
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Rumah kesehatan kali ini terasa seperti istana kerajaan Willamette yang dihuni oleh Raja dan anak-anaknya.
Raja Monachus tak mengira dia tak akan bisa menjelaskan secara langsung kepada dua anaknya ini. Berkat bantuan Galcinia dan Falco, Raja Monachus masih hidup dan berkumpul untuk melihat dua anak kembarnya yang sudah lama terpisah.
Saat ini Raja Monachus beserta anak-anaknya dan yang lain tengah duduk berkumpul di tengah ruangan membentuk sebuah lingkaran. Raja Monachus memandang Devita, Irena dan Sirena bergantian.
"Anda harus segera menjelaskannya dengan cepat, Pak Raja. Sirena tak bisa bertahan dalam wujud nyata di waktu yang lama, dia hanya bertahan setengah jam dalam sehari." Devita memberitahu Raja Monachus.
Raja Monachus pun menarik nafas panjang sebelum memulai bercerita. Dia kembali mengingat-ingat kembali masa lalu.
Delapan belas tahun yang lalu di desa Osaka, Raja dan Selir Agalia berkunjung untuk mengatasi kekeringan di desa Osaka. Saat itu Selir Agalia hamil tua, yang mana hari lahirnya sudah dekat.
Tepat saat bulan berwarna merah, Selir Agalia melahirkan dibantu oleh tetua desa Osaka. Selir Agalia melahirkan dua bayi kembar yang sama-sama cantik. Dua bayi kembar itu memiliki warna rambut yang berbeda, yang satu berambut pirang emas dan yang satunya berwarna ungu lavender.
Bayi berambut pirang emas diberi nama Sirena Stylanie Asthropel, dan bayi berambut ungu lavender diberi nama Irena Harmony Asthropel. Namun, bayi Irena justru tak menangis kencang layaknya bayi yang baru lahir, tak seperti kembarannya, Sirena. Maka dari itu para rakyat desa Osaka hanya tahu bahwa Selir Agalia hanya memiliki satu anak.
Karena hal itulah Raja Monachus hanya memperkenalkan Sirena didepan publik juga untuk melindungi Irena yang keadaannya tidak sehat dari Ratu Amanita. Orang yang selama ini ingin membunuh Selir Agalia.
Singkat cerita tiga tahun kemudian, Raja Monachus dan Selir Agalia mengetahui isi buku ramalan. Isi buku itu berkaitan dengan kedua anaknya. Saat itu pula kondisi Irena memburuk dan sekarat.
Tetua desa Osaka menyarankan sebuah ritual pertukaran jiwa. Pertukaran jiwa hanya bisa dilakukan saat bulan merah muncul. Bulan yang tak bisa diprediksi kapan kemunculannya.
"Suatu hari bila Yang Mulia Ratu Amanita mengetahui isi buku ramalan, maka Anda tak perlu khawatir. Putri Anda akan tetap baik-baik saja karena mereka sudah menjadi kuat." Ucap Tetua sebelum melakukan ritual pertukaran jiwa.
Pertukaran jiwa itu membuat jiwa Irena melayang ke langit, di saat itu juga jiwa yang lain turun dari langit lalu masuk ke dalam tubuh Irena.
"Perang melawan kegelapan pasti terjadi." Selir Agalia menggendong Sirena yang saat itu berusia tiga tahun tengah tertidur dalam pelukannya, "Demi mengembalikan jiwa Irena, kau harus mengabaikanku dan Sirena ke depannya." Selir Agalia menatap sendu Raja Monachus.
"Amore ... Bagaimana kalau aku tidak sanggup? Sangat sulit bagiku mengabaikan kalian ..."
"Ini semua demi kita, demi melawan kegelapan, seperti janjiku pada kakakku." Selir Agalia menitikkan air matanya.
"Yang Mulia Raja ... Yang Mulia Selir Agalia ... Ritual pertukaran jiwa sudah selesai." Suara Tetua membuat mereka memusatkan perhatiannya kepada Tetua, "Jiwa baru yang ada di dalam tubuh Putri Irena akan terhubung dengan tubuhnya yang berada di dimensi lain. Hal itu akan membuat Anda tidak perlu menjelaskan siapa jati dirinya. Yang Anda perlukan adalah menarik kembali jiwa Putri Irena ke dunia ini saat usia delapan belas tahun."
Raja Monachus selesai bercerita diakhiri dengan batuk-batuk kecil. Akhirnya, rahasia yang selama ini dia sembunyikan kini sudah diketahui oleh anak-anaknya.
"Jadi, apa benar saya adalah anak Anda, Pak Raja?" Devita masih tak menyangka, ternyata dia memiliki kembaran dari dimensi lain.
"Itu benar, kau adalah anakku dan Agalia. Apakah ayahanda boleh tahu bagaimana kehidupan sehari-hari yang kau jalani di duniamu?"
"Apakah duniamu lebih indah dari dunia Vulcan?" Sirakusa ikut bertanya. Lelaki itu akhirnya tahu alasan kenapa Sirena terlihat berbeda, ternyata karena memang dia bukanlah Sirena yang asli.
Devita memandang semua orang yang kini menatapnya. Mereka benar-benar ingin tahu dunia yang ditinggali oleh Devita.
"Kehidupanku sangat buruk. Aku bahkan tidak ingin mengingatnya. Aku hidup di keluarga yang hanya menganggapku seperti angin lalu, hampir sama dengan yang dialami Sirena. Aku diabaikan oleh ayah dan Mama," Meskipun Devita sudah tahu siapa orangtua kandungnya, namun tak bisa dipungkiri, dia masih merindukan ayah dan Mamanya di dunianya.
"Mereka tak pantas kau rindukan, Dev!" Galcinia berceletuk, "Mungkin keberadaanmu disini sudah menjadi takdir dan demi kebaikanmu."
"Aku yang akan membalas mereka nantinya." Irena mengepalkan tangannya kuat-kuat. Selama ini dia bisa melihat secara langsung bagaimana Devita diperlakukan.
Devita hanya tersenyum tipis melihat kemarahan Irena si pemilik asli tubuh di bumi, "Sabar, Ren, sebelum bales dendam, lo harus lulus ujian kenaikan kelas dulu."
"Di bumi, tidak ada sihir. Semua manusia hanya memiliki kepintaran dan kebodohan. Manusia pintar membuat beberapa teknologi yang bisa memajukan manusia. Kami yang tak bisa terbang di atas langit, kini bisa terbang dengan menggunakan pesawat."
Semua orang terlarut dalam cerita yang Devita ceritakan. Mereka mengira kalau hanya ada dunia Vulcan di alam semesta ini, namun ternyata masih ada lagi dunia yang tidak mereka tahu.
"Berkat teknologi it-"
"TOLONG!!!"
Devita terpaksa menghentikan kegiatan story tellingnya saat mendengar suara seseorang meminta pertolongan.
"Ayo kita periksa!"
Elephas tak menyangka, Nervilia memiliki batu ajaib yang fungsinya hampir sama seperti portal teleportasi. Terbukti dari sosoknya dan Nervilia yang ada digendongannya sampai di desa Osaka.
Desa Osaka terlihat begitu sepi karena sudah malam. Maka dari itu dia bingung harus meminta pertolongan pada siapa.
"Bertahanlah, Nervilia ..."
Elephas membenci Nervilia, tetapi dia juga mencintai Nervilia. Mengingat kejadian tadi, dimana Nervilia melindunginya dan mempertaruhkan nyawanya membuat Elephas tak mampu membenci Nervilia.
"TOLONG!!!"
Teriakan Elephas berhasil memecah kehingan malam di desa Osaka.
Saat hendak kembali berteriak, Elephas melihat salah satu rumah bertingkat yang ada di depannya terlihat terbuka.
Disana sosok Sirakusa dan Falco terlihat. Elephas dengan kekuatan yang tersisa menghampiri kedua orang itu.
"Tolong Nervilia! Dia terluka parah!"
"Cepat bawa masuk ke dalam!" Sirakusa menuntun Elephas untuk masuk ke dalam rumah kesehatan.
Berbeda dengan Falco yang hanya diam saja memandang Elephas yang menggendong Nervilia.
Elephas sempat terkejut melihat semua anak Raja Monachus berkumpul di rumah kesehatan ini, namun dia langsung menetralkan wajah terkejutnya kemudian meletakkan Nervilia di atas ranjang yang sudah ditunjuk oleh Sirakusa.
"Ratu Amanita menggila. Dia ingin membunuh Nervilia karena melindungiku." Elephas bercerita pada Sirakusa yang kini mulai menyalurkan sihir penyembuh.
"Seharusnya dia memang pantas mati."
Elephas sontak menoleh, dia menatap tajam ke arah Athanaxius yang nampak santai dengan tatapan tajam Elephas.
"Sayang sekali, dia masih hidup." Lanjut Athanaxius yang membuat Elephas kesal.
Elephas pun menghampiri Athanaxius dan hendak menyerang, namun Devita segera menghalangi Elephas.
"Jangan buat keributan di tempatku!" Devita menunjuk wajah Elephas, "Berani kau memukul Athan, aku tak akan segan mengusir Nervilia dari desa Osaka."
"Sialan!" Dengan kekesalan yang tertahan, Elephas memilih keluar dari rumah kesehatan.
Sirena sendiri setelah mendengar suara Elephas, lebih memilih berdiam di lantai atas bersama France karena enggan harus bersitatap dengan jarak dekat dengan Elephas.
Akan tetapi seketika jantungnya terasa begitu sakit, seolah-olah ditikam oleh ribuan pisau yang menikamnya secara bersamaan.
"ARGHHHH!!"
Erangan kesakitan itu membuat Devita menatap dimana Sirena berada. Saat hendak menyusul Sirena, Devita merasakan jantungnya seperti ditusuk oleh benda yang sangat tajam, begitu menyakitkan hingga membuatnya terjatuh.
"S-sakit ..."
Athanaxius yang tak jauh darinya segera menangkap tubuh Devita sebelum benar-benar menyentuh lantai.
Raja Monachus yang khawatir kini bingung ingin mendekati siapa, pasalnya Sirena dan Devita kesakitan di waktu bersamaan.
Irena yang sedari tadi di sudut ruangan pun sebenarnya merasakan sakit yang sama di jantungnya. Namun dia masih bisa menahannya. Karena hal ini sudah biasa terjadi padanya. Rasa sakit yang memberinya sebuah peringatan bahwa dia harus segera kembali ke tubuh aslinya.
"Se-sebentar lagi ..." Irena meremas sisi gaunnya guna menyalurkan rasa sakit yang sedang dia rasakan.
Yang bisa membantu mengatasi rasa sakit ini adalah Zifgrid, orang yang selama ini melindunginya.
Tepat sebelum Irena kehilangan kesadaran, dia melihat sosok Zifgrid muncul begitu saja di hadapannya dan tersenyum ke arahnya.
"Terima kasih banyak sudah bertahan, Irena."
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Aku pernah janji buat triple up, semoga kalian suka yaaaa ....