
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Hari-hari berlalu begitu cepat, tak terasa pembangunan benteng berjalan dengan lancar dan hanya memakan waktu lima hari saja. Para pria di desa Osaka sangatlah pekerja keras, terbukti dari cara kerja mereka yang begitu cekatan.
Benteng desa Osaka telah dilapisi kekuatan pelindung dari Sirakusa. Kekuatan pelindung yang mampu melindungi mereka dari gangguan roh iblis maupun monster. Dan yang lebih penting, Sirakusa memberi perlindungan itu atas inisiatif sendiri, bukan paksaan dari Devita yang memang sebelumnya ingin meminta kepada Sirakusa.
Setelah selesai dengan benteng, mereka melanjutkan membangun rumah-rumah layak huni untuk rakyat Osaka yang tidak punya rumah. Untuk masalah pembangunan rumah, ada Sirakusa yang memegang kendali.
Athanaxius sendiri sedang melatih beladiri anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan guna melindungi diri mereka sendiri saat di tengah mencari sesuatu di hutan. Athanaxius bahkan menutup matanya dengan kain hitam untuk keselamatan anak-anak yang dia latih.
Devita mengawasi semua itu dengan senyum mengembang. Dua lelaki yang sering bersitegang itu bisa berguna juga untuknya.
"Sirena,"
Devita menoleh, "Agda? Mengapa kau disini? Apa kondisimu sudah lebih baik?" Devita begitu cemas dengan kondisi Agda yang akhir-akhir ini sering mual di pagi hari. Dalam benaknya timbul kecurigaan yang tak bisa dia utarakan.
Agda mengulas senyum tipis di wajahnya yang terlihat pucat, "Tidak apa-apa, aku sudah merasa lebih baik. Omong-omong, apa aku boleh membantu para wanita menumbuk kopi?"
Devita mendekati Agda, lantas merangkul bahu sahabatnya itu, "Tentu saja boleh. Tapi kalau kau merasa tidak enak badan, segeralah istirahat, ya? Jangan memaksakan dirimu."
Mendengar itu, wajah Agda nampak sumringah, "Terima kasih, Sirena!" Setelah mengatakan itu, Agda berlari pelan menuju gerombolan wanita-wanita yang tengah menumbuk kopi.
Setelah kepergian Agda, France datang menghampiri Sirena. Anak itu menarik gaun Devita pelan, "Kak Nana."
Devita terkejut sedikit, dia segera memberikan senyum lebar untuk France, "Ya, France?"
"Apa Kak Agda hamil? Dia sedari pagi terus mual-mual dan tak ingin dekat-dekat denganku karena tak tahan dengan bau tubuhku, padahal aku kan tidak bau busuk!" France mengerucutkan bibirnya.
Devita terdiam, penjelasan France membuat Devita menduga-duga. Apakah benar Agda hamil? Karena dilihat dari gejalanya, Agda memang seperti orang yang sedang hamil muda.
Saat tengah berpikir keras, Devita dikejutkan dengan pekikan keras dari ibu-ibu.
"ASTAGA, AGDA!"
Devita dan France segera berlari menghampiri Agda yang jatuh pingsan.
"Apa yang terjadi? Bagaimana Agda bisa pingsan?" Tanya Devita sesampainya di gerombolan wanita-wanita itu.
"Kami sendiri tidak tahu, Sirena. Dia tiba-tiba pingsan sebelum benar-benar mulai menumbuk kopi." Jelas seorang perempuan berambut hitam yang seumuran dengan Devita.
"Ada apa ini?"
Mereka semua menoleh ke arah Sirakusa yang datang mendekat. Setelah benar-benar dekat dengan gerombolan wanita-wanita yang tengah menumbuk kopi, dia akhirnya melihat jelas apa yang terjadi.
"Sirakusa! Tolong bawa Agda ke dalam tenda, dia pingsan!"
Sirakusa lantas segera menggendong Agda lalu kemudian membawanya menuju tenda milik Devita dan diikuti Devita serta France di belakangnya.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
"Bagaimana kondisinya?"
Devita memandang Sirakusa dengan pandangan cemas. Semoga saja pemikirannya tidak benar tentang kondisi Agda.
"Ada makhluk kecil yang hidup dalam perutnya." Jelas Sirakusa dengan singkat.
"Makhluk kec- hah? APA?" Devita membelalakkan matanya, "J-jadi b-benar? Agda h-hamil?" gumam Devita masih tidak percaya.
"Usia kandungannya sudah memasuki empat minggu."
Tubuh Devita mendadak lemas. Bukannya dia tak senang, dia hanya bingung saja. Kalau Agda hamil, siapa yang seharusnya bertanggungjawab? Setahunya, Agda tidak memiliki seorang kekasih.
"Siapa yang tengah mengandung?"
Athanaxius yang baru saja datang dikejutkan dengan berita yang disampaikan Sirakusa.
"Apa kau hamil, Sirena?" Athanaxius menatap tajam Devita.
Devita sontak menggeleng, "Heh! Bukan aku!"
Diam-diam Athanaxius bernapas lega, dia mengira kalau Devita yang tengah mengandung anak dari pria lain.
"Memangnya kenapa kalau Sirena hamil?" Sirakusa memandang Athanaxius dengan wajah tak suka.
Athanaxius hanya menanggapi dengan santai, matanya melirik ke arah Devita, "Tidak apa-apa, asal aku yang membuatnya hamil."
'PEMBICARAAN MACAM APA INI WOY!'
Plak
"Bicara apa sih? Huh!" Devita memutuskan untuk meninggalkan dua lelaki itu. Dia tak ingin terlibat pembicaraan absurd itu.
Ternyata Agda sudah sadar saat Devita menghampiri wanita itu. Dapat dia lihat mata Agda menatap ke arah langit-langit tenda dengan tatapan kosong.
"Apa yang kau pikirkan?"
Mendengar suara yang Agda kenal, dia kemudian menoleh. Dia tak menjawab pertanyaan Devita, tetapi air matanya yang mengalir jatuh sebagai jawaban.
"Mengapa kau menangis?" Devita mengambil kursi yang ada tak jauh darinya, lantas dia duduki. Devita menggenggam tangan Agda, "Aku mengetahuinya, Agda. Kau tak perlu takut, katakan siapa ayah dari anakmu ini?" Tangan Devita yang satu terulur untuk mengusap perut rata Agda.
"A-apa k-kau akan percaya b-bila aku mengatakannya?"
Devita mengangguk yakin, "Tentu saja. Aku bahkan akan mendatanginya agar segera bertanggungjawab kepadamu."
"Dia saudaramu, E-elanus."
"Elanus?" Devita seperti ingat nama itu, "Tunggu, siapa katamu? Elanus?" Mata Devita sontak membelalak, "ELANUS SAUDARAKU? YANG RAMBUTNYA BIRU?"
Agda mengangguk pelan, "Apa kau pikir aku membual, Sirena?"
Sirena yang tak jauh dari keduanya juga sama terkejutnya. Dia tak menyangka Elanus akan berbuat sejauh itu terhadap Agda.
"T-tidak! Aku percaya padamu, Agda! Sekarang katakan! Apa kau setuju bila aku menyeretnya kemari untuk menikahimu? Jangan sampai dia menikah dengan wanita lain sedangkan kau sedang kesusahan mengandung anaknya!" Devita jadi tersulut emosi.
"Aku setuju denganmu, Devita!" Seru Sirena yang kini ada di sebelah Devita. Devita menoleh sekilas untuk melihat sosok Sirena yang sudah lama tidak muncul.
Agda tersenyum melihat wajah Devita yang terlihat lucu saat tengah marah, "Kau sepertinya sangat membenci Elanus, haha ..."
"Itu past-"
Bugh
Bugh
"Eh? Suara apa itu?" Agda dan Devita saling pandang.
Tak lama terdengar suara gaduh dari beberapa orang yang meneriakkan nama Sirakusa juga Athanaxius.
Devita langsung berlari keluar tenda. Dia dibuat terkejut oleh Sirakusa dan Athanaxius yang saling pukul dengan tangan kosong. Para rakyat yang menyaksikan tidak ada yang berani menghentikan keduanya karena takut terkena pukulan juga.
Dapat Devita lihat kedua wajah tampan mereka sudah babak belur, namun tidak ada yang berniat menghentikan aksinya, baik Sirakusa maupun Athanaxius.
"HENTIKAN GOBLOK! KALIAN KENAPA SALING BERTENGKAR?"
Mendengar teriakan Devita, kedua lelaki itu menghentikan acara pukul-memukulnya.
Sirakusa memilih pergi entah kemana, sedangkan Athanaxius berdecih dan melenggang pergi keluar dari desa Osaka.
Melihat itu, Devita bingung, dia harus mengikuti siapa?
"Sebaiknya kau ikuti Athanaxius, dia adalah calon suamimu." Saran dari Sirena membuat Devita memilih untuk mengikuti kemana perginya Athanaxius.
Devita terus berjalan di belakang Athanaxius yang memang menyadari kehadirannya. Devita sengaja tidak menghentikan langkah Athanaxius, dia hanya membiarkan lelaki itu berjalan semaunya.
Mereka berjalan hingga terus masuk ke dalam hutan sambil sesekali Athanaxius menoleh ke belakang untuk melihat Devita yang terus mengikutinya.
"Mau sampai kapan kau terus berjalan heh? Tak ingin ku obati lukamu?" Devita tersenyum melihat Athanaxius yang mengabaikannya.
Devita mendengus. Dia pun memilih untuk beristirahat di salah satu pohon yang sudah tumbang. Kakinya juga sudah lelah karena terus berjalan mengikuti Athanaxius.
"Hei, psikopat ganteng! Kau tega meninggalkanku, huh?" Devita berbicara sedikit keras, "Kalau aku tersesat bagaimana? Aku tak tahu arah jalan pulang ..."
Kepala Devita menoleh ke kanan dan kiri, memastikan sosok Athanaxius ada dimana. Karena merasa hanya membuang-buang suara, Devita memutuskan untuk diam. Di dalam hatinya, dia yakin Athanaxius tidak benar-benar meninggalkannya.
Tetapi setelah lama menunggu, namun Athanaxius tak kunjung terlihat membuat Devita mulai was-was.
"Jangan bilang kalau dia benar-benar ninggalin gue?" Devita berdiri dari duduknya, dia mulai gusar. Di tengah hutan sendirian masih menjadi momok mengerikan baginya. Terlebih lagi, hutan selalu menjadi tempat dimana nyawanya hampir melayang.
"ATHAN!! KAU DIMANA?" Wajah Devita berubah pias. Rasanya dia ingin menangis sekarang.
"Athan ... Hiks ..." Devita pasrah, dia berjongkok sembari menelungkupkan kepalanya diantara lipatan tangan.
"G-gue takut hiks ..." Tangis Devita pecah.
"Takut, hm?"
Devita langsung mendongak kala mendengar suara Athanaxius. Dan benar saja, sosok Athanaxius kini tengah berdiri menjulang di hadapannya.
Athanaxius tidak pernah meninggalkan Devita sama sekali. Dia sedari tadi bersembunyi dimana Devita tak bisa melihatnya.
"HUAHHH!" Devita langsung memeluk Athanaxius, "Ke-kenapa kau j-jahat hiks ... A-aku t-takut sialan!" Devita menangis dipelukan Athanaxius.
Athanaxius tak bisa menyembunyikan senyumannya, dia tersenyum menikmati pelukan Devita. Namun dia langsung menyembunyikan senyumnya saat merasakan pergerakan Devita yang hendak melepas pelukannya.
Benar saja, Athanaxius langsung mendapat serangan dari Devita yang membabi-buta. Dia segera menahan tangan Devita, "Tenanglah ... Aku sudah datang menghampirimu, kau tak perlu marah lagi."
Devita mendengus, namun matanya langsung menelisik melihat wajah Athanaxius yang sudah kembali seperti semula. Tidak ada luka bekas pukulan di wajahnya.
"Athan, kenapa kau bertengkar dengan Sirakusa?" Athanaxius tidak menjawab pertanyaan Devita, dia justru menarik tangan Devita untuk duduk di pohon tumbang yang tadi didudukinya.
"Mengapa kau terlihat semakin cantik saja, Dev?"
Kening Devita mengernyit saat mendengar ucapan Athanaxius, "Kau memujiku?"
Athanaxius tersenyum tipis, tangannya terulur mengusap sisa air mata di pipi Devita, "Wanita cantik hanya untuk lelaki sempurna, bukan monster sepertiku."
"Apa Sirakusa mengatakan sesuatu yang membuatmu terluka? Aku yakin kau tak akan memulai lebih dulu sebelum ada yang menyulut emosimu." Devita meminta penjelasan lebih tepatnya.
Athanaxius memalingkan wajahnya, "Tidak ada. Dia tak mengatakan apa-apa." Athanaxius kembali teringat dengan kejadian sebelum dia bertengkar dengan Sirakusa.
Setelah Devita masuk ke dalam meninggalkan dua lelaki yang masih saling pandang dengan tatapan tajam masing-masing.
"Memangnya kau berniat memiliki anak bersama Sirena?"
Athanaxius tersenyum mengejek, "Aku akan menikah dengannya, tentu saja aku akan memiliki anak dengannya."
Sirakusa balas memberikan senyuman miring, "Aku tak yakin, bagaimana sosok monster sepertimu bisa menjadi seorang ayah yang baik? Sebaiknya Sirena menikah dengan lelaki lain saja."
Pada dasarnya, Athanaxius adalah orang yang mudah tersulut emosi. Mendengar ucapan Sirakusa, membangkitkan amarahnya. Tangannya terkepal kuat mencoba menahan amarahnya.
"Pangeran Athanaxius ... Hidup terasing dari keluarga, mendapat kutukan dan sering membunuh," Sirakusa maju satu langkah ke depan Athanaxius, "bagaimana bisa berkhayal memiliki seorang anak? Sungguh menyedihkan."
Saat itulah Athanaxius memukul wajah Sirakusa karena sudah tak bisa menahan amarahnya.
Devita memandang wajah Athanaxius dari samping. Dia bisa melihat ada banyak beban pikiran yang tengah menggelayuti lelaki itu.
"Athanaxius ... Aku tahu kau berbohong."
Athanaxius menoleh, kembali menatap Devita, "Sepertinya aku melakukan kesalahan sejak awal. Seharusnya aku tak perlu mengajukan lamaran untukmu. Maka dari itu, kita batalkan saja. Kau tak perlu menikah denganku." Setelah mengatakan itu, Athanaxius berdiri dari duduknya hendak berjalan pergi.
Can I call you baby?
Langkah Athanaxius terhenti.
Can you be my friend?
Can you be my lover up until the very end?
Devita tersenyum saat melihat Athanaxius tidak jadi pergi meninggalkannya.
Let me show you love, oh, I don′t pretend
Stick by my side even when the world is givin' in, yeah
Oh, oh, oh, don′t
Don't you worry
I'll be there, whenever you want me
Devita berdiri dari duduknya, kemudian menyusul Athanaxius hingga ada di sebelah lelaki itu dan menggenggam tangan dingin Athanaxius yang membuat lelaki itu tersentak.
I need somebody who can love me at my worst
No, I′m not perfect, but I hope you see my worth
′Cause it's only you, nobody new, I put you first
And for you, boy, I swear I′ll do the worst
If you stay forever, let me hold your hand
I can fill those places in your heart no else can
Let me show you love, oh, I don't pretend, yeah
I′ll be right here, baby, you know I'll sink or swim
Athanaxius akhirnya kembali menatap Devita. Memandang Devita yang tengah bernyanyi untuknya.
'Apa benar dia mencintaiku?' Athanaxius masih tidak menyangka kalau Devita mencintainya.
Oh, oh, oh, don′t
Don't you worry
I'll be there, whenever you want me
I need somebody who can love me at my worst
No, I′m not perfect, but I hope you see my worth, yeah
′Cause it's only you, nobody new, I put you first
And for you, boy, I swear I′ll do the worst
"I love you, Athan ..." Devita dengan gerakan cepat mengecup bibir Athanaxius.
Athanaxius merasakan perasaan hangat yang menjalar di dadanya, lalu mengalir menuju jantungnya hingga membuat jantungnya berdegup kencang tak beraturan.
Dengan wajah menahan malu, Devita memilih memalingkan wajahnya. Dia takut Athanaxius justru merasa risih karena dia menyatakan cinta terlebih dahulu.
Tak disangka, Athanaxius justru menarik pinggang Devita hingga dia jatuh ke pelukan Athanaxius.
"Katakan sekali lagi," bisik Athanaxius di telinga Devita.
"I l-love y-you ..." Cicit Devita yang semakin merasa malu.
Senyum Athanaxius mengembang lebar. Entah kenapa dia sangat senang mendengar itu. Maka dari itu, dia memeluk Devita semakin erat.
"Aku harap kau tidak akan menyesal dengan pilihanmu, Devita ... Kau milikku."
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
AKHIRNYA! Kapalku berlayarrr :v