The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 25: Imbalan Pertama



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Di istana utama, tepatnya di dalam kamar Nervilia yang terlihat mewah, wanita itu tengah dibantu oleh lusternya untuk melepas segala aksesoris rambut yang tertempel di kepalanya.



Nervilia memandangi wajahnya yang sangat mirip dengan ibundanya. Seulas senyum tipis terukir di bibir pink miliknya, mengingat pernikahannya yang akan tiba sebentar lagi.


"Tuan Putri nampak bahagia, apakah ini berkaitan dengan pernikahan Tuan Putri?" Luster pribadinya bertanya dengan nada halus.


Nervilia mengangguk, "Ya. Dan aku sangat menantikan hari itu. Hari dimana aku dan Elephas akan terikat menjadi sepasang suami istri."


"Lalu apakah Tuan Putri sudah tahu perihal Yang Mulia Raja memerintahkan Putri Sirena untuk mengurus pesta pernikahan Tuan Putri?"


Nervilia terdiam sejenak, kemudian senyum tipisnya kembali muncul. Seorang wanita bangsawan pantang senyum dengan memperlihatkan giginya.


"Darimana kau mengetahui itu, Ans? Aku belum mengetahuinya."


Ans, luster pribadi Nervilia dengan senang hati memberitahu, "Baru saja, Tuan Putri. Saat hamba baru saja kembali dari dapur untuk membawakan teh untuk Tuan Putri, hamba mendengar langsung dari Yang Mulia Raja yang tengah berbicara dengan Pangeran Falco dan Pangeran Elanus."


Nervilia mengangguk dua kali, "Hm, begitu ..."


"YANG MULIA RATU AMANITA BERKUNJUNG ..." Legion yang berjaga di depan kamar Nervilia memberitahu.


"Bukakan!" Perintah Nervilia kepada Ans. 


Ans langsung berjalan cepat menuju pintu, kemudian membukakan pintu dan menyilakan Ratu Amanita masuk.  Sebelum benar-benar masuk, Ratu Amanita memberi kode agar Ans keluar dari kamar. Ans yang mengerti kode itu langsung pamit undur diri.


Cklek


Setelah pintu tertutup rapat, Ratu Amanita langsung menghampiri putrinya yang berdiri menyambut kedatangannya.


Nervilia memberikan salam untuk ibundanya terlebih dulu. Setelah itu dia kembali memandang ibundanya, "Bulan sudah kian tinggi, mengapa ibunda belum tidur?"


"Bagaimana aku bisa tidur saat ayahmu baru saja memberitahuku bahwa pesta pernikahanmu akan diurus oleh anak sialan itu, Nervilia?! Bagaimana kalau anak sialan itu mengacaukan hari bahagiamu?" 


Nervilia mengusap bahu ibundanya, "Tenanglah, ibunda ... Sirena tak akan melakukan itu. Aku akan meminta bantuan Kak Falco dan Elephas agar memperketat penjagaan saat pesta pernikahan nanti."


Ratu Amanita menatap anaknya tajam, "Seharusnya aku bunuh saja anak itu sedari dia kecil. Kehadirannya hanya membuat kacau saja!"


"Kacau?" Nervilia menaikkan sudut bibirnya ke atas, "Berkat Sirena juga rencana ibunda perlahan berjalan lancar. Lantas, apakah ibunda masih ingin membunuhnya?"


Ratu Amanita mencengkram pipi Nervilia begitu kuat, "Dengar ini, anak bodoh! Keinginanku untuk membunuhnya tak surut sedikitpun! Meskipun aku tahu, dia adalah jalan menuju impianku." Ratu Amanita melepas cengkeramannya hingga membuat wajah Nervilia menoleh ke samping.


Nervilia menatap ibundanya kembali, "Apakah ibunda yakin bahwa impian ibunda akan terwujud?"


"Tentu saja!" Ratu Amanita masih menatap tajam Nervilia, "Apa kau ingin berkhianat dariku, Nervilia?" Ratu Amanita mengeluarkan sihir murni miliknya, sihir bayangan muncul dari tangannya. Sihir bayangan itu membentuk sebuah tangan lalu mencekik leher Nervilia.


"T-ti-tidak ib-bunda ..."


Ratu Amanita menyeringai, "Bagus! Kau harus selalu ingat, bahwa kau juga menjadi jalan menuju impianku. Sebagai anak yang berbakti pada ibundanya, kau harus menuruti semua perintahku. Mengerti?"


"Me-me-ngerti ..." Nervilia berucap dengan susah payah. Nafasnya sudah tersendat-sendat akibat cekikan di lehernya. Dia bisa merasakan kekuatan sihir murni ibundanya semakin kuat.


Ratu Amanita menarik sihir bayangan miliknya, lalu pergi keluar dari kamar Nervilia.


Brugh


Nervilia terduduk lemas di lantai kamarnya. Perlahan air mata Nervilia turun membasahi kedua pipinya.


"Aku lelah, hiks ..."


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...



"Ada apa adikku yang pendiam ini, tetiba mendatangiku?" Elephas menatap kehadiran Phyron di ruang kerjanya dengan pandangan heran. Pasalnya, Phyron lebih suka menghabiskan waktunya untuk membaca buku daripada mengunjunginya.


Phyron yang baru saja melihat-lihat ruang kerja Elephas langsung memalingkan wajahnya untuk memandang Elephas, "Tidak ada. Aku hanya ingin memastikan sesuatu."


"Apa yang ingin kau pastikan?" Elephas berdiri, menghampiri adiknya lalu menepuk bahu Phyron dua kali.


Phyron menatap enggan pada Elephas, "Apa kau benar-benar mencintai Putri Nervilia, bukan Putri Sirena?"


Elephas nampak diam, lalu kemudian tertawa, "Pertanyaan apa itu, Phyron? Kau bahkan sudah tahu jawabannya. Aku mencintai Nervilia, bukan Sirena."


Phyron mengangguk, "Bagus kalau begitu. Kupikir kau sedikit tertarik kepadanya akhir-akhir ini. Jangan kau mengira aku tak tahu, bahwa kau menyuruh seseorang untuk memata-matai Putri Sirena." Kali ini tatapan Phyron berubah menjadi tajam.


Elephas nampak terkejut, "A-aku tidak tertarik! Hanya saja, aku berjaga-jaga, apakah wanita itu akan membuat ulah di pernikahanku nanti atau tidak. Itu saja, aku tak tertarik dengannya."


'Bagaimana Phyron tahu akan hal ini?'


"Kalau begitu, aku permisi. Aku akan berkunjung ke kerajaan Willamette untuk menemui Putri Sirena." Saat Phryon hendak berbalik, Elephas segera mencegahnya.


"Untuk apa kau kesana?"


"Apa aku harus memberitahumu?" Phyron menyeringai. Setelahnya Phyron benar-benar pergi meninggalkan ruang kerja Elephas.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Sirena duduk di taman Manor sendirian sambil melamun. Ada banyak hal yang menganggu pikirannya. Dia bahkan belum menemukan titik terang alasan dia menempati tubuh Sirena asli. Dia juga belum mencari pemilik kalung steorra yang lain untuk bisa membebaskan Sirena asli. Dia juga bahkan belum memastikan dunia Sirena ini, apakah hanya sebuah dunia dalam buku fiksi atau benar-benar sebuah dunia dalam dimensi yang berbeda dengan bumi?


"ARGHH!!! Gue pusing pake banget!!" Sirena mengacak rambutnya frustrasi.


"Mungkin gue harus buat tabel perencanaan deh, biar nggak njelimet!" Sirena menggigit kukunya sembari berpikir keras. Terlebih lagi dia besok harus memulai mengurus pesta pernikahan Nervilia. Dua Minggu bukanlah waktu yang lama.


Sirena menghela nafas lega tatkala dia ingat bahwa Adelphie yang akan membantunya. Wanita itu sudah menyiapkan keperluan apa saja untuk pesta pernikahan. Mulai dari dekorasi  tempat pesta, makanan dan minuman, pakaian, undangan dan susunan acaranya.


"Tapi, kenapa Adelphie tahu banget persoalan pesta kerajaan? Agda saja yang dilatih menjadi luster nggak terlalu paham soal ini." Sirena merasa ada keganjalan pada Adelphie.


"Adelphie .... Akhh, bodoamat dah! Yang penting ada yang bantuin gue, gue udah tenang." Sirena memandang langit malam yang nampak indah seperti biasanya.



Sepoi-sepoi angin meniup rambut Sirena hingga berterbangan mengenai wajahnya. Sirena menikmatinya sembari memejamkan matanya. Perlahan dia merebahkan tubuhnya di atas rumput, tak peduli gaunnya akan kotor atau tidak.




"ANJIR! PSIKOPAT GANTENG!" Sirena refleks memekik kencang.


"Sstt ..." Athanaxius menempatkan jari telunjuknya di bibir Sirena. Sirena mengerjapkan matanya berkali-kali sambil mencerna apa yang telah terjadi.


"Apa kau tidak sadar bahwa selama ini ada yang memata-mataimu?" Suara berat Athanaxius membuat Sirena tersentak.


"Memata-matai? Aku?" Athanaxius mengangguk. Dia menjauhkan telunjuknya dari bibir Sirena.


Sirena kemudian bangun dari berbaringnya, "S-siapa yang memata-mataiku? Apa mata-mata itu berniat membunuhku?" Sirena panik bukan main.


'Jangan sampai gue mati duluan! Gue harus bertahan sampai ada waktunya gue kembali.'


"Kau ingin melihat mata-mata itu hidup atau mati?"


Pertanyaan Athanaxius membuat Sirena menelan ludahnya kasar, "H-hidup ..."


Athanaxius mengangguk sekali, lalu tangannya kemudian terangkat mengeluarkan sihir miliknya. Sulur-sulur tanaman keluar dari tangannya dan mengarah pada atap Manor, tepatnya atap kamarnya. Athanaxius menarik kembali tangannya dengan cepat. Dan ...


BRUGH


"Akhh!!"


Sirena membelalakkan matanya saat melihat seseorang berpakaian serba hitam ala-ala ninja jatuh dengan kondisi terlilit sulur-sulur tanaman.


Sirena sontak bersembunyi di belakang tubuh Athanaxius. Takut-takut orang itu tetiba mengeluarkan sihir yang bisa saja mencelakainya.


"S-siapa yang menyuruhmu?" Tanya Sirena takut-takut.


Tak ada jawaban dari orang itu, Athanaxius mempererat sulur-sulur tanaman yang melilit tubuh orang itu hingga membuat orang itu semakin mengerang kesakitan.


"A-ampuni h-hamba, P-putri ..."


Melihat orang itu yang hampir mati akibat ulah Athanaxius, Sirena pun keluar dari belakang tubuh Athanaxius dan menghampiri orang itu.


"Athan, sudah lepaskan saja. Dia bisa mati sebelum mengaku." Athanaxius memutar bola matanya malas mendengar ucapan Sirena.


"Mati lebih baik." Namun tak ayal, Athanaxius melepas sihirnya dan sulur-sulur tanaman itu hilang.


Orang itu nampak bernafas lega setelah terbebas. Dia memandang Sirena takut-takut, namun tangannya merogoh saku secara diam-diam.


Sret


"ARGHH MATAKUU!!" Sirena memekik kesakitan saat orang itu tetiba melemparkan segenggam pasir ke matanya dan kemudian melarikan diri.


Athanaxius hendak mengejar orang itu, namun saat melihat Sirena yang merintih kesakitan, dia urungkan. Dia memegang kedua pipi Sirena, "Tenanglah dan tutup matamu!"


"Perih, Athan! Huahhh!"


"Maka dari itu bersikaplah tenang agar aku bisa menolongmu." Sirena akhirnya menurut saja, dia berhenti mengucek matanya.


Athanaxius menundukkan kepalanya, perlahan wajahnya mendekati wajah Sirena, "hufff ... huff ..." Athanaxius meniup dua kali bergantian kedua mata Sirena, kemudian mengusap matanya secara bersamaan.


Sirena bisa merasakan tiupan Athanaxius yang menerpa wajahnya. Lalu usapan tangan Athanaxius yang sangat lembut seketika membuat jantung Sirena tak aman.


Deg deg deg


Athanaxius memandang wajah Sirena lama. Kedua tangannya bahkan masih setia menangkup pipi Sirena. Athanaxius sendiri tak tahu, seharusnya dia menjaga jarak kembali setelah menolong Sirena. Namun seolah-olah ada magnet yang menariknya untuk terus mendekatkan wajahnya hingga semakin dekat dengan wajah Sirena.


Sirena merasakan hembusan nafas Athanaxius yang begitu dekat membuatnya takut untuk membuka mata, tetapi Sirena memberanikan diri untuk membuka matanya.


Deg deg deg



Jantungnya semakin berdetak tak karuan saat tahu jarak mereka sangatlah dekat. Hanya berjarak sejengkal jari saja. Hidung keduanya bahkan sudah bersentuhan. Sirena lantas memundurkan tubuhnya ke belakang, namun kalah cepat dengan Athanaxius yang menahan pinggangnya.


Sirena mengerjapkan matanya dua kali dengan pandangan terkejut. Sirena mendongak untuk melihat wajah Athanaxius yang sudah tak sedekat tadi. Sirena ingin mengalihkan pandangannya, namun tak bisa. Tatapan Athanaxius menguncinya.


"Sampai sekarang aku masih bingung," Athanaxius membuka suara, "mengapa kutukanku tak berlaku untukmu?" Suara Athanaxius terdengar lirih. Tangannya yang lain dia gunakan untuk mengusap pipi Sirena yang sangat halus.


Cup


Sirena membelalakkan matanya saat Athanaxius mencium pipi kanannya sekali. Tubuhnya menegang saking terkejutnya.


"Saat denganmu, aku bisa seperti menjadi manusia biasa ..." Athanaxius berbisik tepat di telinga Sirena. Athanaxius beralih menyatukan keningnya dengan kening Sirena sambil memejamkan matanya, "tanpa takut membunuh orang karena kutukan milikku." sambungnya.


'GUE MLEYOT SUMPAH!'


"Katakan padaku, Sirena! Siapa dirimu? Mengapa kau berbeda dari rumor yang aku dengar?" Kali ini Athanaxius menatap mata Sirena.


"A-aku ... A-ak-"


Cup


Ucapan Sirena terhenti akibat Athanaxius yang berganti mengecup pipi kirinya.


Melihat raut kaget Sirena, Athanaxius tanpa sadar tersenyum tipis. Athanaxius menjauhkan tubuhnya, "Imbalan pertamaku ..."


"Me-mesum!" Sirena menunjuk wajah Athanaxius dengan raut wajah kesal.


Athanaxius tak menyeringai ke arah Sirena, kemudian dalam sekejap dia hilang karena berteleportasi.


Setelah kepergian Athanaxius, Sirena masih diam di tempat sembari memegang kedua pipinya, "Sirena ... Pipi lo udah nggak perawan lagi ..."


...•───────•°•❀•°•───────•...


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?


Ayo dong ramein kolom komentarnya dan like juga. Biar Pit makin SEMANGATTT up!!!!🥳🥳🥳