
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
"Ratu! Sebenarnya apa yang terjadi dengan Athanaxius?" Kayanaka bertanya pada Ratu Amanita yang tak lagi mengarahkan sihirnya ke arah Athanaxius.
"Dia sudah tidak berguna." Gumam Ratu Amanita dengan sorot penuh kekesalan.
"Apa maksudmu, Ratu?"
"Dia sudah mati!" Bentak Ratu Amanita karena terganggu dengan tingkah Kayanaka yang terus mendesaknya.
Kayanaka diam membantu dengan mata terbelalak lebar, "Tidak mungkin ..."
"Apa yang kau harapkan dari Athanaxius, Kayanaka? Lelaki itu bodoh dan sudah tak berguna lagi. Jangan bersedih dengan hal yang tak berguna!" Ratu Amanita berujar kesal.
"S-SIALAN KAU, AMANITA!!"
Ratu Amanita menoleh untuk melihat orang yang mengumpatinya dan ternyata adalah teman lamanya, Airith.
"Berani sekali kau mengumpatiku, sialan!" Ratu Amanita mengayunkan tongkat sihirnya yang dia arahkan ke Airith.
Tiba-tiba sebuah kubah kaca sihir terbentuk melindungi Airith dan tawanan lain yang memang sudah tidak berdaya karena disiksa oleh para monster Ratu Amanita.
"Sirakusa!" Irena memekik melihat sosok Sirakusa yang berjalan lunglai menuju arah Ratu Amanita, "Goblok! Kenapa lo keluar? Harusnya lo diem anteng aja sama rakyat Osaka!" Ingin rasanya Irena menarik tubuh lemah Sirakusa kembali ke tempat persembunyian, namun apa daya karena dirinya juga lemah untuk sekedar berjalan.
"Jadi kau yang membuat kubah sihir itu, Sirakusa?"
Sirakusa mulai memejamkan matanya, bibirnya bergerak mengucapkan beberapa mantra sihir tanpa suara hingga tubuhnya mengeluarkan sihir putih yang begitu terang.
Sihir putih yang keluar dari tubuh Sirakusa terpecah dan memancar mengenai beberapa monster serta Kayanaka yang tidak siap menerima serangan sihir Sirakusa. Sangat berbeda dengan Ratu Amanita yang dengan mudah menangkisnya dengan tongkat sihir miliknya.
"Sihir pemancarmu tidak sekuat itu untuk membunuhku, Sirakusa, hahahaha ...." Ratu Amanita tertawa terbahak-bahak.
"Aigrata euytariaxh vulcanicha dana oseanikgha vulcanicha ... Uhuk-uhuk ... Welcomatra tuanji!" ( Pemusatan daratan Vulcan dan pemusatan samudra Vulcan, datanglah berkumpul! )
"SIALAN!" Ratu Amanita sontak menyerang Sirakusa dengan membabi buta karena mengetahui rencana lelaki itu yang menggunakan sihir pemanggil alam untuk melawannya.
Sihir pemanggil alam sangatlah berbahaya bagi orang yang menggunakannya karena taruhannya adalah nyawa. Sihir pemanggil alam harus disebutkan lima kali agar kekuatan dari seluruh alam Vulcan berpusat pada yang memanggil, akan tetapi tidak sembarang orang yang bisa menggunakan sihir pemanggil alam itu.
Sekuat apapun sihir yang dikuasai seseorang, tidak akan ada yang mampu menandingi sihir pemanggil alam yang datangnya langsung dari alam.
Akibat serangan Ratu Amanita yang membabi-buta, Sirakusa semakin terluka parah dan kesulitan untuk mengucapkan mantra sihir pemanggil alam.
"Ugh ..." Sirakusa merasakan lehernya seperti dicekik begitu kuat karena menerima serangan Ratu Amanita dan membuat tubuhnya melayang tinggi ke udara.
"KAU TIDAK AKAN BISA MELAWANKU, SIRAKUSA! HAHAHA!!" Ratu Amanita mengayunkan tongkatnya dan hal itu membuat tubuh Sirakusa terpental membentur rumah Irena yang separuh hancur hingga kini benar-benar hancur.
Kubah kaca yang tadinya melindungi Irena dan tawanan lain seketika hilang karena kondisi Sirakusa yang sekarat. Dapat dilihat oleh Irena bagaimana kondisi Sirakusa yang dipenuhi dengan darah disekujur tubuhnya dan beberapa kayu yang menimpa tubuhnya.
"Gue harus nolong Sirakusa! Tapi gimana caranya?" Meskipun serangan sihir Sirakusa mengenai banyak monster, masih ada beberapa yang tersisa yang siap selalu menyiksanya kembali.
"Kau ingin menolongnya?"
Irena menoleh ke arah Diantha saat mendengar suara lirih itu, "Ya, aku ingin menolongnya."
"Aku akan membantumu."
"Kau serius? Bagaimana kau membantuku?"
Diantha tak menjawab, perempuan itu justru diam sembari memejamkan matanya. Irena hanya bisa memandanginya dengan berbagai pertanyaan dibenaknya.
Tidak lama Diantha kembali membuka matanya. Perempuan itu menyerahkan batu berwarna permata kecil berwarna merah darah kepada Irena dengan sedikit kesusahan karena tangannya yang terikat ke belakang.
Irena lantas meraih batu permata itu dengan cekatan meskipun tangannya juga terikat.
"Si-sirakusa ha-rus ... me-nelan batu i-tu ..." Diantha berbicara tersendat-sendat dan membuat Irena cemas.
"Diantha, kau kenapa?"
"A-aku a-akan pu-lang ..." Meskipun wajahnya nampak menahan sakit, Diantha masih saja menampakkan senyum tipis miliknya.
"Wah, beginikah akhir hidup seorang Zifgrid?"
Irena sontak mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah sombong Ratu Amanita.
"Aku akan membantumu untuk cepat bertemu ajalmu, Diantha, hahaha!"
"JANGAN LAKUKAN APAPUN, SETAN!" Irena menendang kaki Ratu Amanita sekuat tenaga. Karena tendangan itu, tubuh Ratu Amanita sedikit limbung ke belakang dan membuat sihir yang seharusnya untuk Diantha justru melayang ke arah Kayanaka.
"AKHHH!!!" Kayanaka berteriak kesakitan saat sihir itu menyiksanya dan membuat tubuhnya lama kelamaan hangus terbakar.
Ratu Amanita yang berhasil menguasai keseimbangan tubuhnya kembali kini memandang tajam Irena, "Beraninya kau!"
Dugh
Kaki Irena diinjak dengan sengaja oleh Ratu Amanita menggunakan ujung bawah tongkat yang tentu saja begitu menyakitkan untuk Irena.
"Be-berh-henti ..." Irena mencoba menahan diri untuk tidak berteriak kencang.
Ratu Amanita lagi-lagi tertawa jumawa, "Hahaha, apakah tekanannya kurang membuatmu kesakitan?" Ratu Amanita semakin menekan tongkatnya ke kaki Irena.
"ARGHHG! DASAR GILA!" Tulang kakinya seperti hendak dipatahkan oleh Ratu Amanita.
Tidak ada yang bisa menolong Irena saat ini. Semua orang sudah sekarat, bahkan Diantha sepertinya sudah tidak bernyawa karena perempuan itu memejamkan mata dan tubuhnya perlahan mengabur.
'Jangan sampai semuanya berakhir nggak baik, Tuhan ...' batin Irena pasrah.
DUARR
Ledakan besar tiba-tiba saja terjadi yang membuat tanah Osaka bergetar dalam waktu lima detik. Ledakan itu berhasil membentuk sebuah lubang disusul dengan banyaknya asap yang membuat mata sulit memandang apa yang ada disekitarnya.
Ratu Amanita sangat kesal saat asap-asap itu tak kunjung hilang, lalu dengan tangannya mencoba mengusir asap-asap itu dengan kasar.
Hembusan angin kencang menerpa wajah Ratu Amanita yang langsung membuat tubuh wanita itu membeku. Tangannya tidak lagi berayun-ayun untuk mengusir asap, sedangkan matanya mulai bisa melihat sesuatu dibalik asap yang perlahan hilang.
"Bukankah mereka sudah mati?"
... -ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Kalau saja kehidupan tidak membuatmu merasa kesulitan, maka pastilah kau akan semena-mena ...
Andai semua manusia tahu bahwa kekuatan terbesar pada diri mereka adalah kesabaran, maka huru-hara pun tak akan terjadi ...
Bila semua telah terjadi, maka hadapilah para pemilik hati yang sudah mati ...
Devita dan Athanaxius masih memejamkan mata sembari bergandengan tangan ketika suara-suara halus itu masih terus berbicara dan membuat mereka terjebak di ruang hampa.
Yang gelap akan terang, yang layu akan tumbuh, dan yang luka akan sembuh ...
BUMMM
Hampir saja tubuh Devita terpental kalau saja Athanaxius tidak merangkul pinggangnya dengan cepat.
Saat membuka matanya, Devita terkejut melihat wajah Athanaxius yang begitu tampan dan terlihat dikelilingi cahaya. Tidak hanya itu, sayap hitam milik Athanaxius kini berubah menjadi putih dan sangat besar.
"Bersiaplah! Kita akan menghadapi hal yang sulit." Suara Athanaxius membuat Devita sadar kembali.
Devita sendiri baru sadar dengan penampilannya, dia memakai gaun selutut berwarna putih.
"Kita sudah kembali ke Osaka?"
Athanaxius mengangguk sambil membenarkan anak rambut Devita ke belakang telinga. Athanaxius mendekatkan kepalanya lalu berbisik, "Jangan jauh-jauh dariku. Aku belum merasakan sihir apapun dari dalam dirimu."
Devita mengangguk pelan, meskipun dia belum memiliki sihir yang dapat melawan Ratu Amanita tetapi tidak ada keraguan sedikitpun yang menghinggapinya. Justru dia sangat yakin menghadapi Ratu Amanita tanpa sihir.
Athanaxius mengecup kening Devita sebentar. Firasatnya mengatakan, sesuatu hal yang panjang akan terjadi. Dia tidak tenang.
'Kau harus fokus, Athan!'
Suara di kepala Athanaxius membuat Athanaxius tersadar bahwa Ratu Amanita sudah melihatnya bersama Devita.
'Sayap milikku sangatlah kuat, jangan membuatnya tidak berguna! Serang sekarang!'
Athanaxius mengepalkan tangannya kuat-kuat sembari menatap tajam sosok Ratu Amanita yang berhasil membuatnya menjadi pembunuh bagi Devita.
Athanaxius melesat secepat angin menuju Ratu Amanita. Dengan bantuan kekuatan Dewa Eunoia, Athanaxius membuat bola sihir salju lalu dia arahkan ke Ratu Amanita.
Sring
Brugh
Ratu Amanita terlempar menabrak salah satu monster setelah menerima serangan bola sihir salju.
Devita ingin turut serta membantu, namun kakinya tiba-tiba tak bisa digerakkan seolah-olah melekat dengan tanah yang dia pijak.
'Manusia menyesal karena kecerobohannya. Jangan mengulanginya, Devita ...'
"Astaga!" Devita terkejut saat suara milik Dewi Elegi berada di dalam kepalanya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mungkin hanya diam saja menonton Athanaxius melawan Ratu Amanita."
Ratu Amanita tidak terlihat kelelahan sedikitpun meski terus mendapat serangan dari Athanaxius dan karena hal itu Devita merasa khawatir.
'Kekuatan spiritual manusia selalu terpusat pada hatinya.'
"KAU TAK AKAN BISA MENGALAHKANKU, ATHAN! HAHAHAA, TAK AKAN BISA!"
'Buat dia menyadari siapa dirinya yang sebenarnya.'
Antara fokus dan tidak fokus, Devita mencoba memecahkan teka-teki yang disebutkan oleh Dewi Elegi, tapi satu sisi dia tak bisa melihat Athanaxius yang sudah kuwalahan melawan Ratu Amanita.
"ÉLECTROVANNE SARANGHJA!" Ratu Amanita mengayunkan tongkatnya ke arah Athanaxius.
Athanaxius yang tadinya tengah terbang sembari melakukan serangan balik tiba-tiba terjatuh dan tak bisa bergerak.
"Kenapa aku tak bisa bergerak?" Athanaxius mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi tetap saja tak bisa.
'Curang sekali! Dia memanggil seribu roh untuk menahan tubuhmu. Roh-roh yang dipenuhi dengan dendam sangatlah kuat!'
Athanaxius tahu maksud ucapan Dewa Eunoia. Meskipun Dewa Eunoia adalah seorang Dewa, tetap saja statusnya adalah yang terbuang dan tidak sekuat Dewa lainnya.
"HAHAHAHA!" Ratu Amanita tertawa kencang melihat ketidakberdayaan Athanaxius.
"Orang gila!" Desis Athanaxius yang tidak rela ditertawakan oleh wanita semacam Ratu Amanita.
"Aku memang gila, Athan! Hahaha!" Tongkat Ratu Amanita seketika berubah menjadi sebuah pedang dengan mata pisaunya yang bercahaya merah darah.
"Aku akan membuatmu merasakan rasa sakit untuk yang kedua kalinya, Athan! HYAA!" Ratu Amanita menghunuskan pedang itu ke jantung Athanaxius.
"ATHANNNNN!!!" jerit Devita saat melihat raut wajah Athanaxius yang nampak kesakitan. Tidak hanya itu, tubuh Athanaxius perlahan-lahan menghitam dan mengabur.
"ATHAAAN!!" jerit Devita sekali lagi sembari menangis. Devita ingin berlari menghampiri Athanaxius, namun tidak bisa karena kakinya masih setia menapak di tanah yang dia pijak.
"HAHAHAHA! LIHATLAH INI, KETURUNAN TERAKHIR ASTHROPEL! ATHANAXIUSMU AKAN LENYAP TAK BERSISA!"
Devita menangis tergugu, "Athan ... Hiks ..."
'Buat dia menyadari siapa dirinya yang sebenarnya, Dev.'
Suara Dewi Elegi kembali dan membuat Devita memejamkan matanya. Devita mencoba mengulang-ulang kalimat Dewi Elegi hingga tak menyadari bahwa Ratu Amanita sudah berada di depannya dan bersiap membunuhnya lagi kapan saja.
"Kau ingin kematian yang seperti apa untuk yang kedua kalinya, Devita?" Tanya Ratu Amanita dengan seringainnya.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.