
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Devita merintih kesakitan karena tubuhnya yang terjatuh keras ke tanah. Karena hal ini, kening dan siku tangan kirinya terluka bahkan kakinya pun terkilir. Sedangkan Irena, wanita itu mengalami luka di pelipis kiri serta kedua siku tangannya.
Mereka berdua pun saling membantu untuk berjalan menuju Virga yang masih tak sadarkan diri.
"Virga!" Devita menepuk pelan pipi Virga untuk membangunkan wanita itu. Mereka berdua sudah mengecek tubuh Virga, tidak ada luka sama sekali.
Mata Virga perlahan mengerjap. Hal itu tentu membuat Devita dan Irena senang.
"Ugh ... Tubuhku rasanya remuk!" Virga mendudukkan dirinya dibantu Irena.
"Syukurlah kau tidak terluka."
Virga lantas memandang Irena, "Oh astaga! Kau terluka!" Virga kembali memekik saat melirik ke arah Devita, "Kau juga terluka!"
Virga akhirnya mengingat apa yang terjadi. Tadinya dia sedang asik menikmati perjalanan karena akhirnya dia bisa keluar dari istana Kekaisaran. Tapi saat melihat kereta mereka mulai memasuki hutan, Virga merasa ada yang tidak beres.
"Setahu saya, rumah Beta Arigha berada di pusat kota. Mengapa Anda masuk ke hutan, Tuan?"
Bukannya menjawab, kusir itu menoleh sembari menyeringai. Secepat kilat kusir itu melayangkan sihir miliknya untuk menyerang Virga. Karena serangan itu, Virga terjatuh dari kereta kuda dan berakhir pingsan.
"Dimana Lizta?"
"Dia pengkhianat, Virga! Sialan!" Irena mencoba menahan emosinya.
"Cermin kuno juga dibawa olehnya begitupula dengan Sirena." Devita menambahkan dengan nada lemah. Devita yakin Lizta bisa melihat Sirena, terbukti dengan tidak adanya Sirena yang akan muncul di depannya.
Virga menggeram tertahan. Berani sekali lusternya itu mengkhianatinya. Tidak ingatkah bahwa yang mengangkat statusnya adalah dirinya?
"Luster tidak tahu diri! Awas saja kalau aku bertemu dengannya, tidak akan kuberi ampun!" Ucap Virga dengan penuh emosi.
"Lalu sekarang bagaimana? Sirena juga bagaimana?" Devita mengkhawatirkan Sirena yang dibawa Lizta.
"Lebih baik kita kembali ke rumah Beta Arigha, kita beritahu mereka apa yang terjadi pada kita." Ucap Irena sembari mengusap bahu Devita.
"Tapi kita di hutan. Apa kau tahu jalan menuju rumah Beta Arigha?"
Irena lantas bungkam mendengar pertanyaan Devita. Dia lupa kalau saat ini berada di wilayah Kekaisaran Alphard.
"Kalian melupakanku, heh?" Virga berdiri kemudian mengulurkan kedua tangannya ke Devita dan Irena, "Aku memiliki ingatan yang kuat, aku tahu jalannya."
Mendapat angin segar, Irena dan Devita lantas menerima uluran tangan Virga sembari bernafas lega. Ternyata Virga bukanlah sosok Putri yang merepotkan dan hanya tahu mengeluh.
Ketiganya pun berjalan pelan menyusuri hutan. Karena kondisi kaki Devita yang terkilir, jadi tak memungkinkan untuk mereka berjalan cepat.
"Bagaimana kalau ayahmu tahu kau tidak berada di istana?"
Virga lantas menepuk jidatnya, "Ayahanda pasti tahu aku pergi bersama kalian. Ternyata aku lupa melepas cincin peninggalan ibuku!" Virga menunjukkan jemarinya yang memakai cincin.
"Kau benar-benar bodoh!" Umpat Irena.
"Hehehe, perkataanmu pedas sekali, Irena!" Virga tertawa melihat wajah tertekuk Irena.
"Tunggu-tunggu!" Devita menghentikan langkahnya yang membuat Irena dan Virga ikut berhenti, "Apa kalian mendengar sesuatu?"
Virga lantas menajamkan telinganya untuk mendengar. Di kejauhan Virga mendengar suara tapak kaki kuda yang banyak menuju ke arah mereka.
"Apa yang kau dengar?" Irena menatap penasaran ke arah Virga.
Virga mendengus, "Benar sekali perkataanku, Ayahanda sudah tahu aku keluar istana. Lebih baik kita duduk manis saja disini." Virga menarik tangan Irena dan Devita dengan kuat hingga membuat mereka terduduk dengan raut wajah bingung.
"ITU PUTRI VIRGA!"
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Setelah penyelamatan yang dilakukan oleh legion istimewa atas perintah Kaisar Yerikho, Devita dan Irena tiba di rumah Beta Arigha dengan selamat. Akan tetapi saat itu pula Devita memutuskan untuk kembali ke desa Osaka dengan bantuan portal teleportasi milik Beta Arigha.
"Kami gagal ..."
Semua orang yang mendengar hal itu terhenyak dan tidak ada yang membuka suara sedikitpun.
Tubuh Devita terasa lemah hingga akhirnya tubuhnya meluruh ke lantai. Air mata perlahan turun membasahi pipinya.
"Aku tidak berguna, hiks ..."
Devita berada diambang keputusan-asaannya. Sia-sia ayahnya, Raja Monachus meregang nyawa demi dia dan Sirena dapat pergi ke Alphard untuk meminjam cermin, tetapi justru dia gagal. Terlebih saat melihat kondisi Galcinia, sahabatnya dan Sirakusa yang memburuk demi melindungi rakyat Osaka membuatnya merasa semakin benar-benar tidak berguna.
Dan sekarang? Saudara kembarnya juga diculik oleh Lizta dan entah dibawa kemana. Tetapi ... Sebuah tepukan di bahunya menyadarkan Devita yang tengah duduk melamun.
Dia adalah Irena.
"Kita belum gagal." Irena menampilkan senyum menenangkan, "Kita belum gagal." Lagi, Irena mengulang perkataannya.
Tidak lama Virga juga turut serta mendekat lantas ikut duduk di sebelahnya sambil memperlihatkan senyum lebarnya, "Kita belum gagal. Aku akan membantumu sebisaku, jadi jangan menyerah dulu."
Virga, Putri yang satu itu memaksa untuk ikut pulang Devita dan Irena meskipun Kaisar Yerikho turun tangan untuk mencegah putrinya ikut campur perihal Ratu Amanita.
Devita lantas memandang orang-orang disekitarnya. Aura positif terpancar dari mereka untuk meyakinkan Devita.
"Ratu Amanita ..." Devita memandang tangannya yang mengepal erat, "akan kubalas semua perbuatan yang sudah kau lakukan!"
"Kakak Tata ..."
Mata Devita teralih pada sosok Tamarinda yang jarang sekali terlihat di matanya. Tidak disangka ternyata adik kecilnya itu sudah tahu siapa dia.
"Hai bocah!" Devita tersenyum melihat Tamarinda nampak malu-malu mendekat ke arahnya.
"Kakak Tata, a-apa b-boleh aku m-memelukmu?" Cicit Tamarinda yang dapat didengar oleh semua orang.
"Peluk aku sesuka hatimu ..." Devita merentangkan tangannya. Saat itulah Tamarinda langsung menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Devita.
Tenang, itulah yang dirasakan Devita saat ini. Anak kecil tidak pernah berbohong dengan segala perhatian yang mereka tunjukkan. Devita merasakan ketulusan Tamarinda yang tengah memeluknya.
"Kakak Tata ... Jangan menangis ... Hiks ..." Perlahan punggung kecil Tamarinda bergerak naik turun karena sang empunya tengah menangis.
"Hei bocah! Mengapa kau ikut menangis, hm?" Devita mengurai pelukannya untuk melihat wajah Tamarinda.
"Hiks ... K-karena Kak-ak hiks ..." Tamarinda berbicara tidak jelas, tetapi Devita paham. Tamarinda ikut menangis karena melihatnya menangis.
"Tapi sekarang Kakak sudah tersenyum, jadi kau harus tersenyum juga, ya?"
Tamarinda mengangguk sembari mengusap air matanya.
"Ini sudah malam, kau harus tidur!" Devita mengusap pucuk kepala Tamarinda, "Vanda, temani Tamarinda tidur." Ucap Devita pada Vanda yang sedari tadi hanya diam.
Gadis itu, semenjak tahu bahwa ibundanya turut serta menjadi penyembah iblis dan menjadi bawahan Ratu Amanita, Vanda menjadi lebih pendiam.
Setelah Vanda membawa Tamarinda ke kamar, Devita lantas berdiri dibantu Virga. Devita lantas menghampiri Diantha, "Diantha, latih aku agar mampu melawan Ratu Amanita."
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.