The Another Soul

The Another Soul
Ch. 9



Pagi hari, 05:00 AM


Aku terbangun.


Aku melihat kanan kiri, tapi yang kulihat hanyalah kamar kosong yang tidak ada apapun.


Rasanya, semalam yang kulakukan bersama mereka hanyalah mimpi. Tapi, tak apa. Mereka akan datang 3 hari lagi.


Aku bangun dari kasur, kemudian berjalan ke arah kamar mandi, setelah sampai aku melihat diriku di dalam cermin.


Mata panda, dan orang tak menarik. Ya, itulah kesanku.


Setelah melihat diriku di cermin, aku membasuh wajahku dengan air, dan aku menggigil kedinginan.


Aku menggigil dengan cepat aku pergi dari kamar mandi. Setelah aku merasa segar, aku mengganti pakaianku menjadi celana joger, dan baju kaos lengan pendek warna hitam.


Aku mengambil handphone, dan headphone di atas meja belajar, kemudian aku menyetel lagu lewat handphone.


Sempurna.


Lari pagi adalah kebiasaanku semenjak aku umur 6 tahun. Sebenarnya kebiasaan lari pagi ini berasal dari kakek ku, dia bilang-


'Sergi, kamu harus terus melatih fisikmu. Paling tidak setiap pagi kamu harus lari pagi sejauh 1 km.'


Tentu aku yang waktu itu masih kecil hanya mengangguk mengiyakan. Aku tak tahu seberapa melelahkannya lari sejauh 1 km. Setelah merasakannya, aku protes pada kakekku.


'Kakek, kenapa menyuruhku lari sejauh itu! Kakek tak tau kalau aku ini masih kecil!'


Kakek ku hanya tersenyum. Kemudian dia membelai pucuk kepalaku.


'Sergi, sebagai seorang lelaki tak seharusnya kamu mengeluh. Hidup ini hanya sebentar. Kamu harus menikmati dan bersyukur.'


Aku yang mendengarnya terdiam.


Hahaha... Aku jadi teringat kata-kata kakekku.


Aku keluar rumah, tak lupa aku mengunci rumahku. Setelah itu aku berlari pelan. Untuk putaran pertama aku akan berlari pelan saja dulu, anggap saja pemanasan.


Tempatku tinggal tak jauh dari perkotaan, biasanya ketika aku ingin olahraga di stadion. Aku akan melewati jalan pintas.


Jalan pintasnya adalah jembatan yang sudah tidak terpakai lagi. Yaa... Sebenarnya masih bisa, untuk pejalan kaki. Dulu jembatan ini menjadi jalan utama ke arah komplek perumahan. Tapi, karena komplek perumahan itu sudah membuat jalan baru jadi jembatan kayu ini sudah di lupakan.


Jembatan ini sudah memiliki lubang di beberapa titik, dan kayunya mulai reyot. Bahkan aku harus berhati-hati kalau ingin menginjaknya.


Aku yang sudah sampai di depan jembatan itu memperhatikan kembali jembatan reyot itu.


'Hmmm... Sepertinya ada seseorang.'


Aku melihat ada seseorang yang sedang duduk di pinggiran jembatan. Kakinya menjuntai kebawah, sesekali dia memaju mundurkan kakinya, dan aku mendengar dia bersenandung kecil.


Bajunya warna putih panjang hingga menutupi kakinya.


Tangannya pucat.


Rambutnya hitam panjang.


Hahahahah......


Aku tertawa kering. Ini jam lima subuh, seharusnya makhluk seperti ini tidak ada lagi.


Maksudku bukannya jam segini mereka akan pergi. Kembali ke alamnya. Mereka kan takut manusia.


Atau aku yang takut dia.


Berhenti berpikir berlebihan Sergio!


Aku mulai melangkah kearah jembatan itu, secara perlahan lebih tepatnya. Ketika sudah menginjakkan satu langkah di jembatan, aku menatap orang itu. Dia masih terlihat bersenandung. Oke aku aman.


Langkah kedua aku berusaha untuk tetap pelan. Dan berhasil. Karena aku ingin cepat-cepat pergi dari sini, aku mulai mengambil langkah ketiga dan selanjutnya. Dengan perlahan pastinya.


Dan tibalah waktunya. Waktu ketika aku berada di belakang tubuhnya. Jantungku berdebar kencang, aku mulai keringatan. Mataku tak pernah lepas dari sesosok rambut panjang ini.


Untuk beberapa langkah kedepan, aku berjalan dengan sangat pelan. Sangaaaatttt... Pelan!


Dia masih sibuk bersenandung, bahkan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


Aku semakin dibuat takut dengan sosok ini.


Aku mengambil langkah lagi. Tapi sepertinya....


Aku menginjak kayu, yang mungkin saja keropos jadi kayu itu ketika kuinjak menimbulkan suara retak.


Dia, sesosok putih itu berhenti bersenandung. Tidak ada pergerakan apapun dari dia. Aku terdiam.


'Matilah aku.'


Aku hanya bisa membatin. Jantungku berdegup kencang, keringat semakin membasahi tubuhku. Aku belum bergerak dari tempatku, takutnya kalau aku banyak bergerak dia akan semakin marah.


Dia menengok kanan dan kiri. Seperri orang linglung. Aku yang melihatnya juga jadi bingung, tapi aku melihat kesempatan disini.


Aku mulai berjalan cepat (jalan cepat bukan berlari). Sambil memperhatikan ritme.


Akhirnya! Aku hampir sampai di ujung jembatan ini. Aku hampir tersenyum lega, kalau saja tak mendengar suara lain itu.


"Apa ada orang disini?"


"....."


Aku terdiam.


"Halo... Apa ada orang disini?"


"......"


Aku masih terdiam.


Aku melihatnya. Dia, sesosok barbaju putih itu melihat kesana kemari. Aku sudah berada di sisi lain jembatan, tapi aku tak pergi.


Rasa penasaranku terlalu besar saat ini.


Setelah kuperhatikan baik-baik. Sesosok putih ini memiliki kaki, tapi aku baru ingat. Apa kaki itu menapaki tanah? Atau dia melayang?


Tapi pertanyaan ku langsung terjawab.


Dia bangkit berdiri. Di pergelangan tangannya ada tongkat yang talinya terikat di pergelangan tangannya. Aku berpikir, mungkin nanti dia akan menjatuhkan atau sulit untuk berjalan.


Tapi, lagi-lagi aku memperhatikan dia.


Matanya tertutup.


Tongkatnya dia... Dia seperti merasakan apapun di sekitarnya lewat tongkat itu.


"Halo, apa ada orang disini?"


Lagi-lagi dia mempertanyakan hal yang sama.


Setelah aku memperhatikan dia baik-baik lagi. Aku mendapatkan kesimpulan.


Gadis ini buta.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°||