The Another Soul

The Another Soul
Ch. 78 [Kebersamaan]



"Aku tidak memiliki nama."


Apa?


"Kau.... Tidak memiliki nama?" Tanya Sergio memastikan.


Orang yang di hadapannya ini mengangguk "Ironi bukan?"


Sergio menggeleng pelan "Tidak. Lalu biasanya kau dipanggil apa?"


Dengan polosnya orang itu berkata "Tidak tahu."


"Hah?"


Ia menghela nafas kasar "Aku tak tahu karena belum ada orang yang memanggilku."


"Kau bercanda!"


Dengan tatapan malas, ia menatap Sergio yang menatap dirinya dengan tatapan terkejut. "Aku serius."


Bahkan aku tak mengingat apapun, batinnya dengan sebuah senyuman sedih.


Tidak memiliki nama dan hanya dia sendiri di hutan ini. Sergio tak bisa membayangkannya.


Kemudian Sergio mengingat satu hal. Sergio menatap orang itu dengan serius "Apa kamu yang memperhatikan kita bertiga sejak aku memasuki hutan ini?"


Orang itu terkekeh "Sudah kuduga kalian bisa merasakannya."


Ia mengakuinya, pikir Sergio.


Jika dia mengakuinya. Berarti hanya tinggal satu orang yang memperhatikan dirinya dengan serius. Bahkan Sergio masih bisa merasakannya sekarang.


"Baiklah. Kau telah mengakuinya. Sekarang, ada yang lebih penting lagi."


"Hm? Apa itu?"


Sergio memegang perutnya "Aku lapar."


"Eh?"


.


.


.


.


.


.


"Hahhh... Cukup melelahkan!"


Sergio berbaring di atas rerumputan dengan perasaan lelah. Saat ini dirinya berada di pinggir sungai, dan pada tangan kirinya terdapat tiga ekor ikan yang ia dapatkan susah payah.


Susah karena tangan kanan-nya masihlah belum bisa bergerak. Sebenarnya hanya bagian siku hingga jari-jemari Sergio tak bisa menggerakkannya.


"Hmm... Hanya tiga saja."


Sergio mendengarkan nada ejekan dari teman barunya ini.


Oh ya. Karena Sergio bingung ingin memanggil siapa, pada akhirnya Sergio menentukan sebuah nama panggilan untuk orang yang baru ia kenal.


Yaitu, Val.


Val, hanya tiga huruf. Mudah diingat dan mudah di katakan.


Tentu saja si teman baru Sergio ini mengiyakan. Ia tak keberatan, yang penting dirinya mengiyakan daripada orang asing yang dirinya baru temui dalam satu hari ini bingung.


"Ini usaha kerja kerasku!" Sergio mengucapkannya dengan nada bangga.


Val tersenyum mengejek. Ia mengangkat tangan kirinya. Terlihatlah sekumpulan Ikan yang bergerak-gerak. Jika dihitung-hitung mungkin ada 10 ekor ikan.


Melihat hal itu, Sergio menjadi kesal.


"Baiklah tuan sombong. Aku kalah."


Val mengerutkan keningnya, "Kita tidak pernah bertaruh."


"Memang tidak. Tapi di dalam lubuk hatiku yang terdalam-- aku merasa kalah."


Tak tahan untuk menatap Sergio dengan perasaan kebingungan, Val menatap aneh Sergio. "Apa ada orang yang mengatakan bahwa kau terlalu berlebihan, huh?"


Bagus, ia menganggapmu aneh. Entah pencapaian yag baik atau buruk, batin Sergio dengan kekehan menyedihkan.


Sergio bangkit berdiri dari berbaringnya. Ia membersihkan kemeja kotak-kotak miliknya dari pasir "Kau orang pertama yang mengatakan hal itu."


"Oh, aku tersanjung."


"Uhm. Baguslah jika kau tersanjung, nahh... Karena kau sudah tersanjung, lebih baik buatkan kita api dan mulai memasak. Perutku sudah berbunyi" Sergio menepuk perutnya beberapa kali.


Val mulai mendapatkan fakta baru. Bukan hanya orang yang ada di hadapannya ini adalah orang yang berlebihan, tapi juga orang yang dimana urat malu-nya sudah putus.


Tapi, ketika ia melihat tangan kanan Sergio, ia berusaha untuk memakluminya.


Kurang baik apalagi si Val ini.


"Tunggu sebentar."


Sergio mengangguk senang. Ia kembali duduk di atas rerumputan dengan pandangan yang mengarah pada aliran sungai yang tenang. Bahkan dirinya bisa melihat beberapa ekor ikan karena jernihnya air.


Terlalu tenang, pikir Sergio.


Menurutnya ketenangan ini sangatlah aneh. Dari apa yang dirinya dengar, hutan Silvam terkenal dengan monster buasnya.


Tapi ini?


"Apa kau berpikir bahwa disini terlalu tenang?"


Menoleh dengan cepat, Sergio menatap Val yang tengah sibuk membuat tumpukan dari ranting kayu yang berjatuhan. Setelahnya Val menggesekkan kedua batu beberapa kali hingga terciptalah api yang membakar ranting.


"Bagaimana bisa kau tahu isi pikiranku?"


Ya, bagaimana bisa aku tahu? Pikir Val yang juga bingung.


"Dari wajahmu berkata seperti itu" Val berkata bohong.


Sergio terkekeh "Apa ketika melamun kau mengeluarkan ekspresi, huh?"


"Err... Tidak?" ucap Val ragu.


Sergio berdiri, ia mendekati api unggun kecil yang terasa hangat. "Itu benar. Jadi tak mungkin kau mengetahui isi pikiranku hanya lewat ekspresi wajah." kemudian Sergio duduk sambil memberikan ketiga ikan miliknya pada Val.


Wajah Val seakan berkata 'Apa ini?'


Sergio berdecih, "Cih. Aku tak bisa menusukkan ikanku pada kayu. Itu saja kau tak mengerti."


"Kau hanya tinggal minta tolong. Apa sulitnya?" walau berkata seperti itu. Val menerima ikan milik Sergio dan mulai menusukkan ke kayu yang ujungnya terlihat runcing.


"Aku ingin bertanya selagi menunggu ikan kita masak."


"Apa maksudmu bahwa tanganku menyerap energi yang bukan dari dunia ini?"


Val menghela nafas lelah. "Apa tidak ada pertanyaan lain."


"Maaf, tapi rasa penasaranku hanya tentang itu saja" ucap Sergio tanpa rasa penyesalan dari ucapannya.


Baiklah, Val menyerah. "Apa kau tahu bahwa di setiap benua hanya memiliki satu energi."


Sergio menggeleng. Ia baru mendengarnya hari ini.


"Sebagai contoh, benua Fina yang kita tempati ini. Benua ini hanya memiliki satu energi. Yaitu sihir. Tentu saja penduduk yang tinggal di benua ini hanya bisa menggunakan energi sihir."


Sergio terkejut. Jika yang dikatakan Val benar, itu berarti aku... Orang benua Fina?


Sergio menggeleng dengan keras, menolak pemikiran yangterlalu ambigu baginya.


Sepertinya ia perlu menanyakan hal ini pada Rakka, Orga, atau pun Fahrez.


Ngomong-ngomong tentang mereka bertiga. Sergio merasa bahwa mereka bertiga tidak mencarinya.


Lihat, hingga siang hari ia tidak mebemukan tanda-tanda ketiga pelayan somplak itu muncul.


Apa mereka mati ya? Batin Sergio.


Pemikiran yang sangat bagus. Jika Orga mendengar apa isi pemikiran Sergio, sudah dipastikan Sergio akan menjalani latihan neraka sekali lagi.


Ketiga pelayan berbeda ras mati dengan mudah hanya karena keroco-keroco yang di sebut monster?


Suatu hal yang sangat lucu. Mereka bertiga adalah monster sebenarnya.


"Sekarang aku yang bertanya."


Sergio kembali ke dunia nyata. Ia menatap Val dengan serius.


"Apa kau mengenalku?"


"Huh?"


Mengenal Val? Jujur saja Sergio baru saja bangun di pagi hari dan baru melihat waj- tunggu.


Sergio memperhatikan setiap inchi wajah Val. Rambut, mata, rahang, dan hidung semuanya Sergio perhatikan.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Val bergidik ngeri melihat tatapan Sergio hang terlihat seperti ingin memakannya.


"Tidak, aku hanya merasa pernah melihatmu. Tapi aku lupa."


Val membeku, Pernah melihatku?


Val tertawa "Kau bohong."


"Ya."


Val merasa kecewa mendengarnya. Sebelumnya ia merasa melihat suatu harapan dari respon Sergio.


"Bisa Ya, bisa juga tidak. Kan sudah kubilang aku lupa" jelas Sergio.


Perempatan siku-siku muncul pada kening Val. Ia merasa kesal hanya dengan ucapan Sergio yang terasa enteng.


"Baiklah, aku lagi yang bertanya."


Val mendengus. Dirinya mulai menyusun ikan-ikan itu di dekat api unggun agar masak dan bisa di makan.


"Apa kau tahu darimana asal energi yang mendiami tangan kananku ini?"


Val melirik tangan kanan Sergio "Ya. Aku tahu."


Seketika rasa penasaran memenuhi hatinya. Ia sungguh merasa penasaran.


"Kalau begitu?"


Val masihlah menatap tangan kanan Sergio yang terdiam lunglai. Kemudian netra coklat terang itu menatap Sergio tepat pada mata hitam itu.


"Aku tak yakin tapi..."


"Apa?"


".... Pedangmu berasal dari tiga energi berbeda. Dan aku pun juga tidak mengerti."


"Hmm? Bagaimana bisa?"


"Karena pedangmu berasal dari Energi dari dunia Manusia, Dunia atas, dan bawah."


Sergio terkejut. "A-apa? Dunia bawah? Dunia Atas?"


Val memutar kedua bola matanya, jengah. "Lebih mudahnya" Val menunjuk ke atas dengan jari telunjuknya "Surga dan..." Val menunjuk ke bawah "Neraka. Paham?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°||


1. 159 kata