
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
"Aku tidak pergi. Aku justru kembali ke rumah yang tepat, yaitu kau, Athanaxius Deimor."
Athanaxius terpaku menatap sosok Devita yang akhirnya menghilang, lagi. Harus berapa kali dia menyaksikan itu semua? Apakah Dewa tidak tahu bahwa hatinya sangatlah terluka dengan kepergian Devita?
"Bila aku rumahmu, mengapa kau justru menghilang?" Gumam Athanaxius.
Athanaxius terduduk di samping ranjang dimana raga Devita berada. Tatapannya terpaku pada sosok orang yang paling dia cintai yang tak kunjung membuka matanya.
Tangan Athanaxius terulur menggenggam jari-jemari Devita yang dingin. Mata sayunya tak bisa disembunyikan dari orang-orang yang melihatnya.
"Aku tahu ini berat, tetapi kau harus merelakannya, Athan."
Athanaxius tidak menggubris ucapan Sirakusa yang hanya membuatnya semakin terpuruk. Berbeda dengan lubuk hatinya yang begitu yakin bahwa Devita akan kembali padanya, ke dalam pelukannya.
"Devita ..." Panggil Athanaxius dengan lirih.
Kehilangan adalah hal yang paling menakutkan bagi siapapun, salah satunya Athanaxius.
"Kembalilah, sayang ..." Lirih Athanaxius sekali lagi yang hanya disambut oleh keheningan dan isak tangis di sekelilingnya.
"Aku mohon kembalilah ..." Athanaxius mengecup punggung tangan Devita begitu lama dengan mata yang terpejam.
'Kalau memang sudah seperti ini sebagai jalan takdirku, aku merelakannya. Aku rela ...'
"Athan ..."
'Lantas mengapa suaranya begitu terdengar jelas di telingaku? Apa aku mulai gila?' Athanaxius merasa dia mulai tidak waras karena menganggap suara yang memanggil namanya adalah Devita.
"Athan ..."
"Hahaha ..." Athanaxius tertawa pelan dengan mata yang masih terpejam, "Kenapa suaramu begitu terdengar jelas? Bukankah kau sud-"
"Aku kembali ..."
Segera Athanaxius membuka mata dan mengangkat kepalanya yang tertunduk. Dapat dia lihat sosok Devita yang tersenyum lemah kepadanya.
"I-ini nyata?" Bulir-bulir bening berhasil membasahi pipi Athanaxius ketika melihat mata indah Devita yang mengerjap pelan.
Athanaxius tidak bisa berkata-kata lagi. Kemudian sayap putih miliknya juga muncul dan terbentang lebar seakan bisa merasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan tuannya.
Di belakangnya, Sirena hendak berlari mendekati Devita dan ingin memeluknya, tetapi Elanus mencegahnya.
"Biarkan dulu mereka, Sirena."
Sirena mengangguk pasrah. Dia tahu betul bagaimana putus asanya Athanaxius saat Devita tak ada.
Matahari pun turut menyambut kembali Devita yang sudah berhasil kembali ke dalam raga aslinya, yaitu sebagai Putri Irena Harmony Asthropel.
Di kejauhan, Raja Hylobates dan Selir Airith turut serta bahagia melihat anak yang selama ini mereka abaikan kembali tersenyum memancarkan kebahagiaan.
"Kau tak ingin memelukku?" Tanya Devita setelah berhasil mendudukkan dirinya sendiri. Devita tersenyum geli melihat raut wajah Athanaxius yang menahan tangis.
"Tentu saja aku ingin memelukmu." Athanaxius langsung mendekap erat Devita.
Hangat, hatinya kembali menghangat saat ini. Devita adalah wanita pertama yang membuatnya mengenal cinta disaat semua orang menjauhinya dan mengabaikannya.
"Aku bertemu ibunda Agalia, Athan," cerita Devita yang masih ada dalam pelukan Athanaxius, "ternyata dia begitu cantik."
"Tentu saja cantik kalau kau saja secantik ini." Sahut Athanaxius yang membuat Devita tertawa.
Devita mengurai pelukan mereka. Dia lantas memandang sekelilingnya dimana keluarganya di dunia ini dan teman-temannya tersenyum ke arahnya.
Devita tersenyum geli saat melihat Galcinia yang merupakan Ayana yang menangis tersedu-sedu ingin menghampirinya namun ditahan oleh Falco.
Perasaan hangat menyelimuti Devita, sesuatu hal yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya. Devita berharap dia bisa merasakan perasaan hangat ini lebih lama lagi bersama orang-orang yang mengharapkannya dan mencintainya.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Klek
"Kenapa dikunci?"
"Karena itu penting."
Devita mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Athanaxius yang tak jelas dengan pertanyaan yang dia berikan.
Setelah mengunci pintu, Athanaxius berjalan menghampiri Devita yang duduk di atas ranjangnya dengan membawa nampan berisi bubur ayam dan susu untuk sarapan Devita.
"Kau tahu kan kalau perempuan dan laki-laki yang bukan suami istri tidak boleh berada di dalam satu kamar yang sama?"
Athanaxius justru menyeringai, "Kita bahkan pernah tidur bersama, apa kau lupa, sayang?"
"Heh! Bisa aja lo nyahutnya!" Geram Devita yang ingin melemparkan bantal ke arah wajah menyebalkan Athanaxius.
"Makan."
"Tid-" Baru saja ingin menolak, wajah Devita justru ditolehkan paksa oleh Athanaxius dan dia harus berhadapan dengan mata merah Athanaxius.
"Aku masih tidak menyangka kalau kau kembali." Tatapan Athanaxius mengunci mata Devita hingga tak bisa beralih memadang ke arah lain, "Dan yang pasti aku tidak akan membiarkan milikku menghilang ataupun pergi lagi."
"Manusia tidak abadi, Athan ... Manusia bisa pergi kapanpun."
"Aku tahu, tapi setidaknya aku sudah berusaha menahan manusia itu agar tetap di sisiku."
Devita menyunggingkan senyum tipis dengan tangan kanannya yang terangkat mengusap pipi putih Athanaxius menggunakan ibu jarinya.
Dengan gerakan pelan Devita memajukan wajahnya hingga begitu dekat dengan Athanaxius lalu mengecupnya.
Athanaxius terpaku. Dapat dia rasakan efek kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya.
"Aku mencintaimu, Athan, sangat!" Ucap Devita setelah mengecup bibir merah Athanaxius.
Keduanya sama-sama diam menikmati suasana yang tercipta diantara mereka. Senyuman indah terpancar dari bibir mereka berdua.
"Apa aku pernah bernyanyi untukmu?"
Devita menaikkan sebelah alisnya kemudian baru menjawab, "Tidak pernah. Kau kan lebih sering menatapku daripada memberiku nyanyian."
Athanaxius tergelak, itu benar. Dia memang lebih suka menatap Devita karena bagi Athanaxius; Devita adalah hal yang selalu menarik di matanya.
"Aku pernah mendengar Galcinia bernyanyi untuk Falco dan aku menghafalkannya untuk kunyanyikan di depanmu." Athanaxius lantas bangkit untuk mengambil gitar yang sudah lama tidak digunakan oleh Devita setelah datang ke Osaka.
"Kau bisa memainkannya?" Devita ragu, pasalnya Athanaxius hanya tahu memainkan pedang, anak panah, tombak dan senjata perang lainnya bukan alat musik.
"Tidak terlalu buruk untuk didengar, kuharap cukup bisa menghiburmu."
Athanaxius memposisikan dirinya duduk di kursi yang memang sebelumnya sudah ada di kamar yang Devita tempati sekarang. Kursi itu sengaja digeser oleh Athanaxius hingga dekat dengan posisi Devita berada.
I've been hearing symphonies
Before all I heard was silence
"Wow!" Devita berdecak kagum saat mendengar suara berat Athanaxius bernyanyi lagu Symphony milik Clean Bandit.
A rhapsody for you and me
And every melody is timeless
Life was stringing me along
Then you came and you cut me loose
Was solo singing on my own
Now I can't find the key without you
Devita kagum Athanaxius dapat menghafal lagu favorit Ayana ini. Dia mengira Athanaxius adalah lelaki kaku yang tak bisa bersikap romantis seperti sekarang.
And now your song is on repeat
And I'm dancin' on to your heartbeat
And when you're gone, I feel incomplete
So if you want the truth
I just wanna be part of your symphony
Will you hold me tight and not let go?
Symphony
Like a love song on the radio
Will you hold me tight and not let go?
"Aku lupa kelanjutannya." Athanaxius menghentikan permainannya.
Devita tertawa sebagai reaksinya melihat wajah lesu Athanaxius yang tak bisa menyanyikan keseluruhan lagu Symphony.
"Tidak apa-apa, yang terpenting kau tahu makna dari lagu itu, Athan." Devita menepuk bahu Athanaxius.
Athanaxius kemudian meletakkan gitar Devita di dekat kakinya. Setelah memastikan bahwa gitar itu tidak akan terjatuh atau bergeser, Athanaxius menggenggam tangan Devita.
"So? Will you hold me tight and not let go?"
Devita tertawa lalu balas menggenggam tangan Athanaxius, "Yes, i will."
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.