The Another Soul

The Another Soul
Ch. 66 [Menang atau Kalah?]



Dahulu kala, ada sebuah cerita tentang sang gelap yang menunggu sang terang.


Sang gelap menunggu di dalam hutan gelap yang tak terjamah cahaya dan makhluk hidup.


Sang gelap kesepian.


Dirinya memanglah gelap, tapi dirinya memiliki setitik cahaya redup di dalam hatinya.


Sang gelap selalu bertanya pada dirinya sendiri.


Siapa kah terang milikku?


Apa aku memiliki sang terang?


Pertanyaan itu terus dirinya pikiran selama puluhan, ratusan, dan ribuan tahun lamanya.


Dirinya masih setia menunggu.


Sampai dirinya menemukan sang terang yang membuatnya tersenyum senang.


Tapi senyuman itu menghilang ketika merasakan sang terang memiliki suatu hal yang berbeda dari apa yang sang gelap bayangkan.


Sang terang adalah seorang Heroia.


Heroia, sebuah hal yang anomali,  keanehan yang tidak dapat di jabarkan. Suatu hal yang menyalahkan hukum alam.


Suatu hal yang bahkan Seorang Dewa-Dewi sekalipun tidak bisa membunuh Heroia.


Kaum Malaikat dan Iblis pun tak bisa berbuat apa-apa pada Heroia.


Heroia memiliki kekuatan yang sangat sulit dijelaskan. Kekuatan milik Heroia bisa di katakan mendekati kekuatan Dewa yang agung, Dewi yang penuh kasih, Malaikat yang berwibawa, dan Iblis yang licik.


Tapi ingat.


Hanya mendekati.


Bukan sempurna, dan bukan pula sosok yang kurang.


Sang gelap menyadari sang terangnya.


'Aku adalah sang gelap, dan kau sang terang.'


'Diriku memang memberikan luka, tapi aku memberikan kekuatan sebagai gantinya.'


'Wahai terangku, terima kasih telah membangunkanku.'


'Sergio Vandelhein.'


||°°°°°°°||


Jauh dari rumah Fahrez yang dimana terjadi pertarungan sengit.


Di sebuah bukit yang bisa dibilang tinggi itu terdapat dua orang yang sedang duduk dengan makanan ringan di tangannya.


Yang satu adalah seorang lelaki muda dengan rambut hitam yang ditutupi dengan kupluk hoodie warna abu-abu.


Dan yang satunya lagi seorang gadis kecil yang memiliki rambut putih yang di ikat menjadi twintails.


Mereka berdua sibuk memakan makanan ringan dengan sesekali menatap pertarungan Sergio yang sangatlah jauh untuk di lihat mata orang biasa.


"Hmm... Dia sudah menemukan sang gelapnya, kah?" gumam sang lelaki.


"Bukankah kau sama?" ucap sang gadis.


Lelaki itu sedikit mengangkat alis kirinya, "Hei. Jangan samakan diriku dengannya yang bodoh."


"Bukankah kau bodoh juga?"


Lelaki itu sedikit kesal dengan ucapan sang gadis yang sedikit menohok hatinya. "Setidaknya aku lebih jago daripada dirinya."


"Huh, sedang menyombongkan diri ternyata" ucap gadis itu sambil meminum minuman bersoda.


"Bukan sombong. Tapi membanggakan diri" ucapnya dengan yakin.


Gadis itu menatap heran sang lelaki, "Ada apa denganmu? Apa otakmu sedang bermasalah?"


Lelaki itu terkekeh, "Aku sedang bahagia saat ini."


"Bahagia?"


"Iya, soalnya..." mata lelaki itu berpedar biru terang dan terasa sedikit menyeramkan. "Dia semakin lama semakin kuat. Aku tak sabar untuk melawannya."


Sang gadis mengambil bungkusan keripik kentang dan membukanya. Setelah itu memakan kripik itu dengan khidmat.


"Kita di tugaskan untuk mengawasi. Jadi tolong hilangkan pemikiran untuk melawannya."


Lelaki itu pun menghela nafas kesal, "Menyebalkan."


"Oh ya. Bagaimana dengan dirinya?"


"Siapa?"


Gadis itu memutar bola matanya, jengah. "Si pirang."


Lelaki itu ber-oh ria sesaat. "Dia setuju."


Gadis itu terlihat bingung dengan jawaban dari lelaki di sebelahnya ini. "Mudah sekali."


"Tentu saja mudah. Jika dia menolak," sebuah senyuman keji muncul di kulit pucatnya. "Kedelapan temannya akan mati dengan mudah."


"Ralat. Tujuh orang."


Lelaki itu tiba-tiba mendecih kesal "Aku lupa kalau ada yang lolos satu orang."


"Hahaha... Kau sangatlah bodoh membiarkan satu orang lolos begitu saj-"


"Sttt..."


Lelaki itu mengangat jarinya. Sebuah kode untuk diam. Mata biru terang itu memperhatikan hutan gelap yang sesekali terdengar suara hewan malam yang saling sahut-menyahut.


"Ayo pergi" ajak lelaki itu sambil membersihkan sisa-sisa sampah makanan ringan.


"Ada apa? Kenapa kita pergi?" Tanya gadis itu penasaran.


"Ada yang mengawasi, dan orang itu mulai melangkah ke arah kita."


Gadis itu mengangguk mengerti. "Penjaga-nya?"


"Mungkin" jawabnya singkat.


Lelaki itu menjentikkan jarinya. Sedetik kemudian sebuah lubang hitam muncul dari udara kosong. Tangan lelaki itu menarik tangan kecil sang gadis.


"Ayo princess, waktu menonton kita telah habis."


Gadis itu mndengus jengkel, "Berhenti memanggilku princess."


Lelaki itu hanya terkekeh sebagai tanggapan.


Mereka berdua masuk ke dalam lubang hitam itu. Setelahnya lubang hitam itu menghilang dengan sendirinya.


Bertepatan dengan menghilangnya lubang hitam itu. Muncullah dua orang yang sama-sama memiliki mata merah terang.


"Sial! Siapa mereka? Kenapa mereka memiliki aura yang berbahaya!" geramnya.


"Umm... Tuan, sepertinya kedua orang tadi bukanlah orang baik."


"Aku tahu Reina. Aku tahu."


Mereka berdua adalah Orga dan Reina yang selesai mengantar teman-teman Sergio dengan selamat sampai ke rumah masing-masing.


Saat di perjalanan pulang, Orga merasakan sebuah ancaman dari dalam hutan gelap sekitaran rumah.


Dirinya langsung memberhentikan mobil dan keluar meninggalkan Reina yang berteriak memanggil dirinya.


Dan di sinilah mereka. Di atas bukit yang kosong dan sedikit angin malam yang sejuk.


Sampai sebuah suara keras menganggu ketenangan mereka berdua.


BOOM...!


Suara ledakan. Sebuah angin kencang menerjang hutan dan menerbangkan beberapa daun kering. Belum lagi Orga dan Reina bisa merasakan getaran di tanah cukup kuat.


"Apa lagi ini!"


.


.


.


TRANG...


Percikan api muncul dari gesekan antar pedang.


Ronde kedua antara pertarungan Sergio dan Dewi Bishamon berlanjut.


Kali ini dengan kekuatan sang pedang yang menjadi peran utama-nya.


Pedang Seiryu sang Naga Timur milik Dewi Bishamon.


Dan pedang gelap milik Sergio, Beltza.


Kedua pedang saling mengeluarkan tekhnik terbaik dengan pengguna mereka yang menggila karena pertarungan yang membuat darah mereka berdua berdesir.


Sebuah luka menjadi bukti pertarungan mereka tidaklah main-main. Bukan hanya Sergio saja yang terluka. Dewi Bishamon juga terluka walau tak separah Sergio.


Inilah yang membuat Dewi Bishamon merasa tertantang.


Dirinya tidak pernah terluka saat diserang seorang manusia biasa.


Baginya, hal itu sangatlah menarik dan pantas untuk di pertarungkan.


"Seiryu! Teruslah mengaum! Teruslah bertarung!"


Naga Timur pun mengaum keras sebagai jawaban.


Sergio sedikit tersenyum mendengar ucapan sang Dewi Perang.


"Beltza, pinjamkan kekuatanmu."


Bagaikan air mengalir. Aliran aura bewarna hitam gelap semakin menguar dan sebuah akar hitam menjalar ke lengan kanan Sergio.


Pedang mereka berdua kembali bertubrukan. Dengingan suara besi menjadi penyemangat mereka berdua, bunga api menjadi bukti betapa panasnya pertarungan mereka.


Ekspresi tidak pernah bisa berbohong walau ditutupin sebaik mungkin.


Mereka berdua tersenyum selebar mungkin dan menikmati pertarungan singkat mereka.


Tapi Dewi Bishamon tidak menyadari bahwa dua tanduk kecil bewarna hitam mulai mencuat dari kepala Sergio.


Perlahan-lahan tanduk itu bertambah panjangnya dan sedikit menguarkan aura hitam tipis. Dan juga akar hitam semakin menjalar hingga siku Sergio.


"Kita akhiri dalam satu serangan" ucap Dewi Bishamon.


"Boleh saja" balas Sergio.


Mereka berdua sama-sama mundur. Menjaga jarak sejauh mungkin dari musuh. Dewi Bishamon mengankat pedangmya sejajar dengan tubuhnya. Dirinya bergumam.


"Watashi ni kotaete, watashi no yōkyū ni kotaete kudasai..."


Pedang Seiryu berpendar kebiruan.


"...Īsutandoragon yo, watashi wa anata no sōzōnushideari, watashi wa anata no senzodeari, watashi wa anata o tsukau hitodesu..."


Sebuah bola air kecil yang perlahan-lahan membesar di belakang tubuh Dewi Bishamon yang terus mengucapkan kata-kata.


"...Watashi wa anata o sokubaku suru sokubaku kara anata o kaihō shimasu. Īsutandoragon yo, jiyū ni natte sora de odori nasai..."


Bola Air itu membentuk Kepala, tubuh, dan ekor beserta dua kaki yang memiliki cakar yang terlihat tajam.


"...Seiryu!"


GRAWWWW.....!


Sebuah wujud nyata dari seekor Naga muncul di belakang tubuh Dewi Bishamon.


Naga Seiryu, salah satu Naga penjaga mata angin, yaitu Timur. Dengan elemen utama Air dan juga termasuk hewan langka yang tidak pernah terlihat lagi.


Dewi Bishamon tersenyum bangga melihat Seiryu yang berada di belakangnya. Ia mengelus lembut sisik biru milik Seiryu, dan terlihat Seiryu juga menikmati elusan sang Dewi Perang.


"O ilun iluna..."


Dewi Bishamon langsung menatap Sergio yang saat ini telah memiliki kedua tanduk utuh di kepalanya.


"...Zu zara argiaren enara, eta ni naiz argia eta argia..."


Tanah di dalam Barrier bergetar kencang. Angin berhembus kencang, dan juga aura pedang Beltza semakin pekat.


"...Mesedez, erantzun iezadazu nor den zure maisua, nor zaren eta norentzat sortu zinen..."


Akar hitam itu semakin menjalar dan sudah sampai pada bahu Sergio. Terlihat Sergio yang sedikit meringis kesakitan, tapi dirinya tahan karena ada suatu hal yang membuatnya untuk sulit berhenti.


Bahkan suara Kaeiru seperti hilang dari kepalanya. Padahal Kaeiru lah yang membantunya membangkitkan kekuatan sang pedang yang sudah lama tertidur.


"...Egin nazazu zure iturri eta suntsitu nire etsaia, Beltza!"


Sebuah ledakan energi keluar begitu saja. Setelah ledakan energi yang begitu besar, akar hitam itu menjalar dengan cepat melewati bahu dan mencapai leher, setelah itu mencapai rahang Sergio, dagu, dan naik hingga sisi wajah kanan Sergio. Akar itu melewati kelopak mata Sergio, melewati alis, yang pada akhirnya berhenti pada tanduk yang seketika berubah warna menjadi biru gelap.


Akar hitam itu menguasai sisi kanan tubuh Sergio.


'Sakit' pikirnya.


Dirinya merasa seperti tersengat aliran listrik bertenaga sedang. Otot-otonya juga merasa kaku dan juga mata kanan-nya hanya melihat warna biru dan putih saja.


"Seiryu!"


Naga itu mengaum. Lagi, ledakan aura besar kwluar dari pedang milik Dewi Bishamon.


Dewi Bishamon mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, bersiap untuk menebas Sergio yang ternyata juga mengangkat pedangnya setinggi mungkin.


SRINGG...


Dewi Bishamon menebas secara vertikal dengan cepat. Untuk sesaat tidak terjadi apa-apa.


Sampai pada akhirnya sebuah tebasan besar mengarah pada Sergio yang masih bertahan dengan posisinya. Tebasan itu sangatlah cepat dan berbahaya, belum lagi tebasan itu terdapat elemen Air.


SRETT...


Sebuah tebasan yang tidak kalah cepat dengan tebasan Dewi Bishamon bertubrukan dengan tebasan milik Dewi Bishamon yang hampir mengenai Sergio.


BOOM...!


Sebuah ledakan besar tak terelakkan lagi. Ledakan itu menghempaskan apapun, termasuk para penonton yang tegang dengan apa yang terjadi selanjutnya.


Kedua tebasan berbeda warna itu saling melawan, saling mendorong, saling menentukan serangan siapa yang terkuat.


Dan sebuah kejutan datang. Tebasan hitam milik Sergio menang dan dengan cepat menyerang Dewi Bishamon yang terlejut karena serangan terkuatnya kalah dengan mudahnya.


Tebasan itu hampir mengenai tubuh Dewi Bishamon, tapi seseorang tiba-tiba saja berdiri di hadapannya dan mendorong dirinya menjauh dari tebasan berbahaya.


Dewi Bishamon tersadar ketika dirinya di tarik pergi menjauh dan keluar dari barrier sihir.


"Hei! Pertarunganku belum selesa-"


"Ck... Jangan membuat masalah. Kau ingin mati?" Tanyanya dengan nada dingin.


Sang pelaku penarikan adalah Dewa Hermes yang pergi bersama Rakka dan Fahrez.


Terlihat Rakka dan Fahrez yang mengarahkan tebasan hitam milik Sergio ke arah hutan gelap.


Dalam sekejap, hutan dekat rumah Fahrez hancur membentuk lintang lurus sejauh satu kilometer.


Benar-benar kekuatan yang dasyat untuk satu tebasan.


"Ohh... Wow" kagum Fahrez.


"Ini bukan saatnya untuk kagum" tegur Rakka.


"Apa yang terjadi?!"


Rakka dan Fahrez langsung menengok ke arah kiri dan melihat Orga yang berlari ke arah mereka.


"Apa? Apa ini? Kenapa lagi ini?!" Tanyanya dengan panik.


"Oke, jadi begini. Kelima Dewa-Dewi membuat Game kecil untuk Sergio dan Sergio menerimanya. Terus game nya adalah duel dengan Dewi Bishamo-"


"Dewi Bishamon! Astaga! Apa yamg kalian lakukan selama aku pergi! Kalian terlal-"


"Eittss...." potong Fahrez. "Bisa dengarkan penjelasanku secara lengkap sebelum dirimu boleh protes."


"R-rakka..."


Mereka bertiga menoleh dengan cepat ke arah Sergio yang terlihat menatap mereka dengan tatapan lemah.


Perlahan-lahan aura gelap dari pedang Sergio mengilang. Akar hitam yang menjalar dan menguasai sisi kanan Sergio juga kembali ke pedang Beltza.


Kedua mata Sergio kembali menjadi hitam dan kedua tanduk pun juga menghilang dengan sendirinya.


KLANG....


Tak kuat menahannya lagi. Sergio menjatuhkan pedang miliknya yang kemudian ia jatuh bertumpu dengan lutut yang pada akhirnya roboh dengan sendirinya karena sudah tak kuat.


"""Sergio...!"""


Otomatis ketiga penjaga bergegas ke arah Sergio. Rakka langsung membalikkan tubuh Sergio dan tsrlihat wajah pucat Sergio dan kedua tangan yang bergetar.


"Inilah efek samping yang kumaksud."


Sebuah suara menginterupsi mereka semua. Dewa Agni berdiri di belakang Rakka yang sedang sibuk menggunakan Healing pada Sergio.


"Apa?" Tanya Sergio dengan lemah.


Dewa Agni menggeleng pelan. "Tak apa. Lain kali kalau menggunakan pedangmu harus lebih berhati-hati lagi. Paham?"


Sergio terkekeh lemah. "Kau terlihat seperti pak guru yang tengah memarahi murid nakalnya."


"Hei, aku hanya memberi nasihat" protes Dewa Agni.


"Jadi siapa yang menang?"


Dewa Agni terdiam.


Jadi siapa yang menang?


Pertanyaan yang sedikit membingungkan sebenarnya, tapi Dewa Agni memahami pertanyaan Sergio.


"Yang menang-"


"Kamu yang menang."


"Eh?"


Dewi Bishamon melangkah mendekati Sergio. Dirinya duduk bersila di sisi kanan yang kosong yang kemudian ia menjentikkan jarinya pada jidat Sergio.


"Aduh!"


Sergio mengaduh kesakitan. Tolong diingatkan bahwa Dewi Bishamon adalah sang Dewi Perang yang memiliki kekuatan fisik di atas rata-rata.


"Kenapa aku yang menang?" Tanya Sergio dengan penasaran.


"Ada yang membawa lari diriku keluar dari barrier" ucap Dewi Bishamon sambil menunjuk Dewa Hermes yang berdiri di belakangnya.


Dewa Hermes mengangkat alis kanan-nya, "Kau menyalahkanku?"


"Tentu saja! Kau menganggu kesenangan kami berdua!"


"Dan yang menganggu ini yang menyelamatkanmu" balas Dewa Hermes.


"Cih... Tidak ada yang memintamu."


Pada akhirnya Dewa Hermes mengelus dada dengan sabar. Dirinya perlu kesabaran menghadapi Dewi Perang yang tidak mengerti keadaan.


Kasihan sekali Dewa Hermes. Berniat membantu malah balik di marahin.


'Aku ingin pulang dan beristirahat sembari meminum teh' batin Dewa Hermes.


"Baiklah. Karena Bishamon sudah berkata seperti itu, berarti ini kemenangan kalian berdua" ucap Dewa Agni.


""Hah?""


Sergio yang sudah mulai sedikit bertenaga segera duduk bersila dan menatap Dewa Agni dengan bingung. "Tunggu, kemenangan kami berdua?"


"Pemenang hanyalah satu orang!" protes Dewi Bishamon.


Dewa Agni menghela nafas berat, "Jadi menurut kalian siapa yang menang?"


""Dia!""


Dewa Ares terkekeh. Ini sangatlah lucu baginya.


Di antara mereka berdua, tidak ingin ada yang menjadi pemenang karena diri masing-masing mengakui kekalahan.


Bahkan untuk sekelas Dewi saja berani berkata bahwa dirinya kalah dan memenangkan seorang manusia biasa.


Dewa Ares tak bisa untuk tidak tertawa.


Sergio dan Dewi Bishamon saling menunjuk satu sama lain. Sergio menunjuk Dewi Bishamon, dan Dewi Bishamon menunjuk Sergio.


"Kenapa kau menunjukku?!" protes Dewi Bishamon.


"Kenapa juga kau menunjukku?!"


Dewa Agni menepuk jidatnya yang entah keberapa kali hari ini. Dirinya merasa pening hanya karena berebut gelar si menang dan si kalah.


"Keputusanku sudah bulat. Sergio akan mendapatkan semua jawaban yang ingin ia tanyakan. Dan Sergio akan menuruti perintah ketiga Dewa dan dua Dewi yang ada di sini."


"Tapi-"


"Aku tidak menerima penolakan ataupun protes!" ucap Agni yang sepertinya mulai jengkel.


Dewa Ares tertawa keras, "HAHAHA.... Sudah lama aku tak melihat Agni seperti ini... Pfftt..."


"Bukankah itu artinya kita seri?" Tanya Dewi Bishamon.


"Tidak. Kalau Seri kalian tidak akan mendapatkan hadiah. Jadi ini kemenangan kalian berdua. K-E-M-E-N-A-N-G-A-N. Paham wahai kawan-kawanku sekalian?"


Dewi Bishamon dan Sergio mengangguk kaku.


"Ayo cepat masuk. Ini sudah hampir tengah malam" ajak Dewi Nyra.


Mereka semua masuk ke dalam rumah.


Sergio di bantu Fahrez dengan memapah tubuhnya karena tubuhnya masih terasa sulit digerakkan.


Dewi Bishamon sembari berjalan dirinya memanggil Yoru dan menyerahkan pedang Seiryu kepada pemiliknya.


Yahh.... Beginilah akhir dari Duel ketidaksengajaan yang hasilnya pun sedikit absurd.


Dari hal ini dirinya mempelajari suatu hal.


Sergio akan berpikir dua kali jika ingin mengajak duel seorang Dewa atau Dewi.


Pasti.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°||


Author Note:


Oke ini terjemahan buat kata-kata Sergio.


Wahai sang gelap yang Hitam. Engkaulah penelan cahaya, dan aku lah sang terang dan sang cahaya. Kumohon jawablah aku, siapa tuanmu, siapa dirimu, dan untuk siapa kau diciptakan. Jadikanlah aku sumbermu dan hancurkanlah musuhku, Hitam!


Pasatu Zagarru: Jatuhkan Hukuman


Kalau punya Dewi Bishamon lupa kesimpan :(


Jadinya malas translate satu-satu.


Oh iya di chapter Ini Author gunakan bahasa Basque (Liat di Translate google)


Terus yang ini nih


'Aku adalah sang gelap, dan kau sang terang.'


'Diriku memang memberikan luka, tapi aku memberikan kekuatan sebagai gantinya.'


Itu translate dari chap sebelumnya. Pake bahasa Amhara (Yang itu yang ada tulisan di sarung pedang sama bilah besi pedangnya itu loh)


Dan Author ada pake bahasa Jerman, yaitu Schwarz.


Ehe :)


Baru nyadar kalau penggunaan bahas di novel ini banyak bet dah.


Dan juga Chapter pertama yang Author buat panjang.


Hadeh.... Kayak apa kagak pening kepala.


Oke, segitu saja Author Note kali ini.


Semoga kalian puas dengan Chapter ini yang terlihat panjang dan ada beberapa typo. Sorry.


Adios!


Salam manis


Raiyu


2. 576 kata