The Another Soul

The Another Soul
Ch. 59 [Adik]



"Dasar kakak tidak berguna!"


BRAKK....


Aku dan Argen langsung melihat kearah sumber keributan.


"Atra," ucap Argen dengan khawatir.


"Jangan bilang kalau dia adiknya?"


Argen menatapku. "Ya, dia adiknya."


Aku kembali memperhatikan perseteruan mereka berdua. Bahkan Deiva juga sesekali membalas perkataan dari adik Atra.


Nain sedari tadi hanya memperhatikan. Mungkin dia berpikir kalau ini bukanlah urusannya.


"Akh!"


Aku terperanjat. Aku mendengar Atra meringis sakit. Dan aku melihat sebuah...


Pembullyan di depan umum.


Adik nya menjambak rambut kakaknya begitu saja. Bahkan dengan kata-kata kotor yang keluar lewat mulutnya.


Aku merasa... Marah ketika melihatnya.


Aku ingin menghampiri Atra dan adiknya, tapi lengan kananku ditarik oleh seseorang.


"Aww... Anak muda, jangan menjafi pahlawan kesiangan" ucap kak Sheila dengan senyuman miring di wajahnya.


Aku meliriknya, "Lepas."


Sheila semakin tersenyum, "Aku tahu kau ingin membantu nona Atra, tapi satu hal yang harus kau ketahui..."


Nona?


"...Jangan mencampuri urusan keluarga Rykolius. Mengerti?"


Aku menyipitkan kedua mataku. "Sudah kuduga. Kau seorang Vampire juga, kan?"


"Itu kau tahu," jawabnya.


Aku kembali tenang. "Kalau begitu kenapa Deiva boleh membantu?"


Kak Sheila tersenyum pahit. "Keluarga Fafri dan Rykolius sudah berteman begitu lama. Kedua keluarga ini bersahabat, dan sudah pasti persahabatan ini akan menurun kepada anak-anaknya."


"Maksudmu. Orang luar tidak boleh membantu, begitu?"


Kak Sheila mengangguk membenarkan.


"Cih, dasar keluarga aneh."


"Sergio, tenangkan dirimu."


Argen menepuk bahuku. Tapi dari tepukannya aku juga merasa bahwa Argen juga kesal dengan apa yang dia lihat saat ini.


Cacian, Ringisan sakit dari Atra, dan tatapan mencemoh dari siswa-siswa lain.


Aku benci ini.


"Aku tak tahan lagi."


Dengan paksa aku melepaskan cengkraman kak Sheila, tapi tentu saja aku tak bisa bebsa begitu saja.


Tolong yah, yang kulawan ini ras nya Vampire.


"Anak muda, kau terlalu keras kepala."


"Ahahaha.... Kak Sheila, kau terus saja memanggilku anak muda. Apa kau itu bukan seorang anak muda? Apa kau seorang tante-tante?"


"Tante?!"


Bagus, dia lengah.


Secepatnya aku melepaskan cengkraman nya. Kemudian aku berlari ke arah meja dimana sumber masalah sedang terjadi.


Terlihat adik Atra tengah siap untuk menampar Atra.


Sumpah ya, ini pembullyan. Terus nggak ada yang berniat membantu Atra?


"Kau adalah aib keluarga Rykolius. Lebih baik kau tak perlu dilahirkan di dunia ini, sampah."


Marah dan kesal menjadi satu. Aku mersakannya.


PLAKK...


"Siapa kau boleh bicara seperti itu kepada kakakmu?"


"Hei, dia menampar nona Villia di depan umum!"


"Siapa dia?"


"Dia berani sekali."


"Bukankah dia Sergio? Murid baru itu?"


Berbagai bisikan terdengar. Seketika kantin menjadi riuh dengan aku menampar adik Atra.


Ngomong-ngomong Adik Atra itu seorang perempuan yang memiliki tinggi yang setara dengan kakaknya-- Atra. Yang membedakan mereka berdua adalah warna rambut-nya.


Atra memiliki warna rambut coklat pucat dan mata merah. Sedangkan adik memiliki rambut coklat gelap dan memiliki warna mata yang sama seperti Atra.


Vampire, kah?


"Kau..."


Adik Atra menatapku dengan buas. Matanya merahnya menatapaku tajam. Penuh emosi, dan mata itu siap untuk membalas perbuatanku.


"S-sergio, lari" ucap Atra dengan ringisan kesakitannya.


"Lari Sergio!" ucap Deiva.


Eh? Ada apa ini?


"Kau pria menjijikkan. Beraninya kau menampar wajahku. Kau akan mati hari ini."


Huwaa.... Aku takut sekali.


Bercanda lagi.


Aku tersenyum miring. "Ohh... Begitu? Kau ingin membalasku? Apa yang akan kudapatkan, nona?"


Adik Atra semakin marah. Seluruh tubuhnya menguarkan aura merah gelap, dan udara di sekeliling menjadi berat.


"Lari!"


"Lari jika kau masih ingin hidup!"


Aku melirik ke sekeliling. Para siswa berlari dengan cepat. Seakan-akan mereka melihat dewa kematian di kantin.


'Wahh... Kau mendapat masalah besar.'


'Kaeiru?'


'Hai, kangen diriku?'


'Tidak.'


'Cih, kau tak seru.'


'Dasar aneh.'


'Kali ini aku akan membantumu.'


'Maksudmu?'


'Aku tak tahu kenapa kau bisa terlibat masalah seperti ini. Intinya, kau berhadapan dengan sihir kuno milik keluarga Rykolius.'


'Seperti apa sihirnya?'


'Hmm.... Ahh... Ini masih skala kecil. Jika dibandingkan dengan yang dulu, sihir ini bisa membuatmu mati dengan tidak ada satu tetes darahpun di dalam dirimu, dan skala ini bisa satu benua.'


'Tapi itu dulu, kan?'


'Iya itu dulu. Tapi pengaruhnya juga tidak berbeda.'


'Maksudmu? Aku juga akan mati dengan tidak ada satu tetes darah pun  kalau sampe terkena pengaruh sihir dari dia?'


'Benar.'


Pantas saja Deiva dan Atra menyuruhku lari.


"Sergio lari!"


Aku melirik ke arah Argen yang menatapku khawatir. Di belakangnya ada kak Sheila yang tersenyum kecil menatapku.


Dia tidak terlihat khawatir sedikitpun. Aneh.


"Hancurkan, Archo..."


"...Sekhmet."


KRAKK...KRAKK...


'Sudah dimulai.'


Aku tahu itu.


Lantai kantin menjadi retak. Bahkan retakannya tidak hanya sebatas di lantai, tapi juga di langit-langit dan dinding.


Ini buruk.


Aura merah gelap menguar dari tubuh gadis itu. Dati auranya aku merasakan kemarahan dan kehancuran.


Benar-benar pembawa bencana.


"Ukh...!"


Dengan cepat aku mengalihkan perhatianku pada Argen. Dia jatuh terduduk dengan tangannya yang meremat dada nya.


"Villia, be-berhenti."


Bahkan Deiva mendapatkan dampaknya.


Atra?


"Villia! Berhenti!"


Dia baik-baik saja.


Apa mungkin karena mereka kakak adik?


"Mati kalian, sampah."


Aura merah gelap itu semakin menekan udara. Retakan di berbagai tempat menjadi mengkhawatirkan.


Bagaimana jika bangunan itu jatuh dan menimpa kami semua?


Sial!


'Gunakan Archo mu.'


'Tapi...'


'Penggunaan untukmu bisa sampai tiga kali bukan?'


'Kau ingin teman-temanmu mati?'


'.....'


Tidak, aku tidak ingin.


Aku menatap adik Atra dengan tajam.


"Berhentilah waktu dan pulihkan. Archo Gerna."


SYINGG...


Dalam sekejap, waktu berhenti.


Aku jatuh terduduk.


"Sial, batasku hanya tiga kali penggunaan Archo. Jika melebihi batas dia akan..."


'Jika melebihi batas maka Ilka akan berusaha mengambil alih dirimu.'


"Itu kau tahu, sialan."


Aku menjadi jengkel dengan Kaeiru.


'Lakukan dengan cepat Sergio. Kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang.'


Aura dingin menguar dari tubuhku.


"Cocytus."


KRASHH....


Seluruh ruangan menjadi membeku. Kemudian aku membentuk perlindungan sederhana dari elemen es Cocytus untuk Argen, Deiva, dan Atra.


Dan untuk adik Atra, aku membekukan seluruh tubuhnya.


Membekukan tubuh adik Atra menggunakan elemen es Cocytus.


Aku berharap di akademi ini ada yang memiliki Elemen api yang memiliki sedikit essence Api Phoenix.


Kuharap.


"Kau menyelesaikannya dengan baik."


Aku tersentak.


Aku menoleh ke belakang yang pada akhirnya aku mendapati seorang gadis mungil yang memiliki rambut abu-abu yang saat ini menatapku dengan sebuah senyuman.


"Nain?"


Dia tersenyum. "Kenapa kau terkejut begitu?"


Aku ingin menjawabnya, tapi tak bisa.


"Kau terkejut? Tuan?"


Apa?


'Sergio, kenapa kau selalu membuat masalah.'


'Apanya?!'


Aku merasa Kaeiru saat ini sedang meratapi nasibku.


Jiwa satu ini pembuat masalah memang.


"Ukh...!"


"Eh? Kau sudah lelah?"


Sial, disaat seperti ini.


Nain berjalan mendekat kearahku. Ketika sampai kearahku, jari telunjuknya menekan keningku.


"Ohh.... Kau membuat kontrak dengan Ankaa."


Dia tahu!


Seketika aku melebarkan kedua bola mataku.


Satu fakta yang kutahu adalah...


"Kau.... Bintang?"


Nain tersenyum.


"Kurasa ini saatnya kau melepaskan Archo mu."


"Tunggu, jawab pertanyaanku."


"Itu bukan hak ku untuk menjawab."


Maksudnya.


'Gadis itu benar Sergio. Lepas Archo mu sekarang.'


"Cih, kenapa semua orang main rahasia sekarang" kesalku.


Nain tertawa kecil, "Kau akan tahu semua rahasia saat waktunya tiba."


Aku menatapnya tajam, "Akan kutunggu penjelasan darimu, Nain."


Nain mengangkat bahunya keatas, "Terserah kau."


Aku kembali menghadap depan dan kembali fokus.


"Pulihkan."


Waktu kembali seperti semula.


"""Sergio!"""


BRUKK...


Ahh sial.


Tiga kali pemakaian Archo, satu kali penggunaan elemen es tanpa Essence sihir Cocytus, dan satu kali menggunakan elemen es dengan Essence sihir Cocytus.


Melelahkan.


Hari ini benar-benar melelahkan.


"Hei Sergio!"


Aku berusaha membuka mataku.


"Atra" ucapku pelan.


"Apa yang kau lakukan bodoh!" ucap Deiva dengan kesal.


"Sergio, kau baik-baik saja?!" Tanya Argen dengan panik.


"Aku baik. Cuman.... Mengantuk.... Saja..."


"Hei, hei, jangan tidur!" Ucap Deiva dengan panik.


"Apa ini! Apa yang terjadi dengan Sergio?"


Sayup-sayup aku mendengar suara seseorang.


Galeon?


Ahh... Aku tidak tahu lagi.


Aku lelah.


Ingin tidur.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°||


Author Note:


Di Author Note kali ini. Author mau kasih penjelasan tentang Dewa, Dewi, Malaikat, Iblis, Hewan mistis, Mitologi, dan sejarah.


Maksudnya tuh tentang sejarah mereka. Kan di chapter ini ada Sekhmet.


Nahh... Ini ada sejarah atau mitologinya atau apalah itu.


Dan ini dia


Sekhmet – Mesir


Sekhmet adalah seorang dewa dengan wujud seperti singkat tapi berjenis kelamin wanita. Ia muncul dari Dewa Ra yang sangat dijunjung tinggi di Mesir kuno. Kedatangan dari Sekhmet membuat bencana besar karena ia sangat menyukai apa yang namanya perang dan juga kehancuran. Baginya tak ada yang lebih menyenangkan selain pertumpahan darah.


Untuk menghormati dewa ini, di Mesir masih ada beberapa festival yang diberi nama Festival Mabuk. Orang-orang akan banyak berkumpul dan bersama-sama mengkonsumsi alkohol. Di saat yang bersamaan akan ada pendeta yang berdoa agar Sekhmet tetap tenang dalam tidurnya. Tidak bangun dan membuat kekacauan di dunia.


Nah itu dia sejarahnya.


Jadi author ini nggak sembarangan dalam pengambilan nama.


Wkwkwk


Walaupun sebenarnya ada beberapa sih yang nama dewanya tidak ada dalam sejarah :v


Author nyiptain Dewa di dalam cerita ini.


Hehehehe...


Oke, segitu dulu Author Note kali ini.


Adios!


Salam manis


Raiyu


1. 422 kata