The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 77: Pertemuan



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Di penghujung hari, ******* lelah mencuat karena melewati hari yang panjang dan melelahkan. Banyak orang menahan dan bertahan tanpa henti menghadapi beban hidup serta masalahnya masing-masing.


Banyak orang yang menyerah karena tidak mampu bertahan karena masalah yang mereka miliki, padahal bila lebih bersabar lagi; akan ada hari indah dimana semua masalah serta beban terasa begitu ringan untuk dihadapi dan terbalas dengan kebahagiaan yang tak bisa diterka.


"Hidup adalah medan pertempuran dan bertahan hidup adalah sebuah pertarungan yang tiada henti, menyerah berarti kalah."


Devita menoleh ke belakang untuk melihat siapa orang yang berbicara hal itu dan mengganggunya yang tengah memandang langit malam.


"Siapa yang menyerah?" Devita memandang Irena datar.


Irena tersenyum miring, "Lo."


Devita menunjuk dirinya sendiri, "Gue? Enggak tuh! Nggak usah sok tahu tentang gue deh!" Kesalnya.


"See? Mata lo nunjukin semuanya, Dev." Irena melangkah mendekat, kemudian menepuk bahu Devita sekali, "Mata nggak pernah bisa bohong. Gue tahu sekarang lo lagi capek dengan segala hal yang sedang lo hadapi. Entah di sini maupun di bumi, lo nggak pernah sekalipun mendapat sedikit aja ruang untuk ngehirup udara kebebasan masalah." Irena lantas memeluk Devita untuk yang pertama kalinya, "Lo hebat, Dev!"


Senyuman manis muncul di bibir Devita karena mendapat perlakuan hangat Irena yang tiba-tiba ini, "Kesambet apa lo tiba-tiba perhatian kayak gini?"


Irena mengurai pelukannya kemudian tersenyum tipis, "Sengaja, gue yakin lo pasti penasaran gimana rasanya dipeluk sama gue."


'Sebagai ganti pelukan bunda Agalia yang gue curi dari lo, Dev.' Lanjut Irena dalam hati.


Memang benar, alasan dia memeluk Devita adalah sebagai ganti karena dulu sewaktu dia merasa kebingungan dengan dirinya sendiri, merasa begitu terpuruk karena menerima kenyataan dia menjadi korban pertukaran jiwa dengan Devita, bunda Agalia selalu memberinya pelukan hangat dan menganggapnya sebagai anak kandungnya. Karena bunda Agalia jugalah dia bisa hidup tenang tanpa gangguan disini.


"Buat apa gue penasaran? Lo nggak level, Ren," gurau Devita yang membuat Irena tertawa pelan.


"Tapi gue serius dengan ucapan gue tadi." Irena kembali memasang wajah serius, "Lo nggak boleh nyerah gitu aja. Gue yakin setelah ini lo bakal dapet hadiah dari Tuhan yang nggak akan lo kira-kira sebelumnya." sambung Irena.


Devita mengangguk, "Meskipun gue ngerasa capek, kepengen banget nangis dan nyalahin segala hal sama Tuhan, terlepas dari itu gue nggak akan nyerah kok. By the way, thanks for your hug."


"Sama-sama, kalau begitu ayo turun ke bawah. Kereta milik Beta Alfon udah dateng." Irena menggenggam tangan Devita kemudian menariknya untuk turun ke bawah.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Menurut penjelasan Beta Alfon, Kaisar Yerikho menggelar pertemuan dewan istana untuk membahas perihal sang Dryas dan juga peningkatan keamanan wilayah Kekaisaran.


Kaisar Yerikho terkenal dengan sifatnya yang dingin dan tegas hingga membuatnya disegani oleh siapapun. Kejayaan yang dibawanya hingga saat ini juga berkat usahanya yang terus menjaga kestabilan pemerintahan.


Saat melihat betapa megahnya istana Kekaisaran Alphard, Devita tahu bahwa dia benar-benar berada di dunia yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Sebelum memasuki istana, terdapat para legion istimewa yang berpatroli serta menulis daftar nama tamu yang datang berkunjung ke istana.



"Alfonso Grader," Beta Alfon menyerahkan surat undangan pertemuan kepada legion. Beta Alfon lantas menoleh ke belakang, dimana Devita dan Irena berada, "Tulis juga nama mereka yang datang bersamaku, Sirena dan Irena."


"Do you guarantee that they won't do any harm?" (Apa Anda menjamin bahwa mereka tidak akan membahayakan?) Legion itu nampak ragu saat melihat Devita dan Irena.


"Yes, I can guarantee for both of them." (Ya, aku berani menjamin untuk mereka berdua.) Jawab Beta Alfon tegas.


Devita memperhatikan legion yang menulis itu dengan seksama, ada yang aneh dengan gelagatnya. Tidak sengaja, Devita melihat mata legion itu yang berubah merah menjadi hitam lagi dalam sekejap mata.


Selesai menulis nama di daftar, legion itu mempersilakan mereka untuk masuk ke dalam istana. Beta Alfon yang memimpin jalan menuju ruang singgasana dimana pertemuan itu diadakan.


Sesampainya di depan ruang singgasana, Beta Alfon berhenti kemudian menoleh untuk menatap Devita dan Irena, "Putri Devita, perkenalkan dirimu di depan Kaisar sebagai Putri Sirena, dan begitupula denganmu Irena. Oh iya, apa Putri Sirena ada disini bersama kita?"


Devita dan Irena mengangguk bersamaan.


"Bagus. Untuk Putri Sirena, jangan menunjukkan wujud nyatamu saat pertemuan. Kau bisa menunjukkan dirimu ketika selesai pertemuan dimana hanya ada Kaisar Yerikho saja." Intruksi Beta Alfon disetujui oleh Sirena.


Mereka bertiga pun masuk sembari namanya disebutkan oleh Suzdal yang berdiri di depan pintu.


"Princess Sirena and Princess Irena, representatives of the late Council of Agalia Xi Asthropel." (Putri Sirena dan Putri Irena, perwakilan mendiang Dewan Agalia Xi Asthropel.)


Karena itu, kini mereka menjadi pusat perhatian terutama oleh Kaisar Yerikho sendiri. Sebenarnya Kaisar Yerikho sudah tahu kalau akan ada perwakilan dari sahabat mendiang istrinya dari Beta Alfon yang mengirim surat rahasia kepadanya.


Devita dan Irena lantas mengikuti gerakan Beta Alfon yang memberi hormat untuk Kaisar Yerikho. Selesai memberi penghormatan, mereka menuju tempat duduk yang sudah disediakan.


"Since all the councils are present, let's get to our main objective." (Karena semua dewan sudah hadir, mari kita bahas ke tujuan utama kita.) Suara Kaisar Yerikho benar-benar terdengar tegas dan garang di telinga Devita, Irena dan Sirena yang memang baru pertama kalinya bertemu sekaligus mendengar suaranya.


"Saat ini, sebagian wilayah di Vulcan sudah dikuasai oleh Dryas yang tak lain adalah Ratu Amanita, Ratu Willamette. Ada banyak orang yang takhluk dibawah pengaruhnya, dan hal itu membahayakan bagi Kekaisaran kita. Kalian tahu sendiri, ada banyak pihak yang ingin menjatuhkan Kekaisaran Alphard kita. Aku ingin kalian semua memperketat wilayah dan melakukan patroli setiap harinya tanpa mengganggu aktivitas rakyat. Laporkan setiap hal kecil yang menurut kalian mencurigakan."


Para dewan istana menundukkan kepalanya bersamaan, "BAIK, YANG MULIA KAISAR AGUNG ..."


Salah satu dewan istana mengangkat tangannya yang langsung dipersilakan oleh Kaisar Yerikho untuk berbicara.


"Bagaimana dengan Kerajaan Shoemaker? Hamba pernah mendengar desas desus bahwa Raja Jaguisa adalah pemuja iblis. Mohon maaf sebelumnya, Yang Mulia Kaisar Agung, hamba tidak bermaksud menuduh Raja Jaguisa."


"Darimana Anda tahu desas-desus itu, Tuan Yel?" Dewan istana lain bertanya pada Tuan Yel.


"Anakku. Anda tahu sendiri, anakku tinggal di wilayah Kerajaan Shoemaker."


Kerajaan Shoemaker adalah Kerajaan yang dipimpin oleh Raja Jaguisa, adik dari Kaisar Yerikho. Ada dua Kerajaan yang tunduk dibawah kuasa Kaisar Yerikho, yaitu Kerajaan Shoemaker dan Kerajaan Maikos.


"Untuk hal itu, aku sudah menciumnya sejak lama. Maka aku perintahkan untukmu, Beta Alfon, awasi semua legion dari Kerajaan Shoemaker yang bekerja untuk istana Kekaisaran." Titah Kaisar Yerikho.


"Akan hamba laksanakan secepatnya, Yang Mulia Kaisar Agung ..." Beta Alfon berdiri dari duduknya lalu menundukkan setengah tubuhnya menghadap ke arah Kaisar.


“Oh, I just remembered that the Princess of Willamette is here." (Oh, aku baru ingat ada Putri dari Willamette yang hadir disini.)


Seketika Devita dan Irena senam jantung saat semua mata tertuju pada mereka akibat Kaisar Yerikho.


"How is the current state of your Kingdom, Princess Sirena and Princess Irena?" (Bagaimana kondisi Kerajaanmu saat ini, Putri Sirena dan Putri Irena?) Kaisar Yerikho memusatkan perhatiannya pada Devita dan Irena.


"Menjawab pertanyaan Anda, saya sama sekali tidak tahu menahu. Sebelum Ratu Amanita bertindak sejauh ini, saya ditugaskan oleh mendiang Ayahanda untuk memakmurkan desa Osaka yang pernah diserang monster. Saat itu pula saya bertemu dengan Irena, saudara kembar saya." Devita mencoba bersikap tenang.


"Mendiang ayahanda? Raja Monachus sudah tiada?"


"That's right, Your Majesty ... My father died protecting me and Irena from reaching this Empire from the attack of Prince Athanaxius." (Benar, Yang Mulia Kaisar. Ayahanda meninggal karena melindungi saya dan Irena agar sampai di Kekaisaran ini dari serangan pangeran Athanaxius.)


Kaisar Yerikho nampak diam sejenak, "Lantas apa tujuan kalian berdua datang kemari?"


Devita melirik Irena dan Sirena karena bingung, haruskah dia mengatakan tujuannya datang kemari di depan semua orang?


"Izin menjawab, mereka datang kemari untuk meminta pertolongan, Yang Mulia Kaisar." Beta Alfon membantu Devita menjawab.


"Meminta pertolongan?" Kaisar Yerikho,


"I'm not opening a rescue vacancy to help from Queen Amanita's attack." (Aku tidak membuka lowongan pertolongan untuk membantu dari serangan Ratu Amanita.) Dengan tegas Kaisar Yerikho menolak.


"Tapi, Yang Mulia, dalam kondisi yang terdesak seperti sekarang, bukankah lebih baik bila kita bekerja sama? Perang melawan kegelapan sudah di depan mata. Anda tidak akan mampu melindungi wilayah Anda yang luas ini sendirian tanpa memiliki sekutu." Irena angkat bicara.


"Kau meremehkanku?" Kaisar Yerikho menggeram kesal.


"Take back what you said, Princess!" (Tarik kembali ucapan Anda, Putri!) Beberapa dewan istana menatap tajam Irena dan Devita.


"Apa yang dikatakan Putri Irena benar, Yang Mulia. Akan lebih baik bila kita bekerja sama melawan musuh terbesar yang membuat hidup kita kedepannya dalam kesusahan. Ini demi masa depan Kekaisaran juga." Beta Alfon kembali membantu memberi argumen untuk meredam kekesalan Kaisar, "Hamba berani bicara seperti ini karena hamba takut ada musuh dalam selimut yang mampu membahayakan Kekaisaran kita ini."


Saat itu pula para dewan istana terdiam memikirkan ucapan Beta Alfon, begitupula Kaisar Yerikho yang memang mempercayai Beta Alfon.


"Saya sangat tahu, kalau wilayah Kekaisaran Anda akan terhindar dari pengaruh Ratu Amanita. Namun bukankah kewaspadaan juga perlu? Bisa saja ada seseorang dari dalam wilayah Anda yang bersekutu dengan Ratu Amanita untuk menghancurkan Anda." Devita kembali bicara, "Tadi, sebelum saya dan yang lain masuk ke dalam istana, Saya melihat ada keanehan dari legion yang mencatat nama-nama tamu."


"Keanehan apa?" Tuan Yel bertanya.


"Saya melihat mata legion itu berubah merah lalu berganti hitam kembali dalam sekejap. Saya sangat yakin kalau saya tidak salah lihat."


"Aku kira aku saja yang melihatnya." Dewan istana yang duduk paling pojok bergumam sedikit keras yang mampu didengar oleh semua orang di ruangan itu.


"Kau melihatnya, Avior Hilar?"


**( Avior \= Jenderal )


Avior Hilar mengangguk, "Hamba melihatnya."


Kaisar Yerikho lantas berdiri dari duduknya, "Tangkap legion itu! Masukkan ke dalam penjara bawah tanah dan introgasi. Perketat juga penjagaan istana Celandine demi keamanan Putri Virga dan Pangeran Galardion!" Perintah Kaisar pada Avior Hilar.


"Baik, Yang Mulia!" Avior Hilar memberi penghormatan sebelum pergi.


Setelah kepergian Avior, Kaisar memandang para dewan istana, "Pertemuan selesai. Kalian bisa kembali dan melakukan tugas yang sudah aku berikan. Laporkan sekecil apapun hal yang mencurigakan kepada Beta Alfon dan Avior Hilar." Tatapan Kaisar Yerikho berubah dingin, "Bila aku mendapati diantara kalian ada yang berani menjadi musuh dalam selimut, nyawa keluarga kalian taruhannya."


"KAMI MENGERTI DAN KAMI TIDAK BERANI, YANG MULIA!" Semuanya menundukkan kepalanya takut karena tertekan dengan aura mencekam yang diberikan oleh Kaisar Yerikho, terkecuali Sirena, Irena dan Devita.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.


Sengaja ga aku terjemahin semuanya ke bahasa inggris. Semoga kalian paham jalan ceritanya ya ....