
"Akhirnya aku bisa makan hari ini" gumam Sergio.
Dirinya sekarang berada di meja makan dengan berbagai lauk-pauk yang terlihat lezat dari penampilannya.
"Hmm.... Apa ini?" Tanya Deiva sambil mengangkat sebuah daging yang dilumuri dengan kuah coklat yang terlihat kental.
"Ini terasa pedas" komentar Argen.
"dan gurih" ucap Atra.
"Hei, daging ini enak. Bagaimana caramu membuatnya?" Tanya Dewa Ares.
"Aku setuju denganmu kali ini" ucap Dewi Bishamon.
"Bumbunya terlalu kuat" ucap Dewa Hermes.
"Memang, tapi sangat enak. Aku baru pertama kali memakan daging ini" komentar Dewi Nyra.
Sergio senyam-senyum mendengar komentar yang ada.
"Namanya rendang. Makanan favorit Sergio" ucap Rakka.
Dewa Agni makan dengan elegan. Di dalam hatinya ia juga menyetujui komentar teman-temannya ini.
"Sepertinya aku harus meminta resep masakan ini" gumam Atra.
"Ya Atra. Minta resepnya dan buatkan aku yang banyak" balas Deiva.
Atra menatap Deiva datar, "Kau selalu memintaku memasak makanan yang dirimu sukai saja."
"Itu karena masakanmu selalu enak."
"Cih!"
"Hei, aku memujimu tahu."
"Kau memujiku kalau kau ada maunya."
"Itu tahu."
Atra memasang wajah jengah.
"Ohh... Kalau begitu sesekali aku bisa merasakan masakan yang kau buat" celetuk Sergio.
"Ekhemm.... Dilarang menggombal di waktu makan" tegur Orga.
"Beb, apa nasinya kurang? Ingin tambah?" ucap Orga yang bertanya pada Reina yang duduk di sebelahnya.
Reina menatap Orga dengan jijik. "Beb? Tuan, anda ingin saya tampar, tonjok, atau tendang? Silahkan pilih semau anda. Dengan senang hati saya melakukannya."
"Sepertinya kita membutuhkan kaca disini" sindir Sergio.
"Kita memiliki kaca paling besar di rumah. Tapi sepertinya ada seseorang yang masih tidak sadar diri disini" sindir Fahrez.
Orga langsung mendengus jengkel. "Diam kalian."
"Ssttt.... Kita sedang makan saat ini" bisik Rakka.
"Oh. Jadi kau meminta kita untuk diam dalam keheningan yang menyebalkan itu? Oh tidak. Terima kasih. Aku benci suasana itu" ucap Fahrez.
Rakka menghela nafas lelah. Baiklah. Seterah Fahrez saja. Dirinya sudah lelah hari ini. Dia ingin pergi ke kasur empuk miliknya!
"Oh ya. Aku lupa menanyakan hal ini" celetuk Dewa Agni.
Dewa Agni mengambil gelas berisi air putih kemudian meminumnya sebelum bertanya pada Sergio yang masih mengunyah daging di mulutnya.
"Apa Classmu?"
"Oh. Aku seorang Saber. Kenapa?"
Dewa Agni tersenyum tipis. "Tak apa. Hanya ingin tahu saja."
"Kalau begitu aku bisa mengajarimu tentang satu-dua hal tentang Saber" ucap Dewi Bishamon.
Sergio terihat terkejut, "Oh? Shamon seorang Saber juga?"
"Ya."
"Bagaimana kalau kita duel?"
Nafas Fahrez, Rakka, dan Orga tercekat.
Dewi Bishamon mengangkat alisnya. Sedikit heran sebenarnya. "Duel? Kau ingin kita berdua berduel, Sergio?"
Sergio mengangguk. "Ya, tapi aku ingin kita tidak memakai Archo, sihir, dan elemen. Kita hanya menggunakan murni kekuatan fisik."
"Kekuatan fisik, kah?"
Dewi Bishamon tersenyum lebar mendengar ajakan duel dari seorang manusia biasa.
"Baiklah. Kapan kita berduel?"
"Hmm... Bagaimana kala-"
"Hei Shamon, bukankah kamu punya suatu hal penting yang harus kau kerjakan" celetuk Dewi Nyra tiba-tiba.
"Hah? Kap-"
"Shamon, kita ada sesuatu yang harus kita urus setelah ini bukan?" ucap Dewa Agni.
Dewi Bishamon menatap Dewa Agni. Terlihat Dewa Agni memberikan tatapan jangan-kau-berduel-dengannya-kita-langsung-pulang-setelah-ini. Begitulah arti dari tatapan Dewa Agni.
"Oh ya, aku lupa. Hehehe.... Lain kali saja kalau begitu."
"Tunggu, aku tidak bilang hari ini" ucap Sergio.
"Eh? Jadi kapan?"
"Hmm.... Akan kupikirkan."
"Hah?"
Sergio terkekeh.
.
.
.
.
.
"Bye-bye Sergio. Sampai jumpa di akademi!" ucap Deiva.
Sergio membalas lambaian tangan Deiva di dalam mobil.
Mereka semua telah selesai makan. Dan saat ini Deiva, Atra, dan Argen berada di dalam mobil dengan Orga hang menjadi supir dan Reina yang ikut menemani.
"Orga, antarkan mereka sampai di rumah" pesan Sergio.
"Aye, Aye Captain!"
"Sampai jumpa lagi semuanya!" ucap Argen sambil dirinya melambaikan tangan pada Sergio.
Sergio tersenyum lebar. Dia membalas lambaian tangan Argen.
Sergio melirik ke arah Atra yang juga melambaikan tangan demgan pelan.
Setelah acara lambaian tangan itu, mobil mulai hidup dan pergi meninggalkan rumah.
Sergio menghela nafas lelah.
Hari ini dirinya cukuplah lelah. Tapi sebelum dirinya tidur dengan nyenyak dia harus mengurus sedikit masalah yang ada.
"Ayo masuk" ajak Dewa Agni.
Sergio mengambil nafas yang dalam kemudian menghembuskannya. Dia menutup kedua matanya dan terlihat menenangkan diri.
"Anig."
"Hm? Ada apa?"
Sergio membuka matanya. Terlihat netra hitamnya berubah menjadi biru terang. Rakka yang pertama kali melihat perubahan Sergio menjadi waspada.
"Ser-"
"Ini masih aku, Rakka. Tenang saja."
Rakka kembali diam di tempatnya. Sebelumnya dirinya ingin melesat ke arah Sergio dan mulai menanyakan apa yang terjadi.
Sergio berbalik dan berdiri menghadap kelima Dewa-Dewi yang menatap Sergio dengan berbagai pandangan yang beragam.
"Apa yang di lakukan seorang Dewa dan Dewi di sini?"
Hening.
"Jangan berbohong" potong Sergio cepat. Mata biru itu menatap Dewa Agni dengan tajam. "Ada urusan apa seorang Dewa-Dewi berada di rumah ini? Jawab aku."
Dewa Agni terdiam. Begitupula yang lainnya.
"Apa kalian tidak memiliki mulut?" sarkas Sergio.
"Sergio!" tegur Rakka.
Sergio melirik Rakka dengan tajam. "Aku tahu kau mengetahuinya. Kenapa kau rahasiakan?"
"Itu karena teman-temanmu" ucap Fahrez dengan santai.
"Teman-temanku?"
Fahrez mengangguk. "Begini. Bagaimana kalau temanmu itu tahu bahwa di rumahmu terdapat Kelima Dewa-Dewi yang terkenal? Sudah pasti mereka akan terkejut dan shock berat. Jadi kami memutuskan untuk para Dewa-Dewi merubah penampilan mereka. Sampai sini kau paham?"
Kelima Dewa-Dewi itu mengangguk membenarkan perkataan Fahrez.
"Oh. Begitu ya?"
Fahrez mengangguk. "Ya begitu. Jadi kau jangan marah atau apapun itu."
"Tapi...."
Sergio menoleh ke arah kiri dan kanan. Setelah itu dia kembali fokus ke depan dan sedikit menyeringai.
"Ternyata disini sangatlah ramai."
Rakka dan Fahrez sedikit terkejut.
Sejak kapan Sergio bisa mengira berapa orang yang ada di dekat rumah mereka.
"Ya.... Nama juga kita seorang Dewa ataupun Dewi. Harap maklum saja" ucap Dewa Hermes.
Sergio mengangguk mengerti. "Baiklah. Karena teman-temanku sudah pulang. Bisa kalian berubah ke penampilan kalian yang sebelumnya?"
"Umm.... Kau yakin?" Tanya Dewi Nyra dengan ragu.
"Sangat yakin sekali. Lagipula aku ingin mengenal kalian. Dewa-Dewi, tamu istimewa yang datang ke rumah bobrok ini."
Fahrez sedikit menggertarkan alis kanan-nya ketika mendengar kata 'bobrok'.
Kelima Dewa-Dewi itu saling menatap. Setelahnya mereka mengangguk bersamaan.
Mereka berlima mulai berubah ke penampilan yang sebelumnya.
Dewa Agni kembali ke penampilan dimana dia memiliki rambut merah membara yang panjangnya hingga punggung. Tinggi tubuhnya pun ikut berubah. Netra merahnya menatap Sergio dengan ramah.
Selanjutnya adalah Dewa Ares, rambut pirang kecoklatannya bersinar di bawah sinar bulan di malam hari. Wajah tampannya tidaklah berubah, tapi senyuman jenaka diwajahnya terlihat menjengkelkan bagi Sergio.
Kemudian Dewi Nyra. Rambut hijau gelapnya kembali dan aura suram ssorang Dewi Nyra menguar dari tubuh-nya.
Selanjutnya adalah Dewi Bishamon. Jujur saja, perubahan Dewi Bishamon yang membuat Sergio sedikit terkejut. Terkejut karena Dewi Bishamon memiliki Rambut pirang dan mata ungu gelapnya yang mempesona.
Yang terakhir adalah Dewa Hermes. Tubuhnya kembali memendek dari yang sebelumnya terlihat tinggi. Sergio sedikit menunduk untuk melihat Dewa Hermes.
"Baiklah. Bisa kalian memperkenalkan diri kalian masing-masing dan tujuan kalian ada disini, hm?"
"Kamu benar-benar tidak mengenal kita semua?" Tanya Dewa Ares.
"Tentu saja tid- ukh!"
"Sergio!"
Rakka segera mendekat ke arah Sergio yang terlihat menyentuh kepalanya.
"Kau baik-baik saja?"
Terlihat Sergio mengambil nafas dengan susah payah. "Apa itu?"
Rakka mengerutkan alisnya. "Apa?"
Sergio terlihat memasang raut wajah kaget dan sedikit rasa takut di netra biru milik Sergio.
"Aku melihat.... Sesuatu?"
"Hah?"
Sergio terlihat linglung sesaat. Dirinya menoleh ke kiri dan kanan dengan aneh.
"Apa itu?"
"Apa yang kau lihat?" Tanya Dewa Hermes.
Sergio menatap Dewa Hermes dengan tatapan kosong.
"Aku....
.... Melihat pembantaian."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°°||
Author Note:
Yo! Sudah lam banget sepertinya Rai tidak up ya?
Hehehe.... Maaf telat up nya.
Jadi author hanya curhat.
Jadi tuh Author tuh dari minggu lalu yuh sibuk banget. Tugas numpuk, terus ada pameran dan Author jadi perwakilan kampus yang membuat Author Drop selama tiga hari dirumah dan berakhir izin sakit selama daring perkuliahan.
Bahkan sekarang tugas Rai numpuk lagi.
Ini Author sempatkan buat nulis. Karena banyak yang nanya kapan up, jadi Rai nulis deh (soalnya nggak mau nunggu Fans The Another Soul nunggu lama 😥)
Semoga puas dengan dua chapter ini.
Sebenarnya mau buat sampe tiga chapter, tapi mata Rai udah nggak sanggup.
*Ngantuk banget soalnya *hehehehe*
Yap, begitulah Curahan hati author.
Sampai jumpa di Author Note selanjutnya!
Adios!
Salam manis
Raiyu
1.348 kata