
Mataku.... Berubah menjadi biru?
Aku menatap manusia pucat itu, dan berkata.
"Kau pasti tahu apa yang sedang terjadi padaku."
Manusia itu, tersenyum kecil.
"Ya, aku tahu. Dan tentunya aku tahu semua tentang dirimu, Sergio Vandelhein."
Aku tak terlalu terkejut ketika dia tahu namaku.
"Oh... Berkebalikan dengan diriku. Aku tak tahu dirimu. Bahkan namamu saja aku tak tahu."
Manusia pucat itu memutar bola matanya malas.
Sungguh tak sopan.
"Fahrez. Itu namaku, puas."
Aku tersenyum, "Begini lebih baik. Sekarang bisa jelaskan keadaanku sekarang. Jujur saja aku ingin pergi ke sekolah, tapi keadaan mataku seperti ini."
Yang kumaksud adalah mataku yang sebelumnya bewarna hitam, berubah menjadi biru.
"Apa kamu tak ingat kejadian semalam?"
"Huhh...? Semalam?"
Seingatku aku tak melakukan apa-apa semalam. Kecuali...
"Apa kamu mengira semalam hanya mimpi?" Fahrez tertawa kecil. "Semalam kamu seperti tikus, aku bahkan tak bisa menahan senyumku waktu itu."
Tunggu, tunggu, tunggu dulu. Apa maksudnya?
"Apa maksudmu.... Yang kukira mimpi itu... Benar-benar terjadi?"
Fahrez menganggukan kepalanya.
"Tak mungkin. Kau pasti berbohong." Uacapku tak percaya padanya.
"Tak percaya tak apa. Namun, ada satu yang paling penting. Luka di pergelangan kakimu adalah buktinya."
Aku menatap pergelangan kakiku. Yang di katakannya masuk akal. Di dalam mimpi ku, aku sempat terjatuh dua kali. Dan sepertinya aku tak bisa mengelak.
Sekarang yang berada di pikiranku adalah.
"Siapa kau?"
Fahrez tersenyum. Kali ini senyumannya membawa rasa takut.
°°°°°
Kringgg.... Kriinggg... Kringgg
'Untungnya aku tak terlambat.'
Aku menghela nafas lega.
Aku berlari dari rumah ke sekolah. Untungnya jarak rumah ke sekolah lumayan dekat, jadinya yang kuperlukan hanyalah berlari sekuat tenaga.
"Fahrez sialan. Aku akan memberi pelajaran dengannya."
Ya, yang membuatku terlambat adalah dirinya. Setelah di tersenyum menakutkan seperti itu, dia malah berkata.
Beberapa menit sebelumnya....
"Apa kamu tak sekolah? Kurasa kamu akan terlambat kalau tak sekolah sekarang."
Aku membulatkan mataku. Dengan segera aku memakai seragam sekolahku dengan cepat.
"Sialan kau, kenapa tak mengingatkanku dari awal."
Dia hanya menatapku.
Tak lama kemudian aku sudah siap. Aku tak perlu sarapan karena waktunya tak cukup.
Ketika aku ingin pergi, aku mengingat keadaanku sekarang.
"Umm... Apa mataku masih biru?"
Aku bertanya pada Fahrez yang masih setia bersender di tembok rumahku.
"Tidak. Sudah kembali normal."
"Oh, Baguslah. Oh... Ya, kau akan ada disini setelah aku pulang sekolahkan?"
Dia menatapku ragu.
"Ya. Sepertinya" ucapnya ragu.
Aku memutar mataku, jengah.
Aku memakai sepatu sekolahku. Kemudian aku berdiri, bersiap membuka pintu.
"Kalau masih disini, jaga rumahku. DAN jangan sentuh APAPUN. Paham."
Fahrez mengangguk kecil.
"Bagus."
Tiba-tiba aku merasa seperti kakak, yang memberikan perintahnya pada adik.
"Aku pergi dulu.....Levi."
Cklek.
Aku menutup pintu, dan segera berlari dengan cepat. Tanpa memikirkan apapun.
Sekarang...
Setelah kuingat baik-baik. Aku mengucapkan satu nama yang aneh. Tapi kenapa aku sulit untuk mengingatnya kembali.
"Yah sudahlah. Aku akan bertanya padanya setelah pulang."
Aku masuk kelas bersamaan dengan wali kelasku masuk.
"Oh, Sergio. Tumben kamu telat" Ucap wali kelasku.
Aku hanya tersenyum kecil membalasnya. "Maaf pak, saya telat bangun pagi."
"Hahaha.... Apa kamu begadang?" tanyanya dengan tertawa kecil.
Aku menggaruk belakang kepalaku yang tak gatal. Kalau dikatakan begadang sepertinya iya.
"Ya.... Seperti itu pak." ucapku ragu.
Dia kembali menatapku. Kali ini dengan tatapan lain. Tapi yang pasti, aku merasa waspada pada wali kelasku sendiri.
Nama wali kelasku adalah Jevan Chrollo. Rambutnya warna hitam, dan mata bewarna hijau zamrud. Gadis-gadis di kelasku bahkan tergila-gila dengan wali kelasku dikarenakan parasnya yang tampan.
Berbeda dengan diriku yang bergaya dekil. Rambut hitam berantakan, memiliki kantung mata membuatku sekilas mirip panda. Dan tak dilupakan caraku berdiri yang sedikit membungkuk.
Ya, aku terlihat seperti orang bodoh.
Pak Jevan tersenyum kecil. "Sergio, apa kamu tak masuk kelas."
"Eh... Oh, ya saya masuk duluan pak."
Pak Jevan masih tersenyum, tapi aku tak memperdulikannya. Tapi ada satu hal yang tak kusadari.
Jevan Chrollo. Dia tersenyum. Senyum yang sangat menakutkan.
°°°°°
Fahrez POV
Aku menatap sekeliling rumah ini dengan seksama. Aku masih belum beranjak dari posisiku sekarang. Aku masih memikirkan nama yang dia sebutkan sewaktu dia ingin pergi ke sekolah.
"Bagaimana bisa."
Aku terkejut. Bisa kupastikan kalau Sergio adalah 'dia'.
Aku menaruh tanganku di dagu, kemudian mencoba berpikir.
'Dia tahu nama panggilanku. Tak salah lagi, kalau 'dia' sudah bangkit.'
Tapi ini aneh. Seharusnya, kebangkitan 'dia' terjadi setelah aku membuka segel kekuatannya. Tapi kenapa terjadi pagi ini? Apa terjadi kesalahan?
"Aku tak bisa berpikir sendiri. Aku butuh seseorang untuk membantuku."
Segera saja aku berjalan kearah jendela. Kemudian aku membukanya, bersiap untuk melompat. Tapi aku menemukan sebuah foto yang kacanya retak di bagian ujungnya.
Aku menatap foto itu dengan serius.
Yang kutemukan di foto itu ada seorang wanita berambut pirang dengan mata biru. Wanita itu tersenyum bahagia.
Dan ada seorang lagi di sebelahnya yang memiliki rambut hitam berantakan. Dia tersenyum, tapi hanya senyum tipis. Aku tak tahu kapan foto ini diambil.
Perkiraanku, foto ini diambil saat mereka berusia 10 atau 12 tahun. Mereka masih sangat muda di foto itu. Dengan latar pepohonan hijau dan rumput hijau, dan matahari terbenam semakin memperindah foto itu.
Tapi ada satu hal.
"Wanita itu.... Sial, jika apa yang kupikirkan benar."
Aku tak bisa melanjutkan perkataanku.
Aku membawa foto itu dan segera pergi dari rumah.
Wanita itu. Adalah Iblis.
||°°°°°°°°°°||