
Author POV
Sergio memegang kepalanya. Dari ekspresi wajahnya, dia sedang menahan rasa sakit. Fahrez dengan sigap memegang piring makanan yang dipegan oleh Sergio.
"Fyuuhh.. Untung tak tumpah."
Bukan mengkhawatirkan Sergio, Fahrez lebih mengkhawatirkan makanan yang hampir jatuh.
"Kau lebih khawatir makanan daripada tuan."
Rakka memberi komentar.
"Hei, bukan itu maksudku" protes Fahrez. "Makanan ini kan makanan kesukaan 'dia'. Kalau dia mengingat semua dari makanan ini, semua akan lebih baik."
"........."
Rakka terdiam. Dia melihat Sergio yang masih merasa sakit. Sesekali Sergio mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya.
Bagi Rakka apa yang dia lihat sekarang terlalu menyakitkan.
"Aku pikir, mengingat terlalu cepat juga tidak tepat."
"...."
Kali ini Fahrez yang terdiam.
"Dia, masih terlalu muda untuk melakukannya."
Rakka menatap Fahrez dengan tagapan sedih.
Fahrez yang melihat tatapan menyedihkan Rakka hanya bisa menghela nafas.
'Orang ini hatinya terlalu lembut' batin Fahrez.
"Seharusnya kamu ingat apa yang terjadi pada orang-orang sebelumnya. Aku rasa Sergio yang paling mirip dengan 'dia', aku benar kan?"
Perkataan Fahrez membuat Rakka mengepalkan tangannya. Rakka merasa kesal karena ucapan Fahrez yang terdengar enteng.
"Aku tak percaya kata itu keluar dari mulutmu."
Fahrez mengangguk. "Ya, akupun juga tak percaya. Mungkin efek samping hidup terlalu lama."
Setelah itu Fahrez tertawa. Suara tawa yang penuh dengan aura kesedihan.
"Tutup mulutmu. Suara tawamu menganggu."
"Oke."
Jawaban singkat Fahrez membuat keadaan menjadi sunyi. Sergio sekarang sedang tertidur setelah rasa sakit yang dia perlihatkan sebelumnya. Namun, sesekali alisnya berkerut dan dia berkeringat dingin.
Rakka mengelus kepala Sergio dengan lembut.
"Aku merasa bernostalgia" ucap Fahrez.
Rakka tersenyum. "Dulu dia yang mengelusku sebelum tidur, sekarang aku yang mengelusnya."
"Entah kenapa aku melihatmu dengan pandangan lain."
Fahrez menatap Rakka dengan tatapan aneh.
Rakka yang Fahrez memutar matanya jengah.
"Hilangkan pikiran kotormu."
"Hm? Aku tak berpikir apapun."
"Pikiran bahwa aku lebih mirip wanita daripada pria itu apa tidak kotor? Aku ini pria sehat."
"Kalau kamu ingin terlihat seperti pria. Potong rambutmu, orang-orang yang baru pertama kali melihatmu pasti mengira kamu wanita. Contoh saja Sergio."
Rakka terdiam. Dia tak bisa membantah perkataan Fahrez, karena apa yang dikatakan Fahrez benar.
"Aku merasa sayang dengan rambut ini."
Rakka memainkan rambutnya.
"Sekarang kamu lebih mirip wanita."
Sebuah sendok mendarat di kepala Fahrez.
"Aww.... Itu sakit!"
Rakka tersenyum miring. "Aku tak percaya kau mengalami rasa sakit hanya dengan sendok."
Fahrez mengelus pelipisnya yang terkena sendok. "itu benar-benar sakit tau."
"Ha. Ha. Ha. Teruslah beralasan. Bahkan tusukan pisau tak akan bisa menembus tubuhmu."
Fahrez tersenyum. "Itu tau."
Kemudian keadaan menjadi sunyi lagi. Mereka berdua melihat Sergio dengan tatapan yang berbeda.
Sergio? Dia masih tertidur dengan rasa sakit. Kali ini dia mengenggam sprei dengan keras. Keringat dingin membuat basah tubuhnya, alisnya berkerut menahan sakit.
"Rakka, apa tidak ada yang salah dengannya?"
Rakka menggelengkan kepala. "Tidak, tidak ada yang salah. Mungkin karena efek dia mengeluarkan tiga kekuatannya dan efek obat itu masih ada, jadi proses yang sekarang terjadi cukup menyakitkan."
"Itu berati berbahaya."
"Maksudmu?"
"Kamu lupa? Apa yang terjadi ketika dia seperti ini?"
"Ummm.....?" Rakka menyentuh dagunya dengan jari telunjuk. "Aku lupa."
Fahrez menghela nafas lelah. "Aku masih tak percaya kalau kamu itu dokter."
"Hei! Apa maksu-"
Fahrez tersenyum miring.
Rakka melihat kearah Sergio dengan cepat. Sekarang dia tahu apa yang terjadi.
"Oh, sial."
Perlahan, rambut Sergio yang sebelumnya hitam berubah menjadi putih. Dan tubuhnya juga mengeluarkan aura putih bersih yang menenangkan. Tapi ada satu hal yang aneh.
Ada tumbuh tanduk di kepala Sergio. Tanduk itu berwarna hitam kelam.
"Bagaimana mungkin."
Rakka terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Terlalu lama. Apa kamu benar seorang dokter?"
"Fahrez, bukan saatnya untuk main-main."
"Ya, bukan saatnya untuk main-main."
Fahrez melihat ke arah jendela. Awalnya tidak ada yang terlihat, sampai tak lama kemudian terlihat titik hitam kecil, tapi Fahrez tau apa yang akan datang kemari.
"Rakka. Coba segel kembali kekuatan itu. Aku tak ingin mereka datang terlalu banyak."
"Akan kulakukan."
Rakka, dia mengeluarkan sebuah kertas yang terlipat, kemudian dia membukanya. Dia dalam terdapat bubuk dengan warna merah terang.
Rakka membuat pelindung kubah kecil yang hanya cukup melindungi Sergio dan dirinya.
"Tanpa kau suruh aku akan melindunginya."
Fahrez mengangguk. Kemudian dia pergi dengan cara melompat dari jendela.
Tapi dia tak jatuh. Sebelum dia terjatuh, Fahrez memunculkan sayap transparan bewarna abu-abu. Sayap Fahrez mirip dengan sayap capung, ada empat sayap transparan.
Fahrez terbang dengan cepat ke arah titik-titik hitam kecil itu.
Setelah melihat kepergian Fahrez, Rakka mulai fokus dengan apa yang akan dia lakukan.
"Sergio maaf."
Rakka meniup bubuk merah itu kearah Sergio. Dan selanjutnya yang terjadi tubuh Sergio meronta.
"Chain!"
Enam Rantai putih dengan aura kehijauan muncul. Dengan cepat Rakka membelenggu kaki, tangan, perut, dan leher Sergio.
Tubuh Sergio meronta keras. Bahkan kasurnya pun ikut bergeser.
"Pergi kau dari tubuh tuanku!"
Setelah Rakka berkata seperti itu. Tubuh Sergio terdiam. Tapi kali ini, aura putih bersih yang sebelumnya muncul berganti dengan aura merah gelap yang membuat siapapun bergetar ketakutan.
Dan Rakka merasakan ketakutan itu.
'Sial.'
Rakka semakin memperkuat rantai yang mengikat Sergio. Dia takut apa yang terjadi selanjutnya, tapi apa yang dia pikirkan tak pernah terjadi.
Perlahan rambut Sergio berubah menjadi hitam kembali. Tubuhnya juga tak mengeluarkan aura yang menakutkan itu lagi. Sekarang Sergio menunjukkan wajah damai, walau keringat masih menetes dia wajahnya.
"Apa maksudnya ini?"
Dengan bingung Rakka berjalan kearah Sergio yang masih tertidur. Dia memeriksa keadaan Sergio dan dia tak menemukan apa-apa.
'Ini terlalu aneh.'
Dengan banyak pertanyaan di kepala Rakka. Dia hanya bisa terdiam.
Sedangkan di tempat Fahrez, dia sudah sampai di tempat titik kecil itu. Di hadapannya ada puluhan kelelawar dengan bentuh tubuh seperti manusia.
"Apa yang kalian inginkan" Ucap Fahrez dingin.
Puluhan kelelawar itu hanya saling melirik.
"Oh maaf. Aku lupa kalau kalian sangat bodoh. Dimana pimpinan kalian?"
Para kelelawar itu menyingkir ke arah samping membuka jalan pada seseorang yang akan lewat.
"Aku, ada apa. Kenapa kau menghalangi kami."
Seorang pria bersayap kelelawar keluar dari kerumunan. Dia memiliki rambut hitam mengkilap dan mata bewarna hijau Zamrud.
"Jadi kau. Kurasa kaum mu mulai mengalami penurunan keturunan."
Orang itu mengerutkan dahi. "Apa maksudmu."
"Tak kusangka seorang pimpinan selemah ini. Aku bahkan tak perlu mengeluarkan senjataku untuk melawan kalian. Cukup tangan kosong saja."
"""""KIIIKKKK.....!!!"""""
Pekikan suara kelelawar terdengar nyaring. Fahrez yang melihatnya tersenyum miring.
"Lihat, hanya provokasi kecil saja kalian sudah seperti ini."
"Tutup mulutmu."
"Hahaha... Maafkan aku. Aku hanya merasa akan menang dengan mudah melawanmu. Kau tahu? Aku sedang mencari lawan yang sepadan."
Orang itu mengepalkan tangannya. "Maksudmu aku tak sepadan denganmu? Tuan Leviathan."
Fahrez menatap tajam orang itu. "Siapa Leviathan?"
Pimpinan dari kelompok kelelawar itu tersenyum miring. "Siapa lagi kalau bukan anda. Aku cukup tersanjung melihat anda masih disini."
"Aku juga tersanjung melihat kau banyak bicara. Seingatku di kaum mu tak ada yang banyak bicara sepertimu."
Pimpinan kelompok itu tertawa.
"Aku lupa namamu. Siapa? Levan? Neba? Jeha? Siapa namamu. Aku rasa kita pernah bertemu, tapi aku lupa."
Fahrez memasang wajah penasaran. Dan dimata orang itu ekspresi wajah Fahrez menyebalkan.
"Jevan Tyron. Ingat namaku baik-baik."
Fahrez mengangguk. "Akan kuingat, tapi hanya dalam waktu satu jam saja. Kau tahu, aku ini memiliki ingatan yang buruk."
Pimpinan itu, Jevan hanya bisa mengepalkan tangannya keras.
"Kenapa kita tak masuk ke pokok masalah" ucap Jevan.
Fahrez menatap tajam Jevan. "Maksudmu? Membiarkan kau membunuh dia? Takkan kubiarkan."
Jevan, dia meregangkan jari-jari tangannya. Kemudian kuku jarinya memanjang sampai 2 meter. Kuku jarinya terlihat tajam dan bewarna hitam gelap.
"Jika cara damai tak bisa dilakukan-"
"Maka mari menggunakan cara kasar. Aku suka ini!"
Pertarungan mereka berdua telah dimulai!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°||