The Another Soul

The Another Soul
Ch. 65 [Duel]



"Ohh, kenapa dirimu lama sekali?" ucap Dewa Ares.


Sergio terlihat baru saja keluar dari dalam rumah. Semua orang sudah berada di luar taman dan terlihat Natili dan Yoru sedang membuat sebuah lingkaran rune di atas rerumputan hijau.


"Maaf. Aku sedang meneliti sesuatu" balas Sergio dengan tenang.


"Hoohh... Pedang yang sangat gelap" ucap Dewi Nyra dengan nada tertarik.


Sergio sedikit mengangkat pedang yang ada di tangan kanan-nya. "Ya, sangatlah gelap."


"Siapa namanya?" Tanya Dewi Bishamon dengan nada tertarik.


"Huh? Apa?"


Dewi Bishamon menatap Sergio dengan aneh. "Kau tidak tahu nama pedang milikmu?"


'Aku bahkan baru memiliki pedang ini tidak kurang dari lima menit!' batin Sergio kesal.


"Apa memang harus tahu nama dari sebuah pedang?"


Dewi Bishamon menyipitkan matanya. Setelahnya dirinya mendesis panjang, "Ahh... Aku benci seseorang yang meremehkan sesuatu hanya karena apa yang ada di tanganmu hanyalah sebuah 'benda'."


Sergio mengangkat alis kanan-nya. "Apa?"


"Kau tahu Sergio" ucap Dewa Ares. "Kau tidak mencerminkan seorang yang memiliki Class Saber."


Oke. Di dalam kepala Sergio saat ini dirinya sangatlah bingung dengan apa yang terjadi saat ini.


"Tunggu dulu. Apa maksud kalian? Aku tidak mengerti."


""Cih!!""


Dan mereka berdua pun berdecih bersamaan.


"Mereka terlihat sangat akrab saat ini" bisik Dewi Nyra pada Hermes yang sibuk membaca buku.


"Mereka akrab hanya untuk menjatuhkan seseorang" balas Dewa Hermes.


Dewi Nyra menyetujui ucapan Dewa Hermes.


"Bishamon-sama" panggil Yoru.


Dewi Bishamon melihat pekerjaan Natili dan Yoru telah selesai. Dirinya mengangguk. "Jangan buang waktu lagi. Mari kita mulai."


"Hei, tunggu dulu" cegat Dewa Ares dengan menahan bahu kiri Dewi Bishamon.


"Hei Agni! Dimana kau! Duelnya akan segera dimulai!" teriak Dewa Ares.


Untuk beberapa saat tidak terdengar apapun lagi. Sampai akhirnya terdengar suara langkah kaki dari sisi kanan mereka.


"Tidak perlu teriak seperti itu" ucap Dewa Agni yang muncul dari balik dinding.


"Kau terlalu lama mengobrol" balas Dewa Ares.


Dewa Agni terkekeh, "Maaf, maaf."


Diam-diam Dewa Agni melirik pedang gelap yang berada di genggaman Sergio. Dirinya kemudian menatap Sergio dengan serius.


"Sergio. Setelah duel ini...."


"Hmm?"


"Tidak. Tidak apa-apa."


Dewa Agni tidak melanjutkan ucapannya lagi.


'Jika Sergio mati hanya karena sebuah pedang. Dirinya tidak pantas memiliki nama Vandelhein.'


Dewa Agni menggertakkan giginya. Dirinya merasa kesal saat ini. Perkataan Ellion masihlah terngiang-ngiang di telinga dan kepalanya.


'Malaikat sialan' batin Dewa Agni.


Rakka yang berada di belakang Dewa Agni dengan perlahan-lahan berjalan menjauhi Dewa Agni yang menguarkan aura yang tak mengenakkan hati.


"Hei Agni. Duel sudah akan dimulai, apa ada yang ingin kau ucapkan?" Tanya Dewa Ares.


Dewa Agni kembali ke kenyataan. Dirinya menghela nafas berat dan untuk sesaat dirinya harus melupakan tentang percakapan singkat yang membuat hati panas.


"Aku akan memberikan peraturan. Pertama, dilarang menggunakan sihir, Archo, dan alat-alat sihir lainnya."


"Tunggu."


Mereka semua menatap Sergio yang menatap bingung Dewa Agni. "Alat-alat sihir itu.... Seperti apa?"


Mereka semua langsung menghela nafas lelah.


"Begini yah manusia" ucap Dewa Hermes.


Untuk sesaat Sergio merasa de'javu ketika mendengar ucapan Dewa Hermes.


"Alat sihir adalah alat yang di dalamnya ada sebuah sirkuit sihir yang rumit. Alat sihir sebenarnya sangatlah langka di dunia ini. Itu karena cara pembuatannya yang sulit dan memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk membuatnya. Jadi sudah paham manusia?"


Sergio menggetarkan alis kanan-nya. Dirinya merasa kesal dan jengkel hanya karena mendengar ucapan pedas dari mulut sang Dewa Pesan.


"Begitulah Sergio. Kedua, kalian dilarang saling membunuh."


"Cih."


"Apa maksud 'Cih' mu itu Bishamon?" Tanya Dewa Agni dengan nada curiga.


"Tidak ada apa-apa" balas Dewi Bishamon.


Dewa Agni menghela nafas lelah. "Ketiga, kalian boleh memanggil nama pedang kalian."


Dewi Bishamon menyeringai senang. "Inilah yang kutunggu."


"Tunggu dulu."


Mereka semua kembali menatap Sergio yang juga menatap Dewa Agni.


"Apa maksudmu memanggil nama pedan-"


"Memanggil nama pedang adalah sebuah syarat untuk menggunakan kekuatan yang ada di dalam pedang itu. Hal ini merupakan pembelajaran penting bagi Class Saber. Aku cukup heran denganmu yang tidak mengetahui hal mendasar seperti ini" ucap Dewa Hermes panjang lebar.


"Dia kesal."


"Dia jengkel."


"Dia marah."


Siku-siku imajiner muncul di kepala Dewa Hermes. "Diamlah! Aku sudah sabar dalam menjelaskan kepada manusia bodoh ini!"


Dewa Ares, Dewi Bishamon, dan Dewi Nyra yang sebelumnya mengejek Dewa Hermes mendengus jengkel secara bersamaan.


Sergio mengangguk paham. "Ohh... Begit- eitss... Tunggu-"


"Apa lagi?!" Tanya Dewa Hermes dengan kesal.


Sergio menaikkan alis kanan-nya. Menatap heran Dewa Hermes uang terlihat jengkel. "Aku tidak bertanya padamu pak tua."


Dewa Hermes terperangah. "Apa? Apa tadi? APA YANG KAU KATAKA-- Bwuhh...gwhaa....!"


Pelakunya adalah Dewi Nyra yang memberikan senyuman ramah, tapi tersirat akan aura penuh ancaman.


"Haduhh... Maaf Sergio. Hermes tidak suka jika ada seseorang yang memanggilnya pak tua."


Sergio mengangguk dengan kaku. Perubahan hati wanita terlalu menyeramkan, pikir Sergio.


"Jadi itulah peraturan yang kuterapkan. Sekarang kita mulai duel-"


"Hei! kubilang tunggu dulu!"


"Nya... Apa lagi yang ingin kau tanyakan?" Tanya Dewa Agni yang sepertinya juga sudah mulai jengkel.


Sergio menunjuk pedang gelap yang saat ini berada di tangannya. "Siapa namanya?" Tanya Sergio pada Rakka.


"Namanya. Baby uwu kamu manis sekali!" celetuk Fahrez secara tiba-tiba.


Rasanya Sergio ingin mengeluarkan kamus bahasa kasar yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"Darimana saja kamu?"Tanya Rakka penasaran. Pasalnya, Fahrez menghilang sejak awal.


Fahrez menunjuk ke belakang menggunakan ibu jarinya. "Aku menyiapkan tempat duduk."


Terlihat tempat duduk yang terlihat nyaman. Belum lagi beberapa minuman segar dan cemilan yang menggugah selera.


"Entah kenapa dirimu sangatlah pengertian. Thanks bro!" ucap Dewa Ares sambil menepuk bahu Fahrez dengan semangat.


Pada akhirnya Keempat Dewa-Dewi itu berjalan ke arah kursi. Kemudian mereka duduk dengan nyaman.


Sedangkan disini masih ada satu orang yang masihlah pusing memikirkan. Siapa nama pedangnya?


"Baiklah mari kita coba. Pussy? Veru? Jonathan? Pizz- bukan. Maksudku Hyena? Black? Atau-"


"Hentikan itu" celetuk Dewi Bishamon. "Kau hanya bisa mengetahui nama sebuah pedang jika pedang yang berada di tanganmu itu mengakuimu."


"Serius?"


Dewi Bishamon mengangguk. "Aku serius. Jadi daripada kau buang-buang waktu hanya dengan menebak asal nama pedangmu. Lebih baik kita berduel. Hal itu lebih menyenangkan, bocah."


"Sebegitu senangnya dirimu berduel denganku" Sergio terkekeh di akhir katanya.


"Maaf saja. Aku seorang Dewi perang. Pertarungan sudah menjadi taman bermain bagiku."


Dewi Bishamon berjalan ke arah taman yang dimana terdapat barrier tipis yang membentuk setengah lingkaran. Barrier itu melingkupi setengah taman rumah milik Fahrez.


Sergio kembali menatap Pedang gelap yang berada di tangannya saat ini.


Kemudian sebuah tepukan lembut terasa di bahu kirinya. Sergio melirik Rakka yang berdiri di belakangnya. Mata kuning emasnya menatap netra Sergio dengan tenang.


"Kuberi petunjuk. Dia" tunjuk Rakka pada pedang yang ada di genggaman tangan Sergio. "Adalah sang gelap" lanjut Rakka.


"Apa?"


Rakka menepuk dua kali bahu Sergio. "Semoga beruntung."


Setelahnya Rakka berbalik pergi ke arah tempat duduk yang tersedia.


"Dia.... Adalah sang gelap?" gumam Sergio.


Pada akhirnya Sergio berjalan ke arah yang sama. Dirinya menatap Dewi Bishamon yang terlihat sedang melakukan pemanasan kecil.


Sergio masuk ke dalam Barrier itu. Setelahnya Dewi Bishamon mengambil pedang yang ia tancapkan di atas tanah.


"Hei Sergio" panggil Dewi Bishamon.


"Ya?" respon Sergio.


Dewi Bishamon tersenyum miring. "Akan kuberikan contoh. Khusus untukmu."


Dewi Bishamon mengikat rambut pirangnya menjadi ponytail. Setelah itu ia memasang kuda-kuda yang terlihat khas.


Dewi Bishamon memundurkan kaki kanan-nya, kaki kirinya menjadi tumpuan dan tangan kanan-nya memegang erat pedang katana.


Mata ungu gelap itu menatap tajam Sergio dan terlihat berkilat di bawah sinar bulan.


Kemudian sebuah senyuman kevil muncul di bibir Dewi Bishamon.


"Mengamuklah, Seiryu!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°||


1. 230 kata