
"""SERGIO!!!"""
Mereka bertiga langsung berlari. Menaiki tangga, kemudian sampailah mereka di depan kamar Sergio.
"Astaga, bagaimana bisa seperti ini" ucap Fahrez.
Pintu kamar Sergio membeku. Aura dinginnya membuat mereka menggigil.
"Orga, kau lelehkan" ucap Rakka.
"Untuk apa cara seperti itu. Tinggal dobrak saja!"
"Eh?! Jangan! Tunggu dulu! Or-"
BRAKK...
Terlambat. Kata-kata Rakka tidak Orga dengarkan. Orga menendang pintu kamar Sergio. Pintu yang diselimuti oleh es beku itu hancur, ini membuktikan bahwa kekuatan Orga tidak main-main.
"Tunggu dulu bisa tidak sih!"
Rakka berucap kesal.
"Rakka, tidak ada waktu. Ayo masuk."
Orga masuk ke dalam kamar, diikuti Fahrez dan Rakka.
"Woaah...sepertinya rumah ini butuh perbaikan lagi" ucap Fahrez.
Di dalam kamar Sergio, terdapat stalagmit es tajam yang ada di atas maupun dibawah. Suhu di dalam kamar Sergio tidak main-main. Di kamar suhunya lebih dingin. Melihat hal itu, Orga berinisiatif dengan menyalakan api di tangannya.
"Apa yang dilakukan Sergio?"
Yang terlihat sekarang adalah Sergio berada di pinggir kasurnya. Kedua tangannya menyatu dan kepalanya sedikit menunduk. Matanya tepejam, terlihat sangat tenang.
Fahrez berjalan pelan, dia ingin menyentuh pundak Sergio. Tapi Rakka memukul tangan Fahrez.
"Aww...kenapa lagi?"
"Jangan menyentuhnya."
"Kenapa?"
"Fahrez, apa kau tidak sadar. Sergio sekarang sedang dalam keadaan Self Freezing. Jangan mengganggu" ucap Orga.
"Eh? Bukankah itu berarti..."
"Tidak. Sergio tidak mati. Sepertinya dia sedang berbicara pada jiwa kedua itu" ucap Rakka.
Self Freezing adalah dimana tubuh berada di antara mati atau hidup. Biasanya Self Freezing terjadi karena kehabisan mana atau terluka parah. Kegunaan self freezing untuk melindungi tubuh yang mengalami dua hal itu. Jadi sama saja orang itu mengalami mati suri.
"Bukankah Sergio tidak memiliki mana?" ucap Orga.
"Sergio memang tidak memiliki energi mana. Tapi, kenapa dia bisa menjadi self freezing?" Tanya Fahrez pada Rakka.
Orga dan Fahrez menatap ke arah Rakka yang sedang berpikir serius. Rakka saat ini menyentuh dagunya, sesekali dia mengetuk dagunya. Rakka melihat ke arah Sergio dengan serius.
"Bagaimana kalau...sebenarnya Sergio memiliki mana, tapi kekuatan itu di..."
"Uhukk...uhukkk..."
"Sergio!"
Rakka tidak melanjutkan kembali perkataannya. Dia langsung menghampiri Sergio yang tiba-tiba saja terbatuk.
"Uhuukk.... Kenapa disini jadi sangat dingin. Eh? Rakka, Fahrez, dan ada Orga juga. Apa yang kali--Uhukk...!"
Kali ini, Sergio batuk dan darah menyertai batuknya. Melihat hal ini, mereka bertiga menjadi panik.
"Sergio! Sergio! Kau tidak apa-apa?" Ucap Orga.
"Astaga! Kenapa bisa seperti ini" ucap Fahrez.
"Sergio, kamu baik-baik saja?"
Berbeda dengan Fahrez dan Orga. Rakka terlihat tenang. Dia memegang bahu Sergio.
Sergio mengangguk pelan. "Ya. Aku baik. Tapi entah kenapa aku merasa mengantuk."
"Darimananya kau terlihat baik!" ucap Fahrez.
"Hahaha...aku baik Fahrez. Ini hanya..."
Brukk...
Sergio hampir saja jatuh ke depan. Tapi Orga menahan tubuh Sergio. Dia memegang kedua bahu Sergio.
"Hei, Sergio kau yakin baik-baik saja?" tanya Orga.
"Aku...baik...aku...mau...tidur..."
"Hei! Sergio!" Orga menggoncang tubuh Sergio. Tapi tidak ada jawaban darinya.
"Dia sudah tidur" ucap Fahrez.
Orga berhenti menggoncang tubuh Sergio. Dia melirik ke bahunya, dimana kepala Sergio bersender.
"Astaga, bocah ini. Kenapa dia selalu membuat semua orang khawatir."
"Sepertinya....keadaan Sergio terlalu membahayakan dirinya."
Rakka yang sedari tadi terdiam, berucap sambil menatap Fahrez dan Orga.
"Nanti saja kita bahas. Sekarang, kita harus pindahkan Sergio. Apa kau ingin Sergio mengalami Hipotermia lagi."
"Kamu benar. Tidurkan saja dia dia sofa ruang tamu. Kita akan membahasnya juga di sana" ucap Rakka.
"Fahrez, kau yang bawa."
"Eh? Kok aku?" ucap Fahrez sambil menunjuk dirinya.
"Aku sudah tadi malam. Selanjutnya dirimu. Lagipula aku lelah sehabis menendang pintu."
"Alasan!"
"Mau kau lakukan atau tidak. Saat ini rasanya kakiku memar."
"Bohong. Tak mungkin orang sepertimu mengalami memar."
Orga memutar bola matanya jengah. "Leviathan, aku berkata jujur."
Fahrez terkesiap. Dia menatap Orga, tapi yang dilihatnya adalah sebuah tatapan serius. Fahrez menghela napas. "Oke, oke, Jauh kau."
Orga menjauh. Fahrez mengambil alih Sergio. Dia menggendongnya di bahu. Seperti karung beras.
"Kenapa kau menggendongnya seperti itu."
"Tanganku membeku. Kalau tak percaya lihat saja."
Fahrez memperlihatkan tangan kirinya. Tangan kirinya terlihat memutih dan kaku. Dan ada serpihan es yang terlihat sedikit.
"Ini... Bukankah itu berarti es ini tidak biasa."
Orga dan Fahrez saling melirik. Mereka berdua kemudian melihat ke arah Sergio.
Entah kenapa, tiba-tiba saja mereka berdua tertawa keras.
"Hahahaha.... Tak mungkin Sergio bisa menciptakan es legendaris itu."
"Kamu benar Fahrez. Hanya Orang-orang yang sudah meminum darahnya, baru bisa memiliki elemen es murni seperti ini."
"Ahahahaha...."
"Hahahaha...."
Krakk...
Suara tawa mereka langsung berhenti. Mereka berdua melihat ke arah stalagmit es yang tercipta. Stalagmit itu ada yang memanjang atau membesar dengan sendirinya. Belum lagi suhu yang ada di dalam kamar Sergio menjadi semakin dingin.
Fahrez menelan ludahnya. Tiba-tiba saja dia merasa gugup. Orga juga begitu.
"Bagaimana kalau kita pergi?" ucap Fahrez.
"Kau benar."
Mereka berdua bergegas pergi. Meninggalkan kamar Sergio yang perlahan es menutup jalan masuk ke kamar Sergio.
"Kenapa kalian begitu lama?" Tanya Rakka.
"Itu.... Rakka! Apa kau tau elemen es murni?" tanya Orga.
Kening Rakka mengerut. "Tentu saja tahu. Memangnya kenapa?"
"Kau tahu! Sergio baru saja menciptakan elemen es murni! Cosytus!"
"Orga, kau terlalu berlebihan. Elemen es murni. Cosytus sudah tidak ada lagi. Bahkan penerusnya hanya ada satu sekarang, itupun sudah menjadi nenek."
"Kau berkata seperti itu tidak takut kena sial, hah."
Fahrez berucap sambil menaruh Sergio di sofa panjang. Kebetulan di sofa panjang itu ada Reina yang sedang meminum teh.
"Tidak. Karena nenek itu kenalanku" ucap Rakka enteng.
Rakka duduk di sofa empuk, diikuti oleh Orga dan Fahrez. Orga dan Fahrez mengambil cangkir teh yang sudah tersedia di atas meja.
"Siapa yang membuat teh? Rasanya aneh" ucap Orga.
"Saya yang buat, tuan."
Orga yang mendengarnya hampir saja menjatuhkan cangkir teh yang dia pegang. "Ahaha...ternyata Reina yang buat. Hahahah....maaf Reina, sepertinya tadi lidahku terasa kelu. Jadi tak bisa merasakan betapa enaknya teh buatanmu."
"Huh. Kalau tak enak tak usah diminum" Reina terlihat tak peduli. Dia meminum tehnya dengan tenang. Tak memperdulikan Orga yang menatapnya.
"Haahh...jadi, apa yang akan kita bahas kali ini?" tanya Fahrez setelah menghela napas panjang.
Orga kembali fokus. Dia menatap ke arah Rakka yang sedang berpikir serius. Terlihat dia seperti memainkan rambut putih-nya.
Dia menatap kebarah Sergio yang tertidur. "Aku rasa, kekuatan dari jiwa lain itu membebani tubuh manusia Sergio. Perlahan kekuatan jiwa lain itu merusak tubuh manusianya, itu sebabnya setiap kali dia menggunakan kekuatan sihir, pasti dia akan pingsan dan sepertinya organ dalam juga ada yang rusak."
"Apa!"
"Bagaimana mungkin."
Orga dan Fahrez menatap tak percaya ke arah Sergio.
"Sebenarnya aku memiliki solusinya. Tapi aku membutuhkan persetujuan Sergio terlebih dahulu."
"Lakukan saja sekarang. Jika kita menunda lebih lama, Sergio bisa mati" ucap Orga serius.
"Orga, kau ingin Sergio marah pada kita lagi? Dia seperti ini juga karena kita bukan?" Ucap Rakka.
Orga terdiam. Apa yang di katakan oleh Rakka benar. Semua masalah yang terjadi dikarenakan mereka bertiga.
"Bukankah kita baru saja mendengarkan penjelasan nona Reina. Apa kalian tidak mengerti penjelasan yang diberikan oleh nona Reina?"
"Aku mengerti. Kita memang harus meminta persetujuan Sergio. Orga, kita ini penjaganya. Jangan memperlakukan Sergio seperti tahanan."
Fahrez menatap Orga. Mata merah Orga menatap Rakka dan Fahrez. "Aku tidak memperlakukannya seperti tahanan. Tapi jika kita menunda cukup lama, aku takut Sergio akan sama seperti yang lainnya."
Rakka tersenyum tipis. "Tentu saja dia tidak akan menjadi yang lainnya. Sergio sanggup bertahan selama ini sudah merupakan keajaiban tersendiri. Kekhawatiranmu itu berlebihan, Orga."
"Ukhh...apa khawatir padanya itu tidak di perbolehkan?"
Rakka tertawa kecil mendengarnya. "Kau memang yang paling tua disini, tapi entah kenapa sekarang kau terlihat seperti anak kecil yang takut kehilangan mainan."
Setelah Rakka berkata seperti itu. Terdengar suara tertawa yang ketahuan sedang di tahan. Orga menatap Reina yang terlihat sedang menutup mulutnya.
"Oke, aku tak bisa mengelak. Memang benar aku takut kehilangan Sergio. Aku takut kehilangan dirinya, lagi."
Tiba-tiba saja suasana di sana terasa kelam. Apa yang di katakan Orga membuat Fahrez dan Rakka mengingat masa lalu.
"Kita tidak akan kehilangan dirinya lagi. Jangan terlalu banyak berpikir hal aneh. Sekarang, yang bisa kita lakukan adalah menunggu Sergio sadar."
Ucapan Fahrez mengiterupsi Rakka dan Orga. Apa yang dikatakan Fahrez benar.
"Ini sudah siang. Apa kamu tidak masak, Rakka?" Tanya Orga.
Rakka melihat ke arah jam tangannya. "Kau benar. Kalian pasti lapar, aku akan masak sekarang."
Rakka berdiri, dia berjalan ke arah dapur. Dia membuka jubah hitam yang selama ini dia pakai, menyisakan kemeja merah marun. Jubah hitam itu dia gantung di kursi meja makan. Ketika dia sampai di dapur, dia mengambil apron hitam, kemudian mengikat rambutnya.
"Orga, aku yakin kau sudah lama tidak melihat pemandangan ini."
"Fahrez, kau benar. Aku masih tak terbiasa dengan penampilannya yang sekarang."
"Bukankah dari dulu penampilannya selalu seperti itu."
"Tapi yang ini berbeda. Ternyata Zoe sudah sebesar ini."
"Jangan sebut nama lamanya! Dia bisa saja menyerangmu."
"Dia jauh di dapur, bagaimana bisa dia meny--Aduh!"
Orga mengelus belakang kepalanya. Rasa sakitnya tak main-main. Dia menengok ke belakang, dan melihat ke bawah. Ada sendok makan, kemudian dia beralih ke dapur. Dia melihat tangan yang berada di posisi melempar, setelah itu tangan itu menghilang di balik dinding dapur.
"HAHAHAHA....Kan sudah ku bilang."
Fahrez tertawa kencang. Dan sebenarnya Reina yang sedari tadi diam juga ikut tertawa.
"Uhh....rasaku dia semakin ganas."
Orga mengelus belakang kepalanya. Sebuah rasa sakit yang sudah lama tidak dia rasakan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°°°°°°||