The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 36: Akhirnya Bertemu



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Makan malam berjalan dengan lancar malam ini. Raja Monachus dan Nervilia menyetujui makanan yang dihidangkan untuk dijadikan makanan di pesta pernikahan Nervilia nanti.


"Darimana kau mendapatkan resep makanan aneh ini semua?" Ratu Amanita bertanya dengan nada tak suka. Dia masih tidak terima kalau Sirena yang harus mengurusi segala pesta pernikahan anaknya, Nervilia.


"Kalau saya beritahu pun, Anda tak akan mengetahuinya, Bu Ratu," Sirena menjawab dengan nada santai. Dia kembali menikmati siomay yang masih tersisa di piringnya. Siomay adalah makanan kesukaannya.


"Sombong sekali," Gallus mendengus. Sirena yang memang duduk di samping Gallus pun mendengar ucapan Gallus.


"Hei, Pilus!"


"Namaku, Gallus! Bukan Pilus!" Gallus menatap Sirena kesal. Kesal karena namanya diubah oleh Sirena seenaknya.


Sirena tertawa, "Astaga! Kau lucu sekali, adikku!" Sirena mencubit kedua pipi Gallus yang langsung ditepis oleh Gallus.


"Jangan sentuh kulitku dengan tangan kotormu itu, Sirena! Kau menjijikkan!" Gallus mengusap pipinya berkali-kali.


Sirena memandang Gallus mengejek, "Usaplah pipimu berkali-kali, Gallus, aku lupa kalau tanganku baru saja kugunakan untuk mengupil, hehe ..."


"APA!!" Gallus tercengang bukan main.


"Kalian berdua, berhentilah bertengkar tidak jelas! Kalian sudah besar, terutama kau, Sirena!" Raja Monachus yang sedari tadi diam pun angkat suara.


"Sayang sekali, masa kecilku tak mendapat kesempatan untuk mencakar wajah Gallus." Gumam Sirena yang masih bisa didengar oleh semua orang.


"Benar-benar anak sialan kau, Sirena!" Selir Cordyline berdiri dari kursinya.


"Ibunda Selir, mohon bersabar ..." Nervilia menahan tubuh Selir Cordyline lalu mengajaknya untuk duduk kembali.


"Adiose! Kau harus menghukum anak tidak tahu diuntung itu!" Selir Cordyline masih diliputi oleh amarahnya.


Raja Monachus memijit pelipisnya merasa pusing, "Sirena, meminta maaflah pada ibunda Selir, sikapmu benar-benar tak mencerminkan seorang Putri Raja!"


"Memangnya Anda menganggap saya anak, Anda? Em, maaf, sejak kapan ya? Saya lupa akan hal itu. Semenjak saya tinggal dan diasingkan di Manor, saya lupa kalau saya adalah anak Raja." Setelah mengucapkan kalimat sesantai itu, dia memilih untuk meminum susu jahe yang dibuat khusus untuknya. Tahu sendiri kalau kondisi tubuh Sirena asli sangatlah lemah dan mudah sakit. Maka dari itu dia mencoba meningkatkan daya tahan tubuhnya dengan meminum minuman herbal.


Galcinia ditempatnya terus saja memandang Sirena dengan penuh arti. Dia sangat tidak sabar ingin mengetahui siapa sebenarnya Sirena yang sekarang. Bila memang bisa diajak bekerja sama, Galcinia akan memberitahukan hal penting yang memang perlu diketahui.


"Sirena!" Raja Monachus menatap marah Sirena.


Suasana makan malam mendadak menjadi tegang. Mereka semua tidak berani menatap ke arah Raja Monachus yang terlihat menyeramkan bila marah, terkecuali Sirena dan Galcinia tentunya.


Tiba-tiba Suzdal datang memberitahukan bahwa rombongan kerajaan Aelious dan Apollo akan segera tiba sebentar lagi.


Raja Monachus dan yang lain pun bergegas untuk menyambut kedatangan mereka di gerbang istana.


Berbeda dengan Sirena, dia tengah menantikan kedatangan Athanaxius untuk mengucapkan terimakasih atas kado yang diberikan kepadanya. Lelaki itu memberinya sebuah mahkota berukuran sedang yang nampak indah.


"PANGERAN FALCO DAN ROMBONGAN MEMASUKI ISTANA!!" Suara prajurit yang bertugas mengumumkan itu terdengar dari atas menara yang ada disetiap sisi kanan dan kiri gerbang utama istana.


Tak lama, rombongan berkuda memasuki istana disusul oleh beberapa kereta kuda berlambang istana kerajaan pun masuk bergantian.


Nervilia, Ratu serta Selir sudah memasang senyum terbaik milik mereka untuk menyambut tamu-tamu penting.


Falco, Elanus turun terlebih dahulu dari kuda milik masing-masing. Tak lama, Sirakusa yang masuk paling akhir pun turun lalu menghadap pada Raja. Para Putri dan Pangeran dari kerajaan Aelious dan Apollo bergantian turun dari kereta kuda masing-masing.


"Kalian menjalankan tugas dengan baik!" Raja Monachus bangga kepada kedua putranya serta Sirakusa. Raja Monachus kemudian berjalan lebih ke depan saat mengetahui Raja dan Ratu dari kerajaan Aelious serta Apollo berjalan ke arahnya.


"Selamat datang di rumahku, Raja Brackdis serta keluarga, juga Raja Sorois serta keluarga. Mohon maaf atas ketidaknyamanan saat menuju kemari." Raja Monachus menundukkan kepalanya sebentar lalu kembali mengangkatnya kembali.


Elanus berdiri di sebelah Sirena, "itu Raja Brackdis dan istrinya, mereka penguasa kerajaan Aelious. Dan yang berambut panjang itu adalah Raja Sorois dan istrinya, penguasa kerajaan Apollo." Elanus berbisik memberitahu kepada Sirena. Elanus tahu kalau Sirena pasti tidak tahu siapa kedua orang penting itu.


"Apakah saya bertanya padamu, Pangeran Elanus? Jangan membuang tenagamu untuk memberitahukan hal yang menurut saya tidak penting." Balas Sirena yang membuat Elanus memandang Sirena dengan tatapan sendu.


Sirena sendiri tengah celingak-celinguk mencari sosok Athanaxius, "Dimana dia?"


Sirakusa yang melihat gelagat Sirena mengetahui bahwa wanita itu pasti tengah mencari sosok Athanaxius. Tatapan keduanya bertemu, Sirakusa mendapat tatapan tajam dari Sirena. Sirena memberi isyarat kepada Sirakusa agar mengikutinya.


Sirena pun melenggang pergi tanpa memberi salam pada tamu-tamu yang tengah memperhatikannya.


Raja Monachus menahan malu atas kelakuan tidak sopan Sirena, "Mohon maaf atas sikap Putriku, Sirena. Dia sedang dalam suasana hati yang buruk."


"Jadi, dialah Putri Sirena? Penyebab kekacauan yang akhir-akhir ini sering terjadi?" Istri Raja Brackdis menatap sosok Sirena tak suka.


Sepanjang perjalanan menuju taman istana utama, Sirena merasa kupingnya berdengung, "Ya ampun, kuping gue pengeng! Pasti pada ngomongin gue," Sirena mengusap-usap telinganya.


Di belakangnya Sirakusa ternyata mengikuti. Sirena pun berhenti lantas berbalik dan menghadap pada Sirakusa yang menjulang tinggi.


"Dimana Athanaxius? Mengapa aku tak melihatnya?" Sirena berkacak pinggang.


"Dia pulang." Sahut Sirakusa malas.


"Heh, kampret! Kenapa kau mengajak Athanaxius untuk membantu perkejaan kalian hah? Dia itu tamu di istana ini!"


Sirakusa bersidekap dada, "Aku hanya ingin melihat kemampuannya dalam bertarung melawan monster. Monster bertemu dengan monster, bukankah itu pertarungan yang seru?" Sirakusa menyeringai.


Sirena berhenti berkacak pinggang, "Athanaxius bukan monster!" Suara Sirena penuh dengan penekanan di dalamnya, "Jangan pernah menghinanya, Sirakusa! Jangan melebihi batasanmu sebagai manusia yang tak punya hati nurani!"


"Apa yang salah? Orang bahkan menyebutnya manusia berhati iblis! Membunuh banyak orang!"


Sirena geram, "Tangan gue gatel banget buat nonjok muka lo, anak babi!"


Sirakusa mengernyitkan keningnya tak mengerti dengan ucapan Sirena. Kalau itu mantra sihir, tetapi mantra sihir yang diucapkan Sirena terdengar aneh di telinganya.


Sirena mendekatkan diri hingga lebih dekat dengan Sirakusa. Sirena tersenyum miring, "Lantas bagaimana dengan dirimu, Sirakusa? Lelaki yang mencintai wanita yang akan menjadi istri orang, bahkan masih berani mendekatinya. Bukankah itu terlihat rendahan sekali? Kau tak tahu malu, Sirakusa!"


Sirakusa tiba-tiba mencekik leher Sirena, "Jaga bicaramu, Sirena! Atau aku akan membunuhmu!"


Meskipun nafas Sirena tersendat-sendat, Sirena tetap menyunggingkan senyum mengejek, "Se-e? K-kau tak t-tahu m-malu! Uhuk-uhuk!" Nafas Sirena semakin tercekat.


"BEDEBAH! BERANINYA SAMA WANITA!"


Bugh


"ARGHH!!" Tangan Sirakusa terlepas dari leher Sirena hingga wanita itu terduduk di atas rerumputan taman.


Sementara Sirakusa mengerang kesakitan akibat miliknya yang ditendang oleh Galcinia dari belakang.


Galcinia langsung membantu Sirena berdiri, kemudian membawanya pergi meninggalkan Sirakusa seorang diri.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Sirena meminta kepada Galcinia agar membawanya menuju Manor. Sesampainya di Manor, Sirena langsung dibopong oleh Aindrea menuju kamar milik Sirena.


Aindrea begitu panik melihat Sirena yang lehernya nampak memerah serta wajahnya yang terlihat pucat, "Apa yang terjadi denganmu? Mengapa kau ini mudah sekali terluka?"


Sirena tersenyum tipis, dia menahan tangan Aindrea yang ingin menyentuh lehernya, "Aku tidak apa-apa, Bang Indra. Bang, bisa tinggalkan aku bersama kakak ipar? Ada hal penting yang ingin dibicarakan."


Aindrea menatap sanksi pada Sirena, "Tapi bagaimana dengan lehermu itu? Bukankah harus segera diobati?"


"Ini tidak parah, Bang, kau tak perlu khawatir berlebihan seperti ini!" Sirena memutar bola matanya jengah.


Aindrea menghela nafas pasrah, "Baiklah, kalau ada apa-apa kau bisa berteriak. Aku akan datang untuk melihatmu, mengerti?"


Sirena mengangguk. Setelahnya Aindrea pergi keluar kamar, membiarkan Sirena berdua dengan Galcinia.


Galcinia yang sudah penasaran pun segera duduk di ranjang di samping Sirena.


"Ceritakanlah sekarang! Aku sudah penasaran dengan jati dirimu!"


Sirena menyeringai, "Tak semudah itu, jamet!"


"Jamet?" Gumam Galcinia, 'Kata-kata yang diucapin Sirena mirip banget sama kata-kata yang sering diucapin Devita.'


"Apa keuntungan bagiku memberitahu siapa diriku?"


Galcinia menatap Sirena ragu, "M-mungkin aku bisa memberitahumu perihal dunia ini."


Sirena diam. Perihal dunia ini, memang hal yang sering dicari tahu olehnya. Apakah ini benar dunia novel atau benar-benar another world?


"Aku memang bukan Sirena, bukan berasal dari dunia antah berantah ini. Aku adalah Devita Bina Dheandita dari bumi, benua Asia, Asia Tenggara, Indonesia, Jakarta." Jawab Sirena dengan lengkap, "Sekarang giliranmu."


Galcinia tidak tahu harus berkata apa, apa benar ini semua kebetulan? Matanya tidak bisa tidak untuk berkaca-kaca.


"De-devita ... I-ini aku, A-ayana ..." Galcinia menangis haru lalu memeluk Sirena erat yang terlihat bagai patung sekarang.


"I-ini aku A-ayana hiks ... Ayana R-risti ..."


"Ayana ..." Mata Sirena berkaca-kaca, hatinya menghangat setelah mendengar nama sahabat yang sudah lama dia rindukan.


"Ayana, gue kangen lo, hiks ..." Sirena membalas memeluk Galcinia dengan erat.


Keduanya masih larut dalam pelukan rindu yang baru tersalurkan. Mereka akhirnya bertemu, sahabat yang saling mendukung satu sama lain, selalu bersama saat suka dan duka, akhirnya kembali bersama.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?


Yang udah bisa nebak siapa Galcinia, insting kalian bagus! Soalnya aku udah ngasih clue di awal part. Hehee, semoga suka ya sama ceritaku ini dan nggak bosen.😙