The Another Soul

The Another Soul
Ch. 21



'*Hahahaha.... Sergio, wajahmu penuh lumpur.'


'Eh?'


Seorang anak kecil menyentuh wajahnya dan menyadari apa yang dikatakan oleh gadis di hadapannya adalah benar.


'Mira! Ku balas kau!'


Anak kecil itu, Sergio dia melempar segenggam lumpur ke arah gadis di hadapannya. Gadis itu hanya tertawa senang dan menghindari setiap lemparan lumpur.


'Nggak kena! Bweee....'


Gadis itu, Mira menjulurkan lidahnya ke arah Sergio. Sergio yang melihatnya menjadi kesal.


'Sergio.... Apakah kamu benar seorang laki-laki.'


'Hah? Apa maksudmu?'


'Soalnya... Kamu lemah sekali.'


Sergio yang mendengarnya semakin membuat dia kesal.


'Oh. SINI KAMU!'


Sergio berlari. Saat ini mereka berdua berda di sungai dengan aliran air yang cukup tenang. Mereka bermain di bagian yang tak terlalu dalam, hanya sampai sebetis mereka. Mereka memang biasanya main di sini tanpa ada yang menganggu mereka.


Tapi sebuah kesalahan Sergio berlari. Dia terjatuh karena menginjak batu yang berlumut, dia terjatuh ke dalam sungai yang cukup dalam. Parahnya lagi Sergio tak bisa berenang.


'Sergio!'


Mira yang melihatnya panik. Langsung saja Mira melompat ke dalam sungai. Dia melihat Sergio yang sedang berusaha untuk kembali ke permukaan, tapi bukannya naik, malah Sergio kembali tenggelam.


Mira langsung saja menyelam ke arah Sergio. Dia menyelam dengan cepat seperti atlet perenang profesional. Setelah sampai dia menyentuh pergelangan tangan Sergio.


Sergio yang sebelumnya masih berusaha untuk sampai di permukaan terdiam setelah melihat Mira.


Dia langsung menarik Sergio, membawa Sergio ke permukaan.


'BWAHH... uhukk...uhuukkk...'


Sergio setelah sampai ke permukaan langsung terbatuk-batuk. Dia bernafas dengan cepat, hidung dan tenggorokannya terasa sakit.


Sedangkan Mira, dia sedang memeras pakaiannya yang basah.


'Hmph..! Bagaimana bisa seorang anak laki-laki tak bisa berena-eh?'


Perkataan Mira terpotong karena terdengar suara isakan pelan. Mira menatap Sergio dengan tatapan bingung.


'Kenapa kamu menangis?'


'Hiks... Hiks.... HUWAAA....!'


Bukannya menjawab, Sergio malah menangis. Suara tangisannya sangat kencang. Mira yang melihatnya semakin bingung.


'Eh? Kenapa dia menangis.'


Sergio tidak memperdulikan perkataan Mira. Dia masih menangis, akhirnya Mira menghampiri Sergio.


'Oke, jadi siapa yang terlihat tua disini?'


Tidak menjawab, Sergio masih menangis.


Mira memutar bola matanya, kemudian dia mendengus.


'Tentu saja aku yang lebih tua.'


Mira memeluk Sergio. Dia juga mengelus kepala Sergio dengan lembut. Kemudian Mira membisikkan sesuatu di telinga Sergio.


'Jadi seperti ini, lelaki yang akan menikahiku di masa depan nanti*?'


||°°°°°°°||


"Mira...!"


Eh?


Aku melihat sekelilingku, dan mendapati diriku berada di dalam kubah kristal warna ungu. Aku tidak melihat siapapun di sini.


Aku menyentuh kepalaku, dan aku merasa aku menyentuh kain yang agak kasar, apa perban?. Kemudian aku menyadari kalau pergelangan tanganku juga di perban.


Apa yang terjadi?


Aku mengankat tangan kiriku, dan sama seperti tangan kananku. Aku beralih melihat ke perutku, dan aku juga melihat perban putih membalut tubuhku.


"Uhh... Aku tak tau apa yang terjadi, tapi saat ini aku sangat lapar."


Ya, saat ini aku sangat lapar dan haus. Aku tak tau berada dimana aku sekarang, bahkan aku tak melihat Fahrez atau Rakka disini.


Aku melihat sekeliling, dan mataku tertuju pada jendela yang terbuka lebar. Aku melihat bulan yang bersinar terang, dan langit bewarna merah. Tak dilupakan juga awan-nya yang bewarna ungu.


"...."


Dimana aku?


Aku berusaha mengingat-ingat kembali kejadian sebelumnya.


Yang pertama aku di cekik oleh seseorang. Oh ya, dia si pak tua. Setelah itu aku tak sadarkan diri. Kemudian ketika aku sadar aku dalam keadaan terikat dan mata tertutup, belum lagi aku berada di Kutub Utara. Dan lagi berbagai macam penyiksaan yang diberikan pak tua itu.


Kemudian aku bertemu dengan pak Jevan, wali kelasku. Dia berusaha untuk membunuhku, tapi sepertinya tak bisa.


Karena....


Karena apa?


Aku merasa kejadian selanjutnya aku tak terlalu ingat. Yang kuingat terakhir aku seperti menyebutkan sebuah nama, tapi aku tak tau apa.


Ya sudahlah. Intinya aku lapar. Butuh energi lebih. Tapi bagaimana caranya aku keluar dari sini?


Aku merasa kubah ini yang membantu penyembuhanku.


Karena penasaran aku menyentuh kubah kristal ini, padahal aku hanya menyentuhnya hanya dengan satu jari, tapi kubah kristal ini langsung hancur menjadi serpihan.


Eh? Ini bukan salahku kan?


Bodo amatlah.


Aku kembali melihat diriku. Astaga, aku bahkan masih memakai celana sekolahku.


Akhirnya aku berdiri, ketika aku berdiri rasanya aku akan jatuh kembali ke lantai.


Badanku lemas.


Dan agak pusing.


Aku berusaha untuk mencari penyangga, tapi terlalu jauh. Pada akhirnya aku terjatuh kembali ke kasur tipis ini.


"Tuan, anda tidak apa-apa?"


Aku menengok ke samping dan mendapati seorang wanita dengan mata biru dan rambut hitam sedang menatapku. Wajahnya cantik, tapi ekspresinya dingin.


Tapi siapa dia?


"Nama saya Fifi tuan. Kata Nyonya anda sudah sadar, jadi dia meminta saja untuk menjemput anda."


"Oh. Mmm.... Apa kau melihat dua penjaga ku?"


"Penjaga? Ohh... Maksud anda tuan Fahrez dan tuan Rakka. Mereka sedang pergi, kata tuan Rakka mereka akan kembali dalam waktu tiga jam."


Mereka meninggalkanku di tempat yang tidak kuketahui ini. Benar-benar, kedua penjagaku ini terlalu hebat.


Tapi, mereka pasti memiliki alasan khusus. Mereka mempercayai bahwa di tempat ini aman.


Ya, sudahlah.


"Fifi, dimana tempat nyonya mu ini?"


"Sangat dekat dari sini."


"Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang."


Aku kembali berdiri, tapi lagi-lagi aku hampir saja terjatuh. Sebelum aku terjatuh ada satu tangan yang menahanku. Aku menatap Fifi, tapi dia hanya menatap lurus ke depan. Sekarang tanganku berada di pundaknya, memapahku.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Aku hanya tersenyum kecil. Akhirnya kita berjalan, dengan pelan. Selama di perjalanan kita hanya terdiam, tidak ada satu pembicaraan apapun.


Aku baru menyadari struktur tempatku tinggal ini. Tempat ini berbentuk kotak dan di tengah-tengahnya terdapat satu bangunan dengan dinding bewarna gelap. Di sepanjang perjalanan ku, aku hanya melihat pintu kayu yang tertutup. Di beberapa tempat aku melihat ada permata dengan berbagai macam bentuk dan warna.


Bahkan tiang penyangganya terbuat dari emas.


Aku masih bingung berada di mana aku sekarang.


Akhirnya, aku dan Fifi sampai di bangunan paling gelap disini. Di hadapanku berjejer anak tangga,  perkiraanku ratusan anak tangga menanti untuk dinaiki.


Aku menghela nafas.


Sepertinya Fifi tau, kemudian Fifi mengucapkan satu kata.


"[Teleport]!"


Dalam sekejap aku berada di atas. Aku berada di atas anak tangga tertinggi. Aku menatap Fifi tak percaya, sedangan Fifi menatapku dengan tatapan dingin-nya.


"Karena kondisi tubuh tuan, saya hanya mengambil jalan tercepat."


Dia seperti tau apa yang kupikirkan.


"Begitu yah. Terima kasih banyak."


"Sama-sama."


Tapi kenapa dia tidak memakainya dari dalam kamar?


Ya sudahlah. Dia banyak membantuku.


"Nyonya, saya sudah membawa tuan Sergio."


"Terima kasih Fifi."


Karena aku masih di kejutkan dengan Fifi tadi, aku jadi tidak memperhatikan kalau aku baru saja tiba di depan ruangan besar dengan beberapa hiasan permata yang berkilauan.


"Selamat datang di dunia Nromu, Sergio."


Dan juga seorang wanita cantik dengan pakaian yang agak terbuka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°||