
Pada sore hari di musim dingin. Terlihat seorang anak lelaki yang tengah memotong kayu menggunakan kapak nya.
Rambut coklat tua nya dipenuhi dengan salju putih. Kulitnya yang pucat sangatlah kontras di tengah salju yang turun dengan tenang.
Di belakangnya, terdapat rumah kayu kecil yang terlihat asap di cerobong rumah.
TAKK...
"Ini yang terakhir," gumamnya.
Terlihat anak lelaki itu menghrla nafas panjang. Dia menggosokkan telapak tangannya, mencari kehangatan walau sebenarnya ia tidak merasakan dingin.
"Kak, ayo masuk."
Anak lelaki itu menoleh. Dia mendapati seorang gadis kecil yang terlihat baru berumur 10-12 tahun yang berdiri di depan pintu rumah.
Rambut hijau muda-nya yang panjang tergerai serta mata ungu gelap yang menatap polos dirinya.
Di dalam pikiran anak lelaki itu adalah...
"Adikku lucu sekali!"
Gadis kecil itu seketika merengut. "Kakak, jangan lagi."
Anak lelaki itu terkekeh geli. "Kau memang manis seperti gula."
"Kakak!"
"Oke, oke, ayo masuk."
Anak lelaki itu berlari memasuki halaman rumah. Sebelumnya ia membersihkan salju di atas rambut dan pakaian nya. Kemudian ia masuk ke dalam rumah yang hangat di karenakan api yang menyala di perapian.
"Hari ini kita makan sup daging."
"Yeyy...! Daging."
Gadis kecil itu terkekeh. "Kau seperti bocah saja."
"Maafkan tingkah kakakmu ini yang seperti bocah, Tierra."
Gadis itu-- Tierra hanya menatap kakaknya. "Hei, kapan kau mengajakku pergi jalan-jalan?"
Anak lelaki itu seketika berhenti makan ketika mendengar pertanyaan dari adiknya.
"Kau ingin jalan-jalan? Di musim dingin ini?"
Tierra mengangguk, "Ya. Kudengar ada festival musim dingin di desa sebelah."
"Kau ingin kesana?"
Dengan semangat, Tierra menganggukan kepalanya. Matanya terlihat berbinar senang ketika di tanya seperti itu oleh kakaknya.
"Tapi.... Apa tubuhmu sanggup?"
Seketika aura kebahagiaan yang terpancar dari gadis itu lenyap dan digantikan dengan aura gelap.
"Kau benar. Tubuhku tidak akan sanggup."
Hening.
Tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka berdua. Pada akhirnya anak lelaki itu menghela nafas kasar.
"Oke, ayo kesana."
"Kesana?"
"Festival musim dingin."
"Eh?"
"Apa 'eh?'. Kau tak ingin pergi?"
"Ingin! Ingin pergi!"
Anak lelaki itu tersenyum tipis. "Habiskan makananmu terlebih dahulu baru kau bersiap."
Tierra dengan semangatnya mengangguk. Dia menghabiskan makanannya dengan lahap.
"Aku sudah selesai! Aku pergi bersiap-siap dulu!"
"Hahaha.... Cepat sana."
Reyya berlari ke kamarnya. Anak lelaki itu membersihkan piring dan gelas yang mereka berdua pakai sebelumnya.
Ketika sedang membersihkan, ia merasa ada bebrapa orang yang mendekati rumahnya.
TOK...TOK..TOK
Dan benar. Ada yang mengetuk pintu rumahnya. Anak lelaki itu berjalan ke arah pintu, tapi sebelum itu dia mengambil sebuah pedang yang tersampirkan di dekat kursi.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban. Anak lelaki itu dengan perlahan menarik pedang itu dari sarungnya.
"Santai Levi, ini aku."
Anak lelaki itu membelalakkan kedua matanya. Di dalam pikirannya adalah, kenapa dia ada disini?
Dengan cepat dia membuka pintu. Terpampanglah ketiga pria yang sedang membersihkan salju dari pakaian mereka.
"Ilka? Orga? Dan.... Zoe? Apa yang kalian lakukan di rumahku?"
Pria itu-- Ilka tersenyum kecil. "Kami ingin mengajakmu ke-"
"Kak! Aku sudah siap! Ayo pergi ke sana!"
Tierra dengan aura penuh kebahagiaan terdiam ketika melihat ketiga orang yang sangat ia kenal.
"Eh? Kak Ilka, kak Orga, dan Zoe."
"Haii... Tierra" sapa Zoe dengan senyuman ramah.
"Kalian mau kemana?" Tanya Orga penasaran.
"Kami mau per-"
"Pergi ke festival!"
"Yap... Kesana" angguk anak lelaki itu.
"Kebetulan sekali" ucap Ilka dengan ia masuk ke dalam rumah. "Kami ingin kesana juga."
Anak lelaki itu-- Leviathan menyipitkan matanya. Curiga dengan Ilka yang juga ingin pergi ke festival musim dingin.
"Yang benar?!"
Ilka mengangguk.
Reyya dengan perasaan senang yang membuncah memeluk Ilka tanpa sadar.
Ohh! Tentu saja sang kakak menguarkan aura cemburu.
"Kau terlihat senang sekali" celetuk Zoe.
Reyya melepas pelukannya dan tersenyum lebar. "Karena semakin ramai semakin menyenangkan!"
Pada akhirnya aura kecemburuan menghilang ketika melihat senyuman di wajah adiknya itu.
Orga yang menyadari perubahan aura dari Leviathan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Siscon," gumam Orga.
"Aku mendengarnya" balas Leviathan.
.
.
.
.
.
.
Akhirnya, rencana untuk pergi ke festival musim dingin tercapai. Yang awalnya hanya ingin pergi berdua malah bertambah tiga orang yang menjadi berlima.
Mereka berlima telah sampai di tempat festival. Terlihat sangat ramai walau suhu dingin relatif tinggi.
"Kak! Ayo kita coba makanan itu!"
"Kakak! Kakak! Itu apa?"
"Woahh... Enakkk..."
Leviathan tersenyum senang melihat adiknya begitu aktif.
"Zoe! Ayo kita kesana."
"Ehh.... Tu- Tierra!"
Belum sempat untuk menolak, tangan Zoe sudah ditarik oleh Tierra.
"Hei, kalian mau pergi kemana?!" tanya Leviathan.
"Melihat tarian musim dingin!" balas Tierra di kejauhan.
"Tarian musim dingin?"
Ilka melirik Leviathan. Tak lama kemudian senyuman jenaka muncul diwajahnya.
"Hmm.... Sepertinya ada yang cemburu nih...."
Siku-siku imajiner muncul di kepala Leviathan.
"Disini sangat panas yah" ucap Orga sambil mengipas-ngipaskan tangannya. "Ada yang cemburu karena tidak diajak pergi oleh adik tersayang, huhuhu... Sedihnya."
Orga dan Ilka tertawa jahat di belakang Leviathan. Memang, mereka berdua itu ahlinya menambahkan minyak di api yang berkobar karena rasa cemburu.
"Diam kalian!"
"Owhh... Ada yang marah, Ilka" tengok Orga ke arah Ilka, meminta minyak yang lebih lagi.
"Eh... Sepertinya Tierra memberikan hadiah pada Zoe."
"Hahh....?!"
Ilka menunjuk Zoe dan Tierra yang sepertinya memberikan sebuah bungkusan dengan pita biru kepada Zoe.
Dan jangan lupakan wajah malu-malu dari Tierra.
"Zoe, mau kah kau menjadi kekasihku?"
"Tentu saja Tierra. Aku mau, ayo kita menikah sekarang."
"Bisa tidak kalian berdua diam, HAH!!"
Terdengar suara tawa yang berusaha di tahan. Baiklah, Leviathan sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Dia jengkel dengan dua orang yang ada di belakangnya ini. Selalu saja dirinya yang menjadi bahan candaan.
"Aku pergi!"
"Ehhh... Kau mau kemana, kakak" sindir Orga.
"Berisik!"
"Oke, oke, kami bercanda Levi" ucap Ilka dengan senyuman kecil.
Leviathan memalingkan wajahnya. Kesal dengan kelakuan tuan dan temannya ini.
"Diam kau Orga!"
"Hei lihat. Mereka berdua kembali."
Dengan cepat Leviathan menoleh ke arah suara langkah kaki yang tenggelam di dalam salju. Dia melihat adiknya dan Zoe yang tertawa bersama. Terlihat aura kebahagiaan yang terpancar dari adiknya.
Tapi Leviathan kesal melihatnya.
Seharusnya ia yang disana. Dia yamg harusnya membuat aura kebahagiaan itu. Bukan Zoe!
Baiklah, itulah yang dirasakan oleh seorang kakak yang pencemburuan.
Dasar Siscon.
"Sudah puas melihatnya?" tanya Leviathan dengan perasaan kesal.
Tierra menatap kakaknya yang terlihat bad mood itu. "Kakak kenapa?"
"Tak apa-apa."
"Yang benar?"
"Iya."
"Yakin?"
"Yakin."
Tierra menyipitkan matanya. Menatap curiga sang kakak. "Ahh... Kakak bohong."
"Darimananya kau tahu aku bohong?"
"Dari kakak yang tidak menatapku."
Leviathan terdiam. Dia melupakan fakta bahwa adiknya memiliki otak dan mulut yang cerdas.
"Ahh... Ya," terlihat Tierra mengambil sesuatu di kantong jaketnya. "Ini, tadi aku habis membeli di toko sana."
"Ini untuk kak Ilka dan kak Orga" ucap Tierra sambil ia memberikan sebuah bola kaca kecil, di dalam bola itu terdapat seperti pasir yang berkilau. Orga mendapatkan warna merah dan Ilka mendapatkan warna coklat muda.
"Kalau begitu Zoe?" tanya Ilka penasaran.
Zoe mengeluarkan sebuah bola yang sama dengan memiliki warna kuning emas.
"Ini indah sekali. Terima kasih Tierra" ucap Ilka lembut. Ia mengelus rambut Tierra dan terlihat Tierra menikmatinya.
"Sstt... Dia marah" bisik Orga sambil menunjuk Leviathan yang berdiri agak jauh dari mereka.
Tierra tertawa kecil "Dasar."
"Cepat," dorong Zoe di punggung Tierra.
"Sabar Zoe," ucap Ilka dengan bisikan.
Tierra mengambil nafas terlebih dahulu, kemudian membuangnya. Dia berjalan ke arah kakaknya yang terlihat sedang menendang salju.
"Kak" panggil Tierra.
Leviathan berhenti. Ia sedikit melirik adiknya yang berdiri dibelakangnya.
"Apa?" balasnya.
Tierra merengut, "Hadap sini jika sedang berbicara. Kakakku sayang" gemas Tierra.
Terlihat Levaithan menghela nafas sebelum berbalik menghadap Tierra.
"Sudah. Ada apa?"
"Kakak marah?"
"Tidak."
'Bohong' batin Tierra.
"Oh begitu."
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Senyum."
"Huh?"
"Senyum dulu!"
Tierra terlihat gemas dengan tidak kepekaan sang kakak.
Terlihat bingung dengan permintaan sang adik, tapi dikarenakan ia tidak ingin melihat raut sedoh adiknya. Dia mencoba tersenyum di tengah suasana hati yang panas.
Dan terbentuklah senyuman tipis di wajah pucat kakaknya itu.
"Kakak terlihat tidak ikhlas."
Senyuman itupun luntur "Cerewet."
Tierra terkekeh kecil. Terlihat ia merogoh kantung jaketnya lagi.
"Kakak tahu ini tanggal berapa?"
"Hah? Untuk apa kau menanyakan tanggal?"
"Sudah, jawab saja."
Dengan perasaan aneh, ia menjawab dengan kesal. "Tanggal 5 maret."
Tierra tersenyum. Dia menarik sesuatu dan dia menunjukkan barang itu di hadapan kakaknya itu.
Terlihat Leviathan memasang ekspresi terkejut. Dia melihat sebuah kalung yang di mana bandulnya berbentuk sama seperti yang diberikan Tierra kepada Ilka, Orga, dan Zoe.
Tapi perbedaannya adalah, bandul itu memiliki dua warna. Warna hijau dan warna ungu di tengah-tengahnya.
"I-ini."
"Selamat ulang tahun."
"Huh?"
"Selamat ulang tahun. Kakakku, Leviathan Alluvka."
Leviathan terdiam. Mata abu gelapnya terlihat berbinar. Setelahnya ia menunduk dan mengusap kedua bola matanya.
Ya, dia menangis.
"Ehh.... Kenapa kau menangis" ucap Ilka sambil menepuk-nepuk punggung Leviathan.
"Aduh, disini ada yang sedang menjadi anak kecil lagi" sindir Orga.
"Kau hebat Tierra. Mampu membuat Leviathan menangis" ucap Zoe sambil ia memberikan isapan jempol pada Tierra.
"Ayolah, jangan menangis" bujuk Tierra.
"Siapa yang nagis!"
'Ya kau lah!' batin mereka berempat.
"Sudah, sudah. Tierra, cepat pasang kalung itu kepada Leviathan" perintah Ilka.
Tierra mendekati Leviathan. Ia memasangkan kalung itu dengan cepat. Setelah itu ia mencium kening kakaknya dengan lembut.
"Selamat ulang tahun" bisiknya.
Leviathan terdiam. Kemudian ia memberikan senyuman lebar yang hampir tidak pernah ia tunjukkan.
"Terima kasih."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°||
Author Note:
INI BUKAN CHAPTER LANJUTAN
Jadi ini nih ya Chapter khusus Fahrez.
Kenapa?
Soalnya hari ini Fahrez ulang tahun 🎂🎂😙
Yeyy...😆
Sebenarnya Author juga lupa sama tanggal lahir para tokoh.
Gara-gara kemaren iseng liat Chapter Ilustration. Ehh... Pas bagian Fahrez tanggal 5 maret.
Kulihat deh kalender, dan ternyata bentar lagi guyss...
Jadi Author buatkan chapter khusus buat Fahrez ini.
Makanya nama judulnya Ch. 00, itu karena menceritakan masa lalu si Fahrez.
Ettt... Kalian nggak lupa kan kalau Fahrez punya adik?
Kalau nggak salah ada di chapter....
Author lupa :v
Intinya ada Author singgung tentang adik di chapter berapalah itu.
Oke, sampai sini dulu Author Note kali ini.
Adios!
Salam manis
Raiyu
1.619 kata
05 Maret 2021