The Another Soul

The Another Soul
Ch. 34



"Jadi, apa yang terjadi dengan Dewa Ğerna?"


"Dia? Dia hidup di dunia manusia dengan tentram. Dia tidak hidup dalam kesendirian, tapi dia hidup dengan istri dan anak-anaknya. Dia tidak menjadi abadi lagi, jadi dia hidup sampai kulit keriput dan rambut berubah putih."


"Jadi itulah awal mula kerajaan Akai?"


"Bisa dikatakan seperti itu."


"Hmm..."


Sergio bersender pada kursi. Dia memasang ekspresi seperti sedang berpikir.


"Aku masih belum begitu paham."


"Tak paham tak apa. Sejarah ini sangat umum, bahkan ada buku yang menceritakan sejarah ini."


"Benarkah? Kalau begitu aku akan membelinya nanti."


Anig tersenyum. "Ini sudah larut, apa kalian tidak pulang."


"Paman, apa paman sudah kenyang?"


Anig tertawa kecil. "Aku sudah menghabiskan lima piring makanan. Bagaimana bisa aku tak kenyang."


"Ya, aku tak ingin mendengar suara perut yang sedang berbunyi lagi. Itu cukup memalukan."


"Mm... Yaa..."


Anig tak bisa berkata-kata lagi.


"Rakka, Fahrez, dan Orga. Ayo kita ke rumah Fahrez, kebetulan aku sudah mengantuk."


"Sergio, kau duluan saja bersama Reina. Kami ingin disini dan ingin mengobrol dengan.... Anig" ucap Rakka.


"Eh? Selama ini kalian diam saja, dan sekarang ingin mengobrol?"


"Tadi kan kalian sedang bercerita, sekarang gantian kami" ucap Orga.


"Orga benar. Kalau kau mengantuk, tidur saja dulu di mobil" ucap Fahrez.


Entah pengaruh mengantuk atau apa,  Sergio hanya mengiyakan tanpa bertanya lebih lanjut. Dia berjalan dan diikuti oleh Reina di belakang.


Setelah Sergio dan Reina keluar, Rakka, Fahrez dan Orga langsung berlutut.


"Maafkan kami yang tidak memberikan salam pada anda, Dewa Agni."


Rakka menunduk dalam. Begitu pula Fahrez dan Orga.


Anig, atau lebih tepatnya Dewa Agni hanya meminum air dari gelasnya. Tidak merespon perkataan Rakka.


Mereka bertiga masih diposisi yang sama. Diam dan hanya menunduk. Restoran sudah sepi dikarenakan sudah memasuki waktunya untuk tutup restoran.


"Berdiri."


Mereka bertiga berdiri. Tapi kepala mereka tetap menunduk, tidak berani menatap Dewa Agni.


"Anak itu, siapa namanya?"


"Namanya adalah Sergio Vandelhein, maaf bila dia membuat anda tersinggung" ucap Orga.


Dewa Agni tertawa kecil. "Tak apa, ini pertama kalinya aku dianggap setara atau sama dengan manusia. Benar-benar pengalaman baru..."


"...Oh ya, Natili.... Jangan bersembunyi terus, aku tau kau juga ada disini."


Seperti yang dikatakan Dewa Agni, tiba-tiba saja ada seorang perempuan yang berdiri di belakang tempat mereka makan sebelumnya.


"Tuan Agni, maaf."


Natili, dia adalah seorang perempuan dewasa dengan warna rambut oranye terang. Rambutnya panjang hingga mencapai lutut, wajahnya cantik dengan bulu mata lentik dan alis tebal, matanya yang bewarna coklat terang menatap lembut setiap orang.


"Tak perlu dipikirkan. Kau adalah Ium-ku, sudah menjadi kewajibanmu untuk menjagaku."


Ium, adalah sebutan untuk para penjaga Dewa Dewi. Mereka memiliki berkat tertinggi dari sang Dewa ataupun Dewi. Seorang Ium harus terus menjaga Dewa atau Dewi dengan taruhan nyawa. Seorang Ium biasanya memiliki kekuatan yang mengerikan.


"Kalau begitu aku pergi dulu, ucapkan salamku pada Sergio."


Dewa Agni berdiri, kemudian Dewa Agni berbalik pergi diikuti oleh Natili. Setelah kepergian Dewa Agni dan Ium-nya, barulah mereka bertiga bisa bernafas lega.


"Aku tak percaya, kita baru saja bertemu Dewa Agni. Bagaimana bisa Sergio membawa Dewa Agni kesini" ucap Fahrez.


"Belum lagi aura membunuh Ium itu. Hanya karena Sergio bertanya tentang makanan, Ium itu langsung mengeluarkan aura membunuh. Apa Sergio tidak merasakannya?" Ucap Orga.


"Kurasa tidak. Anak itu tetap mengatakan hal buruk pada Dewa Agni. Jujur saja, kupikir tadi aku akan mati" ucap Rakka.


Mereka bertiga saling menatap, kemudian menghela napas kasar secara bersamaan.


"Sudahlah, kita bahas nanti. Sekarang, kita akan pergi ke rumah Fahrez" ucap Rakka.


"Tunggu. Siapa yang bayar makanan ini?" Tanya Fahrez.


""Tentu saja kau.""


Orga dan Rakka berkata bersamaan.


"Aku? Hei! Tidak bisakah kita berbagi!? Aku sudah membelikan perlengkapan untuk Sergio dan sekarang aku yang akan membayarnya?!"


"Tapi Fahrez, akupun juga tidak membawa dompet. Dompetku di jaket yang dipakai Sergio" ucap Rakka.


"Kalian hanya menghindar bukan!" Fahrez berucap kesal.


"Sudah, sudah, bukankah membantu saudara itu akan mendapatkan hal baik" ucap Orga sambil menepuk pelan bahu Fahrez.


"Benar apa yang dikatakan Orga, bukankah kita adalah keluarga" Rakka berucap sambil mengacungkan jempol.


"Kalian, kalian, KALIAN JAHAT PADAKU!!"


||°°°°°°°°||


"Tuan Agni, ada yang ingin saya tanyakan."


"Hmm.... Apa yang ingin kamu tanyakan, Natili."


Saat ini mereka berdua sedang berada di dalam mobil, dengan Natili yang mengendarai-nya. Dewa Agni sedang sibuk melihat cermin di tangan-nya.


"Sejarah yang anda ceritakan itu...."


"Ohh....itu adalah sejarah yang sebenarnya."


".....!"


"Jangan terkejut begitu. Aku menceritakan sejarah asli pada Sergio ada alasannya. Kamu mendengarnya juga tak apa."


"Baik, saya kira saya tidak pantas mendengarkan sejarah itu."


"Tentu saja kamu pantas. Kau kan Ium-ku, Natili."


Pipi Natili memerah. Barusan Dewa Agni menggoda Natili.


"Ahahaha... Aku suka melihat wajahmu memerah."


"Tuan Agni, tolong berhenti menggoda saya."


"Kenapa? Aku mengenalmu sejak kecil, jadi tak apa bukan aku menggodamu sedikit."


"Tuan..."


Natili menunduk malu. Dewa Agni yang melihatnya tersenyum senang. Dia mengalihkan perhatiannya ke arah cermin, disana dia melihat seorang laki-laki  berambut hitam.


Perlahan, rambut hitam Dewa Agni berubah menjadi merah terang, bahkan ada sedikit api yang menyala di ujung rambutnya. Tubuhnya yang sebelumnya terlihat kurus langsung berubah menjadi sedikit berotot. Inilah penampilan sebenarnya dari Dewa Agni.


"Sergio Vandelhein."


Dewa Agni tersenyum ketika mengingatnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°||