
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Sudah tiga hari lamanya Sirena terbaring tanpa membuka matanya. Adelphie dan Agda bergantian untuk mengganti baju Sirena.
Seperti saat ini, Adelphie baru saja selesai mengganti gaun yang dikenakan Sirena. Adelphie menatap wajah Sirena yang sudah tak pucat lagi.
"Cepatlah bangun, Putri bodoh! Kau belum membahas makanan apa saja untuk pernikahan Nervilia nanti." Adelphie mengusapkan kain basah ke wajah Sirena, "Terimakasih, Sirena ... Kau harus bertahan hidup, ya? Ada aku, Agda dan masih banyak lagi yang akan menemanimu."
Setelah selesai membasuh wajah Sirena, Adelphie bangkit lalu membawa baskom berisi air untuk dibawa ke bawah.
"ASTAGA!" Pekik Adelphie karena terkejut akan sosok Athanaxius yang berdiri di depan pintu kamar Sirena. Dia lantas menundukkan kepalanya agar tak melihat mata Athanaxius.
Sementara Athanaxius, dia hanya menyeringai menatap Adelphie, "Terkejut, hm?"
"M-ma-af, Pa-pangeran ... H-hamba permisi dahulu," Adelphie bergegas pergi, namun lengannya ditahan oleh Athanaxius yang membuat Adelphie berkeringat dingin.
"Pihak Kerajaan masih mencarimu. Apa kau akan terus bersembunyi dan terus merepotkan orang lain?"
Adelphie menepis tangan Athanaxius kasar, "B-bukan urusanmu! Permisi!" Adelphie langsung berlari meninggalkan Athanaxius.
Athanaxius hanya menatap kepergian Adelphie dengan raut datarnya, "Menyusahkan saja."
Sebelum memasuki kamar Sirena, Athanaxius mendengar suara langkah kaki menaiki tangga hendak menuju kamar Sirena. Athanaxius bergegas masuk ke dalam kamar, kemudian bersembunyi dibalik almari.
Pintu kamar Sirena yang tadinya ditutup Athanaxius kini terbuka. Langkah yang teratur dan anggun milik Nervilia memasuki kamar Sirena.
Nervilia duduk di tepi ranjang, memandangi sosok Sirena yang seperti orang tidur, bukan orang sakit.
"Aku datang, Sirena ..." Nervilia memandangi perut datar Sirena yang mana lukanya sudah tertutup oleh gaun. Nervilia menyentuh tepat dimana luka itu berada, kemudian menekannya.
"Eungh ..." Sirena melenguh setelah lukanya ditekan.
Mendengar lenguhan Sirena, Nervilia menekan semakin kuat luka itu hingga Sirena mengeluarkan keringat dingin karena menahan sakit.
"Mungkin ini yang dirasakan Kakak ipar yang terkena tusukan akibat melindungimu." Nervilia mengangkat tangannya, kemudian mengusap pipi Sirena, "Lihatlah! Mengapa kau begitu kuat, Sirena? Mengapa kau bisa terus bertahan?" Mata Nervilia mulai berkaca-kaca.
Nervilia dapat melihat gaun tidur putih Sirena mulai memerah dibagian luka yang baru saja dia tekan. Setetes air mata Nervilia jatuh, segera saja dia mengusapnya, "Maafkan aku, Sirena ..." Nervilia mengeluarkan sihir miliknya, kemudian dia arahkan ke luka Sirena.
"Eungh ..." Lenguhan Sirena kembali terdengar. Luka yang semula sudah dijahit oleh Sentrasenda kembali terbuka hingga membuat darah membasahi gaun yang Sirena kenakan.
"Hiks ... Maafkan aku, Sirena ..." lirih Nervilia sembari terus mengarahkan sihir miliknya ke luka Sirena.
Ditempatnya bersembunyi, Athanaxius menatap tajam Nervilia, "Licik!" Athanaxius mengeluarkan sihir bayangan miliknya yang membentuk sebuah sulur yang hendak dia arahkan ke Nervilia. Namun dia segera menarik kembali sihirnya saat melihat Nervilia tiba-tiba terlempar.
Brugh
Sinar biru berpendar dari liontin kalung yang Sirena kenakan. Karena sinar itu, tubuh Nervilia terpental. Nervilia meringis kesakitan saat sekujur tubuhnya terasa begitu nyeri seperti mendapat hantaman. Nervilia kemudian bangun, menatap liontin kalung yang masih berpendar biru dengan tatapan heran sebelum akhirnya melangkah keluar kamar.
Melihat pintu kamar yang sudah tertutup rapat, Athanaxius keluar dari tempat persembunyian. Dia bergegas menghampiri Sirena yang merintih kesakitan dengan mata yang terpejam.
Athanaxius ingin menyentuh luka itu, namun tiba-tiba dia merasakan hembusan angin kencang yang memukul dadanya begitu kencang dan membuatnya terpental.
Brugh
Athanaxius meringis saat merasakan dadanya yang sesak akibat pukulan tak kasat mata itu. Masih dengan memegang dadanya yang sakit, Athanaxius tercengang saat melihat tubuh Sirena terbalut sinar biru.
"Sihir apa itu?" Athanaxius bertanya-tanya, dia bisa merasakan sihir yang begitu kuat juga rasa nyaman dalam waktu yang bersamaan.
Tak lama sihir yang memancarkan sinar biru itu hilang. Dengan langkah pelan Athanaxius menghampiri Sirena. Dia bisa melihat gaun putih Sirena sudah kembali seperti semula, tidak ada noda darah yang mengotori gaun putihnya.
Mata Athanaxius tertuju pada kalung yang dikenakan Sirena. Tangannya terulur hendak menyentuh kalung itu, namun dia urungkan kembali. Tangannya beralih mengusap keringat yang mengalir di kening Sirena.
Athanaxius duduk di lantai kamar dengan tangannya yang masih mengusap keringat Sirena, "Dia hampir membunuhmu, Sirena. Seharusnya kau lihat dan balas dendam." Tangannya berhenti mengusap keringat. Athanaxius menghela nafas lelah, "Cepatlah bangun dan segera beri keputusan, Sirena. Kau harus memenuhi imbalanku kali ini." Athanaxius meletakkan kepalanya disamping tangan Sirena, kemudian memejamkan matanya saat rasa kantuk menyerangnya tiba-tiba.
Setelah Athanaxius terlelap dalam mimpinya, Sirena akhirnya membuka mata. Sirena merasakan tenggorokannya yang sangat kering. Dia ingin minum. Perlahan dia mencoba untuk duduk. Sirena terkejut melihat sosok Athanaxius yang duduk dilantai dengan kepalanya yang diletakkan disamping tubuhnya.
"Athan?" Sirena bisa melihat raut kelelahan milik Athanaxius dalam tidurnya. Tangan Sirena terulur mengusap kepala Athanaxius, "Apa yang kau lakukan disini, Athan?"
"Menjagamu."
Sirena sontak menarik tangannya, "K-kau tak t-tidur?"
"Kau membuatku bangun." Mata Athanaxius terbuka, lalu mengerjap pelan.
Sirena menelan ludahnya saat melihat wajah sayu Athanaxius yang terlihat sangat tampan menurutnya. Sirena bahkan tak sadar bila Athanaxius sudah berganti posisi menjadi duduk di sebelahnya sambil memandanginya.
"Aku tahu aku tampan. Kau bisa jatuh cinta padaku bila terus melihatku."
Tak
"Awhh! Sakit tahu!" Sirena mengusap keningnya yang disentil oleh Athanaxius, "Percaya diri sekali kau! Lebih tampan Taehyung daripada dirimu!"
"Terserah." Balas Athanaxius cuek. Lelaki itu kini menyentuh perut datar Sirena dimana luka itu berada, "Masih sakit?"
Sirena menahan gugupnya, 'Athan kampret! Nggak tau apa gue grogi ditanyain begitu?'
Sirena mengangguk, "I-iya, haus,"
"Hm?" Athanaxius memandang Sirena aneh, "Kupikir lukanya hanya di perut bukan di otakmu."
"Eh maksudku, sudah tak terlalu sakit, hehehe ..." Sirena tertawa canggung.
'Anjir! Malu banget gue, ARGHHH!!' Sirena memukul jidatnya karena malu akan tingkahnya sendiri. Bisa-bisanya dia tidak nyambung dengan pertanyaan Athanaxius.
"Berhenti memukul keningmu dan minumlah!" Interupsi dari Athanaxius menghentikan tingkah konyolnya.
"Te-terima kasih ..." Sirena menerima gelas yang diulurkan Athanaxius untuknya kemudian meminum airnya. Rasa segar langsung menjalar ke seluruh tubuhnya saat dia selesai minum.
Sirena memberikan gelas itu pada Athanaxius karena tangannya tidak sampai untuk meletakan di atas nakas dekat tempat tidurnya.
"Sudah berapa lama aku tertidur?"
"Tiga hari." Balas Athanaxius yang baru saja meletakkan gelas di atas nakas.
"Begitukah caramu berterima kasih? Tatap mata lawan bicaramu saat kau berterima kasih."
Sirena mendongakkan kepalanya ragu. Athanaxius yang kesal langsung saja mengangkat dagu Sirena dengan tangannya, "Seperti ini."
Semburat merah di pipi Sirena muncul. Athanaxius bisa melihat itu karena Pipi Sirena yang putih. Sirena ingin mengalihkan pandangannya, namun Athanaxius justru membuat mata Sirena ingin copot dari tempatnya.
'WOILAH BIBIR GUE!!' Sirena mengulum bibir bekas kecupan singkat Athanaxius.
"Imbalan kedua," Athanaxius tersenyum aneh, "imbalan ketiga, terima lamaranku."
"APA? APA KAU WARAS?"
"Tentu saja waras, kalau gila itu ya dirimu."
Saat hendak memberi protesan untuk Athanaxius, lelaki itu segera membekap mulut Sirena, "Ini sudah malam. Apa kau ingin menganggu waktu istirahat mereka?"
Sirena benar-benar terkejut melihat perubahan sikap Athanaxius. Bolehkah Sirena menyebut kalau Athanaxius yang sekarang bersamanya jauh lebih hangat?
Athanaxius melepas bekapan tangannya, "Kembalilah tidur! Kau harus banyak-banyak beristirahat agar lekas sembuh."
Sirena merinding, "M-engapa k-kau begitu perhatian?" Sirena langsung cepat menempelkan punggung tangannya ke kening Athanaxius, "Normal. Apa kau kerasukan roh penasaran? JAWAB!" Sirena bergerak menjauh dari Athanaxius.
"Salahkah bila aku perhatian dengan calon istriku sendiri?" Athanaxius menyeringai.
"Calon istri?" Beo Sirena dengan tatapan kosong. Otak Sirena mencoba memproses apa yang terjadi. Rasanya begitu menyesakkan pikirannya yang sudah buntu mencari alasan dia ada di dalam tubuh Sirena, mendapat tugas dari Pak Raja dan sekarang? Dengan santainya Athanaxius menambah beban untuknya dengan mengajukan lamaran untuknya.
"Bukan hanya aku yang mengajukan lamaran, tetapi Pangeran bisu itu juga melamarmu." Tambah Athanaxius, lelaki itu beranjak bangun mendekati jendela.
"Pangeran Phyron ..." Gumam Sirena.
'APA-APAAN INI SEMUA? ARGHH RASANYA KEPALA PEN MELEDUK! NGAPAIN JUGA SIH PANGERAN PHYRON SEGALA IKUT AJUIN LAMARAN?' Meskipun wajah Sirena nampak tenang dengan tatapan kosong tapi sangat berbeda dengan isi kepalanya.
Sirena tak tahan, dia langsung beranjak dari tempat tidur dengan susah payah karena nyeri di perutnya. Dia menghampiri Athanaxius yang masih memandang keluar jendela.
"Athan," Sirena memegang lengan Athanaxius hingga lelaki itu menoleh, "cepat bawa aku ke tempat yang sunyi! Kepalaku ingin pecah sekarang!" Sirena memegangi kepalanya lalu mengacak-acak rambutnya frustrasi. Ingin teriak sekencang mungkin, tapi tak mungkin disini kan? Bisa-bisa dia dicap gila oleh seisi istana.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Sirena tak tahu dia akan dibawa kemana oleh Athanaxius. Saat ini dia hanya bisa memejamkan matanya erat karena dia takut jatuh.
"Aku memegangimu erat, kau tak akan jatuh kecuali kau yang meminta untuk kujatuhkan.." Athanaxius terkekeh.
"Bedebah kau, Athan!" Umpat Sirena yang masih memejamkan matanya. Bagaimana tak takut jatuh? Dia dibawa terbang tinggi menggunakan sayap lelaki itu. Tahu sendiri Athanaxius adalah psikopat ganteng yang bisa saja melepas tangannya yang melingkar di pinggang Sirena.
Tak lama, Sirena merasakan kakinya sudah menapaki tanah. Sirena membuka matanya perlahan, kemudian membulat dengan pandangan berbinar saat melihat pemandangan di depannya. Di depannya kini terpampang alam bebas, tak lupa langit malam yang bertabur bintang favoritnya.
"I-ini ... GILA INI BAGUS BANGETTT!!!" Sirena merentangkan tangannya sembari tertawa senang dan melompat-lompat kegirangan, melupakan bahwa dia masih memiliki luka yang bisa terbuka kalau terlalu banyak bergerak.
Athanaxius menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sirena. Dia memilih untuk duduk di atas rerumputan hijau. Matanya melihat Sirena yang mendekati bibir sungai kemudian membasuh wajahnya menggunakan air sungai.
Sirena yang selesai membasuh wajahnya lalu berdiri, merentangkan tangannya kembali.
"AAAAAAAAAA!!!!" Sirena berteriak sekencang mungkin.
Puas berteriak, Sirena berbalik dan ikut duduk di sebelah Athanaxius. Senyumnya masih belum luntur, Sirena menatap Athanaxius, "Tempat ini bagus sekali, aku menyukainya, Athan!"
Athanaxius tak menjawab, dia merebahkan diri dengan tangannya sebagai bantal. Sirena pun ikut merebahkan diri. Mereka berdua sama-sama memandang ke arah langit malam.
"Kau yang pertama."
"Aku tahu." Balas Sirena.
Keduanya sama-sama diam ditemani semilir angin malam yang menyejukkan. Athanaxius memejamkan matanya untuk menikmati suasana. Ini kedua kalinya dia datang kemari. Saat pertama kali datang kemari ketika dia berusia sepuluh tahun. Saat dimana sayap hitam tiba-tiba muncul dari punggungnya. Tempat ini yang menjadi saksi bagaimana rapuhnya dia.
"Tempat ini indah, tapi terlalu seram kalau datang sendiri." Sirena baru sadar saat matanya menelisik lebih luas daerah ini. Sirena menoleh menatap Athanaxius yang memejamkan matanya. Lagi-lagi Sirena terpaku dengan ketampanan Athanaxius. Kalau Athanaxius hidup di dunianya pasti memiliki banyak penggemar yang hampir menyamai band KPop.
"Maka dari itu jangan datang sendiri." Balas Athanaxius yang masih memejamkan matanya.
"Terus kalau aku ingin datang kemari, aku harus mengajakmu, begitu?"
"Hm."
Sirena memalingkan wajahnya dari wajah Athanaxius. Menutup wajahnya yang bersemu dengan kedua tangan.
'Asksksksk aku tak bisa berkata-kata. Sialan lo, Athanaxius!'
Sirena menurunkan tangannya, "ASTAGA, ATHAN!" Sirena terkejut karena Athan yang ada di atasnya.
"Besok adalah hari yang penting untukku. Kehormatanku sebagai seorang Pangeran kekaisaran Alioth dipertaruhkan. Kau tidak lupa dengan imbalan ketiga, bukan?" Athanaxius menatap tajam Sirena.
Sirena diam, dia tentu ingat. Mengingat semua jasa-jasa yang sudah Athanaxius berikan untuknya, mungkin sudah saatnya Sirena membalasnya. Tetapi ada keraguan di hatinya.
"K-kalau aku sudah menikah denganmu, a-apa kau akan mencintaiku, Athan?"
Athanaxius tak tahu ingin menjawab apa. Seumur-umur, dia belum pernah tahu bagaimana rasanya cinta. Selama hidupnya dia hanya merasakan kehampaan tanpa cinta dari siapapun. Dan mencintai? Athanaxius sendiri tak tahu, apa dia akan mencintai Sirena atau tidak.
"Ingin tahu sebuah rahasia, Athan?" Athanaxius kembali memusatkan pandangannya pada Sirena, "Aku bukanlah Sirena."
"Aku tidak peduli kau siapa. Tetapi aku harap kau menerima lamaranku, bukan lamaran Pangeran Phyron." Nada bicara Athanaxius kembali mendingin. Setelah itu Athanaxius menyingkir dari atas tubuh Sirena, duduk dengan mata termenung.
Sirena memejamkan matanya untuk berpikir. Kalau dia menikah nanti, apakah dia akan diberatkan dengan tugas seorang istri Pangeran? Berurusan dengan para pihak istana bukanlah keinginan Sirena.
"Yang perlu kau tahu, menikah denganku, aku tak akan melarangmu melakukan sesuatu. Kau hanya perlu menjadi istriku dihadapan seluruh rakyat Alioth juga dihadapan keluargaku."
"Aku ..." Ini keputusan yang sulit. Sirena menghela nafas panjang. Kalau ditilik lebih dalam, Athanaxius sebenarnya baik, terlebih kepadanya. Sirena juga selalu dihadapkan pada situasi yang berbahaya dan yang selalu menolongnya adalah Athanaxius.
"Baiklah, sudah kupikirkan. Aku menerima lamaranmu, Athan. Besok aku akan berbicara pada Pak Raja." Sirena berharap ini adalah keputusan yang tepat.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?
Kalian masih suka ceritaku, tidak?