
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
"PENGUMUMAN-PENGUMUMAN! PARA PENGHUNI MANOR, BERKUMPULLAH SEBENTAR!" Teriakan Sirena begitu menggelegar di teras Manor. Berkat teriakan Sirena, para legion pun berkumpul.
Salah satu legion yang bernama Irash mengangkat sebelah tangannya, "Ada apa kau mengumpulkan kami, Sirena?"
"Sabar ... Ehm-ehm! Jadi begini kawan-kawan! Kalian pasti tahu bukan, kemarin Raja Monachus datang berkunjung. Dari kunjungannya itu dia menyampaikan bahwa Raja melepas Manor Chysanthemum ini untuk aku urus." Sirena bisa melihat raut wajah terkejut mereka, bahkan mereka bertanya-tanya alasannya.
"Ini adalah bentuk kompensasi yang diberikan Raja untukku. Aku bebas dari hukuman pengasingan di Manor ini selama satu bulan. Gantinya aku harus mengurus Manor ini juga mendapat tugas untuk memakmurkan desa Osaka yang sekarang sedang mengalami krisis ekonomi setelah mendapat serangan monster." Sirena menghela nafas sejenak. Dia memandang para legion yang sudah dia anggap teman.
"Kawan, tujuanku mengumpulkan kalian kemari karena aku ingin tahu, siapa saja yang ingin keluar dari Manor ini. Secara, aku yang akan menggaji kalian, bukan lagi Raja. Jadi, bila ada yang keberatan aku yang akan mengambil alih Manor ini, kupersilakan untuk keluar. Aku tidak melarang kalian."
Sirena mengernyitkan dahinya heran saat melihat mereka nampak berdiskusi satu sama lain. Lalu tak lama, mereka semua memandang ke arah Sirena bersamaan.
"KAMI AKAN SETIA MENJAGA MANOR INI, SIRENA!"
Ucapan mereka jelas membuat Sirena terkejut. Dia mengira akan ada banyak para legion yang akan keluar karena masih memiliki rasa benci terhadapnya.
Aindrea maju dua langkah dari tempatnya berdiri, "Aku, Achilles Aindrea, akan setia menjaga Manor juga menjadi teman setia untuk Sirena. Ini janji seorang teman!" Aindrea menepuk dada sebelah kirinya dengan tangan kanannya yang terkepal dua kali.
"JANJI SEORANG TEMAN!" Para legion dibelakang Aindrea ikut berseru sambil meniru gerakan Aindrea.
Di tempatnya Sirena tersenyum haru, dia benar-benar terharu sekali. Di dunianya, dia sangat sulit untuk memiliki teman. Teman-temannya sangat memandang fisik. Dia bahkan masih mengingat perkataan teman-teman sekelasnya, 'Kalau mau dianggap temen sama satu kelas, lo harus cantik dulu. Lo nggak liat temen-temen cewek di kelas kita orangnya cakep-cakep? Nggak kayak lo sama Ayana yang kayak itik kecemplung got, alias dekil!'
Mengingat ucapan pedas temannya selalu berhasil membuatnya menangis. Seperti sekarang, dia berjongkok kemudian menyembunyikan wajahnya dilipatan tangannya.
'Heh anak pelakor! Gue heran sama lo, urat malu lo udah putus apa gimana, ya? Nggak sadar diri banget jadi orang. Udah jadi beban di keluarga doang, nggak guna lagi!'
'Ogah banget temenan sama anak pelakor!! Pasti bibit pelakor ada dalam diri Devita.'
Melihat Sirena yang menangis sesenggukan. Agda dan Adelphie memeluknya dari samping kanan dan kiri.
"Menangis saja bila terlalu berat untuk dipendam. Aku mengerti kau terlalu menahan emosimu sendiri, tidak ada yang mengerti dirimu." Ucapan Agda semakin membuat Sirena menangis kencang.
Adelphie justru menatap Agda tajam, "Seharusnya kau cukup diam saja, Agda! Lihat! Dia semakin menangis!"
Agda meringis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Padahal niatku kan baik, Adelphie,"
Para legion dan Aindrea untuk pertama kalinya melihat Sirena menangis.
Setelah merasa tenang, Sirena mengangkat wajahnya. Dapat mereka lihat mata Sirena yang membengkak akibat terlalu lama menangis.
"T-terima kasih ... T-terima kasih sudah mau menjadi teman untukku." Ujar Sirena dengan suara serak khas sehabis menangis.
Aindrea mendekati Sirena, lalu memeluk Sirena, mengusap kepala Sirena dengan lembut, "Adikku ... Bolehkah aku menganggapmu adikku? Sudah lama aku merindukan adikku, mungkin bila dia masih hidup, dia seumuran denganmu, Sirena ..."
Dalam pelukan Aindrea, Sirena mengangguk, "Kalau begitu, kau boleh menjadi abangku. Apa aku boleh memanggilmu Bang Indra?"
"Bang? Sebutan dari wilayah mana itu? Mengapa terdengar aneh?"
Agda dan Adelphie bahkan saling melihat satu sama lain, bertanya-tanya apa itu, 'Bang'.
"Bang itu Abang, sebutan untuk Kakak laki-laki dari wilayah bumi. Pokoknya mau kujelaskan sejelas-jelasnya kau pasti tak akan tahu dimana bumi. Jadi, bolehkan aku memanggilmu, Abang Indra?" Sirena mendongakkan kepalanya, menatap Aindrea dengan mata berkaca-kaca yang sangat sulit ditolak oleh Aindrea.
"Apapun untukmu, adikku ..." Aindrea mengulas senyum manis hingga membuat Adelphie sontak mengalihkan wajahnya karena pipinya yang tiba-tiba bersemu.
Ya, dia sudah lama menyukai Aindrea dalam diam. Lelaki itu sulit sekali untuk didekati.
Aindrea mengurai pelukannya. Dia berbalik menatap para legion, "Jaga Sirena selalu seperti kalian menjaga adik kalian! Aku tak ingin melihat Sirena terluka, apa kalian mengerti?"
"KAMI MENGERTI, ACHILLES!"
"Bagus!"
Sirena kembali berdiri, dia memerintahkan Agda untuk mengambil kertas juga pena dan tinta. Dia akan membentuk struktur organisasi.
Sirena dan yang lain duduk di teras sembari mendesah lega. Akhirnya struktur organisasi kepengurusan sudah terbentuk.
"Sekali lagi, terima kasih untuk kalian. Kita akan memulai kerja yang sebenarnya besok pagi. Agda," Sirena menoleh menatap Agda, "Besok kau jual seluruh perhiasan yang aku miliki untuk membeli bibit-bibit tanaman di pasar juga bahan pokok dapur Manor."
"Jangan semua kau jual, Sirena. Sisakan sedikit perhiasanmu untuk keperluan mendesak di masa depan." Saran Adelphie langsung diangguki Sirena. Dia hampir melupakan hal itu.
"Lalu untuk rencana peninjauan ke desa Osaka, kapan kau akan kesana?" Pertanyaan dari salah satu legion membuat Sirena berpikir sejenak.
Sirena memandang Adelphie, "Adelphie, kapan pernikahan Nervilia diadakan?"
"Dua Minggu lagi." Sahut Adelphie.
"Kalau begitu aku akan kesana setelah pernikahan Nervilia." Putus Sirena.
"Katakan saja kapan kau siap akan pergi kesana, aku dan para legion siap mengawalmu." Aindrea berujar sambil bermain sihir di tangannya.
Sirena bernafas lega. Ternyata rencananya untuk mencari teman sangatlah membuahkan hasil.
Namun, tanpa disadari Sirena bahkan yang lain. Sosok berpakaian hitam melihat semua kegiatan yang tengah Sirena lakukan dari atas pohon jati. Sosok itu menyeringai, "Kau mulai pintar, Sirena ... Bagaimana bisa Putri bodoh berubah pintar secepat itu?" Setelah bergumam, sosok itu menghilang.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Di lembah gunung Macrophylla yang gelap dan sunyi. Raja iblis, yaitu Ambrogio Agafya, tengah menutup mata dengan tubuhnya yang berposisi lotus. Telinganya yang memiliki pendengaran tajam mendengar sesuatu yang mendekat. Sontak kedua matanya terbuka lebar, raut wajahnya nampak tak suka.
"Mengapa datang lagi? Apa setengah kekuatanku belum cukup untukmu?" Ambrogio memandang pintu besar di depannya, dimana dibaliknya ada banyak manusia pemujanya yang datang menemuinya.
"Mohon ampun, Sang Penguasa Canopus Ambrogio Agafya ... Aku ingin menyampaikan sesuatu ..."
"Katakan!" Raja iblis sangat muak mendengar suara manusia di luar gerbang miliknya.
"Putri Sirena mendapat wewenang untuk memakmurkan desa Osaka. Letak desa Osaka sendiri sangat jauh dari wilayah Kerajaan dan Putri Sirena akan melakukan perjalanan ke desa Osaka setelah acara pernikahan Putri Nervilia. Sang Penguasa bisa memanfaatkan situasi itu untuk membawa Putri Sirena ke istanamu."
Ambrogio Agafya diam-diam menyunggingkan senyum tipis. Tidak mungkin manusia serakah semacam mereka hanya memberitahu hal sepele semacam itu. Sebelum mereka memberitahunya, dia sudah lebih dulu mengetahuinya.
"Kali ini apa keinginanmu?"
"Hamba hanya ingin memberitahu saja, bahwa alam menentang hubungan iblis juga manusia. Jadi, apa Sang Penguasa tak ada niatan untuk menjadi manusia? Seperti yang tertulis dalam buku suci?"
Rahang Ambrogio mengetat, pertanda menahan emosi yang siap membludak. Di sebelahnya para pelayannya bersujud kepadanya.
"Mohon Sang Penguasa Canopus berpikir luas ... Jangan melepas seluruh kekuatan Sang Penguasa untuk manusia rendahan seperti mereka!" Pelayan dengan wajah pucat dan memiliki tanda bunga mawar hitam di keningnya itu benar-benar memohon kepada Ambrogio.
"Baiklah!"
Pelayan berwajah pucat itu membelalakkan matanya, "Hamba mohon, Sang Penguasa ... Jangan ..."
Ambrogio menatap pelayannya yang sesama iblis, "Diamlah! Aku lebih tau yang terbaik untukku."
"Kapan hamba bisa menerima kekuatan milik Sang Penguasa?"
"Saat bulan velco muncul, kekuatanku akan masuk ke dalam tubuhmu. Yang perlu kau lakukan, ambil bunga mawar hitam yang ada di sebelah barat pintu gerbang. Petik kelopaknya satu Minggu sekali hingga habis. Tepat saat kelopak bunga mawar hitam habis, bulan Velco datang." Setelah mengucapkan itu Ambrogio memejamkan matanya kembali, menyalurkan separuh kekuatannya yang tersisa untuk dia letakkan di mawar hitam itu.
Pelayan iblis milik Ambrogio masih berposisi bersujud kepadanya karena sebentar lagi mereka akan memiliki tuan yang baru.
"Kalau begitu, hamba undur diri. Semoga keabadian selalu menyertai Sang Penguasa Canopus ..."
Setelah mendengar derap langkah kaki mereka yang mulai menjauh. Ambrogio terbatuk-batuk hebat, bahkan darah hitam keluar dari mulutnya. Jantungnya yang sudah lama tidak berdetak terasa sangat nyeri saat ini.
'Aku benar-benar ingin menjadi manusia, agar bisa bersanding denganmu, Sirena ... Dengan melepaskan kekuatanku, sebentar lagi aku akan mengejarmu, mendapatkan cintamu ...'
...•───────•°•❀•°•───────•...
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?