The Another Soul

The Another Soul
Ch. 77 [Perkenalan Yang Aneh]



"Am I still in the glum nightmare


Or am I mere stoned~


Tiny bit of reason still remains in my right hand~


That power of ache will just keep me alive~"


Terdengar suara nyanyian dengan suara serak sekaligus lembut. Dalam sekali dengar pun sudah di pastikan. Yang bernyanyi adalah seorang lelaki.


Dan memang benar.


Perlahan Sergio membuka kedua matanya. Ia sedikit menyipit ketika mendapati cahaya matahari pagi yang menyilaukan matanya.


'Ugh... Dimana aku?'


Pandangannya masihlah kabur. Ia hanya melihat warna hijau dan cahaya matahari yang terlihat buram.


Kemudian...


"Can't touch nothing 'bout the world~


But the truth almost has revealed~


Then smash out the future told~


It's time to end these miseries~


Latch off my vagus nerve~


What color is my blood... Red, black or white?~"


Sergio menikmati nyanyian itu. Ia merasa tenang ketika mendengarnya.


'Entah kenapa.... Aku merasa familiar dengan suara ini' pikir Sergio.


Setelah memikirkan hal itu, kepalanya terasa nyeri. Ia meringis kesakitan, dan suara ringisan itu keluar dari mulutnya.


"Ugh!"


Refleks, si penyanyi langsung menoleh ke arah seseorang yang terbaring di sebuah potongan kayu dengan beberapa lembar daun lebar yang menjadi alasnya.


Ia langsung mendekat seseorang asing itu.


Di penglihatannya, ia melihat orang asing itu menyentuh kepalanya sendiri. Belum lagi kerutan pada keningnya yang menandakan bahwa keadaan orang asing ini tidak terlihat baik.


Apa yang harus dilakukannya?


Netra coklat terang itu menatap si orang asing dengan pikiran berkecamuk.


Sejujurnya, ia tidak terlalu mengetahui dalam hal pengobatan.


Ia membawa orang asing ini hanya karena...


Hati dan perasaan.


Hati yang merasa bahwa ia sangat mengenal orang asing ini dan juga perasaan yang berkata bahwa orang asing ini akan memberitahu dirinya.


Tentang, siapa dia sebenarnya?


"Ugh.... S-siapa kau?"


Kembali ke realita, Si penyanyi menoleh dan menatap orang asing itu dengan tatapan tajam.


"Tak sopan" suaranya terdengar berat dan sedikit mengintimidasi.


Sergio yang mendengarnya sedikit terkejut. Tapi selanjutnya ia terkekeh pelan "Maaf."


Si penyanyi mendengus "Siapa kau? Darimana asalmu?"


Mendapat pertanyaan yang begitu banyak membuat Sergio sedikit merasa kesal di hatinya.


'Apa dia tak lihat aku baru saja bangun, huh? Tak bisakah dia memberikan makanan atau minuman terlebih dahulu?' ucap Sergio di dalam hati.


Kalau Sergio mengucapkannya secara gamblang. Bisa-bisa ia mati di detik selanjutnya.


Dalam sekali lihat. Seseorang yang ada di hadapannya ini tak bisa dianggap remeh.


Jadi Sergio memlih jalur aman dengan memperlihatkan senyuman seramah mungkin kepada seseorang yang begitu menyebalkan di mata Sergio.


Sergio mencoba untuk duduk. Dengan lemah ia menumpu tubuhnya menggunakan siku untuk membantunya duduk.


'Apa yang terjadi? Kenapa aku merasa lemah seperti ini?' pikirnya.


Setelah ia puas berpikir, ia merasakan sebuah keanehan pada tangan kanan miliknya.


Dengan perlahan ia menoleh ke arah tangan kanan-nya.


Detik selanjutnya tubuh Sergio menjadi beku.


Ia terlalu terkejut dengan keadaan tangan kanan miliknya.


Dari jari-jemari hingga siku. Semuanya bewarna hitam pekat. Sama seperti warna pedang miliknya-- yang saat ini masih setia berada di dalam genggaman Sergio.


"Kau terkena kutukan."


Refleks, Sergio menoleh dengan cepat ke arah sumber suara. "Huh?"


Satu-satunya orang yang ada di ruangan itu menghela nafas kasar "Kau" tunjuknya ke arah Sergio. "Terlalu lama memegang pedang yang memiliki energi gelap yang tidak seharusnya ada di dunia ini. Paham?"


"Hah?" terpujilah wahai otak lelet Sergio.


Orang yang ada di hadapan Sergio mendecih kesal "Apa otakmu terbentur? Jika iya, aku akan berusaha memakluminya."


Omongan sarkas itu tidak membuat Sergio merasa menjadi pintar.


Sebaliknya, ia malah menjadi bodoh.


"Apa waktu itu aku terbentur?" Tanya Sergio dengan nada suara polosnya.


Terdengar suara 'pakk' panjang.


Sergio sedikit terperanjat melihat seoran lelaki seumuran dirinya menepuk jidatnya sendiri dengan keras.


'Apa yang aku harapakan dari manusia ini!' batin-nya dengan perasaan kesal.


"Ngomong-ngomong.... Aku ada di mana?"


Tentu saja Sergio bertanya ke arah satu-satunya orang yang ada di sini.


"Kita berada di dalam pohon" ucapnya singkat.


"Hah?!"


Sergio dengan cepat menoleh kesana kemari. Melihat-lihat atau lebih tepatnya mencari bukti bahwa dirinya benar-benar di dalam pohon.


Dan benar saja.


Saat ini Sergio tertidur diatas batang pohon yang hidup secara alami di dalam sebuah pohon. Aneh dan unik sebenarnya.


Belum lagi luasnya tidaklah main-main.


Mungkin setara rumah Fahrez beserta halamannya. Atau bisa saja kurang.


Kemudian Sergio beralih ke atas. Untuk sesaat, Sergio memahami sebuah keindahan dari apa yang namanya pohon.


Ribuah dedaunan menjadi atap di dalam pohon ini. Beberapa celah memunculkan cahaya matahari yang membuat suasana di dalam menjadi terang.


Belum lagi ada beberapa bunga di pephonan yang tumbuh atau tanaman sulur dengan bunga kecilnya yang mekar dengan indahnya.


"Sudah terpana-nya?"


Sergio mengangguk kaku. Sebenarnya ia belum puas mengobservasi sekitarnya, tapi Sergio menyadari satu hal yang penting.


"Apa maksudmu sebelumnya?"


"Tentang kutukan?"


Sergio mengangguk. Sebenarnya ia baru pertama kali mendengar hal ini, jadi ia merasa penasaran.


Orang itu menghela nafas sesaat, kemudian ia berdiri dari duduknya.


Saat orang itu berdiri, Sergio mendengar suara gesekan antara dua besi. Pandangan Sergio mengarah kepada kedua kaki orang asing itu.


'Ngomong-ngomong.... Dia yang menyelamatkanku, kah?'


"Hmm.... Dari penglihatanku, pedangmu bukanlah berasal dari dunia ini."


Sergio sedikit kaget ketika melihat orang itu berada di bagian kanan dan tengah memperhatikan tangan kanannya.


Dengan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat, Sergio bertanya "Jadi darimana pedang ini berasal?"


Yang dimana perhatian orang itu ke arah tangan kanan Sergio, kemudian beralih ke arah mata Sergio dan menatapnya selama beberapa saat.


Sumpah demi apapun. Sergio merasa sangat mengenal orang ini. Hanya dengan melihat tatapan tajam dari netra coklat terangnya itu sudah membuat Sergio merasa seperti bertemu teman lama.


Bukan hanya Sergio, tapi dia juga merasakannya. Tapi tentu saja ia tak ingin bertanya.


Dari sini kita mengetahui bahwa mereka memiliki ego masing-masing.


Huh, dasar lelaki. Ego lebih penting dari apapun.


"Darimana kau mendapatkan pedang ini?" Tanyannya setelah keheningan yang cukup lama.


"Hm? Pedang ini?" ucap Sergio sembari sedikit mengangkat pedang Beltza. "Ini diberikan oleh..."


'Tunggu.' kening Sergio mengerut. 'Jika yang dikatakan orang ini benar, maka seharusnya ini bukan milik Rakka.'


Sergio menatap dengan serius pedang Beltza yang bertengger manis di dalam genggaman-nya.


'Jadi ini milik siapa?'


"Apa yang kau pikirkan?"


Sergio kembali ke realita. Ia tersenyum kecil untuk memberikan kesan bahwa ia sedang tidak memikirkan apapun.


Kemudian ia mengingat suatu hal yang sangat penting.


"Ahh ya. Aku tak tahu namamu." Ucap Sergio dengan senyum keramahan yang baru saja ia latih.


Orang yang ada di hadapan Sergio ini mengangkat alis kanan-nya, terlihat heran dengan Sergio.


"Bukankah kau kau harus memperkenalkan dirimu terlebih dahulu?" ucapnya tajam.


'Hmm... Benar juga.'


Sergio mengulurkan tanga kirinya. Kenapa tangan kiri? Bukankah harusnya tangan kanan agar terlihat sopan.


Faktanya, Tangan kanan Sergio saat ini tak bisa bergerak. Terasa kaku dan kebas. Entah apa yang terjadi pada tangan kanan-nya saat ini.


"Sergio Vandelhein. Seorang siswa yang ditangkap seekor naga kemudian diceburkan begitu saja dari ketinggian. Salam kenal" ucap Sergio dan diakhiri sebuah senyuman ramah.


'Huh? Naga? Diceburkan? Dan apa? Seorang Siswa?'


Ia sungguh terkejut dengan beberapa fakta yang ia dengar.


Pada akhirnya ia membalas jabatan tangan orang asing- eh ralat. Sergio dan sedikit memberikan senyuman tipis.


"Senang mengenalmu" kemudian ia melepaskan jabatan tangan itu, dengan mudahnya.


'Hah? Huh?'


Terlihat raut wajah bingung Sergio.


"Hanya itu?"


"Apanya?"


"Hanya itu saja yang kau katakan?" Tanya Sergio dengan nada tak percaya.


"Ya. Memangnya apalagi yang harus kuberitahu? Tanggal lahir? Berat badan? Umur?"


"Memangnya kau mau melamar kerja!"


Keluarlah sifat asli Sergio saat itu juga. Saat ini ia merasa dipermainkan dengan makhluk yang ada di hadapannya ini.


Bukannya tersinggung, orang yang ada di hadapannya ini tertawa.


"Pfftt... Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan" ucapnya dengan suara kekehan di akhirnya.


"Baguslah jika kau mengerti."


Kemudian orang itu duduk di sisi kanan Sergio dan sedikit menunduk.


"Sebenarnya..."


"Apa? Apa namamu terdengar aneh?" Tanya Sergio yang mulai ngelantur.


Orang itu menggeleng, "Entahlah."


Sergio mengerutkan keningnya. Ia merasakan sebuah kejanggalan.


Orang yang ada di sebelahnya ini menghembuskan nafas dengan kasar.


"Aku tak memiliki nama."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author Note:


Yo?


*EHEHEHEHE *Ketawa tanpa tau dosa*


Iyek, tahu-tahu. Udah lama banget kan Rai nggak up. Mau yang cerita ini atau yang disebelah, lama amat up nya.


Ya mau bagaimana lagi. Rai sibuk di real life, dan juga Rai tidak memiliki ide sama sekali untuk menulis.


I'm so sorry my readers.


Jadi dua chap ini dulu ya. Kalau lancar nih otak lanjut nulis, cepat up. Kalau kagak ya.... Mohon bersabar. Rai mencari ide dengan cara menonton anime, membaca novel, Tau tidak membaca manga, manhua, atau manhwa.


Sekian terima kasih :v


ADIOS!!


Oh ya, yg dinyanyikan itu judulnya Through my Blood- Aimer


1. 423 kata