
"*Ğerna, kumohon kembalilah."
''Tidak, Ilka kau adalah teman baikku, tapi aku harus menolak itu.''
''Kenapa? Apa alasanmu?''
''Tidak ada alasan khusus, hanya... Aku hanya ingin hidup di dunia ini sampai akhir hayatku.''
''Ğerna.''
Ilka menatap sedih Ğerna.
''Ilka, jangan menatapku seperti itu. Aku dulunya memanglah seorang Dewa, tapi sekarang aku hanyalah seorang manusia biasa.''
''Manusia biasa? Jika kau hanyalah seorang manusia biasa, tak mungkin para manusia tidak tau balas budi itu menyerangmu! Tidak mungkin juga mereka ingin membunuhmu! Sekarang kau lihat, berapa banyak manusia yang serakah?''
''Ilka, ini adalah takdir yang sudah di nubuatkan untukku.''
''Persetan dengan takdir! Ğerna, kumohon. Aku.... Aku tak ingin kehilangan seseorang yang berharga bagiku.''
Ilka menatap lantai dengan perasaan sedih. Ğerna yang melihatnya juga menjadi sedih.
''Ilka, bagaimana kalau kita membuat janji?''
''Janji?''
''Ya, aku berjanji. Aku tidak akan pernah melupakan temanku, sahabatku, dan keluargaku, yaitu, Ilka.''
''Ğerna.''
''Walau aku mati dan bereinkarnasi, aku tidak akan pernah melupakan satu orang. Aku berjanji. Ilka, apa kau ingin membuat janji juga?''
Ilka menggigit bibir bawahnya. Saat ini, ada suatu emosi yang tidak dapat diungkapkan. Itulah yang dirasakan oleh Ilka.
''Aku, Ilka tidak akan pernah melupakan Dewa Ğerna! Seorang Dewa yang rela melepaskan keabadian dan statusnya, hanya untuk tinggal di dunia manusia! Aku akan terus mengingatnya walau aku sudah mati, walau aku bereinkarnasi beberapa kali. Aku akan terus mengingatnya! AKU BERJANJI!''
Mereka berdua tersenyum lebar setelah mengatakannya.
''Kalau begitu, Ilka. Tolong jaga tempat tinggalku.''
Ğerna berlalu, melewati Ilka yang terpaku. Dia hanya mengepalkan tangannya hingga berdarah.
''Selamat tinggal, wahai sahabatku. Ğerna*.''
||°°°°°°||
"Ğerna."
Orga terkejut. Saat ini dia sedang menaruh Sergio di tempat tidur.
Ketika mereka sampai di mobil, mereka melihat Sergio yang tertidur pulas di mobil, begitu pula dengan Reina. Mereka berdua tertidur di dalam mobil, Reina memberikan pahanya sebagai bantal oleh Sergio. pada akhirnya Orga yang membawa mobil. Disebelahnya duduk Fahrez yang menatap keluar.
Rakka duduk dibelakang, disebelah Reina yang sedang tertidur.
Pada akhirnya mereka semua terdiam, tidak ada yang berbicara. Mereka takut membangunkan Reina dan Sergio yang sedang tidur.
Itulah awalnya. Akhirnya mereka tiba di rumah Fahrez, dan tugas Orga adalah menggendong Sergio di punggungnya. Dia membawa Sergio ke kamar yang sudah disediakan.
Dan ketika Orga baru saja menaruh Sergio, dia mendengar sebuah nama yang baru saja di ceritakan.
"Sergio, kamu bukan Ilka. Tapi kenapa kamu harus mengemban tugas Ilka?"
Tentu saja Sergio tidak menjawab pertanyaan Orga. Setelah itu Orga menyelimuti Sergio, dia berbalik dan berjalan meninggalkan Sergio di kamar.
Orga membuka pintu, dan dia mendapati Fahrez yang sedang bersender di dinding. Dia melirik Orga, kemudian dia berdiri tegak.
Orga menutup pelan pintu, kemudian berjalan. Tidak menghiraukan Fahrez yang mengikuti dirinya.
"Tak kusangka, kau sempat melakukan hal ini. Aku kagum dengan kecepatan orang-orangmu, Orga."
Fahrez berkata sambil memperhatikan sekeliling rumahnya.
"Tak mungkin aku membiarkan Sergio tinggal di rumah yang berhantu. Ahh... Ya, biaya perbaikannya nanti kau kirimkan yah."
"APAA?!"
Fahrez berteriak. Suaranya menggema di rumah yang hanya ada sedikit perabotan.
"Hei, aku hanya membantu perbaikan rumahmu. Kau tau, ketika aku menerima laporan dari orangku. Rumahmu menyeramkan, bahkan hancur di beberapa tempat. Rumput setinggi satu meter lebih tumbuh di halaman, belum lagi listrik disini sudah di putus. Berapa biaya yang harus kukeluarkan hanya untuk memperbaiki rumahmu?"
"....."
"Fahrez, aku ini tidak sekaya dirimu. Aku memiliki Organisasi. Ada beberapa ratus orang yang harus ku gaji. Jadi, nanti kirimkan uangnya lewat rekeningku, oke."
"Entah kenapa, rasanya aku yang salah disini" Fahrez berucap dengan nada lesu.
Akhirnya, mereka sampai di tangga. Mereka menuruni tangga dalam diam. Dari raut wajahnya, Fahrez sedang berpikir keras. Berbanding terbalik dengan Orga yang sedang membetulkan letak kacamata-nya.
Mereka sampai di lantai pertama. Diasan mereka melihat Rakka dan Reina yang sedang duduk sambil menikmati teh hangat.
"Reina, kau sudah bangun?" Tanya Orga sambil berjalan ke arah Reina.
Fahrez mengikuti dari belakang. Mereka berdua sampai di sofa empuk, Fahrez melemparkan dirinya ke sofa kemudian dia menghela napas.
"Hahh.... Akhirnya sampai di rumah. Hmm.... Rakka, tolong tuangkan teh untukku."
Rakka menurut, dia menuangkan teh hangat kemudian Rakka memberikan cangkir teh pada Fahrez.
Fahrez menerimanya, kemudian dia menyeruput teh.
"Reina, apa yang terjadi ketika di dalam mobil?" Tanya Orga.
"Iya, aku juga penasaran" ucap Rakka.
Fahrez hanya diam dan memperhatikan, sesekali dia menyeruput tehnya.
"Sebenarnya...."
Reina menceritakan. Waktu itu ketika mereka berdua ingin masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja Sergio memegang kepalanya. Dia juga berkeringat dingin, bahkan Sergio hampir saja terjatuh kalau saja Reina tidak menahannya.
Setelah itu Reina membantu Sergio masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Sergio terlihat napasnya sesak.
"Jadi aku menggunakan pahaku sebagai bantal. Alhasil Sergio menjadi tenang. Begitulah ceritanya."
"Dan kamu ikut tertidur?" Tanya Orga.
"Eh?"
Orga hanya bisa menggaruk belakang kepalanya saja. Walaupun tidak gatal.
Setelah mendengar penjelasan Reina, Rakka memasang ekspresi wajah serius.
Orga dan Fahrez menatap Rakka.
"Dewa Agni sepertinya memang sengaja" ucap Rakka.
"Dia memicu ingatan lama. Ini.... Ini bahaya bukan?" ucap Fahrez.
"Bisa jadi bahaya, bisa juga tidak."
Rakka dan Fahrez menatap Orga.
"Maksudku, disini kita bisa melihat perkembangan Sergio. Apa yang terjadi jika Sergio mengingatnya? Apa kekuatan jiwa kedua ini yang muncul atau yang pertama."
"Bukankah itu lebih buruk lagi" ucap Fahrez.
"Tidak. Aku rasa apa yang di katakan Orga benar."
"Eh?"
"Kata Orga, kita hanya bisa diam menunggu hasil. Jika ingatan ini memperlihatkan sesuatu, itu semakin memudahkan kita. Hmm....tapi, aku merasa ada yang kurang."
"Aku tak mengerti dengan jalan pikir kalian berdua. Sudahlah, kita akhiri pembicaraan ini."
"Kau benar, kita akan bertemu lagi besok" Orga berdiri, diikuti oleh Reina.
"Eh? Tidak menginap disini?"
"Tidak, banyak pekerjaan yang harus kuurus. Sampai jumpa besok."
"Hmm....hati-hati di jalan."
Fahrez melambaikan tangannya pada Orga. Orga berbalik, berjalan pergi. Meninggalkan Fahrez dan Rakka.
Fahrez melirik Rakka. "Ngomong-ngomong, apa kamu sudah memberitahukan Sergio tentang benda itu?"
Rakka menggelengkan kepalanya. Dia menaruh cangkir teh di atas meja, kemudian menatap Fahrez.
"Aku...apa harus kita beritahu?"
Dari tatapannya, Rakka merasa ragu.
"Tentu saja, benda itu mungkin saja milik kakeknya Sergio."
"Jika benar, bukankah kakek Sergio adalah seorang malaikat?"
"....."
Fahrez terdiam.
"Kita tanyakan saja pada Sergio. Saat ini aku lelah, kamu menginap hari ini kan?"
"Iya, mungkin untuk beberapa hari aku akan tinggal disini."
"Itu bagus."
"Siapkan kamar yang paling bagus disini."
"Enak saja, disini hanya ada empat kamar. Kau tempati saja kamar tamu di sebelah kamar Sergio."
"Bagaimana kalau aku ingin kamarmu?"
"Tidak akan!"
Fahrez langsung menghilang dari hadapan Rakka. Lebih tepatnya Fahrez pergi dengan menggunakan sihir teleportasi.
Rakka yang melihatnya terkekeh kecil. Dia kembali meminum teh yang tak lagi hangat.
"Malaikat, kah?"
Di dalam pikiran Rakka, segalanya menjadi lebih rumit lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°°°°||