devita bersinar begitu terang?
Mereka semua semakin terkejut saat melihat wajah perempuan itu yang sangat mirip dengan Sirena. Athanaxius sendiri masih terkejut padahal dia sudah tahu fakta kalau Sirena memiliki saudara kembar.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
'Ternyata bener! Sirena punya kembaran.'
Hanya Devita yang tak terlihat terkejut. Wajahnya sama datarnya dengan perempuan di depannya.
"Ayahanda! Siapa dia? Kenapa wajahnya mirip dengan Sirena?"
"Apa yang selama ini ayahanda sembunyikan?"
Raja Monachus memandang Falco dan Elanus bergantian, "Kalian akan mengerti nanti. Cukup diam dan berikan ruang untuk mereka tahu faktanya."
Sirena yang sudah sadar dari keterjutannya pun menampakkan diri ke wujud nyatanya.
"ASTAGA! UDAH BERAPA KALI GUE KAGET HARI INI?" Galcinia tak percaya melihat sosok Sirena kini ada tiga.
Raja Monachus yang tadinya tak terkejut kini terkejut dengan kehadiran Sirena, dia bahkan terduduk dari berbaringnya.
"Mengapa kau sangat mirip denganku? Siapa kau?" Sirena menujuk wajah perempuan itu.
"Dia saudara kembar lo, Sirena." Jelas Devita pada Sirena.
"Aku tak pernah tahu kalau aku memiliki saudara kembar, Dev! Aku tak percaya akan hal ini!" Sirena memegang kepalanya yang terasa pusing.
Devita tahu keterkejutan yang dialami Sirena, dia lantas merangkul Sirena, "Mungkin ini semua sudah dijelaskan di dalam buku harian milik ibumu, hanya saja kau dan aku belum tahu karena tak bisa membacanya."
Otak Sirena pun mulai mencerna penjelasan Devita. Dia lantas mengingat ada sebuah nama yang bisa dia juga Devita baca di buku harian ibundanya.
"Apakah kau Irena Harmony Asthropel?"
Perempuan itu mengangguk menjawab pertanyaan Sirena, "Untuk saat ini aku adalah Irena, tetapi aku bukan Irena yang asli."
"Hah?" Devita dan Sirena kembali tak mengerti.
Irena, perempuan itu merasa jengah melihat dua kembar yang sebenarnya ini begitu lemot dalam berpikir.
"Lo pikir tubuh siapa yang lo tempatin di bumi, hah?" Irena berkacak pinggang, "Itu tubuh gue! Tubuh yang gue pakai adalah milik lo, Devita! Lo yang merupakan kembaran Sirena!"
"APA!!" Galcinia, Devita dan Sirena terpekik bersamaan.
"Hahaha, nggak mungkin!" Devita tentu saja tidak percaya. Tipuan macam apa ini? Ini sungguh membingungkan dan tak bisa diterima oleh akal sehatnya.
Sirena memandang Raja Monachus dengan tatapan tajam, "Katakan yang sebenarnya, Yang Mulia Raja ... Apa benar, aku memiliki saudara kembar? Dan bagaimana bisa jiwa Devita dan Irena bertukar?"
Raja Monachus mencoba berdiri dari duduknya dibantu oleh Sirakusa. Kemudian Raja menghampiri Sirena, memeluk erat anak yang selama ini dia abaikan.
"Maafkan Ayahanda, Sirena ... Ayahanda bersalah," Raja Monachus menangis sesenggukan yang dapat didengar oleh semua orang yang ada disitu.
Sirena yang selama ini memang menginginkan pelukan dari Raja Monachus pun membalas memeluknya erat. Sirena menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Raja Monachus.
"A-aku me-membenci ayahanda! Hiks ..."
"Ayahanda tahu ... Tolong maafkan Ayahanda, Sirena ... Ayahanda terpaksa melakukan ini semua demi kebaikan bersama ... Maaf harus mengorbankan dirimu." Raja Monachus mengusap punggung dan kepala Sirena berulang kali.
Sirena melepas pelukan Raja Monachus, "AKU BENCI AYAHANDA!!! AKU BENCI!!" Sirena menunjuk wajah Raja Monachus, "ME-MENGAPA AYAHANDA TEGA MENGHUKUM IBUNDA? MENGAPA?"
"Sirena, dengarkan penjelasan ayahanda sebentar, ya?" Pinta Raja Monachus dengan air mata yang terus bercucuran.
Sirena menggelengkan kepalanya, "TIDAK! SELAMA INI AYAHANDA APA PERNAH MENDENGARKAN PENJELASANKU? APA PERNAH?" Sirena benar-benar dikuasai oleh amarah saat ini.
Karena emosinya itu, tubuh Sirena jatuh ke atas lantai, "S-saat aku dituduh mencelakai kakak ipar, apa pernah ayahanda mendengar penjelasanku barang sebentar saja?" Suara Sirena begitu menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya, "Saat aku mencintai seseorang, justru ayahanda menjodohkannya dengan Nervilia di hari ulangtahunku, apa ayahanda tahu bagaimana perasaanku?"
Semua orang menyaksikan betapa rapuhnya Sirena yang sebenarnya, Sirena yang mereka anggap sebagai orang jahat.
"Sirena ..." Devita menghampiri Sirena yang terduduk di lantai, dia memeluknya erat. Hati Devita terasa begitu sakit saat mendengar keluh kesah Sirena.
Raja Monachus turut serta memeluk dua anaknya itu, "Tolong maafkan Ayahanda yang tak bisa menjadi ayah yang baik untuk kalian berdua ... Ayahanda terpaksa melakukan ini semua agar kalian bisa bersama lagi. Kalian berdua adalah harta paling berharga bagi ibunda kalian, Agalia juga bagiku."
Inilah yang selama ini ingin didengar oleh Sirena secara langsung. Ucapan maaf dari Raja Monachus atas apa yang sudah dia lakukan selama ini. Tapi, kenapa harus menunggu selama ini? Kenapa harus disaat dia benar-benar membenci ayahnya?
Sirena harus melalui banyak hal hanya untuk mendapat pengakuan maaf dari Raja Monachus, apakah harus selama ini? Tidak tahukah bahwa dia terluka parah? Hatinya remuk dalam waktu yang begitu lama hingga Sirena sendiri terkadang bingung bagaimana cara menyembuhkannya. Tidak bisa dia pungkiri, ayahandanya adalah luka hati pertamanya yang terus membekas dan sulit untuk disembuhkan.
Sirena melepas pelukannya. Dia lantas berdiri dan berniat keluar dari rumah kesehatan. Dia butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri. Tidak mudah baginya menerima ini semua.
Namun langkahnya dicegah oleh Falco, lelaki itu berdiri di depan pintu menghalangi langkah Sirena. Sirena harus kembali berhadapan dengan orang yang juga melukai hatinya, perasaannya. Dia, Falco, Kakak pertamanya, kakak yang selalu Sirena kagumi diam-diam sejak kecil karena kewibawaannya.
"Sirena ..."
Sirena kembali menitikkan air matanya saat untuk pertama kalinya Falco memanggilnya dengan nada yang lembut.
"Maafkan aku juga," Falco menarik Sirena ke dalam pelukannya, "Maaf karena selama ini tak pernah mempercayaimu."
"Aku membencimu, Kakak ... Aku membencimu!" Sirena mencengkram erat baju yang digunakan Falco guna melampiaskan kekesalannya selama ini pada Falco.
"Bagaimana caraku menebus kesalahanku? Katakan, Sirena ..."
"Enyahlah dari hadapanku." Ucapan Sirena membuat Falco perlahan melepas pelukannya.
Setelah mengatakan itu, Sirena memutuskan keluar rumah kesehatan. Saat Falco hendak mengejar, Devita segera menghentikannya.
"Kau hanya akan menambah luka baginya, Pangeran Falco. Biarkan dia sendiri dulu."
Melihat adanya kesempatan, France pun berlari keluar rumah kesehatan untuk menyusul kemana perginya Sirena.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
France terus mencari keberadaan Sirena yang begitu cepat menghilang. Kini sosok anak kecil miliknya sudah berganti menjadi sosok lelaki dewasa, yaitu Ambrogio Agafya.
Ambrogio mengikuti instingnya yang memberitahu keberadaan Sirena. Langkah kakinya menuntun ke arah pohon apel yang terletak di ujung desa.
"Aku mendapatkanmu!" Ambrogio tersenyum tipis melihat sosok Sirena yang tengah duduk di atas pohon sembari menangis.
Dengan kekuatannya, Ambrogio kini sudah duduk di sebelah Sirena, membawa kepala Sirena untuk bersandar di bahunya.
"Seharusnya kau bilang saja kalau kau butuh sandaran. Bahuku selalu siap menampung kapanpun kau butuh."
"Hiks ... Aku l-lelah ..."
"Aku mengerti. Tetapi, bukankah kau ingin tahu cerita yang sebenarnya dari mulut ayahmu sendiri? Waktumu tidak banyak dalam wujud nyata ini, Sirena. Kau harus tahu cerita yang sebenarnya dari mulut ayahmu secepatnya."
Sirena mengusap air matanya, dia mencoba meresapi ucapan Ambrogio yang ada benarnya. Waktunya tak banyak, hanya sisa lima belas menit lagi sebelum wujud nyatanya menghilang.
"Aku mengerti kenapa ayahmu melakukan ini semua. Ini demi perang melawan kegelapan."
"Kenapa harus aku yang menanggung semua ini? Kenapa?" Sirena kembali menangis sembari menatap Ambrogio.
"Karena kau kuat. Dewa memberi cobaan ini untuk melihat betapa kuatnya dirimu." Ambrogio mengusap air mata Sirena, "Sekarang kau tidak lagi merasa sendiri. Ada saudara kembarmu yang berusaha keras membuat namamu baik, ada aku juga yang siap memelukmu kapan saja."
Plak
"Dasar cabul!" Sirena memukul lengan Ambrogio dengan keras, namun tak ayal senyum tipis muncul, "T-terima kasih, Ambrogio ..."
"Jadi, mau sampai kapan kau akan terus di atas pohon?"
"Bantu aku turun!" Sirena memutuskan untuk kembali ke rumah kesehatan, dia ingin tahu cerita yang sebenarnya.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
YEIYYY!! Sirena dan Ambrogio kembali ketemu!!!