
Nb: Karena Sirena asli sudah muncul, maka nama akan sesuai orang aslinya ya ... Devita yang ada di dalam raga Sirena akan dipanggil Sirena untuk dialog yang bersangkutan. Dipahami pelan-pelan biar nggak bingung hehe ...
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Menurut quotes yang pernah dibaca Devita di google, hidup bukan sekedar membahagiakan diri sendiri, tapi bagilah kebahagiaan itu kepada orang di sekeliling kita karena kebahagiaan itu akan bertambah ketika di bagi. Quotes itu benar adanya saat melihat Sirena yang tertawa.
Devita menceritakan tentang kesehariannya disini yang dianggapnya lucu. Tapi siapa sangka karena hal sesederhana itu, Sirena tertawa bebas. Devita bercerita kalau dia pernah memaki Raja Monachus karena memberinya tugas mengurus pesta pernikahan Nervilia.
"Astaga, Devita, haha ... Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana raut wajah ayahanda haha ..." Sirena benar-benar tertawa tanpa beban.
"Yahh sepertinya gue doang yang berani maki-maki Pak Raja, jangan ditiru ya, Na, hehe ..." Devita cengengesan. Tetapi setelahnya Devita memandang Sirena yang wujudnya nyata dan tidak lagi seperti hantu, "Ngomong-ngomong, wujud lo ini bisa bertahan berapa lama?"
"Tidak banyak, Dev. Aku hanya bisa bertahan dalam waktu setengah jam sehari dalam wujud nyata. Itu semua berkat bantuan kalung steorra milikku dan milikmu." Sirena menunjuk kalung yang dipakai oleh Devita.
Devita mengangguk paham, "Tapi lo dikasih tahu sama siapa soal ini?"
"Dewi Andromeda."
"HAH?" Devita segera menutup mulutnya tatkala menyadari suaranya yang keras. Sedangkan Sirena, dia terkikik pelan melihat tingkah Devita.
"Sewaktu kau dan aku pingsan, aku mimpi bertemu Dewi Andromeda." Sirena menjelaskan lagi agar Devita tak bertanya, "Dari mimpi itu, dia menjelaskan kalau aku bisa bertahan di wujud nyata dalam waktu setengah jam sehari."
"Jadi begitu ..." Devita menganggukkan kepalanya, "Tapi kenapa bisa Dewi Andromeda niat banget nemuin lo?"
Sirena mendengus, "Apa kau lupa kalau kalung yang kau dan aku kenakan berasal dari siapa?"
Tok tok tok
"Kau berbicara dengan siapa di dalam?" Suara Athanaxius membuat Devita dan Sirena bungkam. Keduanya hampir lupa kalau di luar kamar masih ada orang.
"A-aku berbicara sendiri!" Sahut Devita.
"Tidurlah, ini sudah malam. Kau harus beristirahat." Suara Athanaxius kembali terdengar.
"IYA-IYA!" sahut Devita kembali.
Sirena menatap Devita dengan tatapan menggoda, "Kau seperti orang yang menyembunyikan selingkuhanmu dari suamimu, haha ..."
Devita segera membungkam mulut Sirena, "Diem anjir! Tuh cowok yang bakal jadi suami buat lo!"
Perkataan Devita membuat mata Sirena terbelalak. Sirena segera menyingkirkan tangan Sirena, "Apa maksudmu, Dev? Bagaimana mungkin dia yang akan menjadi suamiku?"
"Terus? Dia kan nglamarnya buat lo, nama lo. Tenang aja, gue yakin Athanaxius orang yang cocok buat lo." Devita merasa ada yang aneh dengan dirinya saat mengatakan kalimat itu, jauh didalam lubuk hatinya terasa nyeri.
Sirena menggeleng tegas, "Tidak! Aku tidak menerima perjodohan apapun." Mengingat selama ini Devita yang menggantikan dirinya, sudah pasti akan berbeda cerita bila Athanaxius tahu yang sebenarnya.
"Aku menganggap semua yang kau dapat adalah milikmu, Devita. Aku tidak berhak apapun atas apa yang kamu dapatkan dari hasil kerja kerasmu. Mulai dari Manor ini, teman-temanmu bahkan lelaki itu sekalipun. Semua itu milikmu." Sirena bahkan memegang bahu Devita saking seriusnya. Dia hanya ingin meluruskan saja.
"T-tapi ..."
Sirena menggeleng, "Sudah tidak apa ... Sebaiknya kau segera tidur. Waktuku juga sudah habis.," Wujud nyata Sirena sepenuhnya menghilang dan yang bisa melihat hanyalah Devita.
Devita mengangguk saja, tetiba saja rasa kantuk menyerang dan membuatnya menguap lebar, "Hoammm ... Kalau begitu, selamat malam, Sirena ..." Devita membaringkan tubuhnya lalu mulai memejamkan mata.
Setelah beberapa saat, Devita pun terlelap dalam tidurnya. Sirena memandang wajah Devita yang sama dengan dirinya dengan tatapan lembut, "Kau sudah berusaha keras selama ini, Devita. Aku tidak mungkin merebutnya darimu ... Meskipun kau membagi kebahagiaan milikmu, tetap saja terasa beda bagiku."
Sirena kemudian memilih pergi untuk mengunjungi kamar mendiang ibundanya. Kata Devita, dia belum pernah masuk ke dalam kamar ibundanya karena tidak berani. Salah satu hal yang bisa Sirena syukuri dari keadaannya yang seperti angin, dia bisa menembus ke kamar sebelah, kamar ibundanya berada tanpa harus keluar dari kamarnya.
Suasana kamar milik ibundanya masih sama hingga sekarang. Terasa begitu hangat dan menenangkan. Kalau dilihat, tidak ada yang istimewa di kamar ibundanya. Kamar ibundanya tidak berhias berlian, melainkan lukisan-lukisan alam dan lukisan ibundanya bersama ayahanda.
Mengingat ayahanda dan ibundanya yang berdiri berdampingan dalam lukisan, Sirena sering bertanya-tanya. Mereka nampak serasi dan saling mencintai, tetapi kenapa ayahandanya begitu tega menghukum mati ibundanya yang belum tentu bersalah?
Sirena duduk di tepi ranjang, kemudian kembali memandang seisi kamar. Tak sengaja matanya menatap ke arah buku yang nampak berbeda yang terletak di rak paling atas. Sirena bangkit untuk mengambil buku itu.
Buku itu terlihat sudah lapuk dimakan usia, akan tetapi cover bukunya yang mencolok membuat Sirena penasaran dengan isinya. Segera saja Sirena membuka buku itu.
Di halaman pertama hanya terdapat halaman kosong tanpa tulisan. Sirena pun membalik halaman ke berikutnya, akan tetapi juga kosong. Sirena terus membaliknya sampai akhir halaman.
"Apa buku ini benar-benar kosong? Tidak ada tul-" Sirena berhenti bicara tatkala matanya menangkap tulisan kecil dibagian pojok halaman buku.
"I-re-na H-har-mo-ny As-thro-pel ... Irena Harmony Asthropel?" Kening Sirena mengkerut, "Nama siapa ini? Mengapa memiliki marga yang sama denganku dan ibunda?"
Apakah ini nama saudara ibundanya? Ataukah nama neneknya? Sirena tidak tahu, "Aku harus memberitahu Devita besok. Sebaiknya aku tidur disini saja." Sirena pun memutuskan untuk tidur di kamar ibundanya.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Sebelumnya tidak pernah terpikir oleh Athanaxius bahwa dia rela menjaga seorang wanita di depan kamarnya. Dan sekarang apa yang sedang dia lakukan? Mengapa dia rela berdiri di depan pintu kamar Sirena hingga berjam-jam?
Athanaxius termenung sembari memejamkan matanya. Hatinya, pikirannya, bekerja sama untuk membiarkan dirinya berdiam disini. Bahkan dia juga meminta maaf kepad-
"HAH?"
Mata Athanaxius sontak terbuka saat mendengar suara Sirena di dalam kamar. Apa telah terjadi sesuatu?
Athanaxius menempelkan telinganya di daun pintu. Dia pun menajamkan pendengarannya. Dari sini, Athanaxius dapat mendengar Sirena seperti tengah berbincang dengan seseorang.
Tok tok tok
"A-aku berbicara sendiri!"
Apa seorang Putri bangsawan terbiasa berbicara sendiri seperti Sirena? Sangat aneh menurut Athanaxius.
"Tidurlah, ini sudah malam. Kau harus beristirahat." Athanaxius kembali bersuara.
"IYA-IYA!" sahut Devita dari dalam.
Athanaxius menggeleng-gelengkan kepalanya, 'Mengapa aku begitu peduli dengannya?'
'Kau menyukainya mungkin?'
'Diam kau!' Itu tidak mungkin, 'Aku tidak menyukainya.'
'Terserah kau saja. Aku malas harus berhubungan dengan orang bodoh sepertimu.' Si mata merah membuat Athanaxius memutar bola matanya malas.
'Kalau begitu, pergilah! Kau membuatku berbeda sejak dulu.'
Setelah itu tidak ada lagi suara dari mata merah. Athanaxius bertemu pandang dengan luster Sirena, Agda yang segera mengalihkan pandangannya.
"Pangeran Athanaxius, semoga Dewa dan Dewi Vulcan memberkati Anda ..." Agda memberikan salam hormat.
"Hm." Sahut Athanaxius malas.
Agda kemudian berjalan sembari membawa nampan berisi susu jahe yang dia khususkan untuk Sirena.
"Apa itu untuk Sirena?" Pertanyaan Athanaxius membuat Agda berhenti sebelum membuka pintu.
"Benar, Pangeran."
Athanaxius segera mengambil nampan itu, "Biar aku saja. Kau kembalilah!"
"Eh? Ehm ... Kalau begitu saya permisi." Agda menundukkan kepalanya kemudian pergi. Dalam pikiran Agda, mungkin Athanaxius ingin berperan sebagai calon suami yang peduli.
Setelah kepergian Agda, Athanaxius pun masuk ke dalam kamar Sirena. Dapat dia lihat Sirena yang sudah tertidur pulas. Dengan langkah pelan Athanaxius menghampiri Sirena yang merupakan Devita.
Athanaxius meletakkan nampan itu di atas nakas. Dia kemudian duduk di tepi ranjang, merapikan selimut yang menjuntai agar menutupi tubuh Devita.
"Emh ... Athan ..."
Athanaxius terpaku saat mata Sirena terbuka sedikit. Terlebih jarak diantara keduanya juga begitu dekat.
"Aku bukan Sirena, apa kau percaya?" gumam Sirena yang kemudian kembali tidur. Merapatkan tubuhnya di dalam selimut.
'Bukan Sirena?'
Athanaxius semakin mendekatkan wajahnya. Tangannya terulur untuk melihat simbol mawar hitam di kening Sirena.
Simbol yang merupakan seorang pembangkit juga simbol kalau orang ini adalah permaisuri untuk Raja iblis.
Simbol itu bersinar merah lalu seketika hilang bersamaan dengan simbolnya yang benar-benar hilang. Athanaxius terkejut, apa mungkin simbol kutukan bisa menghilang?
Athanaxius berpikir keras, terutama tentang ucapan Sirena barusan. Bukan hanya sekali Sirena mengaku seperti itu. Tetapi sewaktu di tepi sungai malam itu, Sirena pernah berujar yang sama padanya, 'Ingin tahu sebuah rahasia, Athan? Aku bukanlah Sirena.'
"Kalau kau bukan Sirena, lantas siapa dirimu? Siapa namamu, hm?" Athanaxius semakin mendekatkan wajahnya hingga tersisa jarak sejengkal dari wajah Sirena. Deru nafas Athanaxius yang menerpa wajah Sirena membuat wanita itu perlahan membuka mata.
Kelopak mata Sirena mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya tersadar, "ASTAGA, ATHAN!!" Sirena mendorong tubuh Athanaxius hingga membuat lelaki itu berhasil menjauh darinya.
Tatapan Athanaxius terfokus pada Sirena, "Kau bilang kau bukan Sirena. Lantas siapa dirimu?"
Pertanyaan dari Athanaxius berhasil membuat Sirena yang merupakan Devita terkejut. Apa dia harus memberitahu Athanaxius tentang siapa dia sebenarnya?
"A-aku ... A-ak-" Devita terdiam karena Athanaxius tiba-tiba mengungkungnya.
"Katakan dengan jelas! Aku tidak ingin menikahi seseorang yang tidak jelas siapa dirinya."
Tatapan Athanaxius membuat nyali Devita menciut. Tatapan itu benar-benar tajam.
"A-aku ... N-namaku Devita ... Aku bukan Sirena." Devita menunduk, tidak berani menatap Athanaxius. Entahlah lelaki itu percaya atau tidak, "Kau boleh tidak mempercayainya, Athan ... T-tapi aku benar-benar bukan Sirena. A-aku Devita yang masuk ke dalam tubuh Sirena."
"Tatap mataku bila berbicara denganku!" Athanaxius mengangkat dagu Devita, menatap wajah ketakutan wanita itu, "Seperti ini."
"A-apa kau p-percaya, Athan?" Devita takut kalau tiba-tiba dia ditebas dengan pedang Athanaxius karena berani membohongi lelaki itu, "A-apa kau akan membunuhku? A-aku tidak berniat membohongimu, sungguh! Tolong jangan bunuh ak-"
Athanaxius mengecup bibir Devita, kemudian kembali memandang Devita, "Siapa yang menyangka kalau calon istriku bernama Devita, hm? Sudah aku bilang bukan sebelumnya? Aku tidak peduli siapa dirimu. Kalau kau memang Devita, aku berterima kasih," Athanaxius kembali mengecup bibir Devita, "Terima kasih karena dirimu, aku seperti menjadi manusia biasa tanpa kutukan."
Devita tak menyangka Athanaxius akan bersikap seperti ini. Dia mengira akan segera dibunuh oleh Athanaxius.
"Kalau begitu, apa kau menerima lamaranku, Devita?"
Di depan pintu kamar, France mendengar semua pembicaraan Athanaxius dan Devita. Hal itu membuat France mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kalau dia bukan Sirena, lantas dimana Sirena yang asli?
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Akhirnya Athanaxius tahu, kalian nggak bingung pas pergantian nama kan??? Jangan bingung ya ...