The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 73: Terungkap 2



╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ


Selamat Membaca


•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯


'Jadi, jangan menyesal telah mencintaiku ... Karena aku merasa istimewa saat bersamamu.'


Kalimat manis yang berasal dari mulut Athanaxius terus terngiang-ngiang di dalam kepala Devita. Kapan terakhir kali Pangeran kematian itu berucap manis? Devita hampir lupa karena meskipun mereka di tempat yang sama tetapi mereka jarang berbicara satu sama lain karena kesibukan masing-masing.


Namun kalimat yang baru saja terputar di otaknya hilang seketika saat melihat sosok Athanaxius tengah membantu Kayanaka belajar berjalan.


"Kenapa Kayanaka baik-baik aja setelah lihat mata merah Athanaxius? Bukannya pas di pernikahan Nervilia, Kayanaka hampir aja dibunuh Athanaxius?" Rasanya tidak mungkin bila tiba-tiba saja Kayanaka menjadi kebal dengan kutukan Athanaxius.


Kehadiran Kayanaka di desa Osaka, entah kenapa membuat Devita merasa tidak tenang. Perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu dari Kayanaka yang tentunya tidak menyenangkan.


"Apa kau cemburu?"


Bisikan di telinganya membuat Devita menggosok pelan telinganya lalu menoleh cepat ke arah orang yang berbicara di telinganya.


"Sirakusa? Aish!" Devita kesal setelah tahu siapa orangnya.


Sirakusa yang melihat raut wajah sebal Devita lantas tersenyum, "Apa kau cemburu melihat mereka?"


"Aku? Cemburu? Hahaha, sayangnya iya." Devita kembali menatap ke arah Athanaxius dan Kayanaka berada, "Ada yang berbeda dari Athanaxius." Devita diam setelah melihat seringaian tipis dari Kayanaka yang ditujukan padanya tanpa sepengetahuan Athanaxius.


Malam setelah Athanaxius pergi membawa Kayanaka ke rumah kesehatan, saat itu pula perubahan Athanaxius terlihat. Lelaki itu menjadi acuh padanya, ralat, tepatnya pada siapapun kecuali Kayanaka. Lelaki itu hanya merespon perkataan Kayanaka, bukan yang lain.


"Wanita memang pandai mengetahui perubahan lelakinya." Sirakusa terkekeh setelah mengatakan itu.


"Lupakan! Omong-omong bagaimana kondisi Nervilia? Apa dia masih belum sadarkan diri?" Devita menatap Sirakusa.


"Dia baru saja sadar." Sirakusa lantas teringat, dia mendatangi Devita untuk memberitahu bahwa Diantha datang dan ingin bertemu dengan Devita, "Diantha datang, dia ingin bertemu denganmu, aku hampir lupa memberitahumu."


"Diantha?" Devita sedikit kesal dengan Zifgrid itu. Diantha selalu datang dan pergi secara tiba-tiba tanpa pamit atau permisi pada siapapun, "Dimana dia?"


"Di rumah Irena."


Karena takut Diantha pergi, dengan cepat Devita menuju rumah Irena karena sedari tadi dia tengah berada di balai desa untuk melihat rakyat Osaka beraktivitas.


Baru saja ingin melangkahkan kakinya untuk pergi, Kayanaka tiba-tiba saja sudah berada di dekatnya lantas menyapanya. Di sampingnya, Athanaxius hanya diam tanpa memberi senyuman pada Devita.


"Kau terlihat terburu-buru sekali, Sirena. Ingin kemana dirimu?" Tanya Kayanaka dengan nada ramah.


Devita melirik Athanaxius sebentar sebelum menjawab, "Aku ada urusan mendadak. Bagaimana kondisi kakimu?"


Kayanaka melihat kakinya sendiri sebelum akhirnya tersenyum lebar, "Kakiku sudah lebih baik. Sekarang aku bisa berjalan tanpa bantuan tongkat lagi, iya kan, Dei?" Kayanaka menyenggol Athanaxius yang ada di sebelahnya.


"Iya." Sahut Athanaxius dengan singkat.


"Oh, aku senang mendengar hal itu, Kayanaka. Lain kali aku akan menyempatkan waktu untuk mengajakmu keliling desa Osaka tanpa bantuan Athanaxius." Dengan sengaja Devita memberikan tatapan datar pada lelaki itu, "Ayo, Sirakusa!"


Devita melenggang pergi diikuti Sirakusa di belakangnya.


Tepat setelah kepergian Devita dan Sirakusa, Kayanaka menyeringai puas lalu bersidekap dada. Kayanaka lantas melirik Athanaxius yang masih diam seperti tadi.


"Aku mengira Ratu Amanita membohongiku," Kayanaka beralih menggandeng tangan Athanaxius, "Ayo, Dei, aku ingin tahu urusan mendadak seperti apa yang membuat Sirena terburu-buru."


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Di rumah Irena ternyata Diantha sudah menunggu kedatangannya. Devita yang baru saja datang lantas duduk di kursi panjang bersebelahan dengan Irena.


Tidak lama berselang, sosok Sirena muncul turun dari tangga bersama France. Devita menyipitkan matanya melihat kehadiran dua orang itu.


"Ren, kenapa France sangat menempel pada Sirena?"


Irena yang diberi pertanyaan hanya mengendikkan bahunya acuh. Dia tak terlalu mempedulikan hal yang menurutnya tidak penting.


Devita yang tak mendapat jawaban memuaskan dari Irena lantas mencebik kesal. Dia hanya heran, mengapa setiap Sirena muncul pasti selalu bersama France, seolah-olah France mengetahui kapan Sirena akan muncul.


Sirena lantas duduk di sebelah Devita, sedangkan France duduk di sebelah Diantha yang memang kebetulan kosong.


"Bulan merah sebentar lagi tiba, sudah saatnya kalian pergi ke Kekaisaran Alphard untuk meminjam cermin kuno pengantar jiwa." Diantha memandang Sirena, Devita, dan Irena dengan tatapan serius, "Aku akan membantu kalian berteleportasi langsung menuju Kekaisaran Alphard."


"Yang aku tahu, Kaisar Yerikho bukanlah penyambut tamu yang baik. Apa mereka langsung bisa mendapat izin dari Kaisar bila meminjam cermin kuno pengantar jiwa milik mendiang Permaisuri Daisy?" Sirakusa membuka suara.


Diantha tersenyum, "Tentu saja mereka harus berusaha untuk mendapatkan cermin itu."


"Dengan siapa kami kesana? Hanya berdua saja?" Sirena bertanya sembari memandang sekilas Devita.


"Tentu saja tidak. Akan berbahaya bila kalian pergi berdua saja, terlebih kalian tak memiliki sihir yang bisa melindungi diri kalian sendiri." Diantha lantas memandang France yang ada disebelahnya, "Apa kau akan terus bersembunyi di tubuh anak ini, Ambrogio?"


Mendengar nama Ambrogio membuat Devita dan Irena kaget.


"Kau sangat berterus terang sekali, Diantha." France mendengus kesal. Tak lama sosok anak kecil itu dalam sekejap berubah menjadi orang dewasa berambut putih.


"ASTAGA! BAGAIMANA BISA ANAK KECIL BERUBAH MENJADI ORANG DEWASA?"


Kayanaka tiba-tiba saja datang bersama Athanaxius. Di belakang mereka ada Elanus, Falco dan Galcinia yang sama terkejutnya melihat perubahan France.


Belum hilang keterkejutan Kayanaka, dia kembali membelalakkan matanya saat melihat rupa Sirena ada tiga.


"Dei! Bagaimana bisa Sirena ada tiga?" Kayanaka memandang Athanaxius meminta penjelasan.


"Kau seharusnya bertanya padaku, bukan pada Athan."


Devita menghampiri Kayanaka hingga membuat atensi wanita itu kembali padanya, "Perkenalkan, aku adalah Devita, tunangan Athanaxius yang asli." Devita lantas menarik Athanaxius hingga lelaki itu tak lagi disamping Kayanaka, "Aku adalah kembaran Sirena yang menempati tubuh Sirena."


"Aku tak mengerti, apa maksudmu?" Kayanaka bingung.


"Mereka berdua adalah jiwa yang tertukar. Sirena yang asli ada disini, sedangkan yang ada di depanmu adalah Devita, kembaran Sirena yang menempati tubuh Sirena." Sosok Diantha lah yang menjawab kebingungan Kayanaka.


"Siapa kau?" Kayanaka belum pernah melihat perempuan cantik ini sebelumnya.


"Aku Diantha," Diantha beralih menatap Athanaxius, "Diantha Efigenia, Zifgrid yang akan membantu Sirena dan Devita berlatih melawan Ratu Amanita, sang Dryas."


'Kekuatan milikku tak sehebat dulu lagi, aku tak bisa membantu Athanaxius terbebas dari sihir pengendali Ratu Amanita.' Diantha yakin, setelah ini kedepannya tidak akan mudah mendapat kemudahan.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.


Chapter selanjutnya akan menyusul secepatnya. Hehe ... aku telat update terus, maafkan aku readersss🙏