
Wajah shock terlihat di wajah para Dewa-Dewi itu.
Sergio yang menyadari keterkagetan teman-teman Anig ini mengerutkan alisnya. "Apa ada masalah?"
Dewi Nyra yang menyamar menjadi Yarn menggeleng pelan. "Tidak ada Sergio."
"Hmm... Keluarga Fafri, Rykolius, dan Dayleif, kah?"
Semua yang ada di sana memperhatikan Dewa Hermes yang masih setia membaca sebuah buku lusuh. Merasa dirinya ditatap, Hermes mengangkat kepalanya kemudian menatap heran, "Ada apa?"
"Tidak ada" jawab Dewa Agni dengan cepat.
Terjadi kecangungan panjang setelahnya.
Fahrez yang menyadari aura kecanggungan yang tidak nyaman itu segera menyyenggol Rakka yang terlihat melamun.
"Bagaimana bila kau menyiapkan makan malam?" bisik Fahrez.
Orga yang berada di samping Rakka mengangguk, menyetujui saran Fahrez.
"Kau sepertinya mengenal mereka bertiga."
Keheningan panjang itu dipecahkan oleh Sergio yang menatap Dewa Hermes dengan rasa penasaran yang tinggi. Dewa Hermes mengangkat kepalanya, kemudian menyipitkan matanya.
"Apa kau tidak mengenal tentang seberapa terkenalnya keluarga teman-temanmu ini?"
"Tidak."
Dewa Hermes terdiam. Dia menatap Sergio dengan cermat, mencari kebohongan. Tapi apa yang di katakan oleh Sergio memang benar adanya.
Kemudian Dewa Hermes memperhatikan ketiga teman Sergio yang mulai menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan.
"Aku seorang Irregular."
Para Dewa-Dewi sontak memandang Argen yang berbicara dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Saya juga" ucap Atra dengan pelan.
Para Dewa-Dewi memandang Deiva dengan penasaran.
"Aku Regular,"ucap Deiva dengan santai.
Para Dewa-Dewi menghela nafas lega.
Fahrez yang berada di belakang sofa tempat duduk Sergio dan ketiga temannya hanya bisa menahan tawa.
Menurutnya, melihat Dewa-Dewi yang terlihat Shock dan lega itu merupakan sebuah hiburan yang jarang ditemukan.
Ayolah, kapan lagi bisa melihat raut wajah seorang Dewa-Dewi yang biasanya memberikan senyuman lembut, tegas, dan berwibawa yang kemudian berubah menjadi raut wajah shock, cemberut, dan kekanak-kanakan.
Hanya disini. Di rumah Fahrez bisa terjadi seperti ini.
"Oh ya. Sergio, kenapa kau terlihat pucat seperti itu?" Tanya Dewa Ares dengan penasaran.
Sergio tersenyum tipis "Aku terlalu banyak menggunakan Archo."
Dewa Ares mengerutkan alisnya. "Seingatku penggunaan Archo tidak ak--Bwaahh!"
Sebuah tangan menutup mulut Dewa Ares. Si pelaku adalah Dewa Nyra yang memasang sebuah senyum lembut, tapi terasa penuh ancaman di senyuman itu.
"Ahahaha.... Ressa mengatakan omong kosong."
Sergio menatap aneh mereka berdua.
Sebenarnya Sergio merasa aneh sedari awal. Melihat Anig yang datang ke rumah, padahal dirinya tidak pernah mengatakan alamat rumahnya dimana.
Apa karena Anig teman Fahrez, Rakka, dan Orga? Pikir Sergio.
Tapi yang lebih mengherankan lagi adalah, teman-teman Anig, pikir Sergio lagi.
Kenapa Anig menceritakan Sergio kepada teman-temannya?
Jadi selama keheningan pajang itu, Sergio terus berpikir 'Kenapa?'.
"Ahh... Sudah mulai memasuki senja. Apa kalian ingin makan malam sekarang?" Tanya Rakka.
Sergio menoleh ke arah Rakka, kemudian ia tersenyum lebar. "Itu kata-kata yang kutunggu sedari tadi."
"Kamu kan sudah lapar sedari tadi" celetuk Deiva.
"Ohh... Apa kamu tidak lapar juga sedari tadi nona?" tanya Argen.
"Diam kau! Dasar pemberi saran menyebalkan!"
"Oh, tapi kau menanyakan tentang 'apa yang bisa kubantu?' begitu. Kau yang menawarkan diri. Aku hanya memberikan saran."
Deiva menatap jengkel Argen yang terlihat sedang mempermainkan dirinya. "Semoga dirimu mendapat nilai E di ujian!"
Argen memasang wajah sok nya itu. Kemudian Argen menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan sedikit mengangkat dagu. "Hohoho.... Kita lihat siapa yang akan mendapatkan nilai E lagi."
Atra yang melihat pertengkaran yang seharusnya tidak perlu di peributkan itu hanya bisa menghela nafas berat.
"Sesama yang memiliki nilai E saling mengejek" gumam Atra.
""Siapa yang mengatakan itu?!""
Atra terkesiap. Padahal dia hanya bergumam saja, tapi ternyata kedengaran di telinga mereka berdua.
"Atra bilang begini 'Sesama yang memiliki nilai E saling mengejek' begitu. Oh ya, aku tak tahu bahwa mereka berdua sebodoh ini" celetuk Sergio dengan tenang.
Atra memandang Sergio dengan tatapan bahwa Sergio adalah seorang pengkhianat. Tak bisakah Sergio diam saja? Setidaknya dirinya tak perlu mencari masalah yang tak perlu.
Setelah Sergio yang mengatakan hal itu, ketiga pengawal Sergio cekikikan di belakang Sergio. Apalagi Fahrez yang sepertinya sudah tidak teralu bisa menahan tawanya.
"Pffttt.... Apa dirinya tak bisa mengaca?" sindir Orga.
"Lucu pfftt... Lucu sekali Sergio" ucap Fahrez.
"Aku yang menjadi guru sementaramu saja sudah memberikan nilai terendah" gumam Rakka.
Sergio yang mendengarnya memunculkan siku-siku imajiner di dahinya. Dirinya kesal, tapi tidak bisa berkata apa-apa.
Itu semua karena apa yang dikatakan mereka bertiga benar adanya.
"Kapan kita mulai makan?" Tanya Sergio dengan jengkel.
Rakka berjalan ke arah dapur dengan sesekali ia tertawa pelan.
Atra yang melihat Rakka berjalan ke arah dapur segera berdiri. "Biarkan saya ikut membantu."
"Aku juga" ucap Deiva.
Rakka tersenyum tipis dan mengangguk.
Fahrez yang memandang kedua gadis yang berjalan bersisian dengan Rakka bersiul.
"Baru sehari sekolah sudah membawa dua calon istri."
Sebuah tinjuan keras melayang pada perut Fahrez.
Fahrez sedikit meringis, tapi sebenarnya ia tidak terlalu merasakan sakit.
"Ohoho...Ada yang lagi malu-malu kucing. Akui saja Sergio" ucap Orga.
Sergio menatap tajam Orga. "Lebih baik kau memperhatikan Reina yang berada di luar sendirian."
"Sendirian!"
Sergio menatap aneh Orga yang terlihat bersemangat ketika mendengar ucapan Sergio.
"Ya. Sendirian" tegas Sergio.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Fahrez, kuserahkan disini padamu."
Orga menepuk bahu Fahrez dua kali, kemudian ia melesat pergi begitu saja dari ruang tamu.
Sergio menggeleng pelan. "Dasar bucin" gumamnya.
Sergio menatap keenam tamu yang sedari tadi terus memperhatikan dirinya.
"Ada apa?"
"Oh ya" seperti mendapatkan sebuah ide, Sergio menatap keenam tamu ini dengan ceria. "Apa kalian bisa bermain game?"
"Game?" gumam para Dewa-Dewi.
Sergio mengangguk-angguk dengan semangat. "Ya. Game. Kebetulan aku baru saja membeli sebuah playstation keluaran terbaru! Tak kusangka di dunia ini juga ada!" ucap Sergio dengan semangat.
Argen yang mendengarnya segera menoleh kearah Sergio. "Yang kau ceritakan di dalam mobil itu?" tanya Argen tak kalah semangat.
"Ya, yang itu."
Mata Argen terlihat berbinar-binar "Ayo cepat main!"
Kedua lelaki itu terlihat bersemangat.
Kecuali keli-- ralat, keempat Dewa-Dewi itu yang melongo kebingungan.
Hanya satu orang yang juga ikut bersemangat.
"Kau memilikinya?! Astaga! Kenapa tidak bilang dari tadi?!"
Dia adalah Ressa atau lebih tepatnya Dewa Ares yang sekarang ikut bergabung dengan 'pertemanan tiba-tiba' itu.
"Kamu bisa bermain game?" tanya Argen.
"Tentu saja bisa! Aku bahkan sering bermain PU*G di waktu luang."
"Ohh... Kamu bermain juga ternyata."
"Aku juga bermain" ucap Sergio.
"Bagaimana kalau kita akan main bersama?" ajak Argen.
"Setuju!"
Dewa Agni hanya bisa menepuk jidatnya. Dia tidak tahu harus berkata seperti apa ketika melihat kelakuan Dewa Ares. Seorang Dewa perang yang senang bermain Game.
"Apa hanya itu saja yang kalian mainkan?"
Perhatian ketiga lelaki itu teralihkan pada suara lembut yang berdiri di hadapan mereka bertiga.
"Shamon? Kamu bisa bermain juga?"
Dewi Bishamon mengangguk. "Tapi aku tidak terlalu bisa bermain PU*G."
"Jadi kau bisa bermain apa?"
Dewi Bishamon menyeringai "DOT* dan Underlor*s."
Ketiga lelaki itu terdiam dan sedikit tercengang.
"Sejak kapan kau bermain game nenek!"
'Ya! Sejak kapan Bishamon bermain game!' batin Dewa Agni, Dewi Nyra, dan Dewa Hermes yang ternyata juga ikut memperhatikan pembicaraan absurd ini.
Dewi Bishamon melotot pada Dewa Ares, "Jaga mulutmu sialan!"
"Hohoho.... Ternyata seorang pro" ucap Sergio.
"Kita memiliki seorang pro disini" ucap Argen.
"Tidak! Dia bukan pro! Dia seorang noob!" ucap Dewa Ares.
"Hei! Aku tidak noob!"
Dewa Agni kembali menepuk jidatnya (ini yang kedua kalinya). Dewa Hermes menghela nafas lelah. Pada akhirnya dia kembali membaca buku. Sedangkan Dewi Nyra mengedip-ngedip kan matanya.
"Aku juga bisa bermain game!"
Sergio, Argen, Dewa Ares, dan Dewi Bishamon menatap Dewi Nyra yang berdiri dari duduknya.
Dewa Agni yang duduk di sebelahnya menatap tak percaya.
Bahkan seorang Dewi alam juga ikut bermain game! Pikir Dewa Agni.
Dewa Hermes tertawa kecil "Ini lucu sekali."
Dewi Nyra mengambil handphone di dalam sakunya. Setelah itu ia membukanya dan menunjukkan game apa yang dia mainkan.
"Nih lihat!"
Sergio, Argen, Dewa Ares, dan Dewi Bishamon menatap handphone Dewi Nyra dengan serius.
Setelah itu mereka berempat tidak tahu harus berkata apa.
Fahrez yang sedari tadi terus diam dan memperhatikan pembicaraan aneh ini pada akhirmya haru menahan tawanya, lagi.
'Seorang Dewi memainkan Game Pou? Apakah tidak ada yang lebih lucu dari hal ini?' batin Fahrez.
Dewa Agni kembali menepuk jidatnya (dan ini yang ketiga kali-nya). Dewa Agni terlalu pusing melihat tingkah laku ketiga Dewa-Dewi ini.
Dewa Hermes cekikikan di balik bukunya. Terlihat kedua bahu itu bergetar karena harus menahan tawa.
Benar-benar hari yang absurd hari ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°°||
Tebak nama-nama Game apa aja yang dibahas di chapter ini 😌