The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 37: Bukan Dunia Novel



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Di dalam kamar miliknya, Sirena terlibat perbincangan serius dengan Galcinia. Sirena begitu penasaran bagaimana bisa sahabatnya masuk ke dalam tubuh Galcinia, kakak iparnya.


"Sebelum memulai pembicaraan serius, aku ingin bertanya. Bagaimana caranya agar aku bisa bicara bahasa yang sering kita gunakan sepertimu?"


Galcinia juga ingin bisa berbicara dengan bahasa sehari-hari yang sering dia gunakan.


"Mudah saja, kau cukup mewujudkan apa yang ingin kau ucapkan, pasti bisa!" Sirena berucap dengan nada ringan.


"Ehm-ehm ..." Galcinia berdehem sejenak, "G-gue Ayana ... Gue Ayana, gu-"


Pletak


"BAJIGUR!" Umpat Galcinia secara spontan akibat jitakan dari Sirena. Dia memandang kesal ke arah Sirena, "Sakit tahu!"


Sirena menanggapi tatapan kesal Galcinia dengan tertawa. Membuat kesal sahabatnya adalah hobi baginya. Ibarat makanan, rasanya hambar tanpa micin.


"Eh? Gue udah bisa!!!" Galcinia memekik kegirangan.


"Oke, langsung aja deh to the point! Gimana bisa lo ada di tubuh Galcinia?"


Ayana yang saat ini berada di tubuh Galcinia menghembuskan nafas panjang sebelum mulai bercerita, "Lo dengerin cerita gue, pokoknya lo jangan ngomong sebelum gue suruh ngomong!"


"Hm," Sirena alias Devita memutar bola matanya malas, namun setelahnya dia mendengarkan cerita Ayana dengan seksama.


~Flashback On~


Saat Ayana mendengar kabar bahwa Devita melakukan percobaan bunuh diri di rooftop sekolah, Ayana merasa gagal menjadi seorang sahabat. Ayana benar-benar kehilangan sosok sahabat seperti Devita.


Ayana tak menyangka bahwa sahabatnya akan mengalami koma. Berjalan satu bulan tanpa Devita membuat Ayana kesepian. Tidak ada teman yang bisa diajak bercanda apalagi menangis bersama. Menangisi betapa kejamnya dunia pada orang-orang lemah sepertinya dan Devita.


Sepulang sekolah, Ayana berniat untuk menjenguk Devita. Namun, sebelum keluar gerbang, dia dikejutkan dengan seember air yang disiramkan ke arahnya. Ayana diam mematung kala mendengar suara tawa dari banyak orang. Ayana tersenyum sendu dibalik tetesan-tetesan air yang mengalir di wajahnya.


"Kasian banget sih, daki unta satu ini, hahaha ... Mana temen lo yang satu itu?"


Ayana mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil menatap Vanesa tajam, sementara Vanesa terus tertawa mengejek ke arahnya bersama teman-temannya.


"Ups, lo lupa ya, Nes? Temennya si daki gajah kan lagi sekarat gegara nyoba bunuh diri, hahaha," Teman Vanesa ikut berbicara.


"Apa menurut kalian persoalan Devita itu lucu?" Ayana tak bisa tinggal diam. Mungkin bila dia Devita, dia pasti akan diam karena dia masih menghargai Vanesa sebagai kakak, tapi dia bukan Devita. Dia adalah sahabat Devita, yang akan selalu ada untuk Devita meskipun mati sekalipun. Karena ... Dia tak memiliki siapapun selain Devita. Dia hanya anak panti asuhan yang mencoba hidup mandiri di kota besar dan bermodalkan nekat.


"Otak kalian dimana sih? Gue tanya, yang mana yang lucu?" Ayana dapat melihat keterdiaman semua orang, bahkan satpam sekalipun yang hanya menonton, "Kalau seandainya memang benar Devita mencoba bunuh diri, maka penyebab terbesarnya adalah KALIAN SEMUA! MANUSIA NGGAK PUNYA HATI! SETAN AJA KALAH SAMA KELAKUAN KALIAN!"


"Coba lo liat pohon!" Ayana menunjuk pohon cemara yang ditanam di pinggir pos satpam, "Daun kering gugur digantikan dengan daun hijau yang baru tumbuh. Sama seperti kehidupan, semuanya akan berganti, nggak akan sama!" 


Ayana tersenyum sinis, dia maju selangkah untuk lebih dekat ke arah Vanesa, "Sebenarnya masalah lo sama Devita itu apa, hm? Gue lihat-lihat, Devita udah berusaha jadi adik yang baik dan penurut untuk lo juga abang-abang lo. Sayangnya emang lo itu nggak tahu diri! Ralat, tapi lo semua nggak tahu diri!"


Plak


Kepala Ayana tertoleh ke samping, dia dapat merasakan sudut bibirnya berdarah. Ayana menegakkannya kepalanya untuk melihat siapa yang berani menamparnya, "Anggasta," Ayana menyeringai, "Lo udah jadi banci ya, sampai berani nampar gue? Situ laki apa lekong?"


Ayana mundur selangkah untuk melihat devil couple  di depannya. Ayana membingkai dengan jari jemarinya, "Kalian berdua cocok! Semoga kena karmanya barengan, ya? Hahaha ... Bye!" Ayana tak ingin berlama-lama berada di lingkungan setan.


Ayana menaiki ojek menuju rumah sakit. Tak butuh waktu lama, dia sudah sampai di rumah sakit. Ayana tak mempedulikan tatapan orang yang berpapasan dengannya di koridor rumah sakit yang terus memperhatikan penampilannya yang memang terlihat kacau.


Ayana sudah tiba di depan ruangan Devita dan bersiap untuk masuk. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara perempuan yang tak asing di telinganya.


"Hi, Devita ... Masih ingat denganku?" Ayana melihat sosok perempuan berseragam SMA Alioth tengah mengusap kepala Devita. Ayana bisa melihat itu semua karena pintu ruangan rawat tak tertutup rapat.


"Kita belum sempat berkenalan waktu itu, tetapi aku sudah tahu namamu. Aku adalah Aysa Listeria, orang yang tengah merindukan seseorang." Aysa menatap Devita sendu. Lalu tatapannya teralih pada kalung yang melingkar di leher Devita, "Kalung steorra?"


Ayana yang masih mengintip itu terkejut bukan main kala mengetahui siapa perempuan itu, yang ternyata adalah Aysa Listeria, penulis novel Hiraeth.


"Jadi benar, ternyata kalian terikat takdir." Aysa menyunggingkan senyum tipis, "Aku senang, akhirnya orang yang tepat itu adalah kamu, Devita."


'Terikat takdir? Kalian itu Devita sama siapa?' Ayana bertanya-tanya dalam hati.


"Kira-kira, Putri Sirena sekarang sedang apa? Apa dia menuruti ucapanku agar tak berbuat lebih jauh terhadap Putri Nervilia atau tidak ya?" Aysa menarik kursi untuk dia duduki. Setelah duduk, dia menggenggam tangan Devita. Matanya senantiasa memandang kondisi Devita yang dipenuhi alat penunjang hidup.


"Kamu tahu kenapa aku membuat novel Hiraeth?" Aysa seolah tidak peduli kalau dia hanya berbicara dengan angin, "Karena aku rindu rumah. Rumahku bukan disini, bukan di dimensi ini. Kalau kamu sadar, kamu pasti nggak percaya kan, Dev?"


Ayana hampir terkena serangan jantung mendengar ucapan Aysa.


"Sst ... Ini adalah rahasia. Namaku adalah Aysun Maia yang menempati tubuh Aysa Listeria yang sudah mati karena kecelakaan. Aku adalah seorang pelayan pribadi untuk Putri Sirena, tokoh antagonis yang aku buat dinovel."


BRAK


"ADUHH!!"


Aysa sontak berdiri, dia terkejut dengan kehadiran orang lain yang pasti mendengar ucapannya. Aysa berkeringat dingin, apakah dia akan ketahuan kalau dia bukanlah Aysa Listeria?


Ayana yang tengah fokus mendengarkan justru kehilangan keseimbangan hingga membuatnya tersungkur ke dalam ruangan.


Tersadar kalau dia ketahuan menguping, Ayana tersenyum lebar, "Hehe ... Maaf, Aysa, kuping gue tajem banget sampe bisa denger cerita lo." Ayana pun berjalan mendekati Aysa yang nampak ketakutan.


"Nggak usah takut, Aysa atau Aysun Maia?" Ayana menatap Aysa, "Gue tipe orang yang percaya kalau dunia ini ada banyak. Jadi lo nggak perlu mikir yang nggak-nggak." Ayana tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya, "Gue Ayana Risti, sahabat Devita."


Dengan ragu-ragu, Aysa menjabat tangan Ayana, "A-aysun M-maia,"


"Sip! Sekarang kita udah kenal. Em ... Gue boleh nanya nggak? Eh sambil duduk deh, pegel gue berdiri mulu." Ayana menduduki kursi yang sempat diduduki oleh Aysa, sedangkan perempuan itu berdiri karena rumah sakit hanya menyediakan satu kursi saja.


"T-tanya apa?"


"Jadi dunia yang lo tulis dalam novel itu benar-benar ada?"


Aysa mengangguk.


Ayana geleng-geleng kepala karena takjub, "Soal Raja iblis yang bangkit itu memang ada?"


Aysa nampak ragu untuk menjawab, "Entahlah, aku tidak tahu. Sebelumnya aku bisa melihat masa depan seseorang, lalu aku melihat masa depan Putri Sirena. Putri Sirena akan dihukum mati karena dia yang sudah bertindak keterlaluan terhadap Putri Nervilia. Hampir sama seperti alur novel yang aku buat, namun aku tidak tahu pasti apa Putri Sirena sekarang masih hidup atau tidak. Karena di dunia itu aku sudah mati karena melindungi Putri Sirena."


"Memangnya lo meninggal karena apa? Apa bener karena terkena anak panah?" Ayana sudah seperti reporter sekarang.


"Karena anak panah."


"Lo tahu siapa orang yang mau mencelakai Sirena?"


"Aku tahu, bahkan lebih dari tahu." Aysa mengalihkan pandangannya, memandang lurus ke arah jendela yang memantulkan cahaya jingga matahari, "Orang itu adalah antagonis yang asli. Dia adal-"


Drrtt drrt


Ucapan Aysa terhenti saat ponselnya berdering pertanda ada yang menelponnya. Dengan segera dia mengangkat telpon yang berasal dari ibunya.


"Iya Bu ... Sebentar lagi Aysa pulang ... Sekarang? ... Yaudah, Aysa pulang sekarang kalau begitu ..." Aysa menaruh ponselnya di saku roknya.


Aysa menatap Ayana yang masih menunggu penjelasan darinya, "Aku harus pulang, Ayana. Ibu sudah menjemputmu di depan. Besok, kita bertemu di taman dekat sekolahmu, bagaimana? Aku akan memberitahu antagonis yang sebenarnya."


Ayana mendesah kecewa, "Oke deh, nggak papa. Besok ya, pulang sekolah langsung ke taman, jangan ngaret!"


Mendengar itu, Ayana bergidik, "Jangan nakut-nakutin gue deh! Udah, sono-sono pulang!" Usir Ayana yang membuat Aysa tertawa pelan.


Setelah kepergian Aysa, Ayana pun menemani Devita membacakan novel yang baru saja dia pinjam dari perpustakaan sekolah.


Karena hari sudah malam, Ayana memutuskan untuk pulang ke kosannya. Ayana kembali memakai jasa ojek untuk mengantarnya pulang.


Ayana merasakan ada yang aneh dengan tukang ojeknya. Ayana segera menepuk bahu tukang ojek dengan kencang tatkala gang kosannya sudah terlewat, "Pak-pak! Gang kosan saya udah kelewat, Pak! Saya mau turun disini aja!"


Tukang ojek terus melajukan motornya hingga daerah yang jarang dilewati orang. Di pinggir jalan terdapat sungai besar dengan air yang mengalir deras.


"Pak, berhenti! Kalau nggak berhenti, saya loncat sekarang!"


"Bisa diem nggak!" Tukang ojeknya justru menyentaknya, "Cukup diam aja dan kamu aman. Kamu malam ini akan menjadi rezeki buat saya, hahaha ..."


Ayana yang tahu rencana jahat tukang ojek segera menggoyang-goyangkan motor hingga oleng dan akhirnya terjatuh.


Brugh


Ayana terjatuh dengan kepalanya yang membentur batu yang ada di pinggir jalan. Dia pun segera bangun dan berlari sekencang mungkin meskipun kepalanya terasa sakit karena tadi tak sengaja terkena batu di pinggir jalan.


"Hei, bocah! Jangan kabur!"


Ayana terus berlari tanpa sadar kalau ternyata dia melewati jalan buntu. Dia salah mengambil jalur saking paniknya hingga memilih jalur menuju waduk.


"Mau lari kemana kamu, hah? Kamu mau lompat ke dalam air?"


Ayana benar-benar ketakutan sekarang, kalau dia lompat ke dalam air tentu dia akan mati kehabisan nafas karena dia tak bisa berenang. Namun dia juga tak mampu untuk melawan tukang ojek ini yang berbadan kekar, terlebih lagi kepalanya terluka yang membuatnya kini mulai sempoyongan.


"Ikut saya aja, ya? Sini!" Tukang ojek itu terus melangkah maju.


"NGGAK!" Ayana memejamkan matanya sebentar, lalu bertekad. Dia memilih mati daripada harus dilecehkan.


Ayana kemudian berlari lalu melompat ke dalam arus deras waduk.


BYURR


Ayana merasakan dadanya yang seperti ditindih batu besar yang membuatnya sesak dan semakin lama semakin kehilangan kesadaran.


Namun sebelum dia memejamkan mata, dia melihat siluet seorang perempuan cantik dengan gaun abad pertengahan yang tengah tersenyum padanya. Perempuan itu mengulurkan sesuatu yang bercahaya merah muda dan memasangkannya di lehernya. Dan saat itu dia jatuh di dalam kegelapan.


Ayana mengira dia sudah mati, namun ternyata belum. Tapi yang membuatnya terkejut, dia berada di dalam tubuh Putri Galcinia, istri Putra Mahkota Kerajaan Willamette.


~Flashback off~


Devita tercengang, jadi dunia yang sekarang dia tempati bukanlah dunia novel, melainkan dunia di dimensi lain.


"Sekarang lo boleh ngomong atau nanya-nanya."


"Gue masih terkejut, gue kira ini dunia novel! Berarti kita udah kayak tokoh Alice di film Alice in Wonderland dong!"


"Ho'oh!"


Devita menatap Ayana dengan mata berkaca-kaca, "Tapi yang paling bikin gue seneng, gue ketemu lo lagi, Ayana ..." Devita menghapus air matanya yang mengalir, "Lo lihat? Tubuh Sirena idaman gue banget! Gue jadi tahu gimana rasanya jadi orang cantik bertubuh langsing."


"Lha gue?" Ayana tersenyum miris, "Kenapa pula gue bangun di tubuh orang bersuami?" Tapi meskipun demikian, dia tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup.


"Mungkin ini jalan terbaik buat lo, Ay. Emangnya lo nggak ketemu sama Galcinia yang asli?"


Ayana menggeleng, "Nggak, tapi gue dapet ingatannya doang."


"Terus lo dapat ingatan nggak, siapa yang udah nusuk lo?" Devita ingin tahu saja, siapa tahu luka penusukan Galcinia bukan Sirena penyebabnya.


"Dan ini yang aneh, gue nggak dapet ingatannya."


Keduanya sama-sama diam dengan pikiran yang bercabang kemana-mana.


"Ay, lo nggak mau balik ke istana utama?"


Devita dan Ayana sudah memutuskan, mereka akan memanggil satu sama lain dengan nama asli bila tengah berbicara berdua.


"Lo ngusir gue?" Ayana mendengus.


"Bukan begitu, emangnya lo mau buat semua orang curiga? Seingatnya Sirena, Sirena nggak pernah deket sama yang namanya Galcinia, kan aneh aja kalo tetiba akrab."


Ayana mengangguk-angguk, alasan Sirena masuk akal, "Mungkin mulai besok kita buat diri kita akrab di depan semua orang, lo setuju nggak?"


"Setuju dong!" Ayana dan Devita saling bertos ria.


"Kalau begitu, anterin gue dong sampai depan istana utama. Kelamaan kalau nunggu besok, kalau bisa sekarang kenapa enggak?"


Devita mendengus, "Halah manja!" Namun tak ayal Devita bangkit dari tempat tidur, "Kita lanjut lagi jadi Sirena dan Galcinia,"


Ayana mengangguk. Keduanya keluar kamar bersama lalu berjalan beriringan sembari membahas tentang gaun apa yang akan mereka kenakan di pernikahan Nervilia nanti.


Sirena dan Galcinia pun sampai di istana utama. Tak jauh dari mereka, terdapat Falco dan Sirakusa yang tengah berbincang.


Sirena mencegah Galcinia untuk melangkah agar mereka bisa mendengar pembicaraan antara Falco dan Sirakusa. Dari perbincangannya, Sirena tahu bahwa Sirakusa memang sangat membencinya.


Saat mendengar nama Athanaxius dibawa-bawa dalam perbincangan mereka, Sirena segera menarik tangan Galcinia bersembunyi dibalik pilar besar agar bisa mendengar lebih jelas.


"Baiklah. Oh iya, tentang Pangeran Athanaxius, bagaimana dengan kondisinya? Apa tak apa membiarkan dia terluka parah di hutan?"


"Entahlah? Bukankah dia sendiri yang meminta untuk ditinggalkan?"


Sirena membulatkan matanya, bukankah Sirakusa bilang kalau Athanaxius pulang? Tapi ini?


"Luka dalamnya begitu parah, apakah dia akan mati?"


"Orang yang memiliki kutukan tak akan mudah mati, Falco. Aku yakin dia mampu bertahan." Sirakusa menepuk bahu Falco sebagai isyarat agar lelaki itu tak terlalu memusingkan persoalan Athanaxius.


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Malam sudah semakin larut, aku harus menjemput Galcinia ke Manor. Terimakasih sudah memberitahuku dimana Galcinia berada, Sirakusa."


"Sama-sama."


Sirena lantas menarik tangan Galcinia keluar dari tempat persembunyian. Sirena bertepuk tangan yang dia tujukan untuk Sirakusa.


Prok prok prok


"Bagus sekali, Sirakusa! Kau memang bedebah sialan!"


Sirakusa dan Falco terkejut dengan kehadiran Sirena beserta Galcinia. Terlebih Sirakusa, tak menyangka Sirena akan tahu secepat ini dari mulutnya sendiri.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?