
BOOMM....!!
Sebuah ledakan besar terjadi di kutub utara. Ledakan itu menghancurkan bangunan yang awalnya menjadi tempat penyekapan Sergio.
"Hahahaha.... Sang monster telah bangkit!"
Jevan dan Richard. Mereka terlihat memasang kuda-kuda bertahan. Di beberapa tempat di pakaian mereka terdapat bekas terbakar.
Richard, dia tertawa keras. Berbanding terbalik dengan Jevan, dia memasang ekspresi serius.
"Richard, kita harus membunuhnya."
"Tentu, tentu saja! Bocah itu adalah lawan sepadan untukku."
"Richard. Sesuai perjanjian kita."
Jevan berkata serius pada Richard yang saat ini sedang tersenyum senang.
"Ya, sesuai perjanjian kita. Kau yang membunuhnya."
Richard langsung memasang ekspresi serius setelah diingatkan tentang perjanjian.
"Terima kasih."
"Tak perlu sungkan. Aku melakukannya juga karena aku memiliki hutang padamu."
"...."
Jevan tidak merespon.
"Kamu memang menyuruhku untuk melawannya. Pertannyaanku bagaimana cara kita melawannya?"
Perkataan Richard benar. Saat ini Sergio, dia melayang di langit. Jaraknya lumayan jauh dari atas tanah. Matanya berubah menjadi biru terang, udara di sekitarnya berubah menjadi pelindung es transparan.
"Tak kusangka provokasi yang kulakukan membuahkan hasil yang mengerikan."
Richard tersenyum senang setelah mengatakannya.
"bukan saatnya untuk senang."
"Ya, baiklah. [Teleport]!"
Dalam sekejap mata, Richard sudah tidak ada di sebelah Jevan. Dia sekarang berada di hadapan Sergio sambil memegang belati. Richard bersiap untuk menebas pelindung es Sergio, tapi muncul puluhan pisau-pisau es yang mengarah ke arah Richard.
Richard yang melihatnya menghilang kembali menggunakan teleportasi. Kali ini dia muncul di belakang Sergio, mengincar titik buta. Namun, sebuah cambuk yang terbuat dari angin muncul. Richard yang menyadarinya menghilang lagi, kali ini dia muncul di atas tanah.
"Mengerikan."
Seakan tidak puas dengan serangan sebelumnya, tanah di bawah Richard bergetar. Richard melihat ke bawah, dan tanah di bawah itu mencuat ke atas. Richard melopat ke samping, dan ada serangan pisau es mengarah ke Richard.
"Kuh!"
Richard kembali memakai Teleportasi, dia menghilang dan kali ini kembali ke tempat semula.
"Bagaimana?"
"Buruk. Dia memakai tiga elemen. Mungkin kalau aku menyerang lagi, ada elemen baru muncul."
Jevan yang mendengarnya memasang wajah rumit.
"Sebenarnya aku hanya butuh satu celah."
Richard menatap serius Jevan, kemudian melanjutkan.
"Aku merasa dia masih belum bisa mengendalikannya. Kekuatan itu maksudku. Dia bahkan tidak sadar."
"Sepertinya tidak akan semudah itu."
"Hah?"
Jevan memandang serius ke arah langit. Richard mengalihkan perhatiannya dan satu kata keluar dari mulutnya.
"Hahaha... Serius?"
Saat ini, di atas langit muncul pisau es, bola api yang seukuran bola volly, dan di tanah mencuat beberapa tanah tajam yang bagaikan ombak tsunami.
Satu kata. Mengerikan. Untuk manusia biasa mungkin pemandangan yang terlihat sekarang seperti terjadinya sebuah kiamat.
Sergio mengangkat tangannya seperti dia memberikan aba-aba. Tak lama kemudian serangan itu melesat ke arah Jevan dan Richard yang saat ini sedang memasang posisi bertahan.
Mereka berdua bersiap, beberapa pisau es melukai mereka berdua. Darah mengucur deras dari tubuh mereka berdua. Kali ini yang menyerang mereka adalah ombak tanah.
Karena tidak yakin dapat bertahan dari serangan ombak tanah, Richard membawa Jevan dan kembali memakai Teleportasi.
Mereka pergi cukup jauh, menjauh dari Sergio.
Tempat mereka berdiri sebelumnya dalam sekejap berubah menjadi kawah besar dengan beberapa api yang masih menyala.
"...."
"...."
Mereka hanya bisa terdiam.
"Seandainya kita bisa memakai seluruh kekuatan. Ada kemungkinan kita bisa membunuhnya."
Richard, dia menatap Jevan. Saat ini kondisi Jevan bisa dikatakan tidak terlalu baik. Richard juga, mereka babak belur hanya dengan satu serangan.
"Kita tunggu dia kelelahan. Tubuh manusia pasti ada batasnya."
Jevan akhirnya bicara.
"Kau benar, kalau kita bisa memaksa dia memakai satu elemen lagi...."
Richard terkejut. Kali ini langit kutub utara bergemuruh. Awan bewarna kelabu mengumpul di berbagai tempat, dan muncul petir bewarna ungu. Menyambar Kutub Utara
"Kali ini. Dimana kita bisa lari?"
Richard bertanya pada Jevan.
"Kita mundur."
"Hah?"
Jevan menatap serius Richard. "Kita mundur. Kita bunuh dia di Egolas."
"Tapi! Bukannya kamu tak bisa kembali ke Egolas sebelum membunuhnya."
"Tenang, aku memilki caraku sendiri. Percaya padaku."
BLAARR...!!!
"Richard, ayo kita pergi!"
"Kuh! [Teleport]!"
Dalam sekejap mereka berdua menghilang.
Dan kepergian mereka adalah keputusan yang sangat baik.
Setelah kepergian Richard dan Jevan, ratusan petir menyambar di Kutub Utara. Suaranya yang menggelegar terdengar hingga puluhan kilometer, seluruh langit kutub utara tertutupi awan kelabu yang di saat bersamaan akan muncul kilatan cahaya.
'Padahal sudah kukatakan jangan terlalu sering memakai kekuatan dari jiwa itu.'
Sebuah cahaya kecil keluar dari kening Sergio, dan cahaya kecil itu bersinar terang dan berubah menjadi sosok gadis berambut panjang. Gadis itu melayang di hadapan Sergio.
'Oi, Sergio! Kamu dengar aku!'
Bukannya menjawab, yang ada malah sebuah petir menyambar gadis itu. Gadis itu dengan cepat menghindar.
'Ohh.... Begini kah caramu?'
Gadis itu menatap kesal Sergio. Gadis itu kembali menghadap Sergio, dan dia menyentil kening Sergio.
Sentilan gadis itu tak main-main. Sergio langsung terjatuh di atas tanah, bahkan terbentuk kawah kecil dan Sergio berada di tengah-tengahnya.
'Eh? Apa aku berlebihan?'
Gadis itu melayang turun ke bawah, tempat dimana Sergio berada. Dia melihat Sergio berusaha bangkit, darah mengucur deras di kening Sergio. Mulutnya juga mengeluarkan darah, di beberapa tempat ada memar dan lebam.
'Ahahahah.... Sepertinya aku perlu minta maaf pada Sergio nanti, sekarang. Tak bisakah kamu, jiwa lain yang mengambil alih diam dan kembali ke tempatmu.'
Sergio menebas gadis itu, tapi tangan Sergio di pegang oleh gadis berambut merah itu.
'Kembali.'
Dari tangan gadis itu muncul cahaya merah terang, kemudian ada beberapa lingkaran cahaya yang melingkari seluruh tubuh Sergio.
"AARRGGHHH....!!!"
Sergio berteriak kesakitan. Dia meronta, tapi tetap tak bisa melepaskan dirinya dari pegangan tangan gadis berambut merah itu.
"SERGIO!"
Gadis merah itu menoleh sedikit, dia terlihat hanya fokus pada Sergio saja.
'Huh.... Baru muncul sekarang. Penjaga macam apa kamu ini.'
Rakka, dia langsung berlari ke arah Sergio dan gadis merah itu. Sergio masih berteriak kesakitan, namun perlahan-lahan suara teriakan itu menghilang.
'Oke, tugasku sudah selesai. Astaga anak ini, kita baru bertemu beberapa jam sebelumnya, tapi dia sudah mengeluarkan kekuatan separah ini.'
"Sergio! Kamu! Apa yang kamu lakukan padanya!"
Rakka menatap tajam gadis itu. Gadis merah itu hanya menghela nafas kasar.
'Beginikah caramu berterima kasih? Aku kembali menyegel kekuatan jiwa lain itu. Seharusnya kamu sebagai penjaga harus lebih berhati-hati, jangan lengah! Tuanmu di culik dan kamu terlambat datang! Kalau aku tak muncul apa yang akan terjadi pada Sergio!'
Rakka terkesiap. Dia menggigit bawah bibirnya, merasa kesal pada dirinya sendiri.
'Sudahlah, urusanku sudah selesai. Aku hanya bisa membantu Sergio dua kali lagi. Ingatkan padanya untuk jangan terlalu sering menggunakan kekuatan dari jiwa itu, paham!'
"Sebelum itu. Siapa kau?"
'Aku? Aku hanya serpihan roh dari yang asli. Kalau kamu ingin tau tanyakan saja pada Sergio. Sudah ya, aku pergi.'
"Eh? Hei! Tu-tunggu dulu!"
Tidak memperdulikan perkataan Rakka. Gadis itu menghilang, kembali menjadi cahaya kecil dan perlahan terbang menuju kening Sergio.
"Ini? Segel bintang."
Rakka melihat di kening Sergio mumcul tanda bewarna merah. Tanda itu berbentuk bintang kecil, dan setelah itu bintang itu menghilang, seakan tidak pernah ada.
Sergio, tubuhnya tiba-tiba saja menggigil nafas Sergio juga mulai tidak beraturan. Rakka yang melihatnya langsung panik.
"Sergio! Sergio! Sial, dia mengalami hiportemia."
Rakka membuka tas besar yang dia bawa. Kemudian dia mengeluarkan jaket tebal dan satu selimut bewarna hitam.
Ketika dia memegang baju Sergio, dia merasa kalau baju Sergio basah, dan di beberapa tempat kain baju Sergio membeku. Dia memperhatikan dengan seksama, dia melihat ada luka memar di sekitar rahang, Rakka membuka pakaian Sergio. Dan dia melihat luka lainnya.
"Sialan! Apa yang sudah mereka lakukan padamu."
Dengan cepat Rakka melepas pakaian Sergio, dia langsung memakaikan jaket tebal setelah merestliting kemudian Rakka menutup seluruh tubuh Sergio dengan selimut.
"Sergio, bertahanlah."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°||