
"Mengamuklah, Seiryu!"
Cringg...
Bayangan sebuah naga muncul di belakang Dewi Bishamon. Terlihat siluet naga bewarna kebiruan itu mengaum dan Sergio bisa merasakan auman sang naga.
Setelahnya bayangan naga itu menghilang. Pedang yang berada di genggaman Dewi Bishamon berpendar dengan cahaya biru redup.
"Begitulah contohnya. Jadi?"
Jadi? Jadi apa yang harus Sergio lakukan sekarang?
Dirinya tidak mengetahui nama pedangnya. Jadi apa yang harus dia lakukan sekarang?
Menyerah?
Tentu saja tidak!
Sergio memasang kuda-kuda untuk menyerang. Netra hitamnya berubah menjadi biru. Mata biru itu terlihat berkilat dengan tatapan serius yang mampu membuat sang Dewi perang merasa tertantang.
Sergio siap untuk menyerang sang Dewi perang.
"Mari kita mulai."
Dewi Bishamon tersenyum miring, "Menarik" gumamnya.
Untuk sesaat mereka berdua masihlah diam. Tatapan tajam dan serius menjadi sebuah komunikasi. Satu sama lain sedang menunggu-- siapa yang akan bergerak duluan.
Sergio kah? Dewi Bishamon kah? Atau...
SYUHH...
SYUHH...
TRANG...!
Secara bersamaan!
Sergio dan Dewi Bishamon menyerang secara bersamaan. Pedang Seiryu milik Dewi Bishamon beradu dengan pedang milik Sergio yang masih belum memiliki nama.
Mereka berdua masih dalam posisi bertahan. Mendorong satu sama lain menggunakan pedang, menanti satu sama lain tentang siapa yang akan mundur.
Tapi masalahnya. Mereka berdua sama-sama tidak ingin mundur.
Sergio menggertakkan giginya. Dirinya mengeluarkan tenaga yang lebih besar, sampai pada akhirnya Dewi Bishamon sedikit terseret kebelakang dari posisinya.
Dewi Bishamon tersenyum lebar. "Menarik" gumamnya.
Dewi Bishamon mundur dengan cepat. Hal itu membuat Sergio sedikit kehilangan keseimbangan karena terlalu kuat mendorong.
Alhasil ada sebuah celah bagi Dewi Bishamon untuk menyerang.
Dewi Bishamon menyabetkan pedang Seiryu ke arah perut Sergio. Sedetik kemudian Sergio menghalau pedang Seiryu dengan pedang tanpa nama atau kita sebut saja unknown.
Percikan api muncul dari hasil gesekan antara kedua pedang berbeda warna. Dewi Bishamon tidak menyerah. Dirinya kembali melanjutkan dengan serangan tebasan beruntun yang mengarah pada titik buta Sergio.
Sergio menangkis semua tebasan beruntun, yang jika kena satu tebasan saja pasti akan membawa dampak buruk baginya.
"Apa ini? Apa kau tidak akan menyerangku?" Tanya Dewi Bishamon di saat dirinya masihlah menyerang Sergio.
Bukan tanpa alasan Sergio hanya diam tanpa membalas serangan Dewi Bishamon. Mata birunya masihlah tenang dalam menatap serangan-serangan Dewi Bishamon.
Tanpa diketahui Dewi Bishamon. Mata Sergio hanya seperti melihat tebasan yang terjadi seperti slow motion.
Disaat yang sama sangatlah lambat dan di saat yang sama pula terasa cepat.
Maklum saja, Sergio bahkan merasa sedikit pusing karena beberapa kali pandangannya sesaag berubah menjadi cepat yang kemudian menjadi lambat.
Dewi Bishamon kemudian menebas kepala Sergio. Tapi dengan mudahnya Sergio menunduk. Dirinya tiba-tiba saja melihat satu celah dalam serangan Dewi Bishamon.
Dengan cepat Sergio mengarahkan pedangnya ke arah perut Dewi Bishamon, berniat menebas sampai pada akhirnya Dewi Bishamon berkelit dengan cara berputar ke kanan dan bersiap menebas leher Sergio.
Namun lagi-lagi Sergio menghindar dengan menunduk lebih kebawah, yang kemudian dirinya menendang perut Dewi Bishamon.
Otomatis Dewi Bishamon mundur beberapa langkah karena tendangan Sergio yang sepertinya cukup bertenaga sampai membuat sang Dewi perang mundur.
Dan tentu saja ada yang bahagia.
"AHAHAHA.... Dewi perang macam apa ini! Kalah dengan seorang manusia! Lebih baik kau mengalah dan kembali ke dunia atas, Bishamon!"
Ketiga Dewa-Dewi yang duduk dengan santai sedikit melirik Dewa Ares yang terlihat bahagia.
Tentu saja ucapan Dewa Ares membuat Dewi Bishamon merasa panas.
Seumur-umur selama dirinya masih menjadi Dewi. Tidak ada yang pernah memberikan sebuah tendangan ke arah perutnya. Rata-rata setiap ada yang bertemu dengannya selalu memberikan hormat padanya.
"Seiryu, aku akan serius" gumamnya.
Pedang Seiryu bersinar redup. Terlihat pedang itu seperti menyetujui ucapan sang Dewi Perang.
Sergio merasa waspada ketika melihat binar keunguan Dewi Bishamon yang mulai menatap dirinya dengan serius.
"First Technique: Dragon Claw."
Dengan pelan Dewi Bishamon mengangkat pedang Seiryu dan menyabetkan pedang nya secara vertikal.
Sebuah tiga cakaran yang mwmiliki elemen air mengarah pada Sergio yang memasang posisi bertahan.
Dewi Bishamon tersenyum lebar. "Second Technique: Senbozakura."
Dewi Bishamon menancapkan pedang Seiryu ke dalam tanah. Setelahnya muncul retakan di tanah dengan sinar kebiruan yang menjalar ke arah Sergio yang masih menahan serangan pertama yang di berikan Dewi Bishamon.
Sergio membulatkan matanya. Dirinya melihat di bawah kakinya muncul air yang melesat kearah wajahnya sehingga menimbulkan luka goresan yang menhasilkan darah.
Tidak sampai situ saja, air kembali banyak yang muncul dari dalam tanah dan menyerang Sergio dengan cepat.
Matamya bisa melihat gerakan lambat, tapi beberapa ratus air yang terlihat tajam itu sulit untuk dihalau dengan pedang tipis miliknya.
"Hmm... Terlihat tidak adil" ucap Dewa Ares yang menatap intens pertarungan Sergio dan Dewi Bishamon.
"Apa kau tidak akan memberitahukannya, Agni?" Tanya Dewi Nyra.
Dewa Agni masihlah menatap pertarungan yang tidak terlihat adil itu. Dirinya sebenarnya ingin memberitahu, tapi dirinya tahu sebesar apa efek yang akan terasa.
Dewa Agni sedikit memijit pangkal hidungnya. Sedikit merasa pening dengan segala macam pikiran yang memenuhi otaknya.
"Hei lihat! Bishamon akan menggunakan tekhnik ketiga!" sahut Dewa Ares bersemangat.
Dewa Agni langsung melebarkan bola matanya, "Apa!"
Dirinya langsung menatap pertarungan yang terlihat berat sebelah itu. Dirinya melihat Bishamon yang terlihat memasukkan kembali pedan Seiryu dan tubuhnya lebih condong ke depan.
Astaga, sepertinya Dewi Bishamon terlihat menikmati pertarungan, pikir Dewa Agni.
Di sisi lain Sergio sesekali menghalau serang senbozakura. Walaupun beberapa ada yang melesat dan menambah luka yang ada.
'Ini gawat' batin Sergio.
Dirinya mulai merasa pening yang membuat kepalanya berdenyut-denyut. Dirinya tidak tahu kenapa. Tapi yang ia tahu, keadaannya membuat dirinya tidak bisa fokus.
Tiba-tiba saja Sergio meringis kesakitan ketika dirinya merasa ada yang menembus lengan kirinya.
'Terpojok ya?'
Sergio melebarkan bola matanya.
"Kaeiru" panggil Sergio pelan.
'Ya, ini aku. Kulihat dirimu terpojok dengan tidak elitnya' setelah itu terdengar suara tawa di dalam kepala Sergio.
Sergio mendengus jengkel. 'Kalau begitu bantu aku.'
'Apa? Membantumu?' Kaeiru mendengus, 'Apa kau tidak sadar bahwa di tanganmu itu adalah senjata yang paling hebat?'
Sergio langsung melirik pedangnya. 'Mana kutahu. Aku bahkan tidak mengetahui namanya tahu.'
Sergio menepis air yang melesat cepat kearahnya lagi. Dirinya, masihlah berkomunikasi bersama Kaeiru di kala dirinya masihlah menepis air yang melesat tajam kearahnya.
'Oh. Berarti dirimu tidak diakui. Kasihan' ucap Kaeiru dengan nada mengejek diakhir.
Sergio menepis dengan keras sebuah lesatan air. Terlihat dirinya melampiasakan rasa kesalnya pada serangan-serangan yang akan datang.
'Jadi kau tidak berniat membantuku?'
'Bukan begitu. Ck... Gimana bilangnya ya.'
Sergio yakin jika saat ini Kaeiru pasti sedang berjalan bolak-balik karena tengah memikirkan sesuatu.
'Begini. Dalam hal memanggil nama pedangmu, kau harus diakui terlebih dahulu. Jadi kau harus membuat dirimu diakui olehnya secara tidak sengaja.'
'Hah?'
Sergio menjadi bingung. Dirinya bingung dengan penjelasan dari Kaeiru.
'Aduh aku lupa kalau otak Sergio hanyalah otak udang.'
"Bisa tidak untuk tidak mengejekku, sialan!"
Oke, Sergio sudah mencapai batasnya. Dirinya sudah hilang kesabaran hanya karena percakapan singkat dengan jiwa lain yang berada di dalam tubuhnya ini.
Selagi Sergio sibuk berdebat dengan Kaeiru. Dewi Bishamon terlihat menutup matanya.
Dewi Bishamon kemudian membuka matanya, terlihat netra ungu gelap itu menatap tajam Sergio yang masih sibuk menghalau atau menepis dari tekhnik kedua miliknya.
"Third Technique: Dragon Dance."
Perlahan Dewi Bishamon menarik pedang Seiryu. Sedetik kemudian ledakan kekuatan yang sangat besar menghasilkan angin yang berhembus kencang.
Belum lagi volume air yang tiba-tiba meningkat dan sampai kabut muncul di dalam barrier.
Kabut itu menghalau penglihatan milik Sergio. Entah kenapa dirinya tidak bisa melihat keberadaan Dewi Bishamon yang sebelumnya berada tidak terlalu jauh darinya.
Sergio berputar. Dirinya melihat ke kiri dan kanan dengan waspada. Kelima indera miliknya ia fokuskan pada pergerakan sekecil apapun.
Tapi hasilnya nihil.
"Aku tahu" balas Sergio pelan.
"Kau tau Sergio."
Sergio langsung menoleh ka arah kanan-nya. Dia mendengar suara Dewi Bishamon, tapi kemudian terdengar suara di sebelah kirinya.
"Seiryu tertarik padamu."
Terasa pergerakan di belakangnya. Dengan cepat Sergio menebas ke belakang, tapi dirinya tidak melihat siapapun.
Dirinya kembali waspada.
"Bahkan Seiryu bergetar kesenangan melihat dirimu di sini."
Sergio mendecih, "Cih... Katakan pada naga kesayanganmu itu untuk diam saja. Dia terlalu cerewet untuk seukuran Naga."
Setelah dirinya mengatakan hal itu. Terdengar auman marah sang naga. Suaranya sangatlah keras dan bergema di dalam kabut kebiruan.
"Kau memang tau caranya membuat masalah."
Setelahnya tidak ada lagi sebuah suara yamg menganggu konsentrasi Sergio.
Seketika hening.
Sergio memutar tubuhnya dan berusaha untuk merasakan hawa keberadaan sang Dewi perang.
Sergio memasang sikap waspada lagi. Lebih waspada dari yang sebelumnya.
Di luar barrier, Dewa Agni terlihat menatap pertarungan berat sebelah itu dengan khawatir.
"Tekhnik ketiga: Tarian naga. Cih... Hanya untuk melawab seorang manusia dia sampau mengeluarkan tekhnik yang sangat luar biasa" ucap Dewa Ares.
"Sudah dipastikan Sergio akan kalah" sahut Dewa Hermes.
"Hei, kenapa kamu berpikir seperti itu. Bisa saja keadaannya berbalik" celetuk Dewi Nyra tidak terima.
Dewa Hermes mendecih, "Memanggil nama pedang miliknya saja tidak bisa. Apa yang harus diharapkan?"
"Yaa... Keajaiban pasti akan muncul!"
"Kenapa kamu terlalu berharap?" Tanya Dewa Hermes dengan heran.
Dewi Nyra terlihat berpikir sebentar sebelum menjawab. "Perasaanku berkata seperti itu."
Dewa Ares tertawa. "Bwahahaha....! Hermes, kau harus mempercayai ucapan Nyra."
"Huh? Untuk apa?"
Dewa Ares tersenyum kecil, "Soalnya wanita selalu benar."
BOOMM....!
Sebuah ledakan besar terjadi di dalam barrier. Ketiga Dewa-Dewi itu memandang ke arah barrier transparan yang terlihat dipenuhi dengan debu yang menutupi pandangan.
Beberapa saat kemudian terlihat sebuah lukisan naga yang terbentuk dari cahaya putih kebiruan di atas tanah.
Terlihat Sergio dan Dewi Bishamon yang berdiri berhadap-hadapan dengan pedang Sergio yang menghunus kearah Dewi Bishamon dan Dewi Bishamon yang menancapkan pedang Seiryu di dalam tanah.
Juga sebuah senyuman lebar di bibir ranumnya itu. "Akan ku tunjukkan kekuatan penuhku."
'Sergio!'
Sergio mengambil nafas kemudian membuangnya.
"Emaidazu aitormena, o iluna..."
Sergio mengucapkan kalimat demi kalimat yang berupa kata-kata asing.
Tapi kata-kata itu dipahami dengan pasti oleh Rakka.
"Tidak mungkin" gumamnya dengan terkejut.
"...Ni naiz argia eta zure jabea naiz..."
"Apa ini? Apa kau berusaha mendapatkan pengakuan dari pedangmu?" Tanya Dewi Bishamon.
Tapi Sergio tidak menghiraukan Dewi Bishamon. Sergio masihlah fokus pada kata-kata yang di ucapkannya.
"...Aitor ezazu zure argia lausotzen denean..."
Pedang Sergio mengeluarkan aura hitam yang sangatlah gelap. Perlahan-lahan aura gelap itu melewati tubuh Dewi Bishamon dan juga orang-orang yang berada di luar pun bisa merasakan aura gelap pedang bewarna Vantablack itu.
"...Beltza!"
SRIINGG...
Pedang milik Sergio mengeluarkan Aura hitam yang lebih besar dari yang sebelumnya. Terasa mencekam dan dingin.
Dewi Bishamon yang sebagai lawan dari Sergio sempat terperangah, tapi dirinya berhasil mengendalikan dirinya. Dewi Bishamon tersenyum selebar yang ia bisa.
"Bagus. Bagus sekali Sergio! HAHAHAHA...!"
Dewi Bishamon Tertawa keras. Dirinya merasa 100 kali bersemangat selama dirinya hidup.
"Seiryu! Lihat lawanmu! Kau tak ingin kalah bukan?!"
GRAWWW....!
Auman naga yang sangat keras terdengar. Seperti suara yang mengerti akan ucapan sang Dewi Perang.
"Kalau begitu tunjukkan padaku. Kekuatan sang Naga Timur."
Setelahnya pedang milik Dewi Bishamon bersinar terang. Dari bilah besi pedang Seiryu, muncul sebuah ukiran naga yang bergerak meliuk-liuk dengan indahnya.
Seakan-akan ukiran berbentuk naga itu hidup.
Naga itu kemudian menjalar ke tangan kanan Dewi Bishamon. Bahkan ukiran naga itu masihlah bergerak di kulit putih Dewi Bishamon
Netra ungu gelapnya menatap Sergio yang diam menunggunya.
Tapi ada sebuah perbedaan dari penampilan Sergio.
Mata Sergio menjadi heterochome. Yaitu mata berbeda warna.
Mata sebelah kirinya menjadi coklat dan mata kanannya menjadi biru terang.
Dewi Bishamon bergumam.
"Tunjukkan kekuatan sang Heroia padaku. Wahai putra Ellion."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°°||
Hmm....
Bagaimana?
1. 861 kata