
"Selamat datang di dunia Nromu, Sergio."
"Eh?"
Aku menatap bingung wanita itu. Aku tidak mengenalnya, tapi tiba-tiba saja dia memanggil namaku.
Ahh... Mungkin Fahrez dan Rakka.
"Eh... Ya... Terima kasih."
Wanita itu hanya tersenyum. "Apa kamu lapar?"
Aku langsung bersemangat ketika mendengarnya. "Ya, sangat lapar."
Tanpa alasan yang jelas, Fifi menatapku dengan tajam.
Ada apa? Apa aku membuat masalah?
Wanita itu hanya tertawa melihat tingkahku. "Baiklah, Fifi tolong antarkan makanan kemari. Tamu kita sedang lapar."
"Baik Nyonya."
Fifi langsung menghilang. Apa dia menggunakan teleportasi lagi?
"Dan kamu, masuk dan duduk."
Aku menuruti perkataan-nya. Aku masuk ke dalam ruangan besar itu. Ruangan ini tidak memiliki pintu, dan aku melihat kain bewarna merah gelap begantung di setiap dinding.
Apa wanita ini suka warna gelap yah?
Pada akhirnya aku duduk dan berhadapan dengan wanita ini. Di depanku ada meja kecil dan diatasnya ada satu keranjang buah.
Sepertinya buah-buahan itu cukup menggiurkan.
"Makan saja kalau mau."
Aku menatap wanita dihadapanku. Ngomong-ngomong aku tak tau siapa namanya.
"Oke, terima kasih."
Aku mengambil buah apel dan tanpa malu-malu lagi langsung menggigitnya. Hmm... Segar sekali.
"Bagaimana keadaanmu?"
Wanita itu bertanya padaku dengan sebuah senyuman.
"Kraukk.... Aku sehat. Ngomong-ngomong siapa namamu?"
Aku bertanya sambil menggigit buah apel.
Wanita itu lagi-lagi hanya tersenyum. "Namaku Sanita."
"Salam kenal Sanita. Terima kasih karena sudah membiarkanku tinggal di sini."
"Tidak masalah."
Dia menjawabku dengan nada enteng. Apa dia tidak terlalu santai.
"Kalau tak salah tadi kau mengatakan dunia Nromu. Apa...kraauukk...itu?"
Aku kembali menggigit buah apel.
Lagi, wanita ini, Sanita dia hanya tersenyum. Ada apa sih?
"Apa kamu tak diberi penjelasan oleh dua penjagamu itu?"
"Seingatku tidak. Aku hanya tau tentang dunia Egolas saja. Tunggu, kau mengenal dua penjagaku itu."
Sanita mengangguk. "Ya, aku mengenalnya."
"Pantas saja aku ditinggalkan sendiri di sini."
"Mereka mempercayakan dirimu padaku. Mereka akan kembali sebentar lagi."
"Memangnya mereka pergi kemana."
"Kalau tidak salah... Karena dompetnya Fahrez terjatuh selama perjalanan kemari. Jadi mereka berdua mencarinya."
"...."
Aku terdiam.
Mereka berdua pergi meninggalkanku hanya karena dompet jatuh?
"Nyonya."
"Oh Fifi. Taruh saja di atas meja."
Fifi menaruh nampan yang berisi sepiring nasi beserta lauk-pauknya, dan segelas air. Yang ini tampak lebih menggiurkan dari buah apel.
"Ayo makan. Tak perlu sungkan."
"Terima kasih, kau juga Fifi. Terima kasih."
Fifi hanya menganggukan kepala. Aku mengambil sendok dan mengambil satu sendokan penuh, kemudian memakannya.
Sanita hanya tersenyum melihatku.
||°°°°°°||
"Dimana kamu menjatuhkannya sih?"
"Umm... Mungkin sekitar sini."
Di sisi lain dunia Nromu. Terdapat dua orang yang sedang berkeliling. Mereka berdua adalah Rakka dan Fahrez yang saat ini sedang mencari dompet Fahrez.
"Lagian bagaimana bisa hilang?"
"Mungkin ketika kita mengikuti Fifi waktu itu."
"Jadi jatuhnya disana?"
"yaa... Mungkin saja."
Fahrez menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia juga merasa tidak yakin jatuh dimana dompet itu.
"Dompetku bagaimana?"
Rakka menatap kesal Fahrez. "Memangnya kamu selalu kekurangan uang, hah?"
"Mmm.... Tidak, tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian. Kita kembali. Siapa tau dompetmu terjatuh di sekitar tempat kediaman Dewi Sanita."
Fahrez menghela nafas. "Baiklah, ibu."
Fahrez mengucapkannya dengan pelan, tapi sepertinya Rakka mendengar ucapan Fahrez.
"Apa tadi?"
"Tidak."
Untuk beberapa saat mereka berdua masih saling tatap. Setelah itu Rakka berjalan duluan di hadapannya.
"Hei, Rakka. Tunggu dulu."
"Apa lagi."
"Sepertinya aku melihat ada seseorang disini."
"Seseorang?"
Rakka mengikuti arah tatapan Fahrez. Dia juga melihat ada seseorang yang sedang tiduran di atas tanah.
"Kau benar. Ayo kita dekati."
Rakka dan Fahrez mendekati seseorang itu dengan pelan. Takut membangunkan orang itu.
Tapi sepertinya Fahrez tak sengaja menginjak ranting kering. Rakka menatapnya tajam.
"Maaf."
"Kalian, ngapain mengendap kearahku?"
""Eh?""
Rakka dan Fahrez ketika mendengar suara orang itu. Mereka berdua menatap tidak percaya pada orang yang berada di hadapannya.
"Kenapa? Kalian seperti melihat hantu saja."
Orang itu berdiri, dan tampaklah tubuhnya yang tinggi dan sedikit berotot. Rambutnya bewarna hijau gelap dan matanya bewarna merah. Dia memakai kacamata, dan rambutnya berantakan seperti tidak pernah di sisir.
"Eh, Orga? Apa yang kau lakukan disini?"
||°°°°||
"Mmm...nyamm...slurp... Jadi dunia Nromu ini dunia antar dunia?"
Aku masih makan dengan lahap saat bertanya.
Sanita hanya tersenyum melihatku. "Ya, dunia Nromu adalah dunia antar dunia. Disini adalah penghubung antara dunia Bumi dan dunia Egolas. Kamu pasti mendengar tentang perjanjian bukan?"
Aku mengangguk. "Ya, dari penjelasan Rakka. Jadi apa aku harus membuat perjanjian juga sebelum masuk dunia Egolas?"
"Benar sekali."
"Dan kamu adalah seorang penjaga gerbang. Kamulah yang akan menyetujui perjanjian."
"Ya."
Aku mengangguk sekali lagi. "Yah... Aku tak terlalu mengerti. Apa bisa aku menunggu dua penjagaku kembali?"
"Sebenarnya, aku hanya ingin membuat perjanjian denganmu hanya berdua saja."
"Berdua?"
"Sebagai tambahan, rahasiakan perjanjian yang kita buat."
"....Kenapa?"
Sanita tersenyum. "Karena perjanjian ini berhubungan dengan orang tuamu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°||