The Another Soul

The Another Soul
Ch. 79 [Sang Putri]



"GAAHH...! DIMANA SERGIO!"


PAK...


"Bisa diam tidak! Kita jadi perhatian orang!"


"Ck, bukankah kita sedang mencari informasi saat ini. Bersabarlah sedikit Fahrez."


Ya. Ketiga pelayan Sergio saat ini tengah berada di bagian pasar gelap bagian Selatan, pusatnya penjualan budak berada.


Dengan ketiganya memakai jubah bewarna hitam untuk menyamarkan pakaian mereka yang penuh dengan bercak darah.


Fahrez mengelus kepalanya yang sakit karena Orga yang memukulnya. Ia menggerutu kesal.


"Ck, dimana orang itu Rakka? Kau yakin bahwa temanmu itu masih hidup?"


"Aku setuju dengan Fahrez. Kau yakin bahwa temanmu ada di bagian Selatan? Bisa saja dia ada di bagian Barat, Utara atau Timur" ucap Orga.


Rakka yang memimpin jalan itupun tidak menghiraukan pertanyaan dari Orga ataupun Fahrez. Netra kuning emas itu sibuk memperhatikan sekitar yang bisa dibilang cukup ramai.


Orga hanya menghela nafas melihat Rakka. Dirinya mengerti bahwa prioritas utama mereka adalah Sergio yang menghilang dan tidak dapat ditemukan oleh mereka.


"Siapapun yang memisahkan kita dari Sergio. Orang itu mengenal kita sejak awal" ucap Fahrez serius.


Orga tersenyum miring "Bisakah kau tebak, siapa orangnya?"


Fahrez terlihat berpikir sejenak "Bagaimana jika.... Seorang Wizard?"


Mata merah itu membulat sempurna. Dengan cepat ia menatap Fahrez yang berada di belakangnya.


Kenapa tidak terpikirkan olehku, batin Orga yang merasa sangatlah bodoh.


"Jangan bilang...." Orga menatap Rakka yang berjalan di depan mereka berdua.


Merasa ditatap, Rakka menoleh dan berkata "Aku sudah menduganya sedari awal."


"Jika kau sudah menduganya. Kenapa kita berada di pasar gelap Selatan? Bukankah menurut rumornya Wizard itu berada di Utara?"


Rakka menghela nafas lelah "Kau terlalu mempercayai rumor."


"Jadi tujuan kita disini untuk mencari informasi?" celetuk Fahrez.


Rakka menjentikkan jarinya "Yap. Lihat, Fahrez bahkan lebih pintar dibandingkan dirimu, Orga."


Mendengar nada ejekan dari Rakka membuat Orga merasa hari ini ada yang salah dengan otaknya.


"Mungkin karena dia terlalu lama berpisah dengan Reina otaknya jadi bermasalah" ejek Fahrez.


Oke, baiklah. Bolehkah Orga menjual Fahrez? Kebetulan mereka saat ini sedang berada di pasar budak.


Pemikiran yang sangat salah Orga. Yang ada Pasar budak ini dimusnahkan oleh Fahrez hanya dengan satu jentikan jari.


Melupakan rasa kesalnya, Orga berniat untuk bertanya "Jadi siapa si pemberi Informasi ini?"


"Kalian mengenalnya kok"


""Huh?""


Orga dan Fahrez saling menatap. Melihat, apakah salah satu dari mereka mengenal siapa yang tengah dicari saat ini.


Rakka tersenyum misterius. Ia kembali berjalan menjauhi Orga dan Fahrez gang sibuk menebak-nebak. Siapakah si Informan ini?


"Jangan bilang...."


"Oi, oi, oi, ini tidak mungkin kan?" ucap Fahrez yang terlihat panik.


"Wanita itu..." ucap Orga yang terdengar gugup.


"GAAHHH.... AKU TAK INGIN BERTEMU DENGANNYA!!" erang Fahrez.


Berkebalikan dengan Fahrez yang merasa kesal, Orga tersenyum tipis. Ia sangat mengingat siapa yang akan mereka datangi.


"Jadi dia masih hidup" gumam Orga.


"Kau lupa apa ras-nya?" ucap Rakka.


Orga terkekeh "Mana mungkin aku lupa..."


"...Wanita pertama yang berhasil memiliki kedua darah ras terkuat, Elf dan Vampire..."


"...Putri Igar Lea."


.


.


.


.


.


FYUHH...


"Jadi kalian melihat tiga orang mencurigakan yang berkeliaran?"


"Ya Nona. Kami bahkan melihat sebentar rupa mereka bertiga."


Sosok yang dipanggil sebagai nona itu tersenyum menyeringai "Bagaimana rupa mereka?"


"Uhmm... Yang satu berambut hitam dan orang yang paling ribut, yang satunya lagi sangatlah tenang dan sepertinya dia adalah seorang Vampire."


Nona itu terkekeh "Lanjutkan."


"Kemudian ada seorang wanita berambut putih panjang."


Nona itu terbahak. Ia tertawa keras mendengar penuturan dari seseorang yamg sedang melakukan patroli di pasar budak.


"HAHAHA...!! Mereka tak pernah berubah!"


Setelah puas tertawa, Nona itu kembali mengisap cerutu dan mengeluarkan asap putih dari mulutnya.


Penampilan nona itu sangatlah cantik. Dengan bibir yang ranum, kulit yang agak kecoklatan karena sering terkena sinar matahari, surai kelabu yang panjangnya mencapai lantai. Belum lagi tubuh kurus nan ramping beserta netra yang bagaikan permata saphire yang berkilauan.


Dan kedua telinga runcing yang menjadi ciri khas seorang elf.


"Apa lagi yang kau dengar."


"Kalau saya tak salah. Mereka mengatakan sebuah nama."


"Nama?"


Nona itu terlihat berpikir sejenak, memikirkan sebuah nama yang mampu membuat ketiga orang keras kepala dan arogan itu berniat mencari dirinya.


Kenapa dia terdengar percaya diri?


Mudah saja, tidak ada alasan mereka datang ke pasar selatan yang dipenuhi dengan para budak. Alasan yang paling masuk akal adalah-- mereka membutuhkan dirinya untuk menemukan seseoran.


"Nona. Jika saya tak salah dengar namanya adalah Sergio."


"Sergio?"


Siapa Sergio? Pikirnya.


Nona itu kembali berfikir. Sergio? Seseorang yang penting?


Di dalam otak pintarnya, ia seperti mendapatkan sebuah cahaya dan dapat memahami hanya dengan sebuah nama.


Nona itu terkekeh "Baiklah. Jika tujuan kalian adalah mencarinya, aku akan membantu."


"Dimana posisi mereka bertiga sekarang?"


Seseorang yang memberikan informasi itu menjawab "Terakhir di dekat penginapan. Mungkin mereka berniat untuk menginap disana."


Nona itu mengangguk paham.


"Tolong carikan Informasi tentang Sergio ini. Dan juga cari keberadaannya di hutan Silvam. Bagi menjadi beberapa kelompok dan sebar di ketiga pasar lainnya. Apa kau mengerti?"


Orang itu mengangguk paham. "Baik nona."


Kemudian orang itu membungkuk dengan sopan dan berlalu pergi. Orang yang disebut nona itu meletakkan cerutu miliknya dan bangkit berdiri. Di belakangnya terdapat tirai yang terbuat dari kerang. Ia menyingkapnya dan masuk kedalam dengan pelan.


Di dalam, ia mendapati seseorang yang memiliki rupa yang sama dengan dirinya. Bedanya adalah seseorang itu memiliki mata bewarna merah gelap.


"Eh, kau sudah bangun?"


Wanita itu menatap tajam si penganggu "Kau mengangguku" ucapnya dingin dan tajam.


Bukannya merasa tersinggung, ia malah memeluk dengan erat kembarannya ini "Jangan marah. Aku hanya bertanya."


Terdengar suara helaan nafas "Aku terbangun karena mendengar ketiga orang itu akan datang."


"Woahh... Apa kau akan membantu mereka?"


Wanita yang memiliki mata merah itu mendengus "Heh. Aku tak berniat."


Sedangkan wanita yamg memiliki netra keperakan itu tersenyum tipis "Kau yakin?"


"Aku yakin."


Ia tersenyum tipis "Bagaimana jika begini. Jika mereka sedang mencari calon Heroia yang menghilang, apa kau akan membantunya, Lea?"


Mata merah itu membulat sempurna. Terlihat terkejut dengan perkataan dari saudarinya ini "Apa?"


"Wahh... Wajahmu terkejut."


"Apa maksudmu? Kau tidak bercanda kan!"


"Apa di wajahku terlihat seperti candaan?"


"Igar!"


Mendengar namanya disebut, wanita itu tersenyum senang "Ahh... Akhirnya kau menyebut namaku."


Wanita yang memiliki mata merah semerah Ruby itu berdiri dari duduknya dan berjalan keluar.


"Hei, hei, kau mau kemana?" cegah Igar.


"Aku ingin memerintahkan-"


"Sstt... Aku sudah melakukannya lebih dahulu."


"Tapi-"


"Lea, dengarkan aku" Igar menyentuh kedua bahu milik Lea. "Lebih baik kau kembali ke dalam dan melakukan tugasmu."


Lea mengerutkan keningnya.


"Kau bingung? Baiklah, kau hanya perlu mencari keberadaan Sergio. Mudah bukan?"


"Tapi-"


"Hei, hei, Apa kau tak percaya pada saudarimu ini, Hem?"


Baiklah, ia mengalah "Baiklah."


Igar mengusap kepala Lea dengan sayang "Bagus. Nah... Kembalilah masuk dan mulai mencari dengan metodemu sendiri. Aku ada urusan sebentar."


Lea mengangguk lesu. Ia pun kembali masuk ke dalam dan mengikuti ucapan dari saudarinya itu.


Melihat saudarinya sudah masuk ke dalam ruangan khusus untuknya. Igar berjalan kembali ke tempatnya semula dan menunggu informasi yang akan diberikan oleh bawahannya.


"Menggelikan" gumamnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°||


1. 131 kata