
Pagi hari...
BRUKK...
"Aku mau tidur!!"
Tiba-tiba saja terdengar suara kekehan kecil dari seseorang yang duduk di atas batang pohon yang roboh itu sembari tangannya sibuk membersihkan sisa-sisa darah pada jari-jemari indahnya.
"Tidurlah untuk beberapa menit. Nanti ku bangunkan."
Orang itu berdecih "Cih, yang ada aku ditinggalkan oleh kalian."
"Itu kau tahu."
"Aku tidak menemukan Sergio."
Otomatis kedua orang yang tengah bersantai itu langsung menoleh ke arah kiri mereka. Di sana mereka melihat Rakka dengan pakaian yang penuh bercak darah.
Mereka-- Rakka, Orga, dan Fahrez memiliki bercak darah. Entah di pakaian, rambut, atau tangan.
Intinya. Mereka sangatlah kotor.
Orga mengerutkan keningnya "Kau yakin? Sudah memeriksanya secara teliti?"
Rakka mengangguk "Ya. Orang yang memisahkan kita ini sangatlah licik" kemudian Rakka berjalan ke arah Fahrez dan Rakka, setelahnya duduk bersila diantara mereka berdua.
"Aku masih tak mengerti tentang tujuan Ellion menyuruh kita untuk membawa Sergio ke hutan Silvam ini" komentar Fahrez.
Rakka tertawa sinis "Dia itu orang tua yang suka memaksa."
Pagi hari kemarin, Ellion mendatangi Rakka di ruang makan. Dengan santainya sang Malaikat duduk di hadapan Rakka dan hal itu membuat Rakka merasa jantungnya akan pergi keluar hanya karena melihat Ellion.
Dan Ellion datang hanya untuk mengatakan...
'Bawa Sergio ke hutan Silvam. Disana ia akan mendapatkan pelajaran yang paling berharga.'
Tentu saja Rakka dan Orga sempat menolak, tapi ya.... Sang malaikat tentu saja tak ingin ada penolakan.
Dan dengan hati terpaksa, Rakka menyetujui nya.
Dasar Malaikat.
"Kau menyindirnya?" ucap Orga.
"Ngomong-ngomong..." ucap Fahrez yang berbicara sambil terlentang melihat awan putih yang bergerak. "Dimana mobilmu jatuh?"
"Kau bertanya mobil?" Orga tertawa kecil. "Apa mobil lebih berharga daripada Sergio?"
Fahrez dengan kesal bangkit dari acara berbaringnya kemudian ia berdecak kesal dengan ucapan Orga. "Hei kawan. Ada yang lebih penting di dalam mobil itu."
"Huh?"
"Oh. Kita ceroboh" ucap Rakka yang sudah mengetahui maksud dari Fahrez.
"Apa? Apa ini?" ucap Orga yang kebingungan sendiri.
"Ck! Vampire bodoh" gumam Fahrez.
"Aku mendengarnya."
"Baguslah. Telinga mu itu bukan hanya pajangan saja."
"Oh, kau mulai berani ya" ucap Orga dengan sebuah senyuman lembut, tapi terasa aura gelap dari senyumannya.
"Ahahaha.... Kau yang mulai ya. Vampire sialan" balas Fahrez.
Kemudian...
TAK...
"Ukh!"
TAK...
"Ack!"
""Sakit!!""
Si pelaku-- Rakka menatap tajam dua orang yang berkelahi dengan alasan tak jelas. Rakka baru saja melemparkan sebuah kerikil kecil yang dimana ujungnya sedikit runcing dengan sedikit kekuatan ke arah kening mereka berdua.
Untuk skala manusia, mungkin akan terjadi pendarahan hebat karena Rakka, tapi. Mereka berdua adalah seorang Demi-human dan Vampire.
Jangan anggap remeh, walaupun mereka meringis kesakitan sih.
"Untuk apa mencari. Bukankah disini banyak makanan?" ucap Orga dengan tangan kanan yang menunjuk ke arah belakangnya.
"Ah. Dibelakangku juga banyak" ucap Fahrez yang juga menunjuk kebelakang menggunakan ibu jarinya.
Rakka menghela nafas kasar "Kau pikir di belakangku tidak ada, huh?"
Di sekitaran mereka. Terdapat ribuan monster yang telah mati. Ada yang mati hanya dengan kehilangan jantung, kepala, mata, atau lainnya.
Intinya, para monster itu mati secara mengenaskan.
Belum lagi bau busuk mulai menguar dari para monster yang telah mati. Akan tetapi mereka bertiga terlihat biasa saja dengan apa yang telah mereka bertiga lakukan.
"Kita akan makan daging monster, lagi?" Tanya Orga.
"Aku sih sembarang saja. Tapi aku mau yang sedikit berlemak" celetuk Fahrez.
"Monster mana yang memiliki lemak" ucap Orga sedikit bingung.
"Apa tak bisa kita makan yang normal-normal saja?" ucap Rakka yang menatap jijik kumpulan monster yang telah mati.
Mereka berdua otomatis menyeringai senang ketika mendengar nada jijik dari Rakka.
"Oh, aku lupa kau itu selalu jijik kalau makan daging monster" ucap Orga.
"Benar sekali. Aku ingat waktu itu kamu memuntahkan daging monster yang telah kau telan itu. Uhh... Waktu itu sangatlah lucu" ucap Fahrez yang kemudian tertawa kecil karena mengingatnya.
Rakka cemberut "Itu tak lucu."
Orga dan Fahrez tertawa mendengar Rakka. Mereka bertiga sesaat seperti melupakan Sergio gang saat ini entah berada di mana, terombang ambing kah, mati kah, atau di makan monster kah. Mereka terlihat tak peduli.
"Huh, aku semakin lapar sehabis tertawa" ucap Fahrez sambil memegang bagian perutnya yang terasa kaku.
"Pfft... Dasar rakus" komentar orga.
"Cepat pilih."
"Huh? / Apa?"
Fahrez dan Orga terlihat bingung dengan omongan Rakka.
Rakka berdecak kesal "Cepat pilih daging monster yang kalian inginkan."
"Oh?" mata merah Orga berbinar senang. Ia tersenyum kecil mendengarnya.
"Hohoho... Aku tak tanggung-tanggung kalau begitu" ucap Fahrez yang dengan segera bangkit berdiri dan mulai menggesekkan kedua telapak tangan.
Orga mengikuti Fahrez-- ia mulai bangkit berdiri dan menoleh ke arah Rakka yang masih duduk. "Kamu tak ikut memilih?"
Rakka menarik nafas dalam kemudian membuangnya "Tak berminat" ucapnya dengan nada lemah.
Orga mengangkat kedua bahunya "Oke. Jangan sampai mati kelaparan. Disini." tegas Orga di akhir.
Sedetik kemudian Orga mendapatkan tatapan tajam dari Rakka.
Dan detik selanjutnya Orga sudah melesat pergi mendekati Fahrez yang sudah kegirangan di tengah-tengah kerumunan mayat monster.
Orang stres memang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hmm... Rai di Chap ini lagi nggak niat :(
823 kata