
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Suasana istana Kekaisaran Alioth saat ini sangatlah ramai karena acara perayaan pernikahan Putra Mahkota Kekaisaran, yaitu Pangeran Hydrasa Meika Lyn Alioth. Untuk pesta pernikahan mereka, akan diselenggarakan di istana Kekaisaran Alhena tiga hari lagi.
Beberapa Pangeran dan Putri kerajaan dan kekaisaran dari seluruh penjuru benua turut hadir di pernikahan mewah ini, juga da banyak pula bangsawan muda-mudi yang datang. Mereka bergantian memberi ucapan serta hadiah kepada Pangeran Hydrasa dan Putri Regiana.
"Salam sejahtera untuk kalian berdua, semoga berkah cinta Dewa Sirius dan Dewi Andromeda menyertai kalian ..." Pangeran Elephas menundukkan kepalanya sedikit pada temannya yaitu, Hydrasa yang berdiri berdampingan dengan Regiana.
"Semoga berkah cinta Dewa Sirius dan Dewi Andromeda juga menyertai kalian berdua. Elephas, kapan kalian akan menikah?"
Mendengar pertanyaan Hydrasa, seketika semburat merah merona di pipi Nervilia muncul. Tanpa sadar dia menggenggam tangan Elephas dengan erat, karena gugup.
"Secepatnya, pertengahan bulan Drawarf." Balas Elephas dengan matanya yang menatap teduh Nervilia.
"Dua Minggu lagi. Cepatlah menyusulku!" Hydrasa menepuk bahu Elephas.
Elephas mengangguk sambil tersenyum tipis. Berbeda dengan Nervilia, wanita itu menatap Regiana yang sedari tadi hanya diam dengan raut wajah kesal.
"Putri Regiana, apa Pangeran Hydrasa membuatmu marah? Mengapa aku tak melihat senyum indahmu?" Pertanyaan Nervilia membuat Regiana seketika menatap Nervilia.
"A-ah itu ... Tidak apa-apa, Putri Nervilia ... Aku hanya merasa kesal dengan Hydrasa saat ini." Regiana menatap kesal Hydrasa.
"Kalian baru menjadi sepasang suami istri, janganlah bertengkar terus." Celetuk Elanus. Dia memang sudah pernah dengar cerita tentang Putri Regiana dan Pangeran Hydrasa yang tak pernah akur bila bertemu. Dan sekarang, keduanya malah terikat dalam hubungan suci.
"Hydrasa, apa kau mendengar nasihat Pangeran Elanus?" Regiana bertanya dengan nada menyindir untuk Hydrasa.
Hydrasa membelalakkan matanya, "Astaga! Iya-iya, Regiana! Aku minta maaf. Wanitaku memang maha benar!" Raut wajah Hydrasa nampak tidak ikhlas dengan ucapannya.
"Kalian berdua memang cocok bila disandingkan." Falco ikut berbicara setelah lama terdiam.
"Kak Falco benar. Kalian berdua memang pasangan yang serasi!" Nervilia menatap kagum pada dua orang didepannya.
Hydrasa celingak-celinguk, "Dimana Putri Sirena? Apa dia memang tidak ingin datang?"
"Dia tak bisa hadir karena berhalangan." Ucap Elanus.
"Berhalangan?"
Semua mata sontak menoleh kepada Athanaxius yang baru saja datang. Athanaxius sendiri berjalan dengan tatapan datar dan tenang. Mereka sontak mengalihkan pandangannya tak ingin menatap mata Athanaxius.
Athanaxius berdiri disamping bahu Elanus, menepuk bahu lelaki itu dua kali lalu berbisik di telinga Elanus, "Alasan yang dibuat oleh seorang pengecut sangatlah tidak masuk akal di otakku."
Mendengar itu, Elanus menggeram marah. Namun sebisa mungkin Elanus menahannya.
Pandangan Athanaxius beralih menatap saudaranya serta istrinya, "Selamat untuk kalian berdua." Setelah berucap singkat itu, Athanaxius berlalu pergi.
Athanaxius terpaksa melakukan ini semua. Dia lebih memilih mengurung diri di Manor Asphodel daripada harus menjadi bahan gunjingan para kalangan atas. Seperti saat ini. Saat kedatangannya hingga kepergiannya, yang dia dengar hanyalah sebuah gunjingan yang tak enak didengar. Tatapan Athanaxius sempat bertemu dengan Airith, ibundanya. Ditempatnya, Athanaxius menatap datar Airith yang menyeringai ke arahnya.
"Sialan!" Desis Athanaxius sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Athanaxius langsung berjalan cepat, ingin segera pergi dari acara membosankan ini. Namun kejadian yang tak terduga terjadi padanya. Ada seorang Putri yang tak sengaja menabraknya hingga gelas minuman yang dipegangnya terjatuh. Refleks Athanaxius meraih pinggang Putri itu.
Putri itu menatap kagum wajah Athanaxius yang begitu tampan. Namun tak lama dia terkejut kala mendapati iris mata Athanaxius berubah menjadi semerah darah. Ada urat-urat hitam yang muncul dari leher hingga rahangnya.
"PUTRI FAYA! JANGAN MENATAP MATANYA!"
Tetapi Putri Faya seolah tuli dengsn peringatan itu. Semua orang di ballroom itu menahan nafas karena merasa aura di ruangan itu seketika berubah menjadi mencekam.
"Siapa kau hingga lancang menatapku, hm?" Tanya Athanaxius dengan suara berat. Tangan kanan Athanaxius terangkat hingga bertengger di leher Putri Faya.
"ATHANAXIUS!"
Athanaxius menyeringai melihat Putri Faya yang sudah sadar dari pesona Athanaxius lalu berteriak histeris merasakan sakit.
"ARGHH SAKIT!!"
Sring
BUGH
PRANG
Tubuh Athanaxius terpental hingga menabrak meja berisi minuman. Semuanya pecah, hancur berantakan. Para tamu undangan menatap perubahan Athanaxius dengan pandangan tidak percsya. Ini pertama kali bagi mereka melihat kebenaran rumor kutukan mata merah milik Athanaxius.
Athanaxius memandang sengit Efarish Bardas juga temannya yang diketahuinya bernama Efarish Sirakusa, orang yang mengadukan Sirena kepada Raja Monachus karena keluar istana.
"Kendalikan dirimu, Athanaxius." Efarish Bardas membantu berniat membantu Athanaxius berdiri, namun segera ditepis kasar oleh Athanaxius.
"Kalau aku bisa, sudah lama aku melakukannya." Athanaxius berdiri sendiri, matanya memandang seisi ballroom yang nampak hening serta tak ada yang berani menatapnya.
"Sekalinya pengacau akan terus menjadi pengacau!"
Athanaxius menyeringai menatap Salamandra, saudaranya yang baru saja datang.
"Urus saja urusanmu sendiri, sialan!" Setelahnya Athanaxius berjalan pergi meninggalkan ballroom.
Athanaxius pergi dengan suasana hati kacau. Seharusnya memang dia tak perlu datang. Dia menyesal. Menyesal karena menuruti perkataan ibundanya yang menyuruhnya datang sebagai saudara yang turut berbahagia atas pernikahannya dengan Putri Regiana.
Seketika Athanaxius terpikirkan tentang Sirena. Lebih tepatnya, kapan dia akan mengajukan imbalannya untuk crazy princess itu.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Sudah dua hari lamanya, Nervilia dan saudaranya pergi. Berbeda dengan Sirena yang sedang memperhatikan bekas lukanya yang sudah mengering di cermin.
"Bagus! Akhirnya lukanya kering. Selanjutnya tinggal mikir caranya gunain portal kerajaan untuk cari tahu tentang kalung steorra yang lain." Sirena bermonolog.
Sirena membenarkan kembali gaun sederhana yang tengah dia pakai. Lalu ingatannya terbesit tentang kejadian dimana dia ketahuan menggunakan portal kerajaan.
"Kok mereka bisa tahu, sih? Mereka nggak segabut itu kan buat ngirim mata-mata disekitar gue?" Sirena memasang wajah berpikir, "Bentar, gue inget-inget lagi,"
Ingatannya memutar disaat dia dihukum cambuk. Di atas podium ada banyak orang yang menyaksikan dirinya, lalu salah satunya ada Efarish Sirakusa yang menatap dia dengan senyuman puas.
"HOALAH KAMPRET!" umpat Sirena, "Apa gara-gara tai kuda itu, gue jadinya dihukum? Tapi kok dia bisa tahu gue keluar istana, ya?"
Tok tok tok
Acara berpikir keras yang sedang Sirena lakukan terhenti saat pintu kamarnya diketuk seseorang.
"Sirena! Raja datang berkunjung kemari!" Ucapan Agda sontak membuat Sirena terkejut bukan main.
"Ngapain tuh bapak sialan segala berkunjung?"
"Sirena! Kau dengar aku tidak?" Agda kembali berbicara. Dia tidak masuk ke dalam kamar Sirena karena Sirena tak menyuruhnya masuk.
"Baiklah, aku pergi dulu." Pamit Agda.
Setelahnya Sirena bersiap-siap. Mengikat rambut panjangnya yang tergerai menjadi kuncir kuda. Menatap penampilannya di cermin yang sudah terlihat bagus, dia pun keluar dengan langkah santai menuju ruang tamu.
Baru sampai diundakan terakhir anak tangga, Sirena mendengar suara bentakan dari seseorang.
"Lancang! Apa maksudmu memberiku air putih? Kau pikir aku ini rakyat jelata, hah?"
Sirena mendengus setelah tahu siapa orang yang membuat keributan. Dapat Sirena lihat, Agda nampak menunduk ketakutan.
"Bukankah seorang Raja seharusnya bisa merakyat?" Sirena bisa melihat raut wajah Raja Monachus yang terkejut dengan kehadirannya, "Saya yang menyuruh teman saya memberi Anda air putih. Kalau ingin marah, marahlah kepada saya."
Raja Monachus mengalihkan pandangannya. Nampak raut wajahnya yang kesal, dia mengibaskan jubah emasnya lalu duduk kembali di kursi.
Sirena duduk berhadapan dengan Raja Monachus sembari kakinya disilangkan dan tangannya yang bersidekap dada, "Agda, kembalilah ke dapur. Lanjutkan saja memasakmu, sebentar lagi jam makan siang, aku tak ingin para legion disini kelaparan."
"B-baik, Sirena ... Aku pergi dulu ..."
Raja Monachus sontak melihat kepergian Agda dengan mata tercengang, "Apa lustermu itu tidak tahu etika? Lancang sekali memanggilmu sekedar nama!"
"Pak Raja, itu bukan urusan Anda. Mau mereka memanggilku hanya nama juga bukan urusaan Anda. Ehm, ada tujuan apa Anda datang kemari?"
Raja Monachus benar-benar melihat perubahan Sirena yang jauh berbeda dari sebelumnya. Biasanya ketika dia datang berkunjung, dia akan menyiapkan banyak makanan dan minuman enak agar dirinya tersanjung atas penjamuan Sirena. Tapi sekarang? Dia hanya dijamu air putih saja. Hanya Sirena, putrinya yang berani menjamu seorang Raja dengan air putih.
"Ehm, bagaimana keadaanmu?" Raja Monachus bertanya basa-basi.
"Baru bertanya sekarang? Haha, kemarin-kemarin Pak Raja kemana saja saat saya menangis meraung-raung kesakitan di Gymanel?" Sirena menyeringai menatap Raja Monachus.
"Itu karena kesalahanmu sendiri, Sirena! Aku memberimu hukuman untuk membuatmu jera!"
"Jera?" Sirena mengorek telinganya, "Hahaha ... Begitu ya?"
"Dimana sopan santunmu terhadap ayahandamu sendiri, Sirena?" Raja Monachus menggeram marah.
BRAK
Raja Monachus sontak memegang dadanya karena terkejut dengan tindakan Sirena yang menggebrak meja.
"Bosen banget gue denger kalimat itu-itu mulu!" gerutu Sirena, "Pak Raja, apakah selama ini Pak Raja menganggap saya anak Anda?" Sirena bisa melihat keterdiaman Raja Monachus, "Lantas sopan santun seperti apa yang harus saya tunjukan kepada orang yang bahkan tak menganggap saya sebagai anak?"
"Sirena, Ak-"
"Dimana sosok ayahanda yang selama ini saya cari? Dalam diri Anda bahkan tidak ada sosok ayahanda yang saya idam-idamkan." Sirena mengusap air matanya yang mengalir tanpa sadar. Andai saja dia berani berbicara seperti itu kepada Galang, ayahnya.
"Apakah ada yang ingin Anda sampaikan? Saya mengijinkan Anda berbicara sekarang." Sirena tanpa malu menyedot ingusnya hingga berbunyi keras.
Raja Monachus semakin tercengang dengan tingkah Sirena yang semakin lama tidak mencerminkan sosok seorang Putri Raja.
Raja Monachus berdehem, "Kau sudah lama tinggal di Manor Chysanthemum ini, jadi sudah pasti kau yang paling tahu pengeluaran di Manor ini."
"Terus?" Sirena menyerobot gelas air putih yang hendak diminum oleh Raja Monachus, "Maaf, Pak Raja, tetiba tenggorokan saya haus. Silakan Anda lanjutkan," Dalam hati Sirena tertawa puas.
'Sorry banget, Sirena ... Bapak lo emang pantes digituin!'
"Aku memutuskan untuk berhenti memberi pemasukan di Manor ini. Kau yang akan mengurus Manor ini. Sebagai gantinya, aku memberimu wewenang mengurus wilayah desa Osaka."
Mata Sirena membelalak, "Bapak macem apa lo? Anak sendiri nggak mau dinapkahin! Durhaka sama anak namanya!"
"Kau berbicara apa, Sirena?"
Sirena mencoba meredakan amarahnya, dia menarik nafas lalu menghembuskannya berulang kali. Ingatan Sirena asli memberitahunya soal desa Osaka. Desa yang terletak di lereng gunung Yahrimun. Desa yang kemarin-kemarin sempat diserang oleh monster.
"Memberikan wilayah yang baru saja diserang monster kepada saya? Apakah tidak ada wilayah lain?"
Giliran Raja Monachus yang menyeringai, "Tunjukkan kemampuanmu dalam membangun kemakmuran desa Osaka. Setidaknya aku memberimu kesempatan agar kau terlihat berguna."
"Sialan!" Sirena menahan amarahnya, "Baik, saya terima. Terimakasih atas wilayah yang sudah Anda amanatkan kepada saya. Dengan ini, saya tahu Anda orang yang suka lepas dari tanggung jawab."
"Apa kau bilang?" Raja Monachus menunjuk wajah Sirena dengan amarah tertahan. Tetapi setelahnya Raja Monachus melempar sebuah kertas ke atas meja.
Sirena melirik kertas itu, ternyata surat perizinan wilayah untuknya mengurus desa Osaka. Benar-benar sudah disiapkan oleh Raja Monachus.
"Dengan ini juga, hukumanmu selesai. Para Dewan istana setuju untuk mencabut hukumanmu sebelum satu bulan. Gantinya, kau harus membangun desa Osaka menjadi desa makmur." Raja Monachus berdiri, melihat wajah Sirena yang tercengang, "Aku dan dewan istana memberikan waktu tiga bulan untukmu terlepas dari bencana-bencana yang ditimbulkan oleh para monster."
Sirena ikut berdiri, "Baiklah! Saya menerima. Bisa Anda beritahu apa konsekuensinya bila saya tidak bisa memakmurkan desa Osaka?"
"Pencabutan gelar Putri untukmu." Raja Monachus berucap bangga sekaligus ingin melihat raut wajah Sirena.
"Itu saja? Oke." Raja Monachus benar-benar tak habis pikir dengan pola pikir Sirena. Apa dia pikir memakmurkan sebuah desa adalah sesuatu yang mudah?
"Aku pergi dulu."
"Silakan ..." Sirena memberikan senyum terpaksa untuk Raja Monachus, "Hati-hati di jalan Pak Raja, bila tersandung jangan Anda salahkan batunya, ya?" Sirena terkikik melihat raut wajah Raja yang kembali kesal.
Raja Monachus pergi dengan emosi di ubun-ubun kepala. Tak akan lagi dia datang ke Manor jelek ini!
Setelah kepergian Raja Monachus, Sirena menghempaskan tubuhnya ke kursi dimana dia duduk tadi. Kepalanya terasa pusing memikirkan cara untuk memakmurkan desa Osaka juga memikirkan pemasukan untuk Manor ini.
"Masalah satu belom selesai, dateng lagi masalah baru ..."
Agda dan Adelphie datang, lalu duduk di sebelah kanan dan kiri Sirena. Mereka tentu mendengar percakapan antara Raja dan Sirena.
"Kau tenang saja, Sirena. Aku dengan segala pengetahuanku akan membantumu." Ucap Adelphie sungguh-sungguh.
"Akupun akan membantumu, Sirena. Aku mempelajari banyak hal soal bercocok tanam, siapa tahu itu bisa membantumu." Agda ikut berujar sambil mengusap bahu Sirena.
Sirena menatap Agda dan Adelphie bergantian, selanjutnya merangkul keduanya, "Kalian memang sahabat terbaik yang aku miliki, huhuu ..."
"Inilah gunanya sahabat, Sirena. Saling membantu satu sama lain."
Sirena benar-benar terharu dengan dua orang ini. Sekarang dia mempercayai Agda dan Adelphie padahal sebelumnya dia belum terlalu percaya. Dan yang lebih penting sekarang adalah dia fokus untuk membuktikan bahwa dia berguna, bukanlah sebuah beban keluarga kerajaan yang tidak berguna.
Tunggu saja. Sirena pasti akan membuktikannya. Sirena akan memanfaatkan ilmu pengetahuan yang dia pelajari di dunianya untuk memakmurkan desa Osaka.
'Sirena adalah orang yang berguna!' batin Sirena berulang kali.
...•───────•°•❀•°•───────•...
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?