The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 93: Obat Manis



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Setelah menghabiskan seharian penuh dengan Athanaxius, kini Devita ikut serta dalam makan malam bersama yang lain. Seharian tadi, Athanaxius benar-benar tidak memperbolehkan siapapun mengganggu waktunya bersama Devita.


Suasana di ruang makan saat ini sangatlah ramai karena banyak orang yang hadir dan menyambutnya.


"Apa kau sudah selesai memonopoli Devita, Athan?" Sindir Ambrogio.


Athanaxius tidak menjawab sindiran Ambrogio, lelaki tampan itu hanya melirik saja dan lebih fokus untuk menyuapi Devita padahal perempuan itu sudah bisa makan sendiri.


"Sialan kau, Athan! Kau selalu saja mengabaikanku!" Kesal Ambrogio karena Athanaxius mengabaikannya.


Athanaxius menyeringai, "Maka dari itu jangan ajak aku bicara. Aku tak mau energiku terbuang sia-sia hanya untuk meladenimu."


Ambrogio memasang wajah tersakiti mendengar ucapan pedas Athanaxius. Ingatkan dia untuk menghajar lelaki itu saat Devita sudah tidur nanti.


"Kau tak boleh seperti itu, Athan!" Devita mencubit lengan Athanaxius, "Minta maaflah kepada Ambrogio!"


Athanaxius tersenyum tipis sembari mengacak-acak rambut Devita, "Tidak mau. Aku tak melakukan kesalahan padanya, jadi untuk apa aku minta maaf?"


Devita meringis, dia menatap Ambrogio tak enak, "Aku minta maaf atas perlakuan Athanaxius padamu, Ambrogio."


Lelaki itu mendengus keras yang membuat siapapun dibuat tertawa dengan tingkah lucu Ambrogio. Setidaknya makan malam kali ini terlihat berwarna daripada sebelum-sebelumnya.


Devita lantas tak sengaja bertemu tatap dengan Selir Airith, ibunda Athanaxius yang terus menatapnya dengan tatapan sayu. Devita pun memberikan senyum tipis untuk Selir Airith.


Tatapan Selir Airith seolah-olah mengajaknya berbicara. Devita bisa merasakan kalau Selir Airith ingin berbicara padanya berdua setelah makan malam nanti. Maka dari itu, Devita menganggukkan kepalanya dua kali untuk Selir Airith.


Selir Airith tersenyum dan membalas menganggukkan kepalanya sekali. Ternyata Devita paham dengan tatapannya yang mengajaknya berbicara.


"Ehm!" Falco yang sedari tadi fokus dengan makanannya kini berdeham, "Aku ingin bertanya padamu, Devita atau Irena?"


"Panggil aku Devita saja saat sedang bersama kalian." Sahut Devita.


"Baiklah, Devita. Karena situasi sudah lebih baik. Kami semua akan memutuskan untuk kembali ke Kerajaan. Apa kau mau ikut bersama kami atau tetap tinggal disini?"


Devita sedikit bingung. Tinggal di desa seperti Osaka sangatlah menyenangkan karena Devita bebas dari segala tata krama yang harus dia lakukan saat berada di Kerajaan. Tetapi satu sisi dia juga merindukan Manor tempat yang pernah dia singgahi sebelumnya.


Athanaxius menggenggam tangan Devita sebagai dukungannya. Dia paham akan kebingungan Devita.


"Aku akan tetap tinggal disini." Putus Devita pada akhirnya.


"Kalau begitu aku juga ingin tetap disini!"


"Aku juga!"


Falco menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju untuk Galcinia dan Sirena. Falco mengusap kepala Galcinia yang sedang kesal padanya, "Kita harus kembali ke istana, istriku. Apa kau lupa dengan posisimu sekarang? Kau adalah Ratuku sekarang, jadi kau harus ikut bersamaku kembali ke istana."


"Terus kenapa juga aku tidak bisa tinggal disini, Kak Falco?"


"Rakyat tahunya kau menerima lamaran Athanaxius dan sekarang kau justru bersama Ambrogio. Maka sekembalinya ke istana, kau harus memutuskan lamaran yang pernah diajukan untukmu."


Dengan pasrah Sirena mengangguk. Dia memang harus melakukan itu karena pada dasarnya bukan dia yang menerima lamaran Athanaxius.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Devita meminta kepada Athanaxius untuk mengantarkannya ke belakang rumah karena dia akan berbicara pada Selir Airith.


"Udara malam ini dingin, Dev. Apa kau yakin ingin tetap disini?"


Devita memutar bola matanya malas, "Kau bahkan memakaikan mantel tiga lapis untukku sekarang. Tugasmu sudah selesai, kembali sana!"


Athanaxius menatap Devita curiga, "Apa yang sedang kau lakukan disini? Tidak mungkin ingin menikmati angin malam sendirian kan?"


Athanaxius yakin pasti Devita ingin bertemu dengan seseorang. Kalau benar, Athanaxius tak akan segan menghajar seseorang itu jika laki-laki.


"Aku yang mengajaknya bertemu disini, Athan."


Athanaxius dan Devita menoleh dengan raut wajah yang berbeda. Devita dengan senyum lebar di wajahnya sedangkan Athanaxius dengan wajah datarnya.


"Untuk apa? Devita harus beristirahat karena kondisinya belum pulih." Athanaxius kembali memandang Devita, "Kita kembali." Athanaxius ingin menggendong Devita tetapi perempuan itu mencegahnya.


"Aku ingin disini dan berbicara dengan ibumu, Athan."


"Tidak bisa! Kau harus kembali ke kamarmu, ayo kuantar!"


Devita menahan tangan Athanaxius yang ingin kembali menggendongnya, "Hanya sebentar, aku tidak akan lama." Pinta Devita dengan tatapan memelas yang membuat Athanaxius hanya bisa menghela nafas.


"Baiklah, aku akan menunggumu disana. Kalau sudah selesai kau bisa mengangkat tanganmu." Athanaxius pun pergi menuju pohon apel yang tidak jauh dari posisi mereka.


Selir Airith lantas mengambil posisi duduk di sebelah Devita. Ibu Athanaxius itu menggenggam tangan Devita yang dingin untuk menyalurkan kehangatan.


"Maafkan aku yang mengganggu waktu istirahatmu, Nak."


"Tidak apa-apa, Yang Mulia ... Saya tidak keberatan." Devita memberikan senyum tulusnya.


"Yang Mulia? Panggil aku ibunda saja, ya?"


"Ibunda ..." Devita tertawa pelan, "Jadi, apa ibunda ingin berbicara penting padaku?"


"Kondisi suamiku tidaklah sehat untuk tetap memimpin Kekaisaran Alioth. Sekembalinya kami ke istana, kami akan mengangkat Hydrasa sebagai Kaisar. Aku dan suamiku berharap kedatangan Athanaxius, apa kau bisa membujuknya untuk datang?"


"Mengapa ibunda tidak memintanya datang sendiri?" Devita tahu Selir Airith tidak akan mampu karena masa lalunya yang buruk terhadap Athanaxius.


"Aku ..." Selir Airith menundukkan kepalanya.


Devita mengangkat tangannya yang membuat Athanaxius segera datang ke arahnya.


"Cobalah ibunda membujuknya. Mungkin ibunda lah yang seharusnya berbicara pada Athanaxius."


"Kembali sekarang?"


Suara Athanaxius menginterupsi dua perempuan berbeda umur itu. Devita memberikan tatapan dukungan untuk Selir Airith berbicara.


"Duduklah dulu, Athan. Ibunda ingin berbicara padamu." Ucap Selir Airith setelay mengumpulkan keberanian.


"Bicara apa?" Nada bicara Athanaxius terdengar dingin, Devita bisa merasakannya.


"Kami akan kembali ke istana Kekaisaran besok. Setelahnya kami akan membuat acara penobatan Hydrasa sebagai Kaisar. Apa kau akan datang, Athan?" Selir Airith berharap anaknya ini akan datang.


"Tidak."


Devita melototkan matanya karena jawaban Athanaxius.


"Kenapa?" Mata Selir Airith mulai berkaca-kaca.


"Bukankah selama ini kalian takut aku membuat kerusuhan? Jadi aku memutuskan untuk tidak datang. Devita, ayo kembali."


Athanaxius langsung menggendong Devita meskipun Devita sempat menolak. Dengan wajah datarnya yang dia tujukan pada Selir Airith, Athanaxius berbicara yang begitu menohok hati Selir Airith, "Aku tidak pernah pantas berada di antara kalian."


Athanaxius melangkah pergi meninggalkan Selir Airith yang terisak. Sedangkan Devita yang berada di dalam gendongannya hanya memandang Selir Airith dengan sedih.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Sesampainya di dalam kamar, dengan hati-hati Athanaxius meletakkan Devita di atas kasur.


Wajah Athanaxius masihlah datar dan seperti menahan emosi. Devita tahu, pasti berat untuk melupakan masa lalunya yang memberikan luka di dalam hatinya.


"Beristirahatlah dengan tenang, aku akan menjagamu di depan pintu." Athanaxius mengecup kening Devita, "Selamat malam, my love." Tidak hanya mengecup kening Devita, Athanaxius juga mengusap kepala Devita dengan penuh kasih sayang.


"Athan ..." Devita menahan tangan Athanaxius yang membuat lelaki itu memilih duduk di pinggiran ranjang menunggu kelanjutan ucapan Devita.


"Ada apa? Kau ingin sesuatu?" Tanya Athanaxius sembari mengusap pipi Devita.


"Ibundamu mengharapkan kedatanganmu, Athan. Apa kau benar-benar tidak akan datang?"


Usapan tangan Athanaxius di pipinya sempat terhenti, namun Athanaxius kembali mengusapnya. Dia tersenyum tipis, "Menurutmu bagaimana? Apa aku harus datang?"


Devita mengangguk, "Aku tahu luka-luka yang disebabkan ibundamu dan keluargamu belum sepenuhnya sembuh, tetapi cobalah untuk membuat lembaran baru bersama keluargamu, Athan ..."


Athanaxius diam tidak menyahut, namun tatapan mata Athanaxius tak pernah teralihkan sedikitpun dari wajah Devita.


Melihat kebisuan Athanaxius, Devita pun mendudukkan dirinya dibantu Athanaxius. Kemudian Devita membawa Athanaxius ke dalam pelukannya tidak lupa tangannya mengusap-usap punggung Athanaxius.


Athanaxius balas melingkarkan tangannya di pinggang Devita begitu erat dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Devita.


"Pasti berat kan? Terlebih orang yang memberikan luka padamu adalah orang yang sangat kau sayangi. Aku mengerti, tidak apa-apa ..."


"Tetaplah seperti ini, aku membutuhkannya." Balas Athanaxius untuk pelukan yang diberikan Devita.


"Aku tidak memaksamu untuk memaafkan mereka, tetapi aku ingin kau mencoba lagi agar kau tidak menyesal, Athan ... Tidak ada orangtua yang sempurna di dunia ini, manusia hanyalah makhluk penuh batasan dan kekurangan."


Athanaxius mengurai pelukan di antara mereka. Dia lantas memandang wajah Devita yang tidak pernah bosan untuk dipandang. Baginya Devita adalah pusat perhatiannya dan tidak ada yang lain.


"Athan ... Kita masih membutuhkan orangtuamu untuk pernikahan kita nanti. Apa kau ingin menyia-nyiakan kesempatan ini?"


"Aku akan mencobanya tetapi dengan syarat."


"Syarat? Syarat apa?"


Athanaxius menekan bibirnya sendiri sambil mengerling menggoda pada Devita.


"Ih dasar mesum!" Devita memukul pelan lengan Athanaxius yang membuat si empunya tertawa pelan.


"Sayang ..." Athanaxius sedikit memanyunkan bibirnya.


Devita gemas dengan sisi manja Athanaxius. Devita kemudian memberikan kecupan untuk Athanaxius.


Kesempatan ini tentu dimanfaatkan oleh Athanaxius dengan menahan tengkuk Devita lantas ******* bibir Devita.


Awalnya Devita memberontak karena serangan mendadak yang diberikan Athanaxius. Namun perlahan Devita mengalungkan tangannya di leher Athanaxius dan memejamkan matanya.


Athanaxius memberi jarak diantara mereka untuk memberikan waktu Devita meraup oksigen.


"Terima kasih untuk obatnya."


Bagi Athanaxius, bertemu dengan Devita adalah keajaiban sekaligus obat untuknya. Terlihat berlebihan tetapi itulah kenyataannya. Devita adalah obat termanis yang pernah dirasakan oleh Athanaxius.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.