The Another Soul

The Another Soul
Ch. 52 [Apa yang Disampaikan]



Di sebuah gedung besar berlantai 10, terdapat ruang pertemuan yang dihadiri oleh berbagai macam ras. Terlihat para Vampir, Elf, Dwarf, Orc, dan ras lainnya berkumpul untuk membahas sesuatu.


Dan di ruangan besar itu terpancar aura-aura berat yang berasal dari lima orang.


Yaitu para Dewa Dewi.


"Yo Agni, tumben sekali kau muncul disini" ucap seorang Dewa berambut pirang kecoklatan dan memakai Tuxedo bewarna coklat tua. Dewa Ares memiliki perawakan tubuh yang kurus, tapi di balik tuxedo nya terdapat otot-otot yang membuat wanita manapun menjadi jatuh hati.


Ya... namanya juga Dewa Perang, sudah pasti banyak yang mengidolakan Dewa Ares yang memiliki wajah rupawan.


Agni yang saat ini berdiri dengan tangannya yang memegang segelas wine hanya tersenyum tipis.


"Aku hanya ingin datang. Lagipula tugasku terlalu banyak akhir-akhir ini." Ucap Agni dengan nada malas di akhir.


"Ngomong-ngomong dimana Ium-mu, Ares?"


"Kusuruh bekerja" Ucap Ares dengan nada polosnya.


Tiba-tiba Agni merasa prihatin dengan Ium dari Dewa Ares. "Kau ini jahat sekali."


Dewa Ares mengangkat bahunya ke atas, tanda ia tak peduli. "Ium berguna untuk membantu seorang Dewa yang tak bisa memakai kekuatannya."


"Dan dengan bodohnya kau kesini tidak membawa Ium."


Agni dan Ares sama-sama menatap seorang wanita yang memakai jubah bewarna hijau gelap. Rambutnya tertutupi oleh kain hang melingkari kepalanya, mata hijau zamrudnya menatap tajam Dewa Agni dan Dewa Ares. Dia adalah Dewi Alam, Nyra.


"Ohh... Nyra! Apa kabar?" Ucap Ares dengan girang.


Dewi Nyra menghela napas, "Aku baik."


"Kau memang tak berubah yah, selalu suram" celetuk Agni.


Dan setelahnya Agni mendapatkan Death glare dari Dewi Nyra.


Agni berdehem dahulu sebelum melanjutkan. "Apa kau sudah memberikan berkah utamamu pada Ium-mu, Nyra?"


"Masih dalam proses" jawab Nyra singkat.


"Hohoho... Jika yang bertanya Agni, kau pasti merespon dengan cepat" ucap Ares.


"Dia lebih senior dariku. Lagipula aku menghormatinya, seperti aku menghormati Dewa Zeus."


Ares terdiam untuk sementara, "Bukankah aku dan Agni sama-sama lebih senior? Tapi, kenapa kau selalu berbicara sinis, atau bahkan tidak menghormatiku?" ucap Ares dengan tatapan sok polos.


Demi apapun, Nyra merasa akan muntah melihat tatapan polos dari sang Dewa perang. "Berhenti menatapku seperti itu. Kau playboy, belum lagi aku benci dirimu."


Tiba-tiba Ares merasa ada sebuah anak panah yang menyerang jantungnya. Untuk yang 'ke sekian kali' Dewa Ares merasa sakit, tapi tak berdarah.


"Hei Bisha, sepertinya pembicaraan disini lebih menarik" ucap seorang pria yang bisa dibilang tinggi, tapi bisa dibilang pendek juga. Pria bersurai coklat dan mata bewarna senada itu adalah seorang dewa pembawa pesan, Dewa Hermes.


Seorang wanita berambut pirang dan bermata ungu itu hanya memutar bola matanya malas. "Kenapa aku bertemu dengannya lagi" keluhnya.


Ares yang mendengarnya memincingkan matanya. "Hai Dewi Bishamon, apa kabar? Apa kau akan mati hari ini?"


Mendengar ucapan Dewa Ares membuat Dewi Bishamon naik pitam. "HAAHH...Aku? Mati? Masih terlalu cepat puluhan ribu tahun untukku mati, A-R-E-S" ucap Dewi Bishamon sambil mengeja nama Dewa Ares diakhir.


"Ahh... Mereka mulai lagi" ucap Hermes sambil tertawa kecil.


"Mau bagaimana lagi, mereka berdua sama-sama Dewa Perang dan Dewi Perang" Ucap Nyra.


"Apa akan kita biarkan? Aku tak ingin kejadiannya sama seperi 1.000 tahun yang lalu" ucap Dewa Agni dengan santai-nya.


"Hah? Kau masih mengingat kejadian yang membuat sebuah pulau hancur, benua terpisah, dan langit terbelah sampai langit kelima" ucap Hermes dengan nada horror.


"Aku bahkan masih mengingat protesan para Malaikat dan Iblis karena tempat 'tinggal' mereka terjadi kehancuran di beberapa tempat" ucap Nyra.


"Hermes, kau sungguh aneh hari ini" ucap dewa Agni.


"Yahh... Aku mendapat informasi yang sangat bagus. Dan pastinya akan membuat kalian semua terkejut."


Agni, Nyra, Ares dan Bishamon bahkan menghentikan adu cek-cok mereka ketika mendengar ucapan dari mulut sang Dewa pembawa Pesan.


Di antara para Dewa atau Dewi, tidak ada satupun yang meragukan ucapan dari Dewa Hermes. Itu semua karena rumor yang beredar di kalangan para Dewa Dewi.


'Jika kau ingin mengetahui kebenaran dunia, maka percayalah pada omongan sang Dewa pembawa pesan.'


Seperti itulah rumornya. Tapi, memang ucapan Hermes selalu bisa di percaya.


"Apa yang ingin kau sampaikan?" Tanya Ares dengan nada penasaran.


"Ck, sabarlah Ares. Apa kau ingin berbicara di sini? Di tempat dimana para manusia atau ras lain berkumpul?" ucap dewa Hermes dengan decihan kesal.


Setelah Hermes berkata seperti itu, Ares menjadi diam seketika.


"Kita ke room meeting saja" ucap Agni.


Mereka semua menyetujui ucapan dari sang Dewa Api.


\=\=\=\=\=\=


Di sebuah ruangan yang besar tapi tertutup. Disanalah mereka berada, para Dewa Dewi yang duduk dengan raut wajah penasaran.


"Jadi, ada berita buruk dan ada berita baik. Ingin mendengar yang mana dulu?" ucap Dewa Hermes sebagai pembuka.


Mereka berempat-- Nyra, Agni, Ares, dan Bishamon, saling memandang terlebih dahulu. Seperti menyampaikan apa yang akan di katakan hanya dengan melewati tatapan mata.


"Kurasa kabar buruk duluan" ucap Dewi Bishamon dengan sedikit ragu.


"Baik, kabar buruk yah..." gumam Ares.


"Kabar buruknya adalah...."


"....Ellion akan turun ke dunia ini."


Tiba-tiba saja aura di dalam ruangan itu menjadi mencekam. Terasa dingin dan sesak. Bahkan para Ium yang berkumpul di luar ruangan juga merasakan tekanan berat yang di keluarkan oleh para Dewa Dewi.


"E-eh? Ka-kau yakin, Hermes?" Tanya Agni dengan gugup.


"Hermes, kau tak salah mengatakannya bukan? Katakan bahwa apa yang kau katakan itu salah" ucap Ares dengan nada meragukan sang Dewa Pesan.


Dewa Hermes tiba-tiba saja merasa pening. "Aku tahu ucapanku ini tak bisa di percaya, tapi pesan yang kudapatkan juga berasal dari Dewa Zeus. Apa kalian meragukan ucapan dari sang Dewa Tertinggi!"


Ares terdiam ketika nama sang dewa tertinggi disebutkan. Tentu dia tidak meragukan pesan yang di sampaikan oleh Dewa Zeus.


Nyra yang mendengar ucapan dari Hermes hanya menghela napas lelah. "Selanjutnya berita baik. Kuharap berita baik yang kau sampaikan ini benar-benar baik, Hermes."


"Tenang saja, berita terakhir ini sangatlah baik" ucap Hermes dengan semangat.


"Kekuatan Ellion akan di segel selama di dunia Egolas! Dan Dewa Zeus juga memberikan waktu pada Ellion untuk berada di dunia ini! Kabar baik bukan!"


Dan... Kabar yang di sampaikan oleh Hermes memanglah kabar baik bagi mereka semua. Setidaknya mereka bisa menghela nafas lega, untuk sementara.


Mereka semua sama-sama terdiam lagi setelah mendengar ucapa Dewi Bishamon.


"Sepertinya aku harus meminta Dewi Sanita untuk menyegel beberapa persen kekuatan fisik Ellion" ucap Dewa Hermes dengan yakin.


Serentak, mereka semua mengangguk-angguk setuju tentang ucapan Hermes.


"Kalau boleh tahu, apa tujuan Ellion turun ke sini?" Tanya Nyra dengan penasaran.


Agni yang mendengar pertanyaan dari Nyra hanya diam. Padahal dia tahu pasti tentang jawaban Dewi Nyra.


Hermes menghela napas berat sekarang. "Itulah alasan kenapa kalian di panggil ke mari."


Mereka semua kembali fokus pada dewa Hermes.


"Aku ingin kalian yang berada disini berjanji dan bersumpah untuk tidak membocorkan apapun tentang apa yang akan kuberitahu hari ini. Apa kalian sanggup?"


"Sebelum kita bersumpah atau berjanji. Bagaimana jika kau menjelaskan atau memberi petunjuk tentang apa yang akan kita lakukan?" Ucap Ares dengan nada serius.


"Ares benar. Kita sama sekali tidak mengetahui apapun. Berikan kami sedikit petunjuk" ucap Nyra menyetujui ucapan Dewa Ares.


Agni hanya memperhatikan perdebatan mereka semua. Dia mengetahui sedikit tugas yang akan di sampaikan oleh dewa Hermes.


"Kalian benar, jadi ini merupakan pesan dari dewa Zeus sendiri..."


"...Kita, yang berada disini harus melindungi seseorang."


"Seseorang?" beo Dewi Bishamon.


Dewa Agni tersenyum tipis ketika mendengarnya.


"Ya seseorang" ucap Hermes. "Seseorang yang di mana jika kita lalai melindunginya akan membuat kehancuran bagi Egolas dan Bumi."


Nyra, Ares, dan Bishamon tercengang seketika. Di dalam pikiran mereka adalah, siapa yang memiliki kekuatan sebesar itu?


"Siapa dia?" Tanya Dewi Bishamon penasaran.


"Dia-"


"Dia hanyalah seorang manusia yang tak memiliki aliran sihir dan mana di dalam tubuhnya" ucap Agni dengan memotong ucapan Hermes.


"""Hahh...?!"""


Agni hanya tersenyum kecil. Mendengar tanggapan para teman-nya ini.


"Kamu... Kamu mengenalnya, Agni?" ucap Hermes tak ercaya.


Agni memberikan kekehan kecil pada Hermes. "Ya, dan aku berani bersumpah dan berjanji sekarang juga jika orang yang ku lindungi adalah dia."


Sekali lagi mereka yang ada di ruangan itu tercengang kaget.


Tak tahan lagi, Dewa Agni tertawa keras melihat ekspresi wajah mereka.


"Jangan memasang wajah aneh seperti itu. Aku berani berkata seperti itu karena dia adalah orang yang pantas kulindungi."


"Dan siapakan orang yang pantas kamu lindungi itu, Agni?" Tanya Ares.


Agni seketika memasang raut wajah sedih.


"Yahh... Bisa di bilang... Seorang teman?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°||


Author Note:


Hai, apa kabar?


Baik semuanya?


Semoga kalian semua baik-baik saja di tengah pandemi ini yah kawan-kawan.


Jadi di Author Note kali ini Author mau memberi tahu.


Bahwa Author ada buat cerita baru dan sudah saya terbitkan di mangatoon, maupun noveltoon.


Judulnya adalah


..."The Story of White Dragon"...



Masih 3 chapter, wkwkwkw.


Jangan lupa mampir yang ke novelku yang satunya.


Makasih ^___^


Salam manis


Raiyu