The Another Soul

The Another Soul
Ch. 23



"Eh, Orga? Apa yang kau lakukan disini?"


Fahrez bertanya pada orang itu. Sedangkan dia, Orga hanya meguap lebar.


"Aku sedang tidur."


"Bukan, bukan. Bukan maksudku itu. Tapi kenapa kau berada di dunia Nromu?"


"Tentu saja menunggu kalian. Aku merasa kalian bertiga akan pulang, jadi aku masuk ke dunia Nromu."


"Hanya itu?"


"Hanya itu. Kenapa kalian seperti tidak percaya padaku?"


"Yahh... Gayamu berubah setelah kita bertemu terakhir kali. Seingatku kau terus menyisir rambutmua, dan apa-apaan kacamata itu. Dan kenapa sekarang kamu agak berotot?"


Rakka meneliti gaya Orga satu persatu. Orga hanya menatap Rakka dengan tatapan kesal.


"Jangan bertingkah seperti seorang Ibu, Rakka."


"Hah? Apa maksudmu!"


Fahrez yang mendengarnya hanya tertawa kecil.


"Jadi, dimana tuan kecil kita. Aku tak melihatnya."


"Dia berada di kediaman Dewi Sanita."


"Hah? Dia disana?"


"Ya, apa ada masalah?"


"Seharusnya aku menunggu saja. Yasudahlah, ayo kembali."


"Kemana?"


Orga menatap Rakka dan Fahrez seperti orang bodoh. "Ya ke tempat Dewi Sanita."


"Oh, kalau begitu ayo kita berlari. Semakin cepat semakin baik."


Orga yang mendengar perkataan Fahrez, memutar bola matanya jengkel. "Kita pakai teleportasi. [Teleport]!"


""Eh?""


||°°°°°||


"Sanita, aku ingin tambah."


"Hah?"


Aku masih berada di dalam ruangan besar ini, bersama Sanita tentunya. Aku sudah menghabiskan dua piring dan aku masih lapar. Sepertinya Sanita kaget dengan nafsu makanku yang banyak.


"Tak kusangka, makanmu banyak juga yah."


Aku mengambil segelas air, kemudian meminumnya. "Mau bagaimana lagi. Katamu aku sudah tidak sadarkan diri selama dua hari. Belum lagi berbagai macam informasi yang ku terima. Aku jadi sangat lapar."


"Fifi."


"Ya, Nyonya."


Dalam sekejap Fifi sudah berada di samping Sanita. Aku tak tau hubungan apa Sanita dan Fifi ini.


"Anak ini ingin tambah lagi."


"Eh? B-baik Nyonya."


Fifi sepertinya bingung juga. Rasanya aku ingin tertawa melihat ekspresi Fifi. Selanjutnya Fifi kembali menghilang.


"Jadi, bagaimana dengan perjanjian yang aku ajukan?"


Sanita membahas yang tadi. Dia memberikan tiga perjanjian, dan aku boleh memilih salah satunya. Katanya tiga perjanjian ini berasal dari orang tuaku.


"Satu pertanyaan untukmu."


"Silahkan."


Aku terdiam, tapi aku perlu menanyakan ini. "Apa kedua orang tuaku masih hidup?"


"....."


Sanita tidak langsung menjawab. Karena tidak ada jawaban langsung, aku kembali memakan apel yang sempat tertunda tadi.


"Sergio, mereka bilang kau harus mencari tau-nya sendiri."


Aku tersenyum miring. "Sudah kuduga."


"Kau sudah menduganya?"


"Jawabanmu sama dengan kakekku. Apa orang tuaku ingin main petak umpet? Mereka benar-benar merepotkan anaknya."


"Eh?"


Sanita menatapku bingung.


"Aku menolak semua perjanjian itu."


"Eh? Ta-tapi-"


"Aku ingin mengajukan perjanjianku sendiri, bisa?"


Sanita tertegun. Mata ungunya menatapku dengan tatapan heran.


"Te-tentu saja bisa."


"Oke, kalau begitu. Aku berjanji akan menjadi temanmu selama aku hidup, dan jika kau berada dalam masalah aku akan membantumu sepenuh hati."


"Eh?"


Sanita menatapku terkejut. Bahkan dia hampir saja berdiri dari sofanya.


"N-nak, kamu tau apa yang baru saja kamu katakan."


"Aku tau."


"Aku ini seorang Dewi!"


"Ya, aku tau."


"Jadi karena aku seo-- eh? Kau tau?!"


Aku mengangguk. "Tentu saja aku tau. Entah kenapa mataku melihat ada sesuatu yang spesial di dalam dirimu. Dan tingkah laku Fifi yang semakin menguatkan dugaanku."


"Nak, kalau kamu tau kalau aku ini seorang Dewi, kenapa kamu masih mengajukan perjanjian itu?"


"Hmmm.... Karena.... Aku rasa kau membutuhkannya."


"Membutuhkannya? Kau tau, aku ini seorang Dewi. Aku bisa mendapatkan apa yang kumau."


"Tapi, tidak untuk seorang teman."


"....."


Sanita terdiam. Aku kembali melanjutkan. "Aku merasa kalau sebuah teman adalah yang kamu butuhkan sekarang. Bukankah kamu mengatakan kalau perjanjian harus menguntungkan kedua belah pihak?"


"Kamu benar tapi--"


"Kamu benar, tap--"


Aku mengangkat tanganku ke atas. Memberikan tanda untuknya berhenti. "Tak perlu dipikirkan terlalu keras. Kamu pasti ingin mengatakan kalau seorang dewi tak bisa berteman dengan manusia."


"...."


"Untuk Dewi lain, ya. Mereka tidak akan mau berteman dengan makhluk rendahan sepertiku."


"Sergio--"


"Tapi kamu berbeda. Aku bisa tau dari tatapanmu. Kamu itu dulunya seorang manusia, kan?"


Sanita terkesiap. "Ba-bagaimana kau bisa tau?"


Aku tersenyum miring. "Anggap saja insting."


Sanita yang mendengarnya kembali tertegun. Kemudian dia tertawa keras.


"HAHAHAHAHA....Tak kusangka, anak Ellion seperti ini."


Aku tersenyum mendengar dia tertawa. "Jadi, kau setuju atau tidak?"


Setelah puas tertawa, Sanita menatapku. Kemudian dia berdiri dan berjalan menghampiriku. Aku berdiri, karena dia sepertinya ingin melakukan sesuatu.


"Nak, tidak. Sergio, kau yakin mengajukan perjanjian ini?"


Aku mengangguk mantap.


"Walau mungkin saja nanti aku akan mengkhianatimu?"


Aku mengangguk lagi.


"Tak mungkin kau akan mengkhianatiku."


"Kau benar."


Sanita terkekeh pelan di hadapanku.


"Baiklah, aku menyetujui perjanjian ini. Kuharap kau maupun aku tidak akan mengingkari janji yang sudah kita buat."


Aku mengangguk. "Tidak akan mengingkari-nya."


"Tidak akan pernah."


Sanita menyentuh keningku dengan jari telunjuknya. Dari ujung jari telunjuknya itu keluar cahaya kecil bewarna biru muda. Untuk sesaat aku merasa tenang, tubuhku juga merasa bertenaga.


"Sudah."


Sanita menarik jari telunjuknya. Dia mundur beberapa langkah, dan tiba-tiba saja dia mencium keningku.


Aku yang menerimanya langsung saja terkejut. Aku langsung mundur ke belakang, tapi sialnya dibelakangku ada kursi yang kupakai. Jadinya aku jatuh terjerembab.


"Auww...."


"Hahahaha.... Itulah karma-mu."


Sanita tertawa melihatku terjatuh. Aku kembali berdiri dan menatapnya kesal.


"Senang? Tapi tak apa. Suara tawamu indah."


Wajah Sanita memerah setelah mendengarku.


"Oke, kita sama."


Aku menertawakan tingkah Sanita. Dia yang mendengar suara tawaku hanya menggembungkan pipinya. Dan kalian tau, itu terlihat manis.


"Hmph...! Pergi dari sini dan mandilah. Kau sangat bau."


"Eh?"


Aku mencium badanku. Dan memang benar, ada aroma tidak sedap. Aku meringis pelan.


"Kau benar, aku belum mandi dari dua hari yang lalu. Terima kasih sudah mengingatkan, temanku yang baik."


Wajah Sanita kembali memerah. "Sekali lagi kau menggodaku, akan ku tendang kau keluar."


Aku tertawa kecil. "Kalau begitu aku pergi mandi. Katakan pada Fifi, taruh saja makanannya di sini. Aku akan kembali lagi."


"Kau akan kembali?"


"Tentu saja. Aku takut temanku ini akan kesepian tanpa diriku."


Sanita menatapku jengkel. Kemudian dia menjetikkan jarinya, dan dalam sekejap aku sudah berpindah ruangan.


Sekarang, aku berada di dalam kamar yang ku tempati.


Sanita sepertinya sudah sangat kesal padaku.


Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku keluar dari kamar itu, kemudian aku menarik nafas setelah itu aku berteriak.


"SANITA... TUNGGU AKU, YAH...!!"


Tidak ada jawaban. Tapi aku mendengar ada suara kaca yang pecah. Tempat ini sunyi, jadi aku bisa saja mendengar suara sekecil apapun.


"Hehehe.... Mira, aku baru saja membuat pertemanan."


Aku menatap bulan, dan akhirnya kembali masuk ke kamarku.


Dunia ini cukup menyenangkan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°||