
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Setelah membaca buku diary milik Selir Agalia yang membuat mereka banjir air mata, tapi tak ayal juga turut serta penasaran dengan jati diri mereka yang sebenarnya. Di dalam buku diary ibunda mereka, terdapat informasi bahwa mereka adalah keturunan Asthropel, marga istimewa karena mendapat anugerah langsung dari Dewa Vulcan.
"Darimana asal nama Asthropel?" Devita memandang Raja Monachus meminta jawaban.
"Dari Kakek kalian yang bernama Legumiro Alzer Asthropel. Dahulunya, Kakek kalian adalah seorang Efarish yang menangguhkan anugerahnya untuk melindungi Kekaisaran Alphard."
Devita pernah mendengar nama itu dari cerita Adelphie. Tidak disangka, Devita memiliki hubungan dengan sosok penting seperti Efarish Legumiro Alzer.
"Dan ibunda kalian berasal dari Alphard. Dia merupakan salah satu dewan istana Kekaisaran Alphard."
Sirena menutup mulutnya dengan tangan, pertanda dia terkejut mengetahui siapa ibundanya, hal yang ingin dia cari selama ini selain arti kebahagiaan.
"Aku bertemu dengan Agalia, di hutan. Saat itu dia terluka parah. Bertemu dengan ibunda kalian adalah kenangan yang indah untukku." Raja Monachus tersenyum tipis dengan tatapan yang menerawang mengingat-ingat masa lalunya.
Devita termenung sembari mengusap buku diary milik ibundanya, 'Andai aja gue nggak perlu ke Bumi, pasti gue bisa ngerasain rasanya dipeluk bunda Agalia. Gue nggak perlu ngerasain sakit karena diabaikan ...'
Di sampingnya, Sirena bisa melihat kesedihan yang begitu nyata di mata Devita. Sirena tahu, Devita pasti sedang membayangkan bagaimana rasanya diperhatikan oleh ibunda Agalia. Devita tak seberuntung dirinya yang masih bisa merasakan kasih sayang ibunda Agalia. Maka dari itu, Sirena memeluk Devita dari samping, menyalurkan kasih sayang antar saudara kembar.
"Maaf kalau selama ini hanya aku yang merasakan kasih sayang dari ibunda, Devita ..." Ucap Sirena dengan suara pelan.
"Mengapa kau minta maaf? Kau tidak salah sama sekali. Ini semua sudah takdir, Sirena." Devita tidak ingin membuat Sirena berpikiran yang tidak-tidak.
"Aku hanya merasa egois karena selama ini hanya aku yang mendapat perhatian dan kasih sayang dari ibunda. Sedangkan kau? Aku bahkan tidak tahu bagaimana kau menjalani hidup di dunia bumi."
"Kalau ingin tahu, kehidupannya sangat buruk." Yang menjawab adalah Irena.
Sirena menatap Devita meminta penuh penjelasan dan dibalas Devita dengan senyuman.
"Andai ada sebuah hologram yang bisa memperlihatkan kehidupanku di bumi, pasti akan sangat mudah kau mengerti bagaimana menjadi aku di Bumi." Balas Devita.
"Hologram? Apa itu hologram?" Pertanyaan France mewakili Raja Monachus yang menyimak percakapan anak kembarnya itu.
Tok tok tok
Devita yang baru saja membuka mulut untuk menjelaskan apa itu hologram harus terhenti saat Agda mengetuk pintu rumah Irena.
"Yang Mulia Raja Monachus, Tuan Bharus mengajak Anda untuk bergabung dengan rakyat memasak rusa hasil buruan Pangeran Falco dan Pangeran Athanaxius."
"Mereka sudah kembali?" Pertanyaan Raja Monachus dibalas anggukan oleh Agda. Raja Monachus lantas berdiri, "Kalian tak ingin ikut? Kita makan enak hari ini."
"Aku lebih senang memasak sendiri dan memakannya sendiri." Setelah mengatakan itu, Irena pergi begitu saja menuju dapur.
Sirena, Devita dan France memandang kepergian Irena dengan wajah sebal. Bagaimana bisa ada orang semacam Irena?
"Irena memang seperti itu, kalian tak perlu heran. Jadi, kalian ikut atau tidak?" Raja Monachus masih menunggu ketiga orang itu.
"Aku tidak ikut, Ayah," Sirena berdiri, "Aku akan melihat saja dari jendela kamar." Sirena hanya tak ingin membuat kehebohan untuk rakyat Osaka. Kalau dia ikut, rakyat pasti kebingungan mengapa ada dua Putri Sirena padahal yang mereka tahu Raja Monachus tak memiliki anak kembar.
"Aku ingin menemani Kak Nana!" France berseru dengan penuh semangat.
Raja Monachus lantas memandang Devita, menunggu ucapan darinya, apakah ingin ikut atau tidak.
"Aku ikut, Pak Raja." Devita ingin memastikan bahwa Athanaxius baik-baik saja.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Sekembalinya dari hutan, Athanaxius memutuskan pergi ke sungai untuk membersihkan pedangnya yang kotor. Dia juga ingin membasuh wajahnya dengan air dingin sungai.
Suara air mengalir membuatnya merasa tenang untuk sesaat. Selesai membasuh wajahnya, Athanaxius berkaca pada jernihnya air sungsi yang memantulkan bayangannya. Dibayangan itu, Athanaxius melihat matanya sendiri yang masih berwarna merah darah.
"Begitu mengerikan ..." Bisik Athanaxius dengan senyuman dingin.
Tak ingin terlalu lama melihat wajahnya sendiri, Athanaxius hendak pergi namun terhenti saat melihat sesuatu yang hanyut di sungai. Dia lantas menajamkan penglihatannya untuk melihat sesuatu yang hanyut di sungai itu.
Saat sesuatu itu sudah dekat dan melewatinya, barulah terlihat kalau ternyata yang hanyut adalah seorang wanita.
"KAYANAKA!" Athanaxius dengan panik berlari masuk ke sungai untuk menolong Kayanaka.
Dengan mudahnya Athanaxius membawa Kayanaka ke pinggir sungai. Athanaxius semakin panik saat melihat wajah Kayanaka nampak pucat.
"Kayanaka, sadarlah! Hei!" Athanaxius menepuk-nepuk pipi Kayanaka pelan. Namun tak mendapat respon, dia lantas menekan dada Kayanaka untuk mengeluarkan air yang ditelan oleh wanita itu.
Tak berselang lama, Kayanaka terbatuk-batuk dengan air yang keluar dari mulutnya.
Athanaxius terpaku menatap Kayanaka yang kini turut serta menatapnya. Namun anehnya kutukan itu tak bereaksi seperti sebelumnya.
"Deimor ..." Kayanaka memeluk Athanaxius dan menangis dalam pelukan Athanaxius.
Athanaxius hanya diam menunggu Kayanaka menjelaskan apa yang terjadi pada wanita itu hingga hanyut di sungai.
Karena tak mendapat balasan pelukan dari Athanaxius, Kayanaka pun mengurai pelukannya.
"D-dei hiks ... K-keluargaku, m-mereka dibunuh Ratu Amanita," Kayanaka kembali menangis di pelukan Athanaxius, "Aku tak punya siapa-siapa lagi sekarang ..."
Athanaxius agak terkejut mendengarnya, dia pun membalas memeluk Kayanaka, mengusap punggung wanita itu agar tenang.
"Aku yakin kau berusaha keras menyelamatkan diri, jangan takut," Athanaxius berbisik, "kau tak sendiri, masih ada aku. Kau aman berada disini."
Athanaxius mengurai pelukannya untuk melihat wajah Kayanaka. Dia juga ingin memastikan apakah Kayanaka benar-benar tidak membuat kutukannya berulah.
Namun setelah lama saling berpandangan, kutukannya tak muncul. Hal itu dimanfaatkan oleh Kayanaka untuk mengecup bibir Athanaxius.
Kejadian itu terjadi begitu cepat hingga membuat Athanaxius tak bisa mengelak dan berujung diam membeku.
Srak
Athanaxius sontak menoleh ke belakang saat mendengar suara ranting yang terinjak oleh kaki. Tak jauh darinya ada sosok Devita yang berdiri menyaksikan mereka berdua.
"Eh? Maafkan aku telah mengganggu kalian hehe ... Aku akan pergi," Devita berbalik badan dengan cepat, menahan nyeri yang terasa menyakitkan di dadanya. Dia pun memutuskan untuk pergi.
Athanaxius hendak berdiri untuk mengejar Devita, namun tangannya ditahan oleh Kayanaka, "Tolong jangan tinggalkan aku sendiri, Dei, hiks ..." kayanaka kembali menangis.
Athanaxius bingung. Kayanaka adalah sahabat terbaiknya hingga membuatnya tak tega saat melihat Kayanaka menangis. Namun dia tak ingin Devita salah paham tentang kejadian tadi.
"Maafkan aku, Kayanaka ... Kau tetaplah disini sebentar, aku tak akan lama." Setelah mengatakan itu, Athanaxius lantas bergegas menyusul Devita.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Devita tidak tahu apakah dia harus menangis atau tidak sekarang. Untuk kedua kalinya dia merasakan sakitnya jatuh cinta pada seseorang.
Setelah mengatakan perasaannya kepada Athanaxius, Devita tak tahu apakah lelaki itu balas mencintainya atau tidak. Namun saat melihat bagaimana khawatirnya Athanaxius terhadap Kayanaka, Devita putus asa dengan ekspektasinya yang menganggap Athanaxius juga mencintainya.
"Gue nyesel," Devita berjalan lesu untuk kembali ke rumah Irena, "Kenapa juga gue harus berasumsi hal berlebihan yang ngebuat hati gue kembali terluka?"
"ARGHHH!!" Devita berteriak sekencang-kencangnya untuk mengeluarkan rasa kesalnya.
Devita kemudian berjongkok dan melihat ke tanah, "Athanaxius sialan, bukan? Kenapa pula harus menyukainya?" Tangan Devita terulur untuk meraih ranting kecil, lalu menggambar bentuk abstrak dengan ranting itu.
"Hai, Athanaxius ... Aku menyesal mencintaimu!" Devita dengan kesal menusuk-nusukkan ranting itu ke tanah hingga patah.
"Kau tak boleh menyesalinya." Bisikan itu membuat Devita berhenti menusuk tanah lalu mendongak. Saat itu pula dia berhadapan dengan wajah Athanaxius yang berjarak begitu dekat dengannya.
Melihat wajah Athanaxius membuat kekesalan Devita semakin bertambah. Dengan kesal Devita memutuskan untuk pergi dan mengabaikan Athanaxius. Namun tangannya ditarik oleh lelaki itu dengan kuat hingga membuatnya terjatuh ke dalam pelukan Athanaxius.
Devita merasakan pelukan Athanaxius begitu erat, seolah-olah dia akan langsung pergi bila pelukan itu kendor sedikit saja.
"Kau tak boleh menyesalinya, Devita ..." Ucap Athanaxius sekali lagi.
Muak mendengar itu, Devita lantas mendorong tubuh Athanaxius dengan sekuat tenaga, "PERSETAN! LO SIALAN!" Devita mengacungkan jari tengahnya.
Devita ingin pergi, namun lagi-lagi ditahan oleh Athanaxius, "Apa yang ingin kau dengar? Pernyataan cinta dariku, hm?"
Devita tak menoleh dan menatap Athanaxius karena dia bingung ingin menjawab apa.
"Lihatlah aku sebentar dan dengarkan aku baik-baik," Entah kenapa Devita menurut setelah mendengar itu, dia pun melihat ke arah Athanaxius, "aku tak akan mengulangnya, jadi dengar baik-baik."
Jantung Devita berdegup kencang saat melihat wajah Athanaxius kembali mengikis jarak. Setelahnya, Athanaxius berbisik di telinganya dan membuatnya tidak tahu harus merespon seperti apa.
"Aku juga mencintaimu, sungguh!"
Devita memandang mata merah Athanaxius untuk mencari kebohongan. Namun Athanaxius bukanlah tipe pembohong, dia selalu serius dengan ucapannya.
"Aku adalah milikmu, dan kau adalah milikku." Athanaxius kembali menarik Devita ke dalam pelukannya.
"Jadi, jangan menyesal telah mencintaiku ... Karena aku merasa istimewa saat bersamamu." Sambung Athanaxius yang semakin membuat Devita tak tahu harus berkata apa.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Jujur aku ngerasa nggak enak udah nggantung kalian, pen berhenti nulis cerita ini karena berpikiran kalian bosen nunggu aku yang updatenya lama. Tapi, aku nggak bisa berhenti nulis cerita ini, karena aku udah janji buat namatin cerita ini. Meskipun ceritaku ga seramai cerita yang lain, aku tetep seneng ada yang baca dan kasih vote. Makasih dari aku yang seorang budak korporat😓