The Another Soul

The Another Soul
Ch. 45 [Masalah]



"Lain kali jangan keluar seperti itu. Kau membuatku jantungan."


"Orga, aku hanya menyelamatkan gadis itu."


"Iya, tapi jangan membuat kami berdua kaget. Untung saja Reina adalah pengemudi ahli, jika tidak bisa saja dia menabrak orang."


"Uhh...baiklah. Reina maafkan aku."


"Lain kali jangan diulangi lagi, tuan Sergio."


Aku hanya bisa mengangguk. Saat ini kami hanya berkeliling dengan memakai mobil. Padahal aku berharap agar berjalan kaki, karena aku sangat ingin melihat distrik Agni dengan dekat.


"Kau ingin melihat sekolah barumu bukan?"


Aku mengangguk semangat mendengarnya.


Tiba-tiba saja kami berhenti di pinggir jalan. Aku memandang bingung pada Orga dan Reina.


"Ayo keluar, katamu kau ingin melihat sekolah barumu ini."


Aku menatap ke kananku. Dan aku melihat pagar emas setinggi lima meter. Belum lagi bangunan megah dengan dominasi warna merah gelap dan putih membuat bangunan sekolah ini terkesan mewah.


Mulutku terbuka lebar. Jadi ini sekolahku?


Aku melihat nama sekolahnya. Namanya 'Akademi Sihir Aiarimavi'.


"Sihir?"


"Sergio, kau tidak ingin keluar?"


Aku melihat mereka berdua sudah bersiap-siap ingin keluar.


"Tidak perlu. Bagaimana kalau kita pulang saja?"


Orga mengerutkan alisnya. "Kau tidak ingin melihat sekolahmu?"


Aku menggelengkan kepala pelan. "Aku ingin, tapi hatiku merasa tak tenang."


Orga menaikkan alisnya. "Hm? Apa yang membuat hatimu tak tenang?"


"Tak tahu. Tapi intinya, ayo kita pulang."


Aku merasa terjadi sesuatu di rumah, tapi aku tak tahu apa.


Orga dan Reina saling melihat, pada akhirnya Reina menuruti permintaanku.


"Baiklah tuan Sergio. Kita akan pulang sekarang."


Aku mengangguk.


Mobil mulai berjalan pelan. Aku bersender ke ke belakang, berusaha untuk merasa senyaman mungkin.


Tapi apa ini?


Aku meremas pelan dadaku. Rasanya sesak dan sedikit nyeri, tidak terlalu menganggu. Tapi lama-kelamaan terasa sakit. Di dalam pikiranku sekarang adalah Rakka dan Fahrez.


Aku merasa mereka berdua berhubungan dengan rasa sakit ini.


||°°°°°°°||


"Kita sampai. Rasaku kita baru saja pergi dari rumah in- Sergio, ada apa denganmu?!"


Saat ini Sergio sedang meremas dadanya. Napasnya sesak dan keringat dingin bercucuran. Kulitnya terlihat pucat dan sesekali Sergio meringis kesakitan.


Orga dan Reina dengan cepat keluar dari mobil. Orga langsung membuka pintu mobil belakang, tepat di sebelah Sergio.


"Sergio! Sergio!"


Orga menggoncang tubuh Sergio, tapi tidak ada jawaban. Yang ada hanyalah suara ringisan kesakitan dari mulut Sergio.


"Tuan, ayo kita bawa tuan Sergio ke dalam rumah."


Orga mengangguk. Dia membawa Sergio di punggungnya. Orga berlari ke dalam rumah, Reina mengikuti di belakang. Terlihat wajah Orga yang panik.


"Dimana Rakka!"


Orga berteriak. Fahrez yang kebetulan berada di ruang makan segera berdiri dan menghampiri Orga.


"Apa ini! Apa yang terjadi?!"


Orga menidurkan Sergio di sofa ruang tamu. Terlihat Sergio yang meringis kesakitan, dan juga dia semakin meremas dada-nya.


"Cari Rakka, cepat!"


Fahrez menurut. Dia berlari ke lantai atas, kamar sementara Rakka. Selagi Fahrez pergi memanggil Rakka, Orga memeriksa keadaan Sergio.


"Tunggu bukankah ini..."


Orga menjadi kesal. Dia menggebrak meja di sampingnya sampai hancur. Reina yang melihatnya terkejut. Sudah lama dia tidak melihat Orga semarah ini.


"Anak itu."


Orga melihat ke arah tangga. Dia melihat Rakka dan Fahrez yang sedang berlari. Mereka berdua menghampiri Orga.


"Orga ada apa ini?"


Rakka bertanya pada Orga. Tiba-tiba saja Orga berdiri, dan tanpa ada alasan yang jelas dia meninju wajah Rakka.


Rakka terpelanting ke belakang. Dia menyentuh wajahnya, terlihat di wajah Rakka dia terkejut.


"Dari dulu hingga sekarang, kau terus saja membuat masalah!"


"Ap-apa maksudmu!"


Orga berjalan cepat. Dia menarik kerah baju Rakka. "Apa maksudku? Kau lupa dengan perjanjian darah!"


Rakka terkejut. Dia melirik ke arah Sergio yang masih meringis kesakitan.


"Kau sadar! KAU SADAR, HAH!!"


Orga melepas kerah baju Rakka, tapi dia meninju wajah Rakka. Rakka tidak melawan, karena disaat Orga marah seperti ini mereka hanya bisa menunggu amarahnya reda sendiri.


"O-orga hen-hentikan..."


"Sergio, kau baik-baik saja?" Orga menghampiri Sergio. Terlihat dia masih menahan sakit, sesekali warna matanya berubah dari hitam menjadi biru terang.


"Z-zoe ti-tidak....kuh! Sa-salah!"


Orga menjadi khawatir. "Bersabarlah. Rasa sakit ini tidak akan lama."


Sergio mengangguk. Dia tidak tahu kenapa dadanya terasa sesak. Sakit, itulah yang dia rasakan. Tapi rasa sakitnya tidak sesakit saat dia di dalam mobil.


"Aku rasa bukan hanya satu orang saja" Orga melirik tajam ke arah Fahrez yang terdiam.


"Tak kusangka akan terjadi secepat ini."


Bukannya takut, Fahrez malah berkomentar.


"Kau sudah tahu kenapa masih saja melakukannya?"


"Kupikir perjanjian darah itu sudah tidak ada lagi. Mengingat bahwa Ilka sudah tiada."


Geram, Orga berjalan cepat menghampiri Fahrez. "Kau sialan! SERGIO ADALAH REINKARNASI ILKA SIALAN!"


Fahrez terkejut. "Orga, ada apa denganmu. Walaupun dia reinkarnasi Ilka sekalipun dia bukan Ilka yang kita kenal."


Mendengarnya membuat Orga semakin marah. "Brengsek! Kau tidak peduli pada Sergio hanya karena dia reinkarnasi Ilka! DIMANA HATIMU IBLIS SIALAN!"


"CUKUP!"


Mereka bertiga terdiam. Tidak lebih tepatnya mereka merasa ada aura yang membuat mereka merasa takut. Mereka bertiga menatap Sergio yang sedang berdiri walau napasnya terlihat sesak dan dari raut wajahnya dia menahan rasa sakit.


"Cukup, hentikan...kurgh!"


Sergio jatuh berlutut. Dia semakin meremas dadanya, dia merasa rasa sakitnya sekarang dua kali lipat lebih sakit dari sebelumnya.


"""Sergio!"""


Rakka menghampiri Sergio, begitupula dengan Fahrez dan Orga.


"Hentikan...hah....I-ilka ti-tidak menginginkan...hah....ka-kalian men-menjadi sep-seperti...hah...ini kuh!"


"Sergio! Maafkan aku, aku lepas kendali sampai memperparah apa yang terjadi."


Orga menyesalinya. Dia menyesal karena ikut terbawa emosi membuat Sergio menjadi lebih merasakan rasa sakit.


Di tengah rasa sakitnya, dia tertawa kecil. "Hahaha...kuh! Kalian, berhentilah menjadi anak kecil."


Sergio mendongak, melihat satu-persatu wajah yang tidak asing lagi baginya. Satu kesamaan wajah mereka adalah, khawatir.


"Bukankah aku pernah mengatakan 'Aku mungkin bukan Ilka, tapi aku akan berusaha untuk membuatmu berhenti merasakan penyesalan itu. Ini merupakan tugas Ilka, untukku'."


Sergio menatap Orga. Orga yang mendengarnya menjadi termenung. Apa yang di katakan Sergio sudah dia katakan waktu mereka berada di dunia Nromu.


Sergio menatap Fahrez dan Rakka. "Dan untuk kalian, aku juga pernah mengatakannya bukan."


'Aku adalah aku. Ilka adalah Ilka, sudah kubilang bukan. Ini hanya tugas dari Ilka, untukku.'


Fahrez dan Rakka terdiam.


"Aku adalah aku. Namaku Sergio Vandelhein bukan Ilka. Walaupun apa yang di katakan Orga membuatku terkejut hari ini."


Sergio menatap Orga. "Jika memang aku adalah reinkarnasi Ilka, itu sebabnya dia memberikan kalian padaku untuk menjaga kalian."


Mereka bertiga tersadar dari lamunan mereka. "Kalian tahu, kalian itu seperti anak kecil yang sedang memperebutkan permen."


Terdengan suara tawa dan asalnya dari Reina.


Sergio kembali berdiri, kali ini rasa sakitnya berkurang walau masih terasa nyeri tapi Sergio masih bisa menahannya.


"Kalian, sudah waktunya untuk bersifat dewasa. Hiduplah tanpa harus bergantung pada Ilka, mengerti."


Walaupun terdengar santai, tapi di telinga Orga, Rakka, dan Fahrez mereka seperti mendengar perintah. Ketiganya kemudian berlutut dengan kepala menunduk dalam.


"""Baik!"""


Sergio menghela napas lega. Mendengar suara mereka bertiga yang terlihat bersemangat seperti itu membuat hati Sergio sedikit tenang.


"Berdiri."


Mereka bertiga berdiri, mengikuti perintah Sergio.


"Hm? Kenapa kalian menjadi seperti ini? Bersikaplah biasa."


Sergio menjadi heran. Tiba-tiba saja mereka menjadi lebih hormat padanya.


Mereka bertiga saling menatap. "Apa mungkin karena karisma nya?"


"Tidak, wajah Sergio terlihat tidak memiliki karisma" Orga menolak pendapat Fahrez.


"Mungkin karena kekuatan Ilka di dalam diri Sergio sudah bangkit?"


Fahrez dan Orga menatap Rakka. "Tentu saja! Bagaimana bisa aku melupakannya."


Selagi mereka bertiga asik berdiskusi. Sergio menatap mereka bertiga. Akhirnya dia bisa menyelesaikan sebuah konflik yang mungkin saja jika dia tidak mengambil alih, bisa saja mereka bertiga sudah saling bertarung.


Untuk sesaat Sergio merasa tenang.


'Benar-benar, tugas yang di berikan Ilka padaku sungguh merepotkan.'


'Maaf jika merepotkan.'


Sergio terkejut. Dia mendengar suara yang lembut tapi tegas. Dia hanya tersenyum mendengarnya.


'Kau melihat mereka?'


Tidak ada jawaban. Sergio hanya menghela napas. Bukan hanya sekali dia mendengar suara ini. Tapi berkali-kali.


'Ya, aku melihat mereka.'


'Apa yang kau rasakan?'


Tidak ada suara lagi. Sergio terus menunggu, tapi tidak ada suara lagi. Suara ini sangatlah jarang muncul dan Sergio tahu siapa pemilik suara ini.


'Aku merasa...ingin membunuh mereka.'


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°°°°||