
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
"Bulan merah sudah hampir menghilang," gumam Sirakusa dengan kepalanya yang menengadah menatap langit, "apa ritual ini akan gagal?"
Tidak-tidak! Sirakusa sangat yakin bahwa ritual pertukaran jiwa ini akan berhasil. Sirakusa terus berusaha berpikiran positif meskipun situasinya membuatnya hampir putus asa.
"Sirakusa, kenapa Athanaxius tak kunjung kembali? Hiks ..."
Sirakusa hanya bisa diam membisu. Dia hanya tak ingin memberikan harapan palsu kepada Sirena yang sudah panik dan menangis sejak tadi dengan mengatakan bahwa Athanaxius pasti akan segera kembali.
"Sirakusa! Tolong lakukan sesuatu! Cepat suruh Athanaxius segera kembali dan membawa Devita!" Sirena hendak melangkah memasuki lingkaran ritual namun segera dihentikan oleh Falco.
"Aku tahu ini berat, tapi tidak bisakah kau tenang sedikit, Sirena? Aku sangat yakin bahwa Athanaxius akan kembali membawa Devita." Falco menarik Sirena ke dalam pelukannya, "Maafkan aku karena tidak pernah memelukmu disaat kau sedang tidak baik-baik saja."
Tangis Sirena semakin pecah mendengar permintaan maaf dari Falco. Selama ini Falco selalu menjaga jarak dengannya dan tidak pernah menganggapnya sebagai adik. Untuk pertama kalinya Sirena merasakan kehangatan yang diberikan oleh saudaranya.
Bulan merah sudah benar-benar hampir menghilang dan disusul dengan cermin kuno itu yang mulai retak dengan sendirinya.
Karena hal itu Sirakusa kelabakan tidak tahu harus apa. Kematian Irena akan sia-sia bila jiwa Devita tak kunjung kembali. Sendi-sendi di tubuhnya seolah-olah tidak lagi berfungsi saat bulan merah akhirnya menghilang.
"Ritual ini gagal." Dengan berat hati Sirakusa harus mengatakan itu.
Cermin yang tadinya menampilkan sosok Irena disamping tubuh aslinya kini memudar selayaknya televisi rusak. Sirakusa duduk di sisi kiri tubuh kaku Devita dengan tatapan matanya yang sendu.
"Apa sampai disini saja untuk semua usahamu, Dev? Apa kau yakin?"
Semua orang tertunduk sedih. Mereka berduka atas kegagalan ritual yang mengorbankan dua jiwa. Jiwa Irena dan Devita.
"Tidak bisakah kau meminta keajaiban Dewa untuk Irena dan Devita?" Tanya Nervilia yang berdiri diluar lingkaran ritual dengan air mata bercucuran.
Sirakusa menampilkan wajah sayunya, "Ada dua hal yang tak bisa kita minta, Nervilia, yaitu umur dan hidup. Umur akan tetap bertambah dan hidup tidak akan pernah abadi."
"T-tapi ..." Nervilia tak bisa melanjutkan kata-katanya karena isak tangisnya.
Krek krek
Bunyi retakan cermin kuno yang keras cukup mampu membuat semua orang memandang pada objek yang sama. Mereka menunggu hal apa yang terjadi bila cermin kuno itu pecah setelah sebelumnya pernah dipecahkan oleh Athanaxius.
PYAR
Cermin kuno akhirnya pecah seiring dengan keluarnya sebuah cahaya putih yang menyorot lurus ke arah raga Devita. Tidak hanya itu, serpihan-serpihan kaca terlihat mengambang di udara dan tidak ada satupun yang terjatuh ke tanah.
Sirakusa segera menyingkir dari tepi ranjang dimana dia duduk sebelumnya. Senyum kecil Sirakusa muncul saat melihat sayap putih milik Athanaxius membentang begitu lebar setelah cahaya putih yang menyorot tubuh Devita hilang.
"Kau kembali."
"Ya, aku kembali."
Terlihat sosok Athanaxius yang seperti menggendong seseorang di depan dengan gaya pengantin.
Dengan langkah lebar, Athanaxius membawa jiwa Devita ke samping tubuhnya. Lelaki itu mendongak untuk melihat bulan merah, namun bulan merah itu justru tidak ada.
"Dimana bulan merahnya?" Athanaxius lantas kembali memandang wajah pucat Devita yang masih setia menyunggingkan senyumnya.
"Bulan merahnya sudah hilang. Ritual ini gagal, Athan."
"TIDAK MUNGKIN!" marah Athanaxius. Dia lantas memandang Devita, "Ini tidak mungkin kan, Dev? Apa Dewi Andromeda kembali bermain-main denganku?"
Tangan lemah Devita menggapai wajah Athanaxius kemudian mengusapnya pelan, "Mungkin sudah takdirnya begini, Athan. Kau harus belajar ikhlas."
Buliran kristal melewati pipi Athanaxius yang langsung dihapus oleh Devita, "Ikhlas yang bagaimana lagi yang harus kupelajari? Aku sudah bertarung dalam waktu lama untuk tetap hidup, salah satunya dengan cara ikhlas. Apa ikhlasku sebelumnya tidak cukup?"
Devita tidak menjawab Athanaxius, dia justru memandang tubuhnya yang nampak kaku, "Lihatlah aku, Athan! Aku sudah mirip Putri Tidur seperti yang aku tonton sewaktu kecil, hihi ..." Air mata Devita turut keluar saat dia tertawa kecil.
Devita mencoba menyentuh tubuhnya, tetapi justru dirinya seperti tersengat listrik yang membuatnya segera menjauhkan tangannya.
Tidak ada seorangpun yang dapat melihat raut wajah Devita yang semakin pucat selain Athanaxius tatkala raganya menolak jiwanya.
"Kau lihat sendiri, Athan ... Sepertinya aku memang tak akan bisa kembali. Setelah ini kau harus mencari penggantiku." Devita menggenggam kedua tangan Athanaxius. "Jangan lagi mengorbankan nyawamu hanya demi aku, Athan. Nyawamu berharga selayaknya duniaku sendiri, Pangeran gantengku."
Sosok Devita perlahan mengabur seiring mengendurnya genggaman tangannya dari tangan Athanaxius.
"Susah payah aku menjemputmu, lantas kau akan pergi lagi, begitu?" Athanaxius menatap tajam sosok Devita yang semakin mengabur di matanya. Berbeda dengan hatinya yang kembali terluka dengan ini semua.
"Aku tidak pergi. Aku justru kembali ke rumah yang tepat, yaitu kau, Athanaxius Deimor." Devita mengakhiri kalimatnya dengan senyuman tulus hingga pada akhirnya sosoknya tidak lagi terlihat di mata Athanaxius.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
"Anakku ..."
Devita membuka matanya saat telinganya mendengar suara yang begitu lembut dan membuat jantungnya berdetak cepat. Kemudian netra Devita berkeliling memperhatikan dimana dia berada saat ini.
Devita terkejut saat melihat ke bawah dimana kakinya berpijak. Dia berada di atas jembatan kaca yang terlihat retak. Sedangkan di bawah jembatan tidak terlihat apapun selain kabut tipis dan kegelapan yang saling berpadu.
"Devita ..."
Krek
Karena suara itu yang kembali terdengar, Devita refleks melangkah untuk mencari tahu. Namun jembatan kaca yang dia pijaki justru semakin bertambah retak yang membuat Devita bergetar ketakutan.
"Kau tak merindukanku, hm?"
Di ujung jembatan, Devita melihat sosok perempuan dengan gaun biru laut dan rambut putih keabu-abuan yang berkibar meskipun tidak ada angin yang menerpa.
"Si-siapa?" Ingin sekali Devita berlari ke ujung sana untuk melihat siapa sosok perempuan itu, tetapi dia tak berani karena jembatan kaca ini akan semakin retak saat dia melangkah.
"Jangan takut, aku akan menjagamu. Berjalanlah dengan pelan ke arahku, anakku."
Krek
"A-aku takut hiks ..."
Krek
"Ya, seperti itu. Melangkahlah pelan-pelan, tidak perlu terburu-buru. Kesabaran adalah kunci keberhasilan yang tertunda, sayangku."
Sembari terisak, Devita masih melangkah pelan-pelan seperti yang perempuan misterius itu katakan.
Krek
"A-aku takut ... Hiks ..."
"Tidak ada kemudahan saat kau ingin menuju ke arah tujuanmu, Devita. Dan karena itu kau akan belajar menentukan waktu yang tepat untuk berlari atau justru berjalan."
Devita mengusap air matanya, "Aku akan berjalan ke arahmu, jadi tunggulah aku."
Tidak ada suara itu lagi. Jadi Devita kembali berjalan setelah diam sejenak untuk mengusap air matanya dan mengusir rasa takutnya.
Krek
Semakin dekat dengan ujung, Devita bisa melihat jelas bagaimana rupa perempuan yang menemaninya di tempat menyeramkan ini.
Rupa perempuan itu terlihat berseri saat dipandang. Tidak terlihat muda juga tidak terlihat tua namun tidak akan pernah bosan untuk dipandang. Itulah yang Devita bisa deskripsikan.
"Anda siapa?"
"Aku Agalia, ibundamu yang sebenarnya."
Mata Devita terbuka lebar, "I-ibunda?" Devita tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Apa benar perempuan di depannya adalah ibundanya Agalia?
"Kemarilah, apa kau tak merindukan ibundu ini, Nak?"
Entah dorongan darimana, Devita akhirnya menubrukkan tubuhnya pada sosok perempuan yang mengaku ibundanya, Agalia.
Usapan lembut di kepala Devita terima dari perempuan itu. Tak bisa dipungkiri oleh Devita, dia terbuai. Terbuai dengan kehangatan yang diberikan oleh perempuan itu.
"Kau tumbuh dengan baik, Nak. Maafkan ibunda ..." Ibunda Agalia memeluk erat Devita.
"Apa ini benar-benar Ibunda? Ibunda Agalia yang melakukan ritual dengan mengirim jiwaku ke Bumi?"
"Ya, ini ibunda. Ibunda yang harus melakukan cara itu untuk menyelamatkanmu. Dengan begitu anakku akan tetap hidup."
"Tapi kehidupanku berat. Aku hampir menyerah." Devita mendongakkan kepalanya untuk melihat ibunda Agalia yang ternyata lebih tinggi darinya.
"Dan kau memilih bertahan. Aku bangga padamu, Devita."
Devita tersenyum tipis, "Karena aku yakin, suatu hari segala kesulitanku akan terbayar dengan kebahagiaan yang tak pernah aku duga."
Ibunda Agalia mengurai pelukan diantara mereka, kemudian menggenggam kedua lengan Devita lembut, "Anak pintar! Anak ibunda memang pintar!" Ibunda Agalia tersenyum manis.
"Bertemu ibunda tidak pernah ada dalam bayanganku hiks ... Aku senang bertemu dengan ibunda hiks ..." Devita kembali memeluk Ibunda Agalia. Dia sangat-sangat menginginkan pelukan hangat sosok ibu sejak masih kecil, tetapi tak pernah dia dapatkan dari Mamanya.
"Bolehkah aku ikut dengan ibunda saja? Aku sudah lelah dipermainkan takdir hiks ... Aku lelah dengan hidupku sendiri ..."
Usapan lembut kembali diterima Devita di kepalanya, lalu suara halus Ibunda Agalia mengalun merdu di telinganya, "Mengeluhlah, Nak ... Tetapi kau tak boleh menyerah! Apa kau tak melihat wajah Athanaxius yang begitu terluka saat kau pergi?"
Devita berhenti menangis. Dia kembali teringat wajah sedih Athanaxius. Lelaki itu berhasil membuat Devita jatuh cinta dan benar-benar percaya bahwa lelaki tulus memang benar adanya.
"Anakku ... Seseorang pernah berkata pada ibunda. Hidup itu seperti taman bunga, ada banyak jenis yang membuat taman bunga itu terlihat berkesan, salah satunya adalah cinta. Cinta adalah bunga abadi yang akan selalu tumbuh di hati tiap manusia."
Devita mendongak, "T-tapi bila aku kembali, aku akan berpisah dengan ibunda ..."
Ibunda Agalia kembali tersenyum, "Kembalilah, Nak. Ibunda hanya ingin kau tahu bahwa ibunda sangatlah menyayangimu sama seperti ibunda menyayangi Sirena. Bila sudah saatnya, kita pasti akan bertemu kembali."
Devita lantas memeluk erat ibunda Agalia kembali. Devita sangatlah bersyukur dapat melihat secara langsung bagaimana rupa Ibunda Agalia dan merasakan pelukan hangat seorang ibu.
"Devita ..."
Devita segera mengurai pelukannya saat mendengar suara Athanaxius.
"Kembalilah, sayang ..."
"Kau dengar itu, Nak? Athanaxius sangat mencintaimu." Ibunda Agalia mengusap pipi Devita, "Dengan begini Ibunda tenang, anak-anakku sudah bertemu dengan orang yang tulus. Ibunda merestui kalian ..."
"Aku mohon kembalilah ..."
Suara Athanaxius sangat menyayat hati Devita. Maka dia pun memutuskan untuk kembali. Kembali menemui sosok lelaki tulus seperti Athanaxius.
"Bagaimana aku bisa kembali, Ibunda?"
"Berjalanlah di atas jembatan kaca lagi hingga jembatannya pecah."
Devita bergetar ketakutan karena harus berjalan kembali di atas jembatan kaca yang sudah retak itu dan sekarang dia harus berjalan hingga jembatan itu pecah.
"Kalau begitu, Devita pergi dulu, ibunda ... Devita sangat menyayangimu." Devita mengecup punggung tangan ibunda Agalia sebagai salam perpisahan.
Tapi ada satu hal yang hampir Devita lupakan.
"Bila aku sudah kembali ke ragaku, apa Irena juga berhasil?"
Ibunda Agalia tersenyum lalu mengangguk dua kali, "Maka dari itu, cepatlah kembali."
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Akhirnya Devita ketemu ibunda Agalia. Kasihan kalau dia belum tahu gimana wajah Ibundanya sedangkan Irena yang orang lain justru tahu. Maaf ngaret lama. Bantuin semangatin dong dikolom komentar yang banyak!!! Karena makin kesini rasanya aku hampir nyerah buat nulis lagi:(