The Another Soul

The Another Soul
Ch. 20



"Tadi cukup menegangkan."


Fahrez berkata pada Rakka, yang saat ini sedang memeras kain di baskom kecil. Saat ini mereka berdua berada di dalam kamar yang cukup luas untuk mereka bertiga tempati.


"Kamu benar, hampir saja aku lepas kendali."


Rakka langsung menaruh kain basah itu di kening Sergio, yang saat ini masih demam.


"Baru pertama kali aku melihat sang penjaga gerbang."


Fahrez, dia menatap jendela dimana bulan masih bersinar dengan terangnya.


"Kamu benar. Waktu aku pertama kali membuat perjanjian, aku tak melihat wajahnya. Aku hanya mendengar suaranya saja."


"Aku juga. Apa menurutmu Dewi Sanita tertarik pada Sergio?"


"Mungkin ya atau mungkin juga tidak."


"Ternyata kau ragu juga."


Rakka hanya menghela nafas.


"Permisi tuan, makanan sudah siap."


""Eh?""


Secara bersamaan mereka berdua menatap ke arah pintu. Disana muncul seorang gadis dengan pakaian serba hitamnya. Dia adalah Fifi.


"Oh Fifi, kami akan segera ke sana."


Fifi tidak menjawab. Dia hanya membungkuk sedikit kemudian dia pergi.


Setelah merasa tidak ada orang lagi, mereka berdua menghela nafas lega.


"Tak kusangka, pelayan Dewi Sanita sungguh hebat dalam menyembunyikan aura keberadaannya."


"Fifi memang begitu. Dia orangnya terlalu kaku."


""EEHH!!""


Lagi-lagi mereka berdua di buat terkejut. Kali ini yang muncul adalah Dewi Sanita sendiri.


"Eh? Apa aku mengganggu?"


"Ti-tidak, tentu saja tidak Dewi Sanita. Anda tidak menganggu kami."


Rakka menjawab gagap.


Dewi Sanita yang melihatnya hanya tertawa kecil. "Santai saja, anggap saja aku ini sama dengan kalian."


"Ahahaha.... Baik Dewi Sanita."


Rakka hanya bisa menurut.


Dewi Sanita berjalan ke arah Sergio, setelah sampai dia duduk di samping Rakka. Kasur Sergio hanya kasur tipis di atas lantai, jadi mereka bertiga duduk di lantai kayu.


"Hmm... Wajahnya manis."


Dewi sanita mengelus pipi kanan Sergio. Dia mengelusnya beberapa kali, kamudian dia tarik kembali tangannya. Kembali menatap Sergio yang saat ini berkeringat dingin.


"Panasnya tinggi."


Fahrez dan Rakka hanya terdiam dan hanya bisa melihat Dewi Sanita.


"Apa aku bisa membantunya?"


"Maaf, tapi tak bisa."


Fahrez akhirnya bicara setelah sekian lama diam.


"Kenapa?"


"Ini karena efek samping penggunaan kekuatan jiwa lain itu. Hanya bisa sembuh jika tenaga pemakai-nya sudah pulih."


"Bukankah bisa memakai energi kita untuk menyalurkannya ke Sergio?"


"Kami sudah pernah mencobanya, tapi gagal."


Dewi Sanita mengerutkan kening, bingung.


"Bukankah itu berarti anak ini pernah menggunakan kekuatan lain dari jiwa itu."


"Anda benar. Waktu itu kami harus menunggu selama tiga hari, dan dia siuman setelah tiga hari itu."


"Jadi, perkiraanmu butuh berapa lama anak ini bisa sadar."


Rakka menjawab. "Lima atau enam hari."


Dewi Sanita mengarahkan telapak tangannya ke arah Sergio, setelah itu muncul sebuah rune bewarna ungu terang melingkupi seluruh kasur Sergio. Kemudian dari lantai kayu muncul cahaya dan membentuk kristal transparan bewarna ungu yang perlahan naik dan membentuk kubah kecil.


"Selesai. Kubah ini akan membantu menyembuhkan anak ini. Perkiraanku dalam dua hari dia sudah siuman."


Rakka menatap kubah kecil itu. Kemudian dia mengalihkan perhatiannya pada Dewi Sanita.


"Terima kasih."


Rakka berucap sambil bersujud ke arah Dewi Sanita. Dewi Sanita yang melihatnya hanya bisa tersenyum.


"Sama-sama, karena masalah disini sudah selesai, aku pergi dulu."


Dewi Sanita berdiri, Rakka yang melihatnya ingin mengantar Dewi Sanita, tapi Dewi Sanita langsung mengangkat tangannya.


"Tak perlu mengantarku. Kamu jaga saja anak ini baik-baik."


Rakka hanya bisa mengangguk pelan. Akhirnya Dewi Sanita pergi dari kamar itu. Setelah kepergian Dewi Sanita. Rakka dan Fahrez kembali menghela nafas lega.


Rakka melihat kembali ke arah pintu. Berpikir ada yang datang kembali, tapi tidak ada yang datang. Barulah Rakka benar-benar bernafas lega.


"Sergio benar-benar menarik perhatiannya."


Fahrez menatap kubah kristal yang melingkupi Sergio. Fahrez mengetuk kubah kristal itu dan terasa keras.


"Hmm.... Ini sama seperti sisik ku. Keras sekali, hanya bisa dihancurkan dari dalam."


"Kamu benar."


Rakka mengikuti Fahrez yang mengetuk kubah kristal itu. Dia mencoba menggunakan sihir angin yang berbentuk pisau, kemudian dia tebas ke arah kristal itu.


Hasilnya, tidak ada satupun goresan pada kristal. Rakka yang melihatnya hanya terdiam.


"Kita tak bisa menyentuh Sergio, tapi kubah ini bisa hancur dari dalam hanya dengan satu sentuhan tangan."


Fahrez menatap Rakka dengan serius. Rakka yang melihatnya hanya bisa berkata apa yang ada di pikirannya.


"Jadi kita hanya bisa menunggu."


Rakka menjatuhkan dirinya ke lantai. Dia rebahan dan mengarah ke samping, mengarah pada Sergio yang masih tertidur.


"Fahrez, aku ngantuk. Tolong jaga sebentar."


"Oke, tapi kalau aku tertidur tak masalah, kan?"


"Hmm...."


Rakka hanya menjawab dengan gumaman.


Fahrez yang mendengarnya hanya tersenyum kecil. Fahrez kembali menatap bulan yang bersinar terang, dan dia berpikir.


'Rasanya aku sedang bernostalgia.'


||°°°°°||


"Nyonya, ada yang ingin membuat perjanjian."


Dewi Sanita yang baru saja tiba langsung di sambut dengan Fifi. Dewi Sanita yang mendengarnya hanya menganggukan kepala. Dia berjalan ke arah sofa yang berhias berbagai macam permata.


Dewi Sanita duduk dengan kaki menyilang, kemudian dia melihat dua orang yang berada di depan Gerbang Egolas. Dia melihat dua orang itu sedang berdiskusi panjang, sampai akhirnya mereka terdiam ketika mendengar perkataan Dewi Sanita.


"Jadi, apa kalian ingin membuat perjanjian denganku. Jevan Tyron dan Richard Vidar."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°°||