
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Kabar mengenai Sirena yang membawa anak kecil ke dalam istana sudah menyebar kemana-mana bahkan kepada para Putri-putri Raja yang saat ini tengah minum teh bersama dengan Nervilia.
"Saya dengar, Putri Sirena belum meminta izin Yang Mulia Raja Monachus perihal anak itu." Putri Ralyina, Putri ketiga kerajaan Apollo menatap Sirena yang turut diundang ke acara minum teh bersama.
Sirena meletakkan gelas cangkir miliknya yang sudah kosong. Dengan wajah datar dia menatap Putri Ralyina, "Saya membawanya ke dalam Manor Chysanthemum yang merupakan rumah saya, dimana saya yang mengurus bukan Pak Raja. Jadi, haruskah saya meminta izinnya?" Sirena tersenyum meremehkan di akhir ucapannya.
"Meskipun demikian, Manor Chysanthemum tetap berada di dalam istana Willamette, Sirena. Kau seharusnya izin kepada Ayahanda."
Senyum Sirena masih terukir, "Apakah acara minum teh ini bertujuan untuk memojokkan saya? Ah! Sayang sekali, saya harus membuang-buang waktu bersama beban Kerajaan." Dengan santai Sirena berucap tanpa memikirkan reaksi mereka semua yang tercengang, "Kalau begitu saya permisi, masih ada banyak pekerjaan yang harus saya lakukan."
Saat Sirena hendak melangkah keluar, tiba-tiba Putri Ralyina berdiri dan berseru lantang, "Sombong sekali, Anda! Memangnya Putri bodoh seperti Anda bisa melakukan apa?" Putri Ralyina kini bersidekap dada, menatap tak suka pada Sirena.
Suasana minum teh yang semula penuh dengan pembicaraan berbangga-bangga diri, kini menjadi tegang.
Berbeda dengan Galcinia, dia hanya menikmati tehnya sambil menebak-nebak, apakah Sirena akan membalas ucapan Ralyina atau hanya diam saja seperti di kehidupannya yang dulu.
"Ralyina! Duduklah dan jangan buat keributan!" Putri-putri yang lain mencoba memperingati Ralyina.
"Mengapa diam? Apakah ini bukti bahwa Anda benar-benar Putri bodoh?"
Sirena berbalik sambil bersidekap dada. Matanya lurus menatap Ralyina yang menatapnya angkuh, "Justru karena saya pintar maka dari itu saya diam. Apakah kepintaran harus dipamer-pamerkan seperti yang Anda lakukan?"
"Duduklah, Putri Ralyina! Dimana tata krama yang sudah Anda pelajari? Saya pikir perkataan Anda terlalu kejam untuk seorang Putri Raja." Kali ini Galcinia angkat bicara. Beruntung Galcinia menjadi Putri Mahkota, dimana semua orang menuruti ucapannya.
Ralyina menatap tak suka, pada Sirena. Setelah mendapat teguran dari Galcinia, Ralyina akhirnya duduk kembali dengan wajah yang suram.
"Acara minum teh hari ini, selesai. Dan kau, Nervilia, bukankah hari ini kau harus pergi ke Hypatia untuk memohon doa dari Hester?"
Nervilia menjadi kikuk saat ditatap banyak orang, "A-aah, aku lupa kakak ipar. Terima kasih sudah mengingatkanku." Nervilia menyinggung senyum manisnya.
Sirena yang muak melihat wajah Nervilia pun memutuskan untuk pergi. Dia harus memastikan bahwa France mendapatkan perawatan terbaik dari Sentrasenda. Sentrasenda akan tinggal di Manor untuk beberapa waktu karena merawat France yang tengah drop.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Tepat setelah Sirena keluar dari ruang tamu Kerajaan, dimana acara minum teh diadakan, dia bertemu dengan tangan kanan Raja Monachus.
Tangan kanan Raja Monachus memberitahukan kepada Sirena bahwa Raja Monachus akan berkunjung ke Manor setelah pekerjaannya selesai.
Sirena sendiri tak ambil pusing, kalau memang mau berkunjung ya berkunjung saja, Sirena tak peduli. Masalahnya sekarang adalah dia harus mencari tahu tentang Zifgrid Sang Pengendali yang hampir dia lupakan.
"SIRAKUSA!"
Sirakusa yang baru saja keluar dari ruang kerja Raja beserta ketiga saudara laki-lakinya, yaitu Falco, Elanus, dan Gallus, sontak menghentikan langkahnya.
Sirakusa mendapati Sirena yang berlari ke arahnya sembari menyincing gaunnya. Lelaki itu memfokuskan penglihatannya saat melihat ada yang aneh dari Sirena.
Sirena berhenti berlari saat merasakan sesak di dadanya. Nafasnya juga tersengal-sengal, rasa nyeri juga dia rasakan di telapak tangan kirinya dimana simbol mawar putih berada.
Brugh
Sirena terduduk lemah sambil memukul-mukul dadanya agar nafasnya kembali normal. Namun hal itu tak kunjung terjadi.
"SIRENA!" Elanus menghampiri Sirena dengan terburu-buru dan raut wajah khawatir.
"Kau baik-baik saja?"
Sirena ingin menjawab kalau dia sedang tak baik-baik saja, tetapi dia tak bisa karena mendadak suaranya menghilang. Rasa pusing yang mendera membuatnya memejamkan mata.
"Hei, Kak Elanus! Jangan tertipu dengan drama yang dilakukan olehnya!" Gallus menarik Elanus hingga menjauh dari Sirena.
Sebelum tubuh Sirena benar-benar menyentuh lantai, Sirakusa terlebih dulu menahan tubuh Sirena. Dan saat itu Sirena sudah tak sadarkan diri.
"Sirena, apa kau mendengarku? Hei!" Lelaki itu menepuk pelan pipi Sirena, namun tak kunjung mendapat jawaban. Sirakusa pun meletakkan tangannya di antara lipatan kaki serta di bawah leher Sirena, membawa wanita itu menuju Manor dengan teleportasi miliknya.
Sementara itu, tanpa disadari oleh siapapun di atap bangunan yang berhadapan dengan istana utama, seseorang bertudung hitam menyeringai melihat kondisi Sirena.
"Tak akan kubiarkan kau menemukan jejak Zifgrid Sang Pengendali."
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Para penghuni Manor dikejutkan dengan kedatangan Sirakusa yang menggendong Sirena.
Aindrea sebagai kepala legion Manor langsung memberhentikan langkah Sirakusa, "Kenapa Sirena bisa seperti ini? Apa yang Anda lakukan terhadapnya?" Tatapan Aindrea begitu sengit ke arah Sirakusa.
"Apakah masih sempat Anda menanyakan hal itu disaat Putri Sirena harus segera ditangani?"
Aindrea mendengus, namun tak ayal dia menyingkir dan memberi jalan untuk Sirakusa memasuki Minor. Sebelum benar-benar memasuki Minor, Sirakusa menghentikan langkahnya karena ucapan Aindrea.
Sirakusa merasa dejavu dengan ucapan Aindrea. Ucapan Aindrea hampir sama dengan ucapannya sewaktu melihat pertarungan antara Phyron dan Athanaxius. Ada rasa tak nyaman saat orang lain menyalahkannya padahal tak dia berbuat salah.
Memilih tak peduli, dia kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda menuju kamar Sirena. Dia masih penasaran mengapa Sirena tiba-tiba tak sadarkan diri.
Dengan hati-hati Sirakusa membaringkan Sirena di atas tempat tidur. Tangannya terulur untuk meraih tangan Sirena, dia mencoba memeriksa denyut nadi Sirena. Tetapi sebelum itu, dia kembali berdiri, menatap dingin beberapa orang yang mengawasinya di depan pintu kamar Sirena.
"Aku tak suka ada pengganggu saat tengah memeriksa seseorang."
Adelphie menatap penuh kebencian pada Sirakusa. Lelaki ini adalah salah satu orang yang turut serta melukai hati Sirena. Dia masih ingat dimana Sirakusa mencaci Sirena karena menganggu Nervilia, namun Sirena hanya diam saja membiarkan Sirakusa.
"Meskipun Anda adalah seorang Efarish, saya tetap akan mengawasi Anda dari jauh! Berjaga-jaga kalau Anda berbuat tak senonoh kepada Sirena." Agda memberi peringatan kepada Sirakusa.
Sirakusa tak menanggapi ucapan Agda, lelaki itu justru menggunakan sihirnya untuk menutup pintu hingga timbul suara yang begitu keras saking kencangnya pintu itu tertutup.
Mata Sirakusa terfokus pada Sirena yang memejamkan matanya. Tangannya tanpa sadar mengusap pipi Sirena. Pipi Sirena begitu halus hingga membuat Sirakusa betah untuk terus mengusap pipi Sirena.
"Sudah tahu lemah, mengapa kau terus bertahan hidup di dunia yang kejam ini, Sirena?" Perlahan tangan Sirakusa mengeluarkan sihir yang membuat Sirena perlahan membuka matanya.
Anehnya saat melihat Sirena membuka mata, tangannya tak kunjung berhenti untuk mengusap pipi Sirena. Dan tanpa sadar dia memajukan wajahnya hingga berjarak dua jengkal dari wajah Sirena.
Sirena yang baru saja sadar tentu saja terkejut dengan apa yang dilakukan Sirakusa.
'SI BANGSAT INI NGAPAIN, ANJIR!' Sayang sekali Sirena masih belum bisa mengeluarkan suara. Bahkan tubuhnya terasa lemah untuk bergerak sedikit saja.
"Mawar hitam berduriku, mengapa kau tak mati saja bersama ibumu?" Tangan Sirakusa beralih mencekik leher Sirena namun tidak benar-benar menekannya kuat.
Bulir air mata muncul dari sudut mata Sirena, mengalir di pipi putihnya.
'Kenapa gue nangis? Kenapa juga gue harus sedih saat liat mata Sirakusa yang penuh kesedihan?'
"Mengapa kau menangis? Apa kau merasa menyesal sekarang, hm?"
'Menyesal? Menyesal untuk apa?'
Air mata Sirena tak henti-hentinya berjatuhan yang membuat Sirakusa melepas tangannya dari leher Sirena kemudian menghapus air mata Sirena.
"Katakan, Sirena ... Apa kau menyesal?" Sirakusa semakin memajukan wajahnya hingga hidungnya menyentuh hidung Sirena.
Tubuh Sirena menegang saat Sirakusa mengecup bibirnya dengan air matanya yang menetes jatuh di pipinya.
Anehnya Sirena tak bisa mengekspresikan keterkejutannya. Sirena justru menutup matanya, hal itu bertolak belakang dengan keinginannya.
'Ada apa ini? Ada hubungan apa antara Sirakusa dan Sirena?' batinnya terus bertanya-tanya.
Sirakusa menjauhkan bibirnya, kemudian memandang Sirena yang sudah membuka matanya kembali. Lelaki itu tidak ada niatan untuk menjauh dari Sirena.
"Rasanya begitu sulit untuk terus membencimu, Sirena ..." Sirakusa mengecup bibir Sirena sekali lagi, "Aku ingin terus membencimu, tetapi ... Aku juga me-"
Sring
Bugh
Sirakusa terpental hingga menabrak tembok kamar Sirena saat tiba-tiba dia merasakan pukulan tak kasat mata.
Sementara pelaku yang membuat Sirakusa terpental kini tengah mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Aku baru saja melihat lelaki semurahan dirimu, Sirakusa."
Sirakusa bangkit kemudian menyeringai menatap seseorang yang terselimuti aura hitam dan penuh dengan amarah.
"Haruskah saya berbangga diri dengan pujian Anda, Pangeran Athanaxius?"
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?
Dari sini, kalian shipper siapa?
Sirena-Athanaxius
Atau
Sirena-Sirakusa
Ngahahaha ....