The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 39: Tersipu Malu



Halo guys!!! Aku udah buat trhailer The Miracles of Two Souls!! Kalian bisa tonton di reels Instagram punyaku, @Vita_khrsm Ditonton yakk!! harus pokoknya! love you all:*


...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Bagi Sirena, sosok ibu adalah sosok yang terpenting dalam hidupnya. Sering kali saat Sirena tertidur, dia mendapat ingatan Sirena asli semasa kecil, ketika ibundanya masih ada. Ibunda Sirena asli sangatlah menyayangi Sirena, selalu mencurahkan seluruh kasih sayang yang tak pernah dia rasakan di kehidupannya sebagai Devita. Sirena yang saat ini Devita terkadang berandai bagaimana kalau ibunda Sirena masih ada, mungkin dia turut serta merasakan kasih sayang seorang ibu yang tak pernah dia dapat.


Ada hari dimana Devita merasa lelah menjadi sosok orang lain yang bukan dirinya. Tapi, mengingat bagaimana sulitnya kehidupan Sirena asli, dia merasa iba, karena dia pun sama. Sejak saat itu kobaran api semangat untuk mengubah pandangan seseorang terhadap Sirena pun dia akan lakukan. Karena, berkat dia masuk ke dalam tubuh Sirena dan wanita itu mengijinkan memakai tubuhnya, Devita tahu sebenarnya Sirena adalah sosok yang baik hati.


"K-kak, hiks ... Bagaimana dengan ibuku?"


Sirena yang sedari tadi terus berjalan, kini berhenti lalu menyamakan tingginya dengan anak kecil yang tengah bersamanya, "Bocah, siapa namamu?" Sirena mengusap air mata anak kecil itu yang terus saja mengalir membasahi pipinya.


"N-namaku, Fr-rance ..."


"France?" France mengangguk sambil menyedot ingusnya, melihat itu Sirena tersenyum, "Namaku, Sirena. Kau bisa memanggilku Kakak Nana."


France mengangguk. Sirena yang melihat wajah menyedihkan France tak bisa untuk tak memeluknya. Sirena tahu pasti perasaan France. Masih kecil sudah ditinggal pergi sang ibu.


"Kau dengar aku, France. Sebenarnya berat aku mengatakan ini padamu, tapi aku berharap kau tabah dan tegar." Sirena dapat merasakan punggung France yang bergetar hebat menahan tangis, "Ibumu ... Sudah tiada."


"IBU!!!" France memeluk Sirena erat sambil meneriakkan ibunya.


Hati Sirena ikut merasa sakit mendengar teriakan pilu France. Tuhan ... Mengapa cobaan berat ini harus kau berikan untuk anak sekecil France?


"Tidak apa-apa, menangislah France ... Menangis kalau memang apa yang sedang kau alami terasa berat. Tetapi, setelah ini kau harus tumbuh menjadi lebih kuat! Kau harus semangat untuk hidupmu."


France masih terus menangis di dalam pelukan Sirena. Tak lama Sirena merasakan hembusan nafas teratur milik France, pertanda anak kecil ini tertidur. Sirena pun memutuskan untuk menggendong France.


Sirena agak terkejut saat menggendong France. Tubuh anak ini beratnya sama seperti anak usia lima tahun. Bisa Sirena rasakan, anak ini kurus serta kekurangan gizi.


"Mengapa kau disini?"


Sirena terkejut saat mendengar suara yang sangat dia kenali, Sirena mendongak dimana Athanaxius terbang menggunakan kedua sayap hitamnya dan hendak turun menapaki tanah.


"A-athan?" Sirena melihat penampilan lelaki itu yang nampak kacau. Baju khas seorang Pangeran yang dia kenakan penuh dengan noda darah. Dia juga melihat mata Athanaxius yang semerah darah.


Athanaxius tak berniat mendekati Sirena setelah dia menapak tanah serta sayapnya menghilang. Dia hanya memandang datar Sirena.


"A-apa kau baru saja membunuh?" Dengan ragu Sirena bertanya. Pasalnya Sirena melihat jemari Athanaxius yang meneteskan darah.


Athanaxius menyeringai, "Kalau iya, apa urusannya denganmu?"


Sirena terperangah mendengar ucapan Athanaxius. Ada apa dengan lelaki ini?


Mata merah Athanaxius tak kunjung menghilang. Bahkan semakin lama semakin berkilau merah seolah-olah dia adalah makhluk haus darah. Urat-urat hitam yang ada di lehernya juga tak kunjung hilang.


Sirena memutuskan untuk mendekatinya, "Apa kau baik-baik saja, Athan? Aku mencarimu karena kudengar dari Sirakusa kau terluka parah."


"Siapa yang menyuruhmu untuk mencariku?" Tatapan Athanaxius berkilat dingin.


"Menyebalkan! Apa kau tidak tahu seberapa khawatirnya aku, hah?!" Sirena memberengut kesal, dan karena suaranya yang keras itu membuat France terbangun.


"K-kakak ..." France mengangkat kepalanya.


"Kenapa, France?" Sirena mengusap kepala France dengan lembut.


France tak menjawab pertanyaan Sirena, dia menoleh ke arah Athanaxius dan bertemu tatap dengan lelaki itu, "K-kakak ... S-siapa dia?"


Sirena bisa merasakan rasa takut dari nada bicara France. Sedangkan Athanaxius sudah mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan mata merah darahnya yang membara. Rasa ingin membunuh France seketika datang.


"Beraninya kau menatapku, bocah!" Suara Athanaxius begitu menyeramkan sekarang.


Sirena sontak menenggelamkan kepala France ke lehernya. Ini berbahaya!


"Athan, t-tolong kendalikan dirimu ..." Cicit Sirena saat melihat Athanaxius berjalan mendekat dengan pedang di tangannya.


"Kenapa aku harus mengendalikan diri? Dia yang berani menyulut jiwa pembunuhku." Tatapan mata Athanaxius terus tertuju pada France yang ada digendongannya.


"Jangan seperti ini, Athan ... " Sirena ketakutan melihat Athanaxius yang seperti malaikat pencabut nyawa.


"Jangan menghalangiku, Sirena! Atau ... Aku akan membunuhmu juga."


Sirena meneteskan air matanya. Apa Athanaxius benar-benar kehilangan empatinya? Apakah seperti ini bila Athanaxius dikendalikan oleh kutukannya? Menjadi seseorang yang kejam tanpa belas kasih dan mati rasa.


"Bunuh saja aku, Athan! Tapi tidak untuk France!" Sirena terus berjalan mundur.


Tepat setelah mengatakan itu, Athanaxius berlari sembari memposisikan pedangnya bersiap untuk menusuk siapa saja, entah itu Sirena atau France.


Sirena langsung berbalik dan memejamkan mata. Dengan seperti ini France aman.


Namun setelah beberapa saat, Sirena tak merasakan apapun. Tubuh Sirena begitu kaku karena merasakan pelukan dingin dari belakang tubuhnya.


"Mengapa kau khawatir padaku?" Suara rendah yang berbisik di telinga Sirena membuat bulu kuduknya merinding.


"Aku ... T-tidak tahu," balas Sirena.


"K-kakak ..." Beo France yang ada dalam dekapan Sirena.


Sirena baru sadar kalau masih ada France, "Ya, France?"


"S-siapa kakak tampan y-yang memeluk K-kakak?" France bisa merasakan sebuah tangan yang turut serta memeluknya karena dia digendongan Sirena.


"Bersyukurlah karena aku tak membunuhmu, bocah!"


"Athan!" Peringat Sirena.


Athanaxius melepas pelukannya, kemudian membalik tubuh Sirena hingga berhadapan dengannya. Tangan Athanaxius masih bertengger di kedua pundak Sirena, "Kau tak seharusnya mencariku, Sirena."


Tangan Athanaxius terlepas, lelaki itu menghela nafas berat, matanya melirik France yang sepertinya nyaman dalam gendongan Sirena.


"Bila kau melihatku yang seperti tadi, larilah!" Athanaxius menatap tangannya sendiri yang masih berlumuran darah milik korbannya, "Entah aku bisa menahannya atau tidak, kau tetap harus lari. Apa kau lihat?" Athanaxius menunjukkan tangannya yang berlumuran darah, "Aku membunuh sepuluh orang hari ini. Dan karena itu membuat kutukanku semakin kuat dan hampir menghilangkan rasa emosiku. Yang kurasakan hanyalah membunuh, membunuh, dan membunuh ..."


"Anda memang monster, Pangeran Athanaxius ..."


Sirena dan Athanaxius mengalihkan pandangannya kepada Sirakusa yang baru saja datang sembari menggendong tubuh ibu France.


"Bila Anda terus saja membunuh orang, kutukanmu semakin kuat dan tak bisa Anda kendalikan. Hal itu akan membahayakan orang-orang terdekat Anda." Kini Sirakusa sudah berdiri di sebelah Sirena.


"Sirakusa! Jangan melewati batasanmu!" Sirena menatap marah Sirakusa.


"Aku tahu." Balas Athanaxius.


France yang ingin tahu apa yang sedang terjadi pun mendongakkan kepalanya. Tetapi mata France justru bertemu dengan sosok ibunya yang terkulai kaku di gendongan seorang lelaki.


"IBU!!" France kembali menangis saat melihat kondisi ibunya yang mengenaskan.


Teriakan France serta tangisannya berhasil mengusir suasana tegang yang baru saja terjadi.


Sirakusa pun meletakkan tubuh ibu France di atas tanah. France segera turun dari gendongan Sirena, lalu memeluk ibunya yang sudah tiada.


Sirena hanya bisa memeluk France dari samping. Sirena menatap Sirakusa, "Apakah ibu ini tak bisa diselamatkan?" Sirena juga ikut menangis, dia tak tahan untuk tidak menangis saat mendengar tangisan pilu France.


"Ada banyak orang yang mengalami hal yang sama seperti anak ini. Semoga Dewa memberikan tempat terbaik untuk ibumu," Sirakusa menepuk kepala France dua kali.


"I-ibu hiks ... A-apa y-yang akan France lakukan tanpa i-ibu? hiks ... France t-takut sendirian hiks ..."


Dari ucapan France, Sirena tahu kalau France hanya hidup dengan ibunya.


France menoleh menatap Sirena, "K-kakak ... A-apakah ibuku s-sekarang benar p-pergi jauh?"


Sirena menggeleng, "Ibumu tidak pernah pergi, France. Dia ada disini, di dekatmu, selamanya." Sirena menyentuh dada France, "Ibumu selamanya akan menemanimu di dalam hatimu."


Mendengar itu, France langsung memeluk Sirena, "K-kak hiks ... Te-terima kasih,"


Setelahnya, Athanaxius dan Sirakusa saling membantu untuk mengubur mayat ibu France.


Ini pertama kalinya bagi Athanaxius bersikap manusiawi seperti ini. Dan hal itu membuat Athanaxius merasakan sesuatu yang menyenangkan dalam hatinya yang paling dalam dan dia ingin terus melakukannya.


Berbeda dengan France, dia sudah tertidur lagi digendongan Sirena setelah lelah menangis terus.


"Akan banyak korban berjatuhan seperti ini bila Zifgrid Sang Pengendali tak segera kau temukan, Sirena." Setelah mengatakan itu Sirakusa menghilang. Lelaki itu menggunakan teleportasi miliknya.


Sejak tadi Sirena juga terus memikirkan itu. Dia bahkan belum mencari tahu dimana kalung steorra yang terdapat Sirena asli didalamnya. Sirena pusing memikirkan itu semua.


"Bagaimana dengan anak itu?"


Suara Athanaxius membuat lamunan Sirena buyar. Dia memandang Athanaxius yang menjulang tinggi di hadapannya, "Aku akan membawanya ke Manorku. Dia sudah tak memiliki siapapun sekarang."


"Sirena," panggil Athanaxius, "Aku memberimu kesempatan untuk menolak imbalan yang aku ajukan untukmu. Putuskan sekarang, apa kau ingin menolak lamaranku dan menikah denganku atau menerimanya?"


Sirena tak menjawab, dia justru mengeluarkan sapu tangan yang ada di saku gaunnya dengan sedikit kesusahan. Sirena kemudian mendekati Athanaxius, mengusap wajah kotor Athanaxius dengan sapu tangan.


"Kalau bukan aku, memangnya siapa yang mau menikah denganmu, huh?"


Tak


"Awh! Sakit, Athan!" Sirena memundurkan langkahnya sembari menatap Athanaxius kesal karena jidatnya baru saja disentil oleh lelaki itu.


"Percaya diri sekali." Athanaxius berdecih, "Selain dirimu, ada satu orang yang terus mengharapkanku meskipun tahu dia akan mati bila bersamaku."


Sirena membulatkan matanya, "Siapa? Apa dia lebih cantik dariku?"


"Hm."


Sirena mendengus, "Ya sudah, kau nikahi saja dia. Setelah itu kau akan menduda karena kau akan membunuhnya, hahaha ..."


Athanaxius tersenyum tipis melihat wajah lucu Sirena, "Sirena, mendekatlah!"


Tawa Sirena berhenti, dia menatap Athanaxius bertanya-tanya, "Ada apa?" Sirena kembali mendekati Athanaxius.


Sirena mematung di tempatnya kala merasakan sebuah benda yang kenyal dan lembut menyentuh bibirnya. Sekelebat bayangan muncul yang membuat Sirena memejamkan matanya.


"Elegi!"


"Eunoia?"


"Aku mencintaimu ..."


"Aku juga mencintaimu, Eunoia ..."


Sirena membuka matanya kembali, dan saat itu Athanaxius sudah menjauh darinya.


"Saat hari pesta pernikahan Putri Nervilia tiba, pakailah hadiah yang kuberikan kepadamu."


Sirena mengangguk kaku, "T-terima kasih,"


Athanaxius menyunggingkan senyum tipis, "Calon istriku harus terlihat cantik di depan semua orang." Athanaxius mengacak-acak rambut panjang Sirena.


'Ya ampun! Gue mleyoootttt!!' batin Sirena.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran.  Apakah cerita ini menarik?