
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Athanaxius sudah berada di Eleftheria. Lelaki itu mengernyitkan dahinya saat rumput yang dia injak tidak sehijau yang dulu dia pernah lihat. Rumput di Padang hampir menyeluruh menguning. Lalu saat kepalanya mendongak, langitpun menjadi kelabu dan tidak secerah sebelumnya.
"Kenapa bisa seperti ini?" Athanaxius bertanya-tanya sembari melangkah ke depan.
Eleftheria adalah tempat ternyaman yang pernah Athanaxius kunjungi. Padang rumput yang luas dan begitu menyejukkan mata membuat siapapun yang datang kesini pasti akan betah untuk berlama-lama.
"Menurutmu, kenapa tempat ini berubah, Athanaxius?"
Athanaxius terkejut ketika munculnya sosok wanita berambut emas dengan gaun yang senada dengan rambutnya berada di depannya.
"Siapa kau?" Athanaxius menebak bahwa yang ada di depannya bukanlah manusia biasa. Ini Eleftheria, tidak bisa didatangi oleh sembarang orang.
"Aku Andromeda, teman Elegi."
Athanaxius tidak terkejut, dia sudah menduga bukan? Namun, Athanaxius lantas menekuk kaki kirinya dan kepalanya menunduk memberi hormat. "Sebuah keberuntungan bagi saya bertemu denganmu, Dewi Andromeda."
Dewi Andromeda tersenyum, tangannya terulur mengusap kepala Athanaxius, "Aku bisa merasakan energi Eunoia di dalam tubuhmu. Bangunlah!"
Athanaxius kembali berdiri seperti sebelumnya, "Apa yang terjadi dengan Padang ini, Dewi?" Tanya Athanaxius tanpa rasa takut ataupun keraguan kepada Dewi Andromeda.
"Karena pemiliknya sedang tak baik-baik saja. Itu alasan kenapa Eleftheria menjadi seperti ini." Dewi Andromeda menjentikkan jarinya dan membuat Eleftheria kembali hijau, namun tidak lama kembali menguning.
Athanaxius menyaksikan itu semua, namun dia kembali teringat bahwa waktunya tidak banyak untuk membawa jiwa Devita keluar dari sini.
"Apa Dewi melihat dimana Dewi Elegi berada? Aku harus bertemu dengannya."
"Elegi sudah tidak ada, sama seperti Eunoia."
Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya, "Lantas dimana Devita berada? Apakah Dewi tak keberatan menunjukkannya padaku?"
"Elegi dan Eunoia sudah sepenuhnya menghilang. Yang tersisa hanyalah energinya." Dewi Andromeda memberi jawaban lain, "Maka dari itu, kepemilikan Eleftheria sudah berganti menjadi milik jiwa yang menyimpan energi Elegi dan Eunoia."
Athanaxius diam di tempat sembari mendengar dan melihat tingkah Dewi Andromeda yang memutarinya. "Tidak ada yang mudah untuk mendapat apa yang kau inginkan, manusia." Dewi Andromeda berhenti mengelilingi Athanaxius,"Pengorbanan apa yang akan kau berikan untuk mendapatkan jiwa orang terkasihmu?"
Bisikan Dewi Andromeda di telinga Athanaxius ditanggapi Athanaxius dengan raut wajah tenang, "Apa Dewi sedang mempersulitku saat ini?" Senyum miring muncul dari bibir merah Athanaxius, "Perlu Dewi Andromeda ketahui, aku bahkan bisa melawanmu karena mempersulitku mengetahui dimana Devita saat ini."
Dengan maksud lain, Athanaxius rela kehilangan nyawanya sekali lagi untuk menukar jiwa Devita. Athanaxius paham betul bahwa dia tak akan menang melawan Dewi Andromeda.
Dewi Andromeda kembali berdiri di hadapan Athanaxius lalu menjentikkan jarinya hingga sebuah dinding pembatas kaca muncul di sisi kanan Athanaxius.
Athanaxius menoleh ke samping. Dia mendapati jiwa Devita berada di dalam kotak es. Lelaki itu lantas berlari untuk menghampiri Devita, tetapi tubuhnya terhempas ke belakang karena dinding kaca itu.
Athanaxius mengeluarkan pedangnya dan menghunuskan pedang itu ke dinding kaca. Berkali-kali Athanaxius mencoba menghancurkan dinding kaca itu, tetap saja tidak ada hasil.
"Disaat-saat seperti ini, apa kau akan terus menggunakan pedangmu, Athanaxius?"
Athanaxius berhenti menghujamkan pedangnya pada dinding kaca itu. Dia menoleh dan menatap sengit pada Dewi Andromeda yang memberikan senyum ramah terhadapnya.
"Sebaiknya kau diam saja, Dewi Andromeda!" Athanaxius kembali mengangkat pedangnya dan bersiap menghunus dinding kaca itu lagi.
"Sifatmu sungguh mirip dengan Eunoia. Tapi untuk kali ini, jangan bertingkah seperti Eunoia." Dewi Andromeda mendekati Athanaxius dan memegang bahu kanan Athanaxius.
Sentuhan tangan Dewi Andromeda di bahunya seketika membuat Athanaxius merasa tenang. Emosi yang dia tahan sedari tadi kini juga menghilang.
"Dalam keadaan sesulit apapun, ketenangan adalah yang utama, Athanaxius."
Athanaxius menundukkan kepalanya dengan satu tangannya yang bertumpu pada dinding kaca, satu tangannya lagi berada di wajahnya untuk menghalau air matanya yang jatuh.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Dewi?" Air mata Athanaxius mengalir semakin deras, "Devita adalah perempuan pertama yang berhasil membuatku takut untuk kehilangan. Aku ... Aku sangat takut kehilangan Devita,"
Melihat betapa sedihnya Athanaxius, Dewi Andromeda menghela nafas sejenak, "Bila aku meminta sayapmu sekaligus kekuatanmu dengan jiwa Devita; apa kau sanggup, Athanaxius?"
Athanaxius mengangkat kepalanya, "Jika hanya itu yang kau minta, maka akan kuberikan padamu, Dewi."
"Kau akan tetap hidup dengan kekuatan milikku sekaligus sayap murni di tubuhmu. Tetapi, kau harus menjaganya." Eunoia menatap tajam Athanaxius.
"Kalau aku tak bisa menjaganya?"
"Mati saja. Percuma aku menyerahkan anugerah milikku bila ternyata kau serahkan pada orang lain."
Pembicaraan dengan Dewa Eunoia terngiang di pikiran Athanaxius. Athanaxius tersenyum geli dengan air mata yang mengalir turun.
"Dewi, bila memang aku harus mati agar Devita tetap hidup, maka jawabannya aku bersedia." Athanaxius menatap Dewi Andromeda mantap.
Dewi Andromeda tak mengatakan apapun lagi. Dia hanya tersenyum dengan tangan kanannya yang terangkat kemudian menjentikkan jemarinya.
Ctak
Dinding kaca yang dijadikan tumpuan oleh Athanaxius tiba-tiba hilang hingga membuat lelaki itu tersungkur tepat di depan kotak es dimana Devita ada di dalamnya.
"Devita ..." Athanaxius bisa melihat dengan jelas bagaimana kondisi Devita yang begitu pucat.
Tangan Athanaxius menggerayangi kotak es itu berharap sentuhannya bisa membuat kotak es itu mencair. Di dalam sana, Devita sudah seperti mayat hidup yang diawetkan.
"Jiwa Devita sangatlah lemah, maka dari itu aku sengaja meletakkannya di dalam kotak es." Dewi Andromeda lantas menjentikkan jemarinya lagi hingga kotak es itu perlahan mencair.
Saat kotak es itu sudah benar-benar mencair, jiwa Devita tergeletak di atas rumput. Segera saja, Athanaxius mendekati Devita dan ingin menyentuhnya.
"Kau tak akan bisa menyentuhnya."
Benar saja ucapan Dewi Andromeda. Tangan Athanaxius hanya menembus dan benar-benar tak bisa menyentuh Devitanya.
"B-bagaimana a-aku bisa menyentuhnya, Dewi?"
"Cintamu."
Tiba-tiba saja Dewi Andromeda hilang tanpa jejak meninggalkan Athanaxius dan jiwa Devita. Athanaxius kembali memandang Devita yang masih setia menutup mata.
"Aku tidak akan pernah lupa bagaimana awal kita bertemu, Dev." Athanaxius menyeka air matanya, "Aku sangat ingat bagaimana matamu dengan beraninya menatap mataku yang hanya mendatangkan kutukan. Kau ..." Athanaxius tak sanggup untuk bicara. Air matanya terus mengalir deras di pipinya tanpa ada niatan untuk berhenti.
"A-aku mencintamu, Devita ..." Athanaxius mengulurkan tangannya agar bisa menyentuh tangan Devita, "Aku ingin menghabiskan waktuku, hidupku hanya bersamamu saja. Wanitaku yang pertama sekaligus yang terakhir."
Blaar
Sayap Athanaxius muncul di punggungnya dan membentang lebar dengan sendirinya. Tetapi Athanaxius tak peduli dengan keanehan itu. Dia terus berusaha agar berhasil menggenggam tangan Devita.
"Aku ingin Dewa maupun Dewi mendengarnya. Aku hanya ingin Devita yang menjadi sebagian darah serta nafasku, tidak ada yang lain."
Athanaxius memejamkan matanya karena usahanya menyentuh Devita sangatlah sia-sia.
"Aku sangat mencintaimu, Devita ..." Lirih Athanaxius.
Athanaxius tersentak kaget dan membuka matanya saat merasakan tangannya digenggam oleh sebuah tangan yang begitu dingin.
"Aku juga mencintamu, Athan ..."
Athanaxius melihat Devita yang sudah duduk dan memandangnya dengan senyum lebar di wajah pucatnya. Sontak saja Athanaxius membawa Devita ke dalam pelukannya.
"Kau ... Mengapa kau selalu membuatku menangis, hm?" Athanaxius tidak bisa lagi membendung isak tangisnya. Athanaxius menangis tersedu-sedu sembari memeluk Devita.
"Bukankah itu tandanya kau takut kehilanganku?" Devita membalas dengan mengusap punggung Athanaxius.
"Sangat! Aku sangat takut kehilanganmu jauh melebihi aku kehilangan nyawaku sendiri." Athanaxius mengurai pelukannya kemudian memandang wajah Devita dari jarak dekat dan ...
Cup
Athanaxius mengecup bibir dingin Devita sebentar, "Kita harus kembali segera, Dev. Ayo!" Athanaxius menggendong Devita dan bergegas menuju cahaya putih yang sempat membawanya datang kemari.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.