The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 34: Membutuhkan Sirena



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Tak terasa langit siang sudah berganti menjadi malam. Athanaxius terbangun dari tidur nyenyaknya, entah sudah berapa lama dia tertidur dalam pelukan Sirena, yang jelas baru kali ini dia merasakan tidur dengan nyaman.


Athan membenarkan posisi duduknya. Dapat dia lihat posisi tidur Sirena yang kurang nyaman karena tidur sambil duduk. Athanaxius hendak membenarkan tubuh Sirena, namun Sirena sudah bangun terlebih dahulu.


"Sudah bangun?" Tanya Sirena dengan suara serak khas bangun tidur. Tanpa malu Sirena menguap lebar sembari menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya.


"Apa kau selalu seperti ini?"


Sirena menatap Athanaxius bingung, "Maksudmu?"


Athanaxius menggeleng, "Tidak jadi." Dia pun bangkit dari duduknya, hendak keluar kamar.


"Mau kemana?"


Athanaxius berhenti melangkah, dia menoleh ke belakang memperhatikan Sirena yang berjalan mendekatinya, "Pulang."


"Pulang? Kau tak ingin makan malam terlebih dahulu?"


"Tidak. Aku harus memberitahukan pada ayahanda juga ibunda tentang lamaran yang kuajukan padamu." Tatapan Athanaxius teralih pada kening Sirena yang bersinar, "Keningmu," tunjuk Athanaxius pada kening Sirena.


Sirena pun merasakan panas pada keningnya, hingga perlahan tubuhnya terasa lemas dan membuatnya hampir terjatuh kalau saja tidak ada Athanaxius yang menahan pinggangnya.


"Aku lelah, Athan ..." Lirih Sirena yang terkulai lemah dalam pelukan Athanaxius.


Athanaxius menggendong Sirena ala bridal style, kemudian hendak membawa Sirena kembali ke kasur, namun Sirena mencegahnya.


"Aku lapar ... Mungkin setelah aku makan, tubuhku akan kembali sehat." Athanaxius menurut saja, dia pun membawa Sirena ke ruang tamu.


Dengan hati-hati Athanaxius mendudukkan Sirena di kursi empuk. Athanaxius juga membenarkan rambut Sirena yang menghalangi wajah Sirena.


"ASTAGA, SIRENA! APA YANG TERJADI DENGANMU?" Agda datang dengan wajah paniknya.


"Aku tak apa-apa. Hanya saja simbol milikku kembali bersinar yang membuatku lemas."


Athanaxius memilih menyingkir, membiarkan dua luster Sirena berbicara pada calon istrinya itu.


"Kira-kira daerah mana lagi yang diserang oleh monster?"


Pletak


"Kau ini bagaimana, Adelphie? Lihat! Lihat kawanmu ini! Dia sedang lemah tak berdaya, dan kau malah bertanya daerah mana yang diserang oleh monster?" Agda benar-benar tak habis pikir dengan Adelphie.


Sirena tertawa kecil, "Kau tahu, Agda? Adelphie kan merakyat! Dia sudah cocok menjadi Ratu, haha ..."


"Ratu? Ah, aku tak bisa membayangkan betapa tersiksanya para rakyat saat Adelphie menjadi Ratu, hahaha ..."


"Berhenti membicarakanku, wahai orang-orang bodoh!" Adelphie menjitak kepala Agda, kemudian Adelphie beralih memandang Sirena, "Kalau kau sakit seperti ini, kenapa kau tak istirahat di dalam kamar?"


"Adelphie, aku butuh asupan! Kondisiku sekarang melemah tak bertenaga seperti orang tidak makan tiga hari! Jadi, untuk mengembalikan tenagaku, aku harus makan banyak! Mungkin sekitar tiga piring nasi dengan lauk ayam goreng, hehe ..."


Di sudut ruangan, Athanaxius mendengus mendengar penjelasan Sirena. Bagaimana bisa seorang Putri Raja memiliki nafsu sebesar kuli pasar? Hanya Sirena yang seperti itu.


"Satu piring saja, Sirena! Sebentar lagi  pesta pernikahan Nervilia diadakan, dan kau harus menjaga penampilanmu terutama berat badanmu." Sirena menghela napas pasrah dengan ucapan Adelphie.


Adelphie pun bergegas pergi ke dapur, sedangkan Agda mengambil obat penurun panas yang diberikan oleh Sentrasenda.


Setelah kepergian dua luster Sirena, Athanaxius mendekati Sirena. Dia menyentuh kening Sirena yang masih begitu panas.


"Tidak jadi pulang?"


Athanaxius menggeleng, "Aku akan menunggu hingga kondisimu membaik." Athanaxius menepuk kepala Sirena dua kali, "Aku tak bisa membantumu dengan sihir penyembuhku saat ini. Jadi, cepatlah sembuh agar tak merepotkan orang lain!"


"Siapa yang merepotkan? Kalau kau merasa direpotkan, pergi sana!" Sirena mencebik kesal seraya mendorong Athanaxius.


Athanaxius tersenyum tipis, "Dasar wanita." Athanaxius kembali menepuk kepala Sirena, "Aku akan memperkenalkanmu pada ayahanda dan ibunda di pesta pernikahan Putri Nervilia nanti. Persiapkan dirimu baik-baik."


'Karena aku tak yakin, mereka akan menerimamu.' sambung Athanaxius dalam hati.


"Em, Athan ... Apa hatimu sudah baik-baik saja?" Dengan hati-hati Sirena menyentuh dada Athanaxius.


Athanaxius terhenyak, melihat itu Sirena langsung menarik tangannya kembali. Athanaxius berdehem, "Kau terlalu peduli akan hatiku, lantas bagaimana dengan hatimu sendiri, hm?"


"Hatiku ya? Em ... Entahlah, aku tak tahu. Sesaat hatiku merasa baik-baik saja, sesaat kemudian hatiku merasa hancur berantakan. Jadi, bagaimana aku menjelaskan kondisi hatiku padamu, Athan?"


"Tak perlu dijelaskan kalau memang tak bisa. Mungkin jalan satu-satunya hanya satu, kesabaran." Athanaxius menoleh memandang Sirena.


"Kau suka kupu-kupu?"


Sirena mengangguk, dia suka kupu-kupu, "Kupu-kupu itu cantik, apalagi saat aku melihatnya terbang di langit dengan bebas."


"Sebelum menjadi kupu-kupu, apakah kau tahu betapa sulitnya menjadi ulat?" Melihat keterdiaman Sirena, Athanaxius menyentil kening Sirena, "Anggap saja kau sedang berada di fase ulat. Sebelum menjadi indah, kau perlu bersabar dan tetap bertahan. Kau mengerti maksudku?"


Sirena mengangguk kaku. Sirena kembali memandang ke depan, dia sedikit malu. Sirena baru tahu sisi Athanaxius yang bijak seperti ini.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Selesai makan malam, Sirena yang memang kondisinya masih lemah pun langsung tertidur setelah meminum obat. Athanaxius pun menaikkan selimut Sirena hingga leher, memandang wajah Sirena yang statusnya sudah berubah menjadi calon istrinya.


Athanaxius yang masih berada di dalam kamar Sirena merasakan hawa yang berbeda. Athanaxius menegakkan tubuhnya sembari menyunggingkan senyum tipis, "Sirena milikku sekarang."


Sosok yang bersembunyi di sudut kamar Sirena yang tak terkena cahaya lilin pun akhirnya keluar, memperlihatkan sosok lelaki yang gagah dengan rambut panjang putihnya berdiri tak jauh dari Athanaxius.


"Tidak bisa! Dia adalah calon permaisuriku, Athanaxius!" Sosok itu hendak melayangkan serangan namun tidak jadi karena ucapan Athanaxius berhasil membuatnya terdiam.


"Memangnya Sirena mau menjadi calon permaisurimu, hm?" Athanaxius berbalik, menatap sosok yang sudah dibangkitkan oleh Sirena, "Raja iblis, Ambrogio Agafya ... Akhirnya kita bertemu."


Ambrogio mengepalkan tangannya kuat-kuat, "Kau ..."


Athanaxius berjalan mendekati Ambrogio, sama sekali tidak takut dengan sosok didepannya, "Sirena sudah menentukan pilihannya, dan itu aku. Tidakkah kau berpikir bahwa kau terlalu bodoh dengan mengharapkan milik orang lain?"


"Jaga bicaramu!"


Athanaxius menyeringai, "Kau ingin menjadikan Sirena permaisurimu, lantas mengapa kau ingin membunuhnya? Begitukah caramu menjadikan Sirena permaisurimu?"


"Aku tak berniat membunuhnya!"


"Lalu bagaimana kau menjelaskan tentang serangan monster beberapa hari yang lalu?"


"Itu bukan aku!" Sergah Ambrogio.


Athanaxius menganggukkan kepalanya, "Terserah! Aku tidak peduli. Yang perlu kau tahu, Sirena mi-lik-ku." Tekan Athanaxius dengan tatapan tajamnya.


Ambrogio diam, tatapannya kosong. Athanaxius sendiri memilih berjalan keluar kamar. Namun sebelum benar-benar keluar, Athanaxius berhenti sebentar, "Kenyataan sudah di depan mata. Kuharap kau segera sadar dan berhenti mengamati Sirena setiap malam. Kau bukan manusia yang bisa bersanding dengan Sirena, Ambrogio ..."


Athanaxius melanjutkan langkahnya, tangannya sudah meraih gagang pintu, bersiap untuk membukanya.


"Tidakkah kau juga sadar bahwa kau juga tak pantas bersanding dengan Sirena?" Athanaxius tak jadi membuka pintu. Dia kembali menoleh untuk menatap Ambrogio.


"Kutukan milikmu bila tak segera dihilangkan, akan membuatmu menjadi monster, Athan. Aku tebak kau pasti tak tahu apa makna simbol sayap di punggungmu, bukan?"


Keadaan terbalik, sekarang Athanaxius yang mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarah.


"Simbol sayap milikmu adalah perpaduan milik Dewa Eunoia dan Dewi Elegi. Dewa Eunoia dan Dewi Elegi keluar dari niskala dengan membawa berkah keburukan dari para Dewa dan Dewi yang tak merestui hubungan mereka. Dewa Eunoia dianugerahkan sayap hitam yang mampu membuatnya menjadi sosok monster mengerikan! Karena berkah itu, Dewi Elegi mati di tangan Dewa Eunoia, mengerikan bukan?"


Sret


Athanaxius mencengkram leher Ambrogio yang tak berarti apa-apa untuk lelaki itu, "Aku bukan Dewa Eunoia! Aku tak akan membunuh Sirena!"


Ambrogio melepas tangan Athanaxius dengan kasar dari lehernya, "Tetap saja, kau memiliki simbol legendaris itu. Bila kau tak bisa menghilangkan kutukan mata merahmu, simbol sayap milikmu akan sepenuhnya menghitam, itu sangatlah membahayakan. Kau akan berlaku sama seperti Dewa Eunoia yang membunuh Dewi Elegi."


"Haruskah aku percaya omong kosongmu?"


"Mau percaya atau tidak itu adalah urusanmu."


Kedua lelaki itu sama-sama diam setelahnya. Tatapannya menatap ke arah yang sama, yaitu Sirena yang terlelap dalam tidurnya.


"Tunggu," Athanaxius kembali menatap Ambrogio, "Mengapa kutukanku tak berlaku padamu?"


"Aku bukan manusia, dasar bodoh!" Ambrogio berucap ketus.


Athanaxius lupa akan hal itu. Namun yang pasti, kehadiran Ambrogio yang selalu mengawasi Sirena bukanlah hal sepele. Ambrogio Agafya ... Haruskah dia menetapkan bahwa lelaki itu sekarang adalah rivalnya? Yang pasti, Athanaxius akan berusaha agar Sirena tetap menjadi miliknya. Bagaimanapun, Athanaxius membutuhkan Sirena.


...•───────•°•❀•°•───────•...


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?


Sekali lagi Pit ingetin, Pipit up tiga hari sekali ya ... Mentok paling cepet dua hari sekali. Soalnya Pipit buat cerita ini sekedar menyalurkan hobi hehe. But, aku makasih banget buat kalian yang mendukung ceritaku ini.


BIG LOVE UNTUK KALIAN YA!!!


PIPIT SAYANG KALIAN!