The Another Soul

The Another Soul
Ch. 54 [Perkenalan]



"Disini ruang guru, itu kantin, dan disana ruang praktek..."


Aku terus mendengarkan penjelasan Galeon tentang tempat-tempat yang di tunjuknya.


"Ahh... Ya, ngomong-ngomong apa Class mu?"


"Class?"


Galeon menatapku bingung, "Apa kau tidak diberitahu oleh pelayan tersayangmu itu?"


"Umm... Seingatku tidak."


Galeon menghela nafas kasar. "Dasar tak berguna."


"Oke, jadi setiap murid disini memiliki Class masing-masing. Contoh diriku. Aku seorang Mage, sama seperti pelayanmu itu."


"Err... Yang mana?"


Galeon menepuk jidatnya, "Zoe. Zoe seorang Mage, Fahrez Beast, dan Orga Lancer. Paham?"


"Hah?"


"Oh maafkan diriku, manusia biasa."


Rasanya aku ingin menggeplak kepalanya.


"Jadi, ada beberapa Class. Yaitu Mage, Beast, Saber, Healer, Summoner, Berserker, Lancer, Assasin, Archer, Necromancer, dan Chroma."


Untuk sesaat aku merasa seperti memasuki dunia game.


"Masing-masing Class berguna untuk setiap pertempuran. Seperti Beast yang memiliki kekuatan fisik yang besar, dan Mage yang memiliki kekuatan sihir yang lebih banyak dari yang lain. Dan Class Summoner yang langka, Pertahanan tinggi Berserker. Kecepatan serangan Assasin, Memiliki berbagai macam teknik dan serangan Saber, Serangan satu arah terkuat Lancer, Akurasi yang tepat oleh Archer, dan Healer yang bertugas di garis belakang untuk menyembuhkan." jelas Galeon panjang lebar.


Aku benar-benar berada di dunia game!


Tapi, sepertinya Galeon lupa akan satu Class lain.


"Class Chroma. Apa itu?"


Galeon tersenyum tipis. "Untuk Chroma, Class ini merupakan Class spesial dari yang lainnya."


"Apa yang membuat Class ini spesial?" Tanyaku dengan penasaran.


"Yahh... Class Chroma adalah Class yang memiliki dua atau lebih Class lain."


"Hoohh... Apa di sekolah ini ada yang memiliki Class Chroma?"


"Ada, dan kusarankan kau harus menghindari mereka."


Aku menaikkan alis kananku, heran dengan Galeon yang memberikanku saran untuk menjauh dari 'mereka'.


"Kenapa aku harus menjauhi mereka?"


Galeon menatapku dengan tatapan malas, "Mereka adalah para Ium muda. Calon pelayan Dewa selanjutnya."


"Ium, kah?" gumamku.


Aku sudah mengerti tentang tugas para Ium. Mereka bertugas untuk menjaga para Dewa Dewi yang turun ke dunia Egolas dengan kekuatan yang di segel oleh perjanjian yang sudah di setujui.


Sebagai gantinya, para Dewa dan Dewi memberikan berkah pada manusia yang mereka pilih. Dan mereka disebut sebagai Ium.


Tapi, apa hubungan mereka dengan aku yang harus menjauhi mereka.


Hmm... Nanti saja kutanyakan pada Rakka di rumah.


Dan pada akhirnya sampailah pada satu kesimpulan untuk diriku. Akupun menunjuk diriku sendiri, "Jadi.... Class ku apa?"


Galeon menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Hmmm... Elemen mu es jadi kamu.... Hmm.... Bagaimana jika Class mu Mage?"


"Mage?"


"Ya, cocok dengan elemen es mu."


Aku berpikir sejenak. Aku tak terlalu bisa sihir dan juga elemen sihir ini hanyalah pinjaman dari Kaeiru.


"Bagaiman jika Saber?"


"Kau ingin Saber?"


"Yahh... Aku memiliki kekuatan fisik sih, dan juga aku merasa bisa menggunakan pedang."


Galeon kembali berpikir, "Aku tak melihat bagaimana kau menggunakan pedang. Ingin mencobanya terlebih dahulu sebelum masuk kelas?"


"Apa tidak akan telat?"


"Yahh... Tidak, tapi sebelum itu akan ku tunjukkan kelasmu dimana."


Aku mengangguk.


Aku melirik pada beberapa siswa disini.


Benar-benar berbeda dengan siswa di tempatku sebelumnya.


"Jadi di sini kelasmu, tuan muda."


"Berhenti memanggilku tuan muda."


"Ohh... Kupikir aku harus memanggilmu seperti itu."


"Ck, kau menyebalkan."


"Tidak semenyebalkan para penjagamu itu."


Aku menggerutu kesal pada Elf menyebalkan ini.


"Hei Atra, apa kau mendengarkanku?"


Aku menoleh ke arah kiri, dan aku nelihat seorang gadis yang sepertinya pernah kulihat.


Tapi dimana?


Aku mencoba mengingat-ingat kembali, kemudian aku mengingatnya.


Gadis yang kutolong hari itu.


Karena aku kenal dengan dirinya, jadi aku menyapa gadis yang tak kuketahui namanya itu.


"Hai...."


"Kau.... Sergio, kan?"


Hohh... Gadis ini mengingat namaku. Aku tersanjung.


"Ya" jawabku singkat.


Dia menatapku dalam diam, tapi itu hanyalah sebentar sebelum dia maju beberapa langkah dan tiba-tiba saja gadis itu membungkuk.


"Terimakasih telah menolongku saat itu!" ucapnya dengan nada tinggi.


Aku menggaruk belakang kepalaku yang tak gatal. "Yahh.. Sama-sama" jawabku sekenanya.


"Hei Atra, kau mengenalnya?"


Aku mengalihkan pandanganku pada gadis satunya. Gadis yang memiliki rambut bewarna langit malam, dan mata kuning-nya yang menatap penasaran pada diriku.


"Oh, Hai, namaku Sergio Vandelhein. Murid baru disini" ucapku sambil mengajak gadis itu untuk bersalaman tangan.


Gadis itu, menatapku dengan tatapan menyelidik. Sampai pada akhirnya dia menerima salaman tanganku. "Deiva. Deiva Rekka Fafri, salam kenal Sergio."


Aku tersenyum tipis pada Deiva. Kemudian aku kembali menatap gadis yang satunya, "Ngomong-ngomong, aku tak tahu namamu."


Gadis itu tersentak kaget, "Uhh... Umm... Namaku Atra. Atra Rykolius, salam kenal Sergio."


Gadis pemalu dan lembut, tapi aku tahu gadis ini kuat.


"Nahh... Disini ada Deiva dan Atra. Seorang Saber dan Archer. Oke, kalian berdua bisa ikut dengan saya?"


"Eh? Tapi sebentar lagi masuk kelas pak" ucap Deiva yang sepertinya berniat menolak ajakan dari Galeon.


"Kau lupa yah. Jam pertama di kelasmu kan pelajaran saya" ucap Galeon.


"Eh? Benarkah?" Tanya Deiva sambil menoleh ke arah Atra.


Atra terkekeh melihat Deiva yang seperti orang kebingungan. "Iya, jam pertama pelajarannya pak Galeon."


"Arrgghh... Kenapa harus dia!" tunjuk Deiva pada Galeon.


PLETAKK...


"Jaga ucapanmu, nona muda" ucap Galeon yang dengan senang hati menjitak kening Deiva.


Deiva memanyunkan bibirnya "Cihh... Dasar elf menyebalkan."


Wahh... Ternyata ada yang sepemikiran denganku. Aku senang sekali mendengarnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


CKLAKK...


"Jadi Sergio, disini adalah ruang latihan. Kau bebas berlatih disini," ucap Galeon yang membuka pintu berukuran besar dan memiliki lukisan-lukisan rumit.


Aku terpana. Yah terpana dengan apa yang ada di dalam ruangan ini.


"Woahh... Apa aku boleh menggunakan semua ini?" Tanyaku sambil menunjuk jejeran senjata yang tersusun rapi di dalam lemari.


Semuanya ada disini. Dari pedang, Tombak, panah, belati, perisai, cambuk, bahkan senjata modern juga ada! Seperti pistol dan apa itu? Apa itu light saber?!


Aku bisa menirukan gerakan seperti di film Star wars!


"Sergio, hentikan air liurmu yang terus menetes itu" ucap Galeon.


Dengan cepat aku mengelap air liur, dan setelah beberapa saat aku baru menyadarinya.


"Elf sialan."


Galeon membohongiku.


Galeon pun tertawa "Habisnya, tatapanmu itu seperti orang yang melihat makanan enak."


"Ohh ayolah Galeon, aku merasa seperti berada di dunia fantasi yang sangat menyenangkan!"


Galeon terkekeh, "Aku lupa kalau kau adalah manusia biasa."


Akupun tertawa sarkas pada elf sialan itu, "HA....HA...Hahaha..... Bisa berhenti memanggilku manusia biasa, elf?"


"Ups... Maaf manusia biasa."


Tarik nafas Sergio, tarik nafas yang banyak. HUMMPP......PWAHH...


Oke, aku sudah menenangkan diriku untuk tidak mencakar wajah menyebalkan dari elf sialan ini.


"Jadi, untuk apa kita kesini? Pak Galeon?" Tanya Deiva.


"Ahh... Sergio kan murid baru. Dia ingin mencari Class apa yang cocok dengan dirinya" jelas Galeon.


Deiva mengangguk-angguk paham. "Jadi, apa keahliannya? Biar kutebak..."


Deiva memandangiku dari atas hingga bawah, "Hmm... Tubuhmu terlalu kurus untuk menjadi Beast atau Berserker, dan tanganmu? Tidak memiliki otot yang bisa menahan sebuah tombak atau pedang atau menarik busur untuk menjadi Archer. Seorang Mage? Hmm... Bisa jadi, cuman dia terlihat sangat biasa untuk menjadi seorang Mage. Summoner? Tak mungkin, seorang Healer juga tak mungkin. Bagaimana jika Assasin? Ahh... Tidak, suara langkahnya terlalu keras, dia tidak cocok sebagai Assasin."


Woahh... Gadis ini.


BENAR SEKALI....


Yak benar, aku merasa apa yang dikatakannya benar, tapi cukup menyakitkan juga mendengar ucapan dia yang dimana aku tidak cocok dalam Class apapun.


Rasa kayak ada yang Jlebb... Jlebb... Gitu.


Menyedihkan.


Menyedihkan sekali dirimu Sergio.


"Pfftt... Kekekek...."


Yayayaya, Galeon, jika ingin tertawa cepat lakukan. Jangan menahannya seperti itu.


"Deiva, bagaimana jika kita mencobanya satu-persatu?" celetuk Atra.


"Hmm... Yahh, bisa juga dilakukan seerti itu."


Atra tersenyum lega mendengar ucapan Deiva. Apa aku tak salah liat? Gadis itu-- Atra, dia berniat membantuku, kan?


Iya, kan?


Katakanlah iya untuk mengobati hatiku yang Jlebb... Jlebb... Ini.


"Ekhemm... Jadi, untuk Deiva dan Sergio. Silahkan pilih senjata yang paling menguntungkan untuk kalian" ucap Galeon.


"Baik!"


Deiva dengan sigap berjalan ke arah rak dimana Pedang-pedang yang tersusun rapi.


Ada berbagai macam pedang, dan aku melihat gadis itu mengambil sebuah pedang anggar.


Pedang anggar, kah?


Pedang anggar itu fleksibel tapi tajam. Serangannya pun tidak hanya lurus saja, tapi bisa ke arah kanan atau kiri dikarenakan kefleksibelan-nya.


Jadi, apa yang akan kugunakan?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°°||