
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Kabar duka datang menyelimuti keluarga Kekaisaran Alhena. Kaisar Helarctor dinyatakan meninggal dunia akibat penyakit misterius yang menjangkitinya. Kaisar Helarctor meninggal dalam kondisi yang mengenaskan, tubuhnya menghitam seperti korban kebakaran.
Karena kabar duka itu, Galcinia yang berniat pergi menyusul Sirena ke desa Osaka harus dia batalkan. Bukan hanya Galcinia, tetapi Falco dan Elanus juga batal pergi. Maka dari itu mereka memutuskan untuk berdiskusi terlebih dahulu kapan waktu yang tepat untuk mereka pergi.
Galcinia sendiri harus bersiap-siap untuk menghadiri upacara pemakaman Kaisar bersama Ratu Amanita dan Selir Agung Cordyline.
"Putri Mahkota,"
Galcinia yang tengah melihat pantulan wajahnya di cermin lantas menoleh ke arah Ayda, luster pribadinya yang baru saja memanggilnya.
"Ada apa, Ayda?"
Ayda segera menundukkan kepalanya kembali, "Pangeran Putra Mahkota ada di depan kamar menjemput Anda."
Kerutan muncul di kening wanita itu, "Bukankah dia harusnya berangkat bersama Gallus dan Elanus?"
"Memangnya kenapa kalau aku ingin berangkat dengan istriku?"
Galcinia terkejut dengan kehadiran Falco yang masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Ayda yang merasa tidak enak pun memilih pergi. Dia hanya tidak ingin mendengar pembicaraan apa yang seharusnya tidak dia dengar. Sebagai orang yang ditunjuk oleh Falco untuk melayani Galcinia, Ayda tak ingin mengecewakan keduanya, terutama Falco yang sudah membantu banyak untuk keluarganya.
Kepergian Ayda membuat Galcinia dilanda rasa cemas, mengingat kini hanya ada mereka berdua di dalam kamar.
"Galcinia ..." Falco memanggil Galcinia dengan nada sendu.
Galcinia merasa ada yang aneh dengan Falco, maka dari itu dia memutuskan untuk mendekat, "Kenapa?"
Falco tidak mengatakan apa-apa, lelaki itu justru menarik Galcinia ke dalam pelukannya.
"Mengapa ibunda berubah? Apa yang membuatnya menjadi seperti itu? Semalaman aku memikirkan hal ini,"
Galcinia mengerti apa yang dirasakan oleh Falco, maka dari itu dia membiarkan lelaki itu memeluknya dan tangannya juga turut mengusap punggung tegap Falco.
"Manusia bisa berubah kapan saja, Falco, termasuk ibundamu ..."
"Aku tidak mengerti dengan dunia ini. Kenapa dunia ini begitu mengerikan? Dunia merubah orang yang paling aku sayangi."
"Dunia tak bersalah, Falco," Galcinia mengurai pelukannya, kemudian mendongak untuk memandang Falco, "Semuanya tergantung dari hati dan pikiran manusia itu sendiri. Bila di hati dan pikiran manusia merasa cukup, maka ketamakan tidak akan menguasai hati dan pikiran mereka."
Melihat Falco yang nampak berbeda dari biasanya membuat Galcinia ingin tertawa. Falco yang ada di depannya benar-benar menampakkan ekpresi sedihnya, sangat berbeda saat Falco ada di hadapan banyak orang.
"Dunia memberikan banyak hal untuk manusia, tetapi manusia bisa menghancurkan dunia. Itulah alasan kenapa sebuah negeri yang terkenal makmur dan memiliki kekayaan alam berlimpah bisa hancur kapan saja." Lanjut Galcinia.
Untuk pertama kalinya, Falco kagum dengan ucapan seseorang. Ucapan yang bisa dia mengerti juga membuatnya merenung, terutama pada istrinya. Entah Falco harus bersyukur atau tidak, semenjak Galcinia bangun dari koma, dia sadar istrinya itu berubah. Dulu, Galcinia tidak akan bicara sama sekali sebelum ada yang mengajaknya bicara. Intinya, Galcinia yang sekarang, begitu bertolak belakang dengan yang dulu.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Acara pemakaman Kaisar Helarctor dihadiri oleh banyak bangsawan, juga dari Kerajaan yang ada dibawah naungan Kekaisaran Alhena. Pemakaman Kaisar dilaksanakan pada siang hari.
Suasana berkabung begitu kentara bagi kalangan rakyat jelata maupun keluarga Kekaisaran. Bagaimanapun Kaisar Helarctor tidaklah seburuk Kaisar sebelumnya. Ada banyak sisi positif yang dimiliki Kaisar Helarctor hingga meninggalkan kesan bagus yang mendalam bagi rakyatnya.
Rakyat-rakyat berjejer rapi dipinggir jalan untuk melihat peti mati Kaisar Helarctor yang digiring keluarga Kekaisaran menuju pusara terakhir yang terletak tak jauh dari istana Kekaisaran.
"Aku bahkan belum memberikan cucu yang lucu untuk ayahanda, tapi dia justru memilih beristirahat untuk selamanya." Elephas memandang peti mati Kaisar dengan tatapan yang sarat akan kesedihan. Bagi Elephas, Kaisar Helarctor adalah sosok ayah yang tegas namun penuh kasih sayang bagi anak-anaknya.
Nervilia yang ada di sebelah Elephas hanya diam juga turut memandang peti mati Kaisar.
'Maafkan aku Ayahanda mertua ... Selama ini kau begitu baik kepadaku, tetapi aku justru ...' Nervilia mengusap air matanya yang tanpa sadar mengalir di pipinya, 'Maafkan aku ...'
Nervilia memutuskan untuk mengalihkan pandangannya pada rakyat-rakyat yang berjejer sembari menangisi kepergian Kaisar dengan tatapan sendu.
'Semua yang kulakukan demi kebahagiaan ibunda, tetapi harus menyengsarakan banyak orang. Haruskah aku berhenti?'
Setelah lama berjalan, akhirnya rombongan Kekaisaran tiba di pusara terakhir. Para hester sudah menunggu kedatangan rombongan di tepian liang lahat.
Peti mati Kaisar diletakkan di tepi liang lahatnya untuk melakukan upacara pemakaman.
Tak jauh dari mereka, Galcinia menanti prosesi pemakamannya. Dia ingin tahu, seperti apakah acara pemakaman di dunia Vulcan ini?
Suasana sangat hening karena menunggu para hester memulai upacaranya. Mereka semua dilarang bersuara sebelum upacara pemakaman selesai.
"TUNDUKKAN KEPALA!"
Semua orang menundukkan kepalanya selepas Hester bersuara. Hester pun melihat semua hadirin yang ada disana untuk memastikan bahwa mereka benar-benar hikmat untuk ucapara pemakan ini.
"KEHENDAK SANG PENCIPTA, BAHWA YANG BERNYAWA PASTI AKAN MATI. YANG MUDA, YANG TUA, KEMATIAN TAK PANDANG BULU." Hester nampak diam sejenak untuk melihat situasi terkini, "YANG MULIA KAISAR HELARCTOR MALAYANUS XA ALHENA TELAH BERJASA UNTUK KITA SEKALIAN. SEMOGA BELIAU TENANG DI SISI DEWA ..."
Peti mati Kaisar kini diangkat kembali untuk dimakamkan. Lagu kematian mulai dikumandangkan oleh para pengiring.
Mahkota telah hilang ...
Daun-daun melayang ke tanah
Kembali ke pelukan hangat ibu
Yang pergi akan sendiri, sepi ...
Rumah yang ditinggalkan merasa sedih ...
Sehingga menangis seperti hujan ...
Lagu berakhir tepat saat peti mati Kaisar sudah berada di liang lahat. Para pelayan hester mulai menutup liang lahat dengan tanah.
Tangisan Permaisuri Raflesia dan dua selir mendiang Kaisar pecah. Mereka benar-benar kehilangan sosok suami yang adil juga mencintai mereka dengan penuh kasih sayang.
Galcinia menyaksikan itu semua dengan kepala yang mengangguk-angguk pelan, 'Jadi seperti ini ya? Hahaha bisa jadi inspirasi film nih!'
Acara pemakaman berjalan dengan lancar. Keluarga Kekaisaran dan para pelayat yang turut serta dalam pengiringan kini mulai membubarkan diri untuk kembali ke istana Kekaisaran untuk melaksanakan acara berkabung dan pengangkatan Putra Mahkota sebagai Kaisar selanjutnya.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Istana Kekaisaran Alhena sudah dipenuhi oleh para pelayat yang mengucapkan belasungkawa untuk Keluarga Kekaisaran, termasuk keluarga Kerajaan Willamette.
Persiapan pengangkatan Putra Mahkota sebagai Kaisar selanjutnya juga sudah siap untuk dilaksanakan. Maka dari itu, para tamu berkumpul di ballroom untuk melihat upacara pengangkatan Pangeran Elephas.
Elephas berdiri di hadapan lukisan Kaisar Helarctor sembari memegang tombak di tangan kanan dan memegang vas bunga mawar merah di tangan kiri.
"Atas berkah Dewa dan Dewi Vulcan juga atas bimbingan mendiang Kaisar Helarctor Malayanus Xa Alhena, aku, Elephas Exilis Xa Alhena akan mengabdi untuk rakyat, menjadi pemimpin yang adil dan menyejahterakan rakyat." Elephas menekuk kaki kanannya dengan kepala menunduk.
Lalu Permaisuri Raflesia datang didampingi dua luster pribadinya membawa nampan berisi mahkota Kaisar. Di belakang Permaisuri Raflesia terdapat Nervilia yang turut serta untuk menerima mahkota dari Permaisuri Raflesia.
"Saya sebagai istri dari Pangeran Elephas, bersedia mendampinginya, membantunya dalam membangun kesejahteraan Alhena untuk rakyat."
Permaisuri Raflesia pun memakaikan mahkota Kaisar di atas kepala Elephas. Selanjutnya Permaisuri Raflesia melepas mahkota miliknya untuk dipakaikan di atas kepala Nervilia.
"Nervilia, bantu anakku memimpin negeri ini." Ucap Permaisuri dengan tulus.
"Baik, ibunda mertua ..." Tangan Nervilia meremat gaunnya dengan erat. Ada banyak pikiran yang berkecamuk di kepalanya.
'Aku harus berhenti ...'
Tepat saat Permaisuri selesai memasang mahkota untuk Nervilia, Permaisuri Raflesia jatuh ke lantai dalam keadaan tidak bernyawa.
"IBUNDA!!!" Elephas sangat terkejut dan berlari untuk menghampiri ibunya yang sudah tak bernyawa.
Tubuh Permaisuri Raflesia juga mulai menghitam hangus seperti korban kebakaran.
Para tamu yang hadir tak bisa untuk tak terkejut. Keadaan seketika menjadi kacau.
"LINDUNGI KELUARGA KEKAISARAN!! ADA SERANGAN MONSTER DAN ROH IBLIS!!" Teriakan dari Avior yang menjaga di depan pintu ballroom membuat semuanya panik dan semakin kacau.
"ASTAGA!! ADA BANYAK SEKALI ROH IBLIS!!"
"ARGHH!!"
Serangan dari monster dan roh iblis berhasil menembus hingga masuk ke dalam ballroom.
Orang-orang sibuk melarikan diri kesana kemari agar terhindar dari serangan monster juga roh iblis.
Nervilia hanya diam menyaksikan itu semua. Hingga akhirnya tatapan Nervilia jatuh pada suaminya yang masih setia menangisi kepergian Permaisuri Raflesia, tidak mempedulikan bahwa istananya sedang kacau sekarang.
"Jadi seperti ini kau membantu ibumu, Nervilia?"
Nervilia lantas mendongak, dia mendapati kakak iparnya, Galcinia bersama kakaknya, Falco.
"Elephas sangat mencintaimu, Nervilia. Apakah seperti ini caramu membalas cintanya?"
Nervilia diam membisu, dia lantas kembali memandang Elephas yang kini berdiri sembari menggendong Permaisuri Raflesia. Namun, mata Nervilia membola saat melihat ibundanya hendak menyerang diam-diam Elephas.
Nervilia berdiri, "Kakak ipar, Kak Falco," air mata Nervilia jatuh seketika, "maafkan aku hiks ... K-kalian h-harus segera pergi sebelum ibunda benar-benar tidak bisa membuat kalian pergi."
Falco memandang Nervilia dengan sarat akan kekecewaan. Dia tak menyangka, adik yang selama ini dia beri kasih sayang akan turut serta dalam rencana ibundanya.
"Gunakan ini untuk kalian pergi," Nervilia menyerahkan batu hitam kepada Galcinia, "Sebutkan tujuan kalian dan lindungi keluarga kita!"
"NERVILIA!!"
Falco, Galcinia, dan Nervilia menoleh ke arah yang sama. Dimana sosok Ratu Amanita menatap mereka dengan penuh murka.
"CEPAT PERGI!!" Nervilia mendorong Falco dan Galcinia agar segera pergi.
"APA YANG KAU LAKUKAN, NERVILIA!!" Ratu Amanita melayang di udara dengan kekuatan cepat menghampiri Nervilia.
Tangan Galcinia segera ditarik oleh Falco untuk segera pergi menuju sebuah ruangan dimana dia berhasil mengamankan keluarganya.
"OSAKA! MENYUSUL SAJA KALAU KAU BERUBAH PIKIRAN!" Teriak Galcinia sebelum benar-benar pergi.
BRUGH
Nervilia tak bisa menghindar dari serangan Ratu Amanita hingga membuat tubuhnya terhempas menubruk Falco.
Falco memandang Nervilia dengan tatapan penuh kekecewaan. Dia tak menyangka istri yang sangat dia cintai termasuk pelaku kekacauan yang terjadi hari ini.
"ANAK TIDAK BERGUNA!" Ratu Amanita kini berdiri di hadapan Nervilia dan Elephas.
Tangan Ratu Amanita membentuk sebuah gumpalan hitam yang siap dia layangkan untuk Nervilia dan Elephas.
Melihat itu Nervilia segera membentuk benteng transparan.
Sring
DUAR
Benteng transparan itu berbenturan dengan serangan membabi buta dari Ratu Amanita. Sekuat tenaga Nervilia mempertahankan benteng transparan.
"Mengapa kau melakukan ini, Nervilia? Mengapa?" Elephas dengan air mata yang tak kunjung berhenti memandang Nervilia.
Nervilia juga ikut serta menangis, "Maafkan aku, Adiose hiks ... T-tapi biarkan kali ini aku menebus kesalahanku hiks ... Aku mencintaimu ..."
"HAHAHHA OMONG KOSONG!"
Elephas beralih menatap Ratu Amanita yang tertawa kencang.
"NERVILIA TAK MENCINTAIMU, ELEPHAS!"
"AKU MENCINTAIMU, ELEPHAS!!! AKU MENCINTAIMU!!" Nervilia tak bisa membohongi hatinya, dia benar-benar mencintai Elephas.
Srak
PRANG
Benteng transparan milik Nervilia pecah karena tidak sanggup menerima serangan dari Ratu Amanita. Hingga serangan itu berhasil mengenai Nervilia dan membuatnya terluka parah.
Ratu Amanita tersenyum puas melihat Nervilia yang tak berdaya, "Anak nakal! Seharusnya kau menurut saja, jatuh cinta tak akan membuatmu kenyang!" Ratu Amanita kembali membuat gumpalan hitam untuk menyerang Elephas.
Dengan sisa tenaganya, Nervilia merentangkan tangannya di depan tubuh Elephas, menjadikan dirinya benteng perlindungan untuk Elephas.
"Me-memang b-benar uhuk-uhuk ... J-jatuh cinta tak membuatku kenyang, t-tetapi j-jatuh cinta membuatku berarti, i-ibunda ..."
Ratu Amanita tak bisa menerima ucapan Nervilia, maka dia pun kembali ingin menyerang, "ENYAHLAH ANAK NAKAL!!"
BRUGH
Tubuh Ratu Amanita terpental keras menjauh dari Nervilia dan Elephas.
"BAWA KAKAK IPAR PERGI, KAKAK BODOH! AKU YANG AKAN MENGHADAPI PENYEBAB KEKACAUAN INI!" Phyronlah yang menyerang Ratu Amanita.
Elephas pun segera menggendong Nervilia, tetapi dia bingung. Letak portal Kekaisaran ada di ruang privasi Kaisar, dan itu sangatlah jauh dari posisinya sekarang.
"G-gunakan b-batu ini ..." Dengan sisa kesadarannya, Nervilia menyerahkan batu hitam yang berhasil dia curi dari ibundanya, "Ke d-desa O-osaka ..." Setelahnya Nervilia sudah tak sadarkan diri dengan mulutnya yang mengeluarkan darah.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Haloo ... Maaf ya udah buat kalian nunggu, maaf juga buat NT yang pasti gedeg banget ngingetin aku update hehe ... Aku baru bisa up karena baru sembuh guys:) Kalian semua jaga kesehatan yaaaaa ... Perbanyak minum air putih sama makan makanan sehat.
Tensiku turun 90 jadi aku benar-benar ga bisa ngapa-ngapain karena emak ngelarang banget buat main hape 😭 jadi aku bener-bener minta maaf.