The Another Soul

The Another Soul
Ch. 15



"Berapa lama dia bisa bertahan?"


"Hmmm.... Tiga jam?"


"Richard, kenapa bisa begini. Aku memang tidak menyuruhmu untuk membunuhnya, tapi kalau begini terus dia bisa mati."


Richard, lelaki yang telah menculik Sergio saat ini dia sedang berada di ujung ruangan. Dia sedang berbicara dengan klien yang telah menyewanya.


"Dia tidak akan mati."


Richard memandangi Sergio yang saat ini menggigil kedinginan.


"Kamu yakin sekali."


Richard tersenyum miring mendengarnya.


"Anggap saja, insting sesama monster."


||°°°°°°||


Ini buruk.


Sangat buruk.


Selama ini aku tinggal di daerah tropis, dan tiba-tiba saja aku pergi ke kutub utara. Tubuhku tidak dapat menyesuaikan suhu dingin di sini.


Kalau aku yang biasanya, aku akan menganggap penculikan ini sebagai liburan.


Hahaha... Teruslah berkhayal, Sergio.


Saat ini keadaanku buruk. Aku kedinginan. Tubuhku menggigil, aku bahkan tak bisa merasakan jari-jari tanganku dan jari kakiku.


Nafasku juga sesak. Aku merasa nafasku dingin, luka-luka bekas pukulan pak tua tadi juga memperburuk keadaan.


Aku merasa, akan mati hari ini.


Halo malaikat maut, aku datang.


Ya tentu saja tidak!


'Takkan Semudah ini aku mati.'


Tentu saja tidak. Aku tidak akan mati hari ini. Pasti Fahrez dan Rakka akan datang. Aku yakin.


Karena jiwa itu, masih ada di dalam diriku. Mereka tidak mungkin mengabaikan aku. Seandainya aku bisa berbicara pada jiwa lain ini, semua akan menjadi lebih mudah.


'Kau bilang ingin bicara padaku.'


Eh?


'Jangan hanya bilang 'Eh?' ini aku. Jiwa lain yang ada di dalam dirimu.'


"HEHHHH....?!"


Tanpa sengaja aku berteriak keras.


"Ada apa tuan muda. Apa kamu menyerah?"


Aku merasa pak tua itu sekarang berada di hadapanku. Dia pasti kaget karena mendengarku berteriak di saat aku kedinginan.


'Kau ingin kekuatan?'


Aku ingin, tapi sepertinya tak bisa.


'Kenapa?'


Karena aku tak tau siapa kau.


'......'


Hm? Dia diam? Aneh, sebentar muncul sebentar hilang.


"Tuan muda, diam mu itu membuatku takut."


"Aku.. Hahh... Tidak akan... Hahh.... Mati. Pak tua."


Aku berkata dengan nafasku yang sesak.


"Oh, masih bisa bicara."


BUAKHH...!


Pukulan. Aku menerima satu pukulan di bagian dada. Dia tidak main-main, pukulannya sangat keras. Seperti dia ingin membunuhku.


"Uhukk... Uhuk...! Kau.... Terlalu...-"


"Terlalu apa? Terlalu jahat?"


PANGG...!


Pak tua ini. Gila!


Dia menghantam kepalaku ke tiang yang mengikatku. Sepertinya, tiang ini terbuat dari besi. Aku merasa kepalaku mau pecah, dan ada cairan hangat yang terus saja mengalir.


'Kamu yakin tak ingin kekuatan?'


Ahh... Aku ingin tidur.


'Hei! Jangan tidur! Aku tak mau kamu mati.'


Siapa juga yang ingin mati.


'Kalau begitu kamu ingin kekuatan?'


Tidak.


'Kenapa!'


Dia sepertinya marah.


"Karena... Aku percaya... Mereka..."


Aku berbisik pada diriku sendiri. Bahwa aku percaya pada mereka. Pada Fahrez dan Rakka.


'....'


Dia tidak menjawabku lagi. Sepertinya dia marah. Baguslah, aku tidak mendengar dia lagi. Jiwa yang berada di dalam diriku ini, cerewet.


"Haahh? Mereka?"


Pak tua itu sepertinya mendengar perkataanku tadi. Walaupun suaraku pelan, tapi dia tetap mendengarnya.


"Richard. Cukup."


"Hmph!"


Pak tua itu sepertinya kesal.


"Buka penutup matanya."


Perintah oleh orang asing itu langsung di lakukan oleh seseorang yang tidak kuketahui. Dia membukanya, aku menyesuaikan mataku dengan cahaya sekitar. Pertama masih kabur, aku tak bisa melihat dengan jelas.


"Halo Sergio."


Pandanganku mulai jelas, dan yang pertama kali kulihat adalah.


"Pak Jevan?"


||°°°°°||


"Kamu siap?"


"Siap."


Fahrez dan Rakka. Mereka saat ini sedang berada di halaman belakang rumah Sergio. Di bawah kaki Fahrez terdalat lingkaran rune besar bewarna hijau terang.


"Rakka, jangan biarkan Sergio terluka."


"Fahrez, kamu tenang saja."


Fahrez mengangguk. "Aku bisa tenang sekarang."


Rakka mendengus mendengarnya. "Seperti bukan dirimu saja. Tugasmu sekarang hanya memusnahkan musuh yang berada di depan pintu gerbang. Bunuh mereka semua."


"Ya, itu tugasku. Rakka!"


"Oke! [Teleport]!"


Dalam sekejap, Fahrez sudah menghilang dari hadapan Rakka. Yang tersisa hanya Rakka yang saat ini membawa tas besar di punggungnya. Dia memakai jaket tebal, rambutnya dia ikat ekor kuda.


"Sergio, bertahanlah."


Sama seperti Fahrez sebelumnya. Rakka menghilang dari halaman belakang rumah.


Bisakah Sergio bertahan?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°||