
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Pagi hari yang cerah menyambut, menyapa para burung untuk bersuara meramaikan langit cerah. Memberitahu para manusia untuk memulai aktivitas seperti biasa. Melupakan sejenak bahwa hari-hari lampau sempat diterpa teror akibat monster yang bermunculan.
Sirena sendiri terbangun akibat sinar matahari yang menembus tirai kamar ibundanya. Senyum tipis muncul di bibirnya untuk mengawali pagi. Untuk pertama kalinya dia bisa tertidur nyenyak, suatu kenikmatan yang jarang sekali dia rasakan. Mungkin ini adalah kesempatan yang patut dia syukuri dengan kondisinya sekarang.
Dia memutuskan untuk bangun lalu berjalan menuju jendela. Ingin sekali dia membuka jendela untuk merasakan segarnya udara pagi hari.
"Sayang sekali aku tak bisa menggunakan wujud nyata untuk hal tidak penting." Lirihnya sedih.
Tetapi sekarang bukan waktunya bersedih. Sirena yakin dia akan bisa menikmati udara segar dengan puas nantinya. Senyuman lebar kini dia perlihatkan dengan tatapan matanya terfokus pada langit yang cerah.
Plung
Plung
Netra Sirena teralih pada suara batu yang dilempar ke kolam. Dari jendela, Sirena dapat melihat sosok anak kecil laki-laki yang tengah berdiri di dekat kolam di taman belakang Manor sembari melempar batu ke kolam.
"Siapa anak itu? Apa dia teman Devita?" Sirena merasakan seperti ada magnet yang membuatnya tertarik untuk terus menatap anak itu.
"Astaga, aku hampir lupa!" Mengingat Devita, Sirena lupa kalau dia ingin menunjukkan buku itu pada Devita. Sirena pun bergegas menemui Devita ke dalam kamarnya.
Sesampainya di kamar miliknya yang ditempati oleh Devita, Sirena membulatkan matanya saat melihat pemandangan di depannya.
Disana, di atas ranjang terdapat Devita yang tidur dalam pelukan lelaki tampan. Lelaki itu dan Devita tidur dengan posisi duduk.
"Apakah dia lelaki yang dimaksud Devita?" Sirena menilai lelaki itu, "Tampan juga ... Tapi aku merasakan ada yang aneh dengan lelaki itu."
Sirena memutuskan untuk pergi. Dia tak ingin menganggu kedua orang itu. Entah kenapa dia ingin menemui anak kecil yang berdiri di dekat kolam.
Sirena mengira anak kecil itu sudah pergi, ternyata anak itu masih disana, berdiri di dekat kolam dengan tatapan kosong.
"Kalau aku mendekat, dia tak akan tahu bukan?" Sirena pun mendekat dengan langkah pelan hingga akhirnya berdiri di samping anak kecil itu.
Sirena memandang wajah anak kecil itu yang terlihat kosong entah memikirkan apa. Dari matanya memancarkan sebuah keputusasaan yang pernah dia rasakan.
"Sudah sejauh ini ... Tapi ternyata aku salah mengira."
Sirena terkesiap mendengar anak kecil itu berbicara. Suaranya terdengar merdu namun sarat akan kelelahan.
"Dimana dia sekarang?" Anak kecil itu, France. France menundukkan kepalanya merasa putus asa.
'Apa yang harus aku lakukan sekarang? Dia bukan Sirena. Aku benar-benar kecewa dengan fakta itu.' France tak bisa memungkiri bahwa hatinya terasa begitu sakit. Jantungnya berdegup tidak teratur karena menahan rasa nyeri yang berasal dari hatinya.
Tangan France meremat baju sebelah kirinya lalu beralih memukulnya beberapa kali untuk menghilangkan denyutan nyeri itu.
'Apa seperti ini menjadi seorang manusia? Apa semua manusia merasakan apa yang aku rasakan sekarang?'
Hembusan udara pagi yang seharusnya menyegarkan begitu kini terasa menyakitkan untuknya. Lalu tak lama, sebuah hembusan udara hangat menerpa wajahnya, seolah membelai wajahnya hingga perlahan rasa sakit di hatinya hilang.
Melihat kesedihan yang nyata di depannya, Sirena tak kuasa. Dia pun berdiri di depan anak kecil itu. Mencoba menyentuh pipi France meskipun dia tahu hal itu tak akan bisa.
"Siapa namamu? Mengapa kau bersedih?" Sirena terus mengusap pipi France meskipun anak kecil itu tak bisa merasakannya.
France terhenyak saat degup jantungnya berubah cepat dan membuat hatinya perlahan menghangat. Tanpa sadar matanya terpejam, menikmati sensasi menyenangkan yang tiba-tiba datang.
"Aku merasakan kehadiranmu, Sirena ..."
Usapan yang dilakukan Sirena seketika terhenti saat anak kecil itu mengucapkan namanya.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Athanaxius terbangun lebih dulu saat merasakan tangan kanannya kesemutan. Dia terdiam beberapa saat setelah benar-benar sadar kalau Devita tertidur dalam pelukannya.
Devita, nama wanita yang dia kira Sirena. Entahlah, nama itu masih terasa asing untuknya karena dia sudah terbiasa memanggil dengan nama Sirena.
Mata merah Athanaxius terfokus memandang wajah Devita yang nampak tidur pulas. Seulas senyum tipis muncul di bibirnya, "Hanya kau yang tidur dengan tenang tanpa takut mati dalam pelukanku."
Sejak semalam, Athanaxius terpikir. Bagaimana dengan tubuh asli seorang Devita? Karena selama ini dia berada didalam tubuh Sirena. Lalu darimana asal wanita ini?
Kelopak mata Devita bergerak, tak lama mata wanita itu terbuka hingga membuat keduanya bertemu pandang.
"Senyaman itukah pelukanku, hm?"
Devita sontak menyingkir saat tersadar kalau sejak semalam dia tertidur dipelukan Athanaxius.
Devita merasakan pipinya memanas, "I-itu ... B-ba-bagaimana bisa aku tidur d-di ..."
Athanaxius mengendikkan bahunya, "Entahlah." Senyum miring dia perlihatkan ke arah Devita. Athanaxius bangun kemudian berjalan menuju pintu.
"Putri tidur, sebaiknya kau ingat-ingat apa yang terjadi malam tadi." Ucap Athanaxius sebelum keluar dari kamar.
Devita lantas menyilangkan kedua tangannya menutupi dadanya, "Semalem gue nggak macem-macem kan? Gue nggak khilaf kan?" Anehnya Devita tak bisa mengingat apa yang terjadi malam tadi selain dia mengaku kalau dia bukan Sirena kepada Athanaxius.
Cklek
Pintu kamarnya kembali terbuka dan terdapat sosok Athanaxius yang menatap Devita sambil menyeringai, "Kau benar-benar ingin tahu?"
Devita hanya bisa mencebikkan bibirnya kesal. Dia memilih memalingkan wajahnya dari tatapan Athanaxius. Devita kemudian bangun lalu berjalan menuju jendela untuk membuka tirai agar sinar matahari bisa masuk ke dalam kamarnya.
Baru hendak menyibak tirai, Devita dikejutkan dengan perlakuan Athanaxius yang tiba-tiba membalik tubuhnya kemudian menciumnya. Devita merasakan kakinya seperti tanpa tulang hingga tubuhnya ditopang sepenuhnya oleh Athanaxius.
Devita tak pernah menyangka akan merasakan bagaimana dicium oleh lelaki tampan seperti di drama-drama yang dia tonton. Terlebih saat merasakan ciuman yang diberikan oleh Athanaxius begitu lembut dan tidak menuntut. Melihat mata tajam Athanaxius yang tertutup membuat Devita terpesona bahkan sampai lelaki itu menjauhkan wajahnya, Devita tak bisa memalingkan wajahnya.
Deg deg deg
'Jantung gue ...' Devita merasakan jantungnya seperti ingin keluar dari tempatnya.
"Setelah itu, kau pingsan akibat ulah mata merah yang menghisap energimu." Bisik Athanaxius. Mata tajam Athanaxius sangat menghunus Devita.
Semalam, Si mata merah berhasil mengambil alih kesadarannya. Dan hal itu membuat Athanaxius terkurung dalam dirinya sendiri karena kutukannya lebih kuat dari dirinya sendiri.
"Kutukanku."
'Aku menemukan sesuatu yang menarik di dalam tubuh wanitamu. Apa kau ingin tahu, Athan?' Si mata merah itu berbicara dalam pikirannya.
'Kau hutang penjelasan padaku.' balas Athanaxius untuk mata merah.
"Maksudmu? Kut-"
"Sebaiknya kau segera mandi. Aku mengira kau wangi, ternyata kau bau." Athanaxius menampilkan raut wajah yang menyebalkan kepada Devita.
Plak
"Pergi sana! Sialan!" Devita benar-benar kesal dengan lelaki ini.
Sebelum benar-benar pergi, Athanaxius menepuk pipi Devita lalu menghilang menggunakan teleportasi.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Devita yang baru saja selesai mandi dikejutkan dengan sosok wujud tak nyata Sirena yang tengah duduk di depan meja rias.
"Sejak kapan lo disitu, Na?"
Sirena melambaikan tangannya menyapa, "Baru saja, setelah aku bertemu dengan anak kecil itu. Omong-omong, siapa anak kecil itu?"
Devita merapikan gaun yang tengah dia pakai kemudian berjalan menuju meja rias untuk mengambil sisir rambut, "Namanya France. Dia bukan berasal dari wilayah Alhena, tapi dari wilayah Alioth."
"Kau mengadopsinya?"
Devita yang masih menyisir rambut mengangguk, "Ho'oh! Kasian dia, ibunya udah meninggal gara-gara roh iblis. Lo ketemu France dimana?"
"Di taman belakang Manor. Tadinya aku mampir untuk membangunkanmu, tapi tidak jadi karena melihat kau tertidur pulas di pelukan seorang lelaki tampan." Sirena menampilkan raut wajah menggoda.
Devita melempar sisir yang dia pegang ke arah Sirena dan langsung ditangkap oleh Sirena. Sirena tertawa melihat wajahnya tersipu malu seperti itu. Benar-benar membuatnya merasa aneh dengan wajahnya sendiri.
"Oh iya, aku menemukan sebuah buku aneh di kamar ibunda. Kau pergilah ke kamar ibunda sekarang. Aku menunggumu disana." Setelahnya Sirena pergi dengan langsung menembus dinding.
Devita pun segera keluar kamar untuk pergi ke kamar yang ada di sebelahnya. Saat dia membuka pintu, rasa hangat menyapanya, seolah-olah ada orang yang langsung memeluknya dengan pelukan hangat.
Devita menutup pintu kamar ibunda Sirena. Sirena sudah menunggu sembari memegang sebuah buku dengan sampul yang sudah tua.
"Buku ini berbeda dari yang lain. Hanya ada lembaran kosong di dalamnya." Sirena membuka buku itu lalu memperlihatkannya kepada Devita, "Tapi ada sederet tulisan sebuah nama. Nama itu ..." Sirena membuka halaman dimana nama itu berada, "Irena Harmony Asthropel."
Devita diam mengamati tulisan itu lamat-lamat, "Namanya hampir sama dengan nama lo, Na."
"Pasti ada sesuatu dengan buku ini."
Devita setuju dengan ucapan Sirena, "Dari film-film yang gue tonton. Biasanya kertas yang macem begini kudu disorot sama api atau ditetesin air." Devita mengambil buku itu, "Gimana kalau kita coba?"
"Ayo! Tapi jangan sampai buku ini rusak!" Peringat Sirena.
Tetapi sayang, usaha yang dilakukan Sirena dan Devita sia-sia. Keduanya saling duduk bersisihan dengan tatapan menyerah. Cara yang diketahui Devita dari film-film ternyata tidak berguna.
"Sirena? Apa kau ada didalam?"
Devita terperanjat kaget saat mendengar suara Agda dari depan kamar. Sirena ikut berdiri, "Aku akan menyimpan buku ini. Kita pasti bisa menemukan rahasia dibuku ini."
Devita mengangguk, kemudian Sirena kembali ke wujud tidak nyatanya. Dia mengikuti Devita dari belakang.
Tepat saat Devita membuka pintu, Devita terkejut mendapati wajah sembab Agda, "Apa telah terjadi sesuatu?"
Agda mengangguk sambil menangis.
"Apa ada yang mencuri ayam milikmu?"
Agda menggeleng, "B-bukan itu hiks ..."
"Terus?" Devita mulai panik.
"A-adelphie hiks ... Dia ingin kembali pulang, huahhhh" tangis Agda pecah.
"Pulang?"
"Iya, aku akan pulang."
Devita dan Agda menoleh ke arah yang sama, dimana Adelphie datang menghampiri keduanya, ralat ketiganya karena Sirena juga ada disana.
"Kau benar-benar ingin pulang sekarang, Adelphie?" Mata Devita berkaca-kaca.
Adelphie mengangguk, "Mata-mata Kerajaan milik kakakku berhasil menemukanku. Dari mata-mata itu dia mengatakan kalau aku tidak pulang, aku tidak akan dapat warisan."
Sirena tertawa terbahak-bahak di tempatnya. Tidak dia sangka, luster yang sering menatapnya datar ini juga menyukai hal tentang warisan.
"Sialan kau, Adelphie! Kau kan sudah kaya tanpa warisan!" Agda memukul bahu Adelphie.
Adelphie tersenyum tipis, melihat dua orang ini, rasanya begitu berat untuk pergi. Namun bukan itu alasan aslinya. Dia benar-benar harus pulang demi keluarganya.
" Huhuuu ... Aku pasti merindukanmu, Adelphie ... Hiks ..." Kini Devita pun ikut menangis lalu memeluk Adelphie. Tak ingin ketinggalan, Agda pun ikut memeluk Adelphie.
Sirena melihat itu semua. Persahabatan yang selalu dia inginkan. Tetapi sayang, sahabatnya sudah tidak ada lagi disisinya. Melihat Agda dan Adelphie, Sirena merindukan Norma dan Aysun.
Devita yang melihat wajah sedih Sirena pun memberikan kode untuk ikut berpelukan.
Tanpa Agda dan Adelphie sadari, mereka juga tengah dipeluk oleh Sirena asli. Sirena yang pernah mereka benci.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?